Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.16 - Profesor Caligria


__ADS_3

"Berapa lama aku akan tinggal di sini?" Alvin mengeluh setelah mengetahui ia harus beristirahat di rumah sakit ini.


"Sampai lukamu sembuh" Lisa mengacak-acak rambut lebat Alvin. "Punggungmu hampir retak, kau tahu itu, kan?"


Alvin diam. Melihat reaksi Alvin itu, Lisa tersenyum. Alvin sudah ia anggap seperti adik sendiri, sehingga ia tahu betul bagaimana tingkahnya. Sementara itu, Roby dan Fio menunggu di ambang pintu, Anna baru saja sampai saat Lisa beranjak dari kursinya.


"Kita akan baik-baik saja di sini, jangan khawatir" Fio berpesan sebelum keluar dari ruangan itu bersama yang lainnya.


Mereka berjalan di koridor ini. Di samping mereka ada jendela yang memanjang dari ujung sana ke ujung lainnya. Dari sini mereka bisa melihat pemandangan perkampungan yang berbeda dari kota tempat mereka berasal.


"Apa Alvin akan baik-baik saja?" Anna membuka suara.


"Ya, aku sudah berbicara dengan dokternya. Punggung Alvin akan pulih dalam waktu yang cepat" Lisa menjawab.


"Aku mengintip tadi saat mereka mengobati Alvin. Aku melihat mereka mengolesi sesuatu yang sepertinya cairan lengket ke punggung Alvin. Anehnya, cairan itu meresap masuk ke dalam punggungnya" sahut Roby.


Fio hanya diam menjadi pendengar yang baik. Sebenarnya ia sudah tidak kaget lagi dengan hal yang berbau aneh di sini.


Setelah dari rumah sakit itu, mereka melangkah menuju rumah pemimpin tempat ini. Sesampainya di sana, mereka disambut dua Elf pirang yang sepertinya menjaga pintu ini. Kelimanya dipersilahkan masuk, sepasang pintu lebar di depan mereka terbuka.


Hal pertama yang mereka lihat adalah ruangan lepas dengan lantai berwarna coklat bercorak. Terdapat lampu gantung berukuran jumbo di langit-langit. Tangga bak kastil istana yang menyambungkan lantai ini dengan lantai di atasnya. Dari sana muncul seorang pria, menyambut mereka berempat.


"Ah, kalian sudah datang. Silahkan masuk"


Begitu mengucapkan itu, pria ini menuruni tangga. Dari penampilannya pria ini sepertinya Tetua yang mereka sebutkan sebelumnya. Dengan janggut panjang serta kumis yang warnanya sudah memutih karena uban, wajah yang keriput serta penampilan lain yang membuatnya terlihat tua namun berwibawa. Ia juga mengenakan pakaian seperti jubah.


"Bukannya kalian ada lima?" Pria itu memandang mereka penuh dengan keheranan.


"Teman kami yang satunya sedang istirahat karena luka yang ia alami" jelas Fio.


"Benar juga, Jein sudah menjelaskannya tadi" kata pria itu. "Jadi, siapa diantara kalian yang membuka gerbang menuju Lafier?"


Pria tersebut melempar pertanyaan kepada empat remaja tersebut. Mereka sedikit kaget dan saling melempar pandangan. Tatapan mereka terarah ke Fio.


"Kau?"


"I-iya, kurasa begitu"


"Baiklah, ikuti aku"


Ia berbalik dan melangkah menuju suatu ruangan. Meskipun kebingungan, kelimanya menurut dan mengikuti Elf tersebut.


Dua daun pintu terbuka lebar. Mereka sampai di sebuah ruangan lingkaran yang luas. Diisi oleh sebuah meja kayu, dua kursi panjang, lampu gantung, rak-rak buku dan koleksi barang-barang aneh, sebuah fosil, sebuah tanaman raksasa dan replika bumi yang besar.


"Keren" Roby terkesima.


"Ini adalah ruanganku. Terima kasih, Roby, atas pujiannya" Caligria menoleh sedikit kebelakang dengan senyuman.


"Dia tahu namaku?" bisik Roby. Lisa hanya mengedikkan kedua bahunya, menanggapi pertanyaan itu.


"Sebelum itu, aku harus memperkenalkan diriku kepada kalian" ucapnya. "Namaku Caligria. Orang-orang biasanya menyebutku dengan sebutan Professor"


Caligria melanjutkan. "Kalian pasti bertanya-tanya kenapa kalian bisa sampai kemari. Sesungguhnya, aku belum bisa mendapat jawaban yang pasti kenapa hal itu bisa terjadi..." Pria itu berbalik menghadap mereka. "Namun yang jelas, ada benda pusaka Lafier yang nyasar ke dunia kalian"


"Benda pusaka?" Fio mengerutkan dahinya.


"Maksudnya buku jelek itu?" tanya Anna.


"Ya, buku jelek itu. Itu adalah satu dari lima sihir portal terkuat di dunia ini. Dengan kekuatannya, kau bisa berpindah kemana saja"


"Tunggu, maksudmu, ada sihir masuk ke dunia kami?" Roby bertanya.


"Sihir sudah lama ada di duniamu, Roby. Namun, jika itu menjawab pertanyaanmu, maka iya"

__ADS_1


"Tapi, kenapa bisa?" tanya Lisa.


"Mungkin ada campur tangan dari pihak jahat. Mungkin saja, kami sedang meneliti kemungkinan itu"


"Kami? Masyarakatmu sudah tahu tentang hal ini?" tanya Fio sambil mengerutkan dahinya.


"Oooh, masyarakat sudah lama tahu semenjak kedatangan orang asing pertama ke dunia ini"


"Apa? Ada orang selain kita?" Anna memiringkan kepalanya, heran.


"Ini semakin aneh" Roby melipat kedua tangan di dadanya.


"Tapi, ada cara untuk keluar dari sini?" tanya Fio.


"Satu-satunya cara untuk kembali ke dunia kalian adalah... menggunakan sihir portal yang lainnya" jawab Caligria.


"Bagus, di mana kami akan mendapatkannya" Fio bernapas lega, tapi hal itu tidak berlangung lama setelah Caligria menjelaskan sesuatu tentang sihir portal.


"Keempat sihir portal lainnya tersebar di Lafier dan bukan hal yang mudah untuk mengambilnya. Ada banyak rintangan yang menunggu dan lebih parahnya, keempat sihir portal itu di jaga oleh penguasa dunia ini"


"Siapa?" tanya Roby.


"Oh, kau mungkin tidak ingin mengetahuinya. Dia adalah yang paling buruk dari yang terburuk"


"Habislah kita" Roby langsung tertunduk lesu.


"Sebenarnya siapa yang kau maksudkan ini?" Fio semakin penasaran. Sebelumnya, Pria Tua ini sudah menjawab kalau penguasa dataran ini sangatlah buruk.


"Orang-orang biasa memanggilnya sebagai Lord Gamenius. Ia bagaikan raja dan malapetaka di saat yang bersamaan" jelas Caligria. "Setidaknya sampai kekuatannya disegel oleh Ruga" tatapan Caligria jatuh ke lantai, ketika mengingat kejadian yang tidak dapat ia lupakan.


"Disegel? Berarti dia dalam keadaan lemah saat ini?" tanya Roby.


"Benar, dia memang lemah untuk saat ini, namun pengikutnya masih ada sampai sekarang. Tersembunyi dalam bayang-bayang, mengintai dan mengawasi kita setiap saat"


"Itu keren" ucap Roby yang disambut pukulan keras oleh Anna di punggungnya.


"Bahkan jika itu nyawamu sendiri?" Caligria memandang serius. Dengan mantap, Fio mengangguk dan menjawab, "Ya".


Caligria mengembangkan senyumnya. "Aku suka tekadmu. Tapi, ada berbagai cara untuk menggagalkan rencana kalian untuk pulang di luar sana, bahkan beberapa diantaranya sangat berbahaya"


"Kalau begitu latih kami!" pinta Roby


"Sebelum kalian memintanya aku sudah memutuskannya terlebih dahulu" Caligria terkekeh pelan. "Baiklah, kalian bisa melakukan apapun. Tinggallah di sini selagi kalian menyiapkan diri"


Fio berbalik ke belakang dan menatap teman-temannya. "Bagaimana? Kalian setuju?"


"Apa ... tidak berbahaya?" Anna meragu.


"Tidak, jika kau bersama kami!" Roby merangkul Anna, lalu menarik Lisa ke dalam rangkulannya.


Fio tersenyum melihat mereka, apalagi atas apa yang telah ia perbuat karena menyebabkan mereka terperangkap di dunia. Sekali lagi, Fio yang menjadi ragu, dunia ini mungkin lebih berbahaya dari dunia asli. Bagaimana kalau mereka mati di sini? Tidak, itu tidak boleh dipikirkan sekarang.


***


"Mereka lama sekali" gumam Alvin. Sungguh, ia tidak tahan dengan keheningan di ruangan ini. Untuk melepaskan kebosanannya, ia ingin memainkan ponselnya, tapi masalahnya adalah ponsel itu sekarang berada di meja yang terletak di ujung sana.


Raut wajah Alvin menjadi muram. Di saat-saat seperti ini, tingkat kemalasan yang ada pada diri Alvin akan meningkat dua kali lipat. Ia pun mengurungkan niatnya dan lebih memilih tetap berbaring dan memandangi langit-langit ruangan yang terbuat dari dedaunan dan kayu ini.


Karena tidak ada hal yang bisa ia lakukan, mau tidak mau ia harus beranjak dari ranjangnya untuk mengambil ponselnya.


"15%"


Alvin ingin protes, tapi tidak ada gunanya. Sebentar lagi, ponselnya itu akan mati. Ingin menunda kematian ponselnya, Alvin tidak jadi menggunakannya untuk saat ini.

__ADS_1


Ia berniat keluar. Alvin merasa tidak ada salahnya untuk jalan-jalan melepaskan suntuk. Ia pun meraih jaketnya dan mengenakannya untuk menutupi pakaian lebar ini. Sejujurnya, pakaian pasien di sini mirip seperti gaun.


Alvin keluar dari bangunan yang terlihat menyatu dengan pohon raksasa ini. Baru saja keluar, ia sudah disambut oleh hembusan angin sepoi-sepoi yang membelai pipi dan rambutnya. Dari atas sini, ia melihat ke bawah, berusaha mencari sesuatu yang menarik.


"Hm?"


Matanya seketika menangkap sesuatu yang menurutnya menarik. Di bawah sana, lebih tepatnya di tanah lapangan yang dikelilingi pagar itu, ada beberapa orang sedang latihan. Mereka saling tukar serang. Namun yang lebih menariknya lagi, Alvin melihat Asvia berada di sana.


"Oh, Wanita Cerewet" gumam Alvin.


Wanita itu berdiri di tengah-tengah para pria yang sedang mengepungnya. Mereka semua bersenjata dan Alvin menyadari kalau Asvia akan melawan mereka.


Benar saja, saat Asvia memberi instruksi, semua pria itu melesat untuk menyerang. Dengan lincahnya, Asvia menghindari semua serangan itu. Ia memainkan pedang di tangannya, membuat pedangnya sebagai alat pertahanan diri. Ia tidak akan menggunakannya sebagai alat untuk menyerang mereka.


Asvia hanya menggunakan kakinya untuk menyerang. Menurut Alvin itu tidak cukup, tapi Asvia bukanlah sembarangan prajurit. Dengan ketangkasan dan pengalamannya di luar sana, ia mampu menjatuhkan seluruh pria ini.


"Latihan selesai" kata Asvia.


Seluruh pria yang baru saja ia tumbangkan kembali berdiri tegak.


"Kuakui kekuatan kalian meningkat seiring waktu berjalan, tapi itu tidak cukup untuk mengalahkanku" Asvia memberi nasehat. "Baiklah, kita akan latihan lagi besok sore. Sekarang, bubar!"


"Baik, terima kasih!" mereka semua berseru sambil membungkukkan badan.


Begitu mereka bubar, Asvia tidak sengaja melihat Alvin memperhatikannya dari atas sana. Wanita itu mengerutkan dahinya, Alvin nyatanya sedang tidak beristirahat.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa masih berkeliaran?"


Asvia melontarkan pertanyaan pada Alvin setelah lelaki itu turun dari sana.


"Bosan" Alvin menjawab dengan cuek. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantung jaketnya sembari memperhatikan sekitar.


"Tempat apa ini?" tanya Alvin.


"Ini adalah area latihan. Biasanya para prajurit berlatih di sini, namun lapangan ini bisa juga digunakan untuk beberapa kepentingan seperti acara dan pertandingan" jawab Asvia.


"Mereka sedang apa?" Alvin melihat ada sepuluh orang di sana. Terlihat sedang memainkan sesuatu.


"Itu permainan yang biasa kami lakukan, namanya Stickball" jawab Asvia. Ia pun menjelaskannya lebih rinci. Stickball merupakan permainan yang mana membutuhkan dua hingga tiga tim. Setiap tim membutuhkan lima pemain dengan posisi yang sudah ditentukan.


"Cara bermainnya mudah, kau harus memegang tongkat yang ada bulatannya di ujung. Kau harus mempertahankan bola di atas bulatan itu dan memasukkan bola ke dalam tiga ring yang di jaga kiper. Masing-masing ring berbeda poin, ring yang paling bawah memiliki 2 poin, tengah 3 poin dan atas 5 poin"


Alvin mendengung panjang sambil mengangguk. "Apa kiper biasanya memiliki dua tongkat?"


"Ya, itu kelebihan kiper, tapi mereka tidak diperbolehkan keluar dari garis wilayah. Sebaliknya, penyerang juga tidak diperbolehkan masuk ke dalam garis kiper"


"Begitu, ya" Alvin memahaminya. Olahraga ini tidak beda jauh dari bola basket. "Aku ingin main"


"Apa? Tidak, kau tidak boleh memainkannya. Kau masih terluka, ingat? Jika kau terjatuh atau tersikut-"


"Jangan cerewet begitu" Alvin menyela. "Aku adalah orang yang berhati-hati. Lagipula, aku terluka bukan karena kecerobohanku"


Merasa tersindir, Asvia pun terpaksa mengalah. "Baiklah, aku izinkan, tapi hanya sebentar saja"


_____


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!

__ADS_1


Makasih <3


Next : Ch.17 - Permainan


__ADS_2