
Pagi ini, Asvia sudah berdiri di gerbang masuk kampung. Wanita itu sudah siap, dengan dua pedangnya di punggung, lalu pakaian tempurnya yang berbeda saat di colloseum beberapa waktu yang lalu.
Asvia masih mengenakan pakaian berwarna hitam, hanya saja ditambahkan pelindung besi di bahu dan dadanya. Di sikut dan lututnya juga ada pelindung. Tidak seperti di colloseum yang saat itu membiarkan perutnya terekspos, kini ia tutupi oleh pakaiannya.
Ia berdiri di hadapan seluruh skuadnya yang siap beraksi. Seluruhnya menunggangi kuda dan sebagian besar dari mereka memakai baju besi untuk melindungi tubuh. Dalam situasi ini, Roby dan Lisa diharuskan mengenakan baju besi karena mereka akan berhadapan langsung dengan Orc.
Di samping mereka, tim Jein juga sudah siap beraksi.
"Dengar!" teriak Asvia. "Misi ini adalah misi yang berbahaya. Ingat ini, jika kalian terdesak, mundurlah, jika kalian mempunyai kesempatan untuk menyerang, gunakan. Mengerti?!"
"YA!!!" sorak mereka, penuh dengan semangat.
Asvia menaiki kudanya. Ia berada di depan dan akan memimpin lebih dari dua puluh prajurit. Asvia memberi isyarat kepada penjaga gerbang yang berdiri di atas menara untuk membukakan gerbangnya segera.
Menerima isyarat itu, penjaga tersebut membuka gerbang masuk. Perlahan gerbang raksasa itu terbuka lebar layaknya dua daun pintu raksasa.
"Berangkat!"
Asvia memacu kudanya. Mereka pun berbondong-bondong keluar dari kampung dan berangkat menuju area luar.
Ini adalah misi pertama bagi Fio dan kawan-kawannya. Rasa takut dan cemas masih membelenggu, namun terselip rasa bangga di dada, menunjukkan pada diri mereka kalau mereka bisa menjadi seorang prajurit, meskipun bukan dari dunia asli mereka.
Kawanan ini mengarah ke utara. Di sana merupakan padang rumput yang dikelilingi oleh hutan. Langkah kuda mereka menggetarkan area sekitar, seolah-olah menunjukkan kedatangan mereka kepada makhluk-makhluk di sekitar area ini.
Butuh beberapa saat untuk mereka agar sampai di wilayah Orc yang Asvia maksud. Begitu hendak sampai, Asvia langsung menyuruh skuadnya dan tim Jein berpisah. Ketiga rombongan itu mulai memisahkan diri dan menuju ke titik masing-masing.
Fio sempat menoleh pada Lisa yang mulai menjauh. Sekarang baru muncul rasa takut akan nasib teman-temannya, terutama pada Lisa.
Dari titik ini, mereka harus bisa menjaga diri masing-masing.
Begitu tim Jein dan kelompok Gerru sudah tidak terlihat, mereka bergerak menuju tempat di mana para Orc ini berkumpul. Setelah 10 menit pencarian, mereka menemukan ada tiga Orc yang berkeliaran di tengah lapangan sambil membawa kayu raksasa.
Mereka segera menepi untuk bersembunyi. Dari jarak sejauh ini, mereka masih bisa mengamati pergerakkan mereka dengan jelas.
"Ternyata itu bentuk aslinya" bisik Roby sembari mengintip dari semak-semak. Orc itu tingginya tiga sampai lima meter, bertubuh besar dan berwajah seperti kera bertaring.
"Baik, begini rencananya..." Asvia memberitahu taktik penyerangan yang akan mereka lakukan.
Ketiga Orc itu tidak mengetahui mereka sedang diintai. Ketiganya hanya berputar-putar di sana, entah sedang menunggu atau mencari mangsa. Sementara itu, kelompok Asvia sudah mulai bergerak di balik bayang-bayang. Dengan adanya pepohonan di sekitar sini, mereka dapat bergerak tanpa harus ketahuan oleh mereka.
Asvia berguling dan bersembunyi di balik batang pohon pinus ketika salah satu Orc menengok ke arahnya. Asvia kembali bergerak ketika Orc itu lengah.
Ia mengendap keluar dari persembunyian dan merangkak menuju Orc yang tengah membelakanginya. Dengan dua pedang di tangannya, Asvia melompat tinggi hingga mencapai tengkuk Orc tersebut. Ia menancapkan kedua pedangnya di sana lalu menempatkan kedua kakinya di punggung Orc itu.
Kaget dengan serangan yang tiba-tiba menusuk salah satu bagian tubuhnya, Orc itu mulai menggeliat dan mencoba melepaskan Asvia dari tengkuknya.
Di saat yang bersamaan, kedua Orc lainnya menjadi marah melihat kemunculan Asvia. Keduanya ingin menghampiri saudara mereka yang tengah diserang, namun mendadak saja dua Elf muncul dari pepohonan dan menembak kepala mereka dengan anak panah.
Dua Orc itu menggeram pada Elf yang berani menyerang mereka. Masing-masing mengejar dua Elf yang berlari memisah itu.
__ADS_1
"Giliranmu, Roby" kata Lisa. "Jangan takut"
"Siapa yang takut?" Roby menggenggam erat pedangnya. Melihat Orc itu mulai mendekati posnya, Roby berlari dari batang pohon itu dan melompat ke udara.
Orc tersebut terkejut menyadari kemunculan Roby. Lelaki itu berhasil menancapkan pedangnya di kepala botak Orc itu. Darah mulai mengucur deras dari sana, bahkan mengenai wajah Roby.
Elf yang dikejar tadi berhenti dan berbalik. Ia membidik kedua mata Orc itu dan mengenainya dengan tepat sasaran.
Ingin rasanya Orc itu menggapai Roby, tapi rasa sakit di matanya lebih ia perhatikan, apalagi ia sudah tidak bisa melihat sekarang.
Ini sinyal Lisa.
Dari pohon yang sama dari Roby, ia melompat dan menerjang menuju Orc dengan pedang yang terhunus ke depan. Pedangnya itu berhasil menancap di dada Orc tersebut. Sempat ingin jatuh, tetapi Lisa mempererat pegangannya dan mencengkram kulit makhluk ini.
Dua Elf datang membantu. Dengan tali yang mereka gantungkan di bahu Orc itu, keduanya menarik makhluk raksasa itu ke belakang hingga tumbang ke tanah dan menghasilkan suara bum.
Roby jatuh berguling ke tanah, namun bisa langsung bangkit. Ia tercengang atas apa yang baru saja ia lakukan.
Orc itu dapat mereka taklukan. Lisa mencabut pedangnya dari dada makhluk tersebut dan melompat turun dari sana. Ia menghampiri Roby yang berlumuran darah.
"Kau tidak apa?" tanya Lisa.
"Kau bercanda? Ini menakjubkan! Hey, hey, kita bisa memposting makhluk ini ke teman-teman!" Roby menjawab dengan semangat.
Lisa hanya bisa tersenyum lega. Lelaki besar ini lebih berani dari yang ia duga.
Sementara itu, Orc lainnya dapat dikalahkan juga oleh kelompok lain dan sisanya dapat ditumbangkan oleh Asvia seorang diri.
***
Gerru dan kelompoknya menunggangi kuda mereka dengan pelan.
Area yang mereka jelajahi ini adalah hutan pinus yang sedikit menyeramkan. Orc bisa saja berkamuflase di sini, oleh karena itu mereka harus hati-hati.
Orc biasanya menyimpan makanan mereka di tempat tertutup seperti hutan atau goa dan seharusnya ada beberapa goa di sini yang dapat mereka jadikan lemari penyimpanan mereka.
"Lisa dan Roby bagaimana, ya?" tanya Anna yang dari tadi memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Jangan cemaskan mereka" jawab Alvin yang berada di depannya. "Dari pada kita bertiga, mereka yang lebih bisa menjaga diri. Jadi, tenang saja"
Alvin mengucapkan itu tanpa alasan. Selama mereka menjalani latihan di kampung itu, Lisa dan Roby yang lebih memperlihatkan peningkatan. Keduanya lebih hebat saat bela diri dengan tangan kosong dan juga menggunakan senjata.
"Mereka berdua meningkat dengan pesat. Bahkan Lisa sendiri sudah mahir menggunakan pedang" sambung Alvin.
Fio yang mendengarkan mengingat ketika Lisa sedang berduel dengan Jein. Mereka berdua terlihat cocok dan hebat waktu itu. Keduanya menunjukkan skill yang sama, seolah-olah membuat Jein menjadi lebih dekat dengan Lisa. Sedangkan Fio bisa apa? Itulah yang mengganggu pikiran Fio saat ini.
Ck, apa yang sebenarnya kupikirkan?, batin Fio.
Ia menggenggam erat tali kudanya. Sejujurnya ia tidak berhak untuk cemburu, ia juga bukan siapa-siapanya Lisa. Fio hanyalah seorang teman masa kecilnya yang bahkan sering mendapat pertolongan dari Lisa. Karena saking lemahnya, ia selalu dilindungi oleh gadis yang ia sukai selama ini.
__ADS_1
Fio menggigit bibirnya. Melihat Jein yang sempurna, bisa beraksi dan mahir menggunakan senjata, membuat dirinya tambah terlihat payah.
"Fio"
Lalu, apa yang seharusnya ia lakukan? Menyerahkan Lisa begitu saja? Ingin memperjuangkannya? Sementara Fio sendiri sudah terasa tersingkirkan.
"Fio"
Fio merenungkan itu lagi. Jika benar ia tidak ingin menyerah, ia akan bersaing dengan Jein. Mungkin bukan hanya Jein, Alvin saja bisa menggeser tempatnya dari sisi Lisa.
"Fio!"
Setelah dipanggil-panggil hingga Alvin terpaksa memukul kepalanya, barulah Fio menoleh dengan ekspresi kaget.
"Kau ini kenapa?" Alvin memandangnya penuh keheranan. "Hati-hati, jangan melamun seperti itu. Satu Orc sudah terlihat" tunjuk Alvin ke suatu arah.
Fio mengikuti arah tunjuk Alvin. Ternyata benar, ada seorang Orc yang berdiri di samping pohon. Tingginya kira-kira empat meter dengan tubuh yang sedikit kurus.
"Dari sini saja sudah seram" Anna bergidik ngeri.
"Tetap diam dan jangan menarik perhatiannya" kata Gerru. "Kehadirannya sudah memberi kita petunjuk dengan tempat makanan mereka"
***
Asvia dan kelompoknya melaju cepat di tanah lapang ini. Sejauh ini mereka belum menemukan Orc lagi.
Mereka mendadak berhenti ketika menemukan danau. Di sekeliling danau itu terdapat beberapa pohon yang berdiri sendiri.
Asvia melanjutkan pencarian dengan tetap menggunakan kuda. Mereka mengitari danau itu lalu masuk ke dalam jalan yang alami dibuat oleh alam. Jalan itu diiringi oleh lebatnya hutan di kiri dan kanan.
"Mereka di mana?" gumam Asvia.
Di tengah-tengah kebingungan mereka, mendadak muncul seorang Orc dari balik hutan. Ia menyambar salah satu Elf dengan mulutnya.
Mereka semua kaget dengan kejadian yang terjadi secara singkat itu. Roby dan Lisa langsung pucat karenanya.
Setelah Orc itu, datang lagi tiga Orc dari balik hutan dan menyambar prajurit lain. Asvia terlambat menyadari kalau jalanan ini adalah perangkap untuk mereka.
___
Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.
Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.
@haritsataqii
Oke, stay tune!
Makasih <3
__ADS_1
Next : Ch.20 - Sarang Orc