
Pertarungan sudah menyisakan beberapa gladiator tersisa. Tentu saja kelima petarung raja masih bertahan. Ini akan menjadi titik penentu untuk siapa yang akan dapat seluruh hadiah utama.
Cosmos sampai sekarang belum mendapat lawan sepadan. Rencananya, akan tinggal lima petarung raja di akhir pertarungan. Dari sana, puncak acara akan berlangsung. Pertama-tama para penganggu akan disingkirkan hanya demi mendapat kepuasan dari para penonton.
"Kau bakal hancur, Arui"
Dua petarung raksasa mendekati Arui. Lelaki lemah itu sama sekali tidak berkutik. Arui memang sudah begini semenjak masuk ke colloseum. Demi mendapat adiknya kembali, Arui rela dihantam dan dilempar dengan tujuan untuk menang. Walau ia tahu kalau kesempatannya untuk menang sangat sedikit dan mungkin tidak akan pernah ada.
Tiba-tiba, tombak melesat melewati sisi kanan wajahnya dan berakhir di perut salah satu petarung. Arui kaget, ia menoleh ke belakang. Alvin berlari dengan dua tombak di tangannya. Ia melesatkan lagi kearah Arui dan lewat begitu saja. Kedua tombak itu mengenai petarung lainnya.
Kini dua petarung yang hendak meremukkan Arui, sudah tergeletak di lantai dengan kondisi tanpa bernyawa.
"Arui, apa yang kau lakukan?" tanya Alvin, heran dengan Arui.
"Maafkan aku" jawab Arui. "Aku begitu ketakutan"
"Pertandingan akan berakhir, tapi kau malah diam. Apa kau mau kalah lagi dan membuat adikmu harus menunggu lagi?" Alvin kesal, ia tidak suka dengan orang yang menyerah dengan keadaan.
Mendengar itu, Arui merenung. Ya, apa dia akan membuat adiknya menunggu lagi? Padahal, Arui sudah bertekad untuk menjadi kuat sejak adiknya diculik sebagai hadiah di colloseum.
"Jika tidak, maka berusahalah!"
Alvin melesat dari sana, meninggalkan Arui yang tertunduk diam. Mendadak muncul gejolak aneh di dadanya yang memaksa untuk bergerak. Genggamannya pada pedang buruk ini menguat, rasa takut itu pula perlahan berubah menjadi kemarahan. Ia marah kepada dirinya dan juga orang-orang yang sudah membuat adiknya sengsara.
"Tak akan kumaafkan"
Arui menatap salah satu petarung yang tidak menyadari kehadirannya. Arui mengambil ancang-ancang untuk melempar. Ia menjadikan petarung itu sebagai target. Setelah yakin dengan bidikannya, Arui melempar pedangnya menuju petarung itu.
Senjata tersebut melayang di udara. Tanpa disadari oleh siapapun, pedang itu tertancap di kepala target. Tidak butuh waktu lama untuknya menghembuskan napas terakhir.
"Tak akan kumaafkan!" teriak Arui yang diiringi oleh sorakkan para penonton.
Alvin memandanginya dari jauh, namun hanya bisa sebentar karena ia harus berurusan dengan salah satu gladiator raja.
Penampilan gladiator itu cukup mencolok dengan rambut biru yang hanya berada di tengah. Sementara sisi kanan dan kiri sudah tidak bersisa. Orang-orang biasanya memanggilnya Ultra.
Aneh. Itu yang dipikirkan Alvin saat pertama kali menghadapinya.
"Mungkin aku akan menggunakan senjata untuk melawanmu" Ultra mengambil senjata dari punggungnya. Itu adalah kapak bermata dua.
Ultra pun mulai. Ia memutar-mutar kapaknya dan kemudian ia ayunkan ke sisi kiri dan kanan Alvin. Alvin berjalan mundur, ia ingin pergi, tapi Ultra dengan sengaja mengayunkan kapaknya disetiap sisi, mencegahnya untuk kabur.
"Hey, bisa bantu aku tidak?"
Alvin meminta tolong. Kalau satu lawan satu dengan saling berhadapan seperti ini, ia ragu akan keluar sebagai pemenang.
"Aku sibuk!"
Ternyata Asvia tidak dapat menolong. Kebetulan ia juga berhadapan dengan salah satu gladiator raja.
Wanita itu dengan lihainya membaca pergerakan lawan. Setiap ia menghindar atau menangkis serangan, ia akan membalasnya. Melihat semua itu, Alvin mendapat ide.
Dengan ayunan sederhana, Alvin menangkis kapak itu dengan pedangnya. Belum selesai, Alvin menarik kerah baju Ultra lalu memukul wajah pria itu. Tentu saja itu bukan serangan yang bagus, Ultra saja sama sekali tidak bergerak karena serangan lemah itu.
"Kau pikir—eh?"
Awalnya ingin menghina kekuatan Alvin, tapi lawannya sudah kabur duluan.
"Hey! Kembali ke sini!"
__ADS_1
Selagi Ultra masih jauh di belakangnya, Alvin berlari menghampiri Asvia. Wanita itu sendiri tampak kesulitan menghadapi lawannya ini. Dengan kesusahan Asvia menahan kekuatan dari petarung raja ini, namun karena perbedaan kekuatan, Asvia kalah dan pedangnya terlempar ke udara.
"Hah?!"
Asvia kaget, tapi ia lengah. Lawannya hendak mengayunkan kembali pedangnya, namun dengan tepat waktu Alvin datang mendorong Asvia dari sana.
"Aah!!" Asvia tersungkur, namun belum sempat ia berdiri, Alvin menariknya dengan seenaknya saja. Ia harus lebih jauh lagi dari mereka.
"Dia itu agak kasar"
"Bukan, hanya saja dia sedang panik"
Jein dan Fio menatap heran tingkah Alvin yang sedikit konyol itu. Menarik seorang wanita yang lebih mirip menyeretnya pergi.
"Asvia akan menghajarnya setelah lolos dari tempat ini" Jein menghela napas panjang.
Alvin berhenti. Asvia pun langsung bangkit dan memukul Alvin.
"Apa-apaan tadi? Kenapa kau menyeretku?!" tanya Asvia, kesal. Matanya melotot tajam.
"Aku menyelamatkanmu dan ini bayarannya?" Alvin memegangi rahangnya yang ia rasa bergeser karena pukulan Asvia tadi. Alvin membalas tatapan tajam.
"Aku punya ide untuk menumbangkan dua petarung raja, tapi kau harus membantu"
"Sebaiknya idemu ini bagus" Asvia masih kesal.
Alvin memberitahu rencananya. Setelah mendengarkan Alvin, Asvia mengangguk pelan.
"Baiklah, aku ikut" Asvia mengeluarkan belatinya. "Ayo"
Mereka berdua sama-sama berlari menuju lawan masing-masing. Alvin dan Asvia dengan sengaja menarik perhatian keduanya dan membuat lawan mengejar mereka.
Tahap pertama sedang mereka jalankan. Dengan membuat keduanya mengejar mereka, perhatian lawan sudah terpusatkan pada mereka. Lalu, menuju tahap dua. Di mana ketika Alvin dan Asvia kembali ke arena tengah dan berlari secara berlawanan arah. Begitu mereka sudah saling mendekat, keduanya banting stir ke kiri, dengan begitu kedua lawan mereka tidak punya kesempatan untuk berbelok dan malah berakhir dengan saling bentur.
Karena kerasnya benturan yang tercipta, keduanya terjatuh ke lantai dengan kepala yang sangat pusing.
"Mudah dan cepat" kata Alvin.
Lagi-lagi, penonton dibuat terkejut oleh aksi Alvin. Tidak sampai lima menit untuknya mengalahkan seorang petarung raja dan dengan bantuan Asvia mereka dapat menumbangkan dua petarung sekaligus.
"Bangkit!"
"Ayo berdiri!"
Dua raja yang petarungnya sudah tumbang itu menjadi panik dan berteriak pada mereka.
"Akh... kepalaku" Ultra memegangi kepalanya. Ia hendak bangkit, tapi Asvia menahannya dengan berdiri di atasnya.
"Hey, wanita, mau kau apakan dia?" Alvin mengerutkan dahinya ketika melihat Asvia memegang rantai bercahaya ungu.
"Aku bukanlah gladiator" Asvia melilitkan rantai itu di lehet Ultra. "Aku adalah utusan dari suatu tempat untuk menyelamatkan seluruh gadis di sini. Kebetulan, di antara mereka ada beberapa temanku.
Setelah rantai itu terikat, tubuh Ultra seolah membeku. Ultra diam tidak bergerak, bahkan dadanya tidak kembang kempis lagi—ia tidak terlihat bernapas.
"Selanjutnya—"
Asvia melebarkan matanya melihat Cosmos tiba-tiba menerjang. Asvia refleks mengangkat belatinya ke depan untuk membuat semacam perlindungan. Namun itu tidak cukup untuk menahan kekuatan Cosmos, alhasil Asvia terhempas dan lebih buruknya Alvin ikut kena imbasnya. Alvin terkena tubuh Asvia yang terdorong sangat kuat itu, mereka pun terlempar beberapa meter sebelum berakhir di dinding arena.
Jein langsung bangkit. Fio dan Roby sama-sama memegang kepala mereka.
__ADS_1
"Alvin!" teriak Lisa dan Anna.
"Nona-nona cantik" tiba-tiba saja, kedua penjaga ini memanggil mereka. "Ikutlah dengan kami"
Alvin memuncratkan darah dari mulutnya. Setelah punggungnya terbentur cukup keras ke dinding, Alvin merasakan punggungnya retak dan itu menyakitkan, tidak pernah ia alami benturan sekuat itu pada dirinya.
Asvia yang meringis kesakitan langsung mengejang kaget saat mendapati Alvin di belakangnya, menjadi bantalan untuk dirinya. Asvia segera berbalik untuk melihat Alvin. Wajahnya terkena cipratan darah dari mulut Alvin, tapi ia tidak peduli.
"Kenapa kau ikut terhempas? Kenapa kau ada di sini?"
Asvia panik tentunya, terlebih lagi ia tidak tahu siapa Alvin. Jika Alvin adalah anak dari seseorang yang berpengaruh maka habislah dia.
"Siapa coba... yang membuatku... terdorong ke sini" Alvin batuk-batuk darah. "Sakit sekali.." Alvin tidak tahan dengan rasa sakit ini, sampai-sampai ia tidak sadar sedang menggenggam tangan Asvia dengan sangat erat.
Asvia memandang iba sekaligus panik pemuda di hadapannya ini. Ia ingin memanggil bala bantuan, tapi perhatiannya teralihkan kepada Cosmos yang sedang mengarah pada mereka. Pria besar itu perlahan mengeluarkan senjata besarnya, sepertinya ia menjadi serius.
Asvia ingin bangkit, tetapi ia mengurungkan niatnya begitu melihat sesosok Elf pirang muncul di hadapannya. Asvia langsung mengenalinya dengan hanya memandangi punggung orang itu.
"Jein!"
Sementara itu, Fio dan Roby yang baru menyadari Jein sudah tidak di samping mereka lagi langsung tercengang melihatnya sudah berpindah ke arena.
Penonton bersorak riuh, apalagi saat Jein mendadak muncul. Colloseum ini menjadi lebih ramai dari sebelumnya. Bukan karena sosok Jein yang muncul tiba-tiba, melainkan karena terselipnya sedikit drama di sini.
"Ini tidak bagus" Narres menggigit jarinya. Dari tribun utara ia memperhatikan seisi arena, bahkan ia sedikit melirik ke arah raja-raja di sampingnya.
"Asvia, bawa Alvin dari sini. Dia tidak akan bisa bertahan lebih lama, lukanya cukup parah" Asvia menoleh ke belakang melalui bahu. Ia langsung mengetahui seberapa parah luka yang diterima Alvin.
"Lalu, kau mau apa?" Asvia bertanya.
"Aku akan menahannya selagi kau pergi" Jein mengeluarkan busurnya.
"Kau tidak akan bisa bertahan!" Asvia menolak. "Levelnya berada jauh di atasmu"
"Aku tahu itu" jawab Jein. "Yang penting kau dan Alvin pergi. Cosmos adalah urusanku"
Asvia masih tetap tidak yakin. Kekuatan Jein saat ini tidak begitu meyakinkan.
Arui datang begitu melihat Alvin terhempas ke dinding. "Alvin! Apa kau baik-baik saja?!" tanyanya, panik. Tapi, Alvin tidak merespon.
"Cepat pergi!" teriak Jein. Cosmos mulai mendekat.
Sambil mendecih, Asvia berdiri sambil menggendong Alvin. Ya, menggendong, bahkan seperti ala tuan putri. Harga diri Alvin langsung runtuh.
"Aku akan menjemputmu" ucap Asvia. Ia berlari dari sana menuju gerbang masuk para gladiator. Bingung mau melakukan apa, Arui memilih ikut dengan Asvia.
———
Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.
Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.
@haritsataqii
Oke, stay tune!
Makasih <3
Next : Ch.12 - Terlambat
__ADS_1