Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.8 - Gladiator


__ADS_3

"Lisa... Lisa..."


Anna menggucang tubuh Lisa, berusaha untuk membuat gadis itu tersadar dari tidurnya.


"Lisa, kumohon bangunlah!"


Anna meringis melihat Lisa sulit sekali untuk dibangunkan. Namun, keberuntungan masih berada di sekitar mereka, Lisa berhasil sadar. Gadis itu membuka kedua kelopak matanya dengan pelan. Yang pertama kali ia lihat adalah wajah Anna.


"Anna..?" gumam Lisa dengan suara seraknya.


"Syukurlah.." Anna menghela napas lega.


Lisa ingin bangkit, tapi kepalanya terasa begitu sakit. Alhasil, ia menahan rasa sakit itu sembari berusaha untuk duduk.


"Di mana kita?" Lisa bertanya sambil memandangi ruangan sempit ini.


"Aku tidak tahu. Kita terpisah dari Jein dan yang lainnya" jawab Anna. "Apa kau ingat sesuatu?"


"Samar-samar. Saat itu ada tiga orang bertopeng masuk lewat belakang, salah satunya menusuk Alvin dari belakang..."


Tiba-tiba, terdengar suara riuh banyak orang dari luar ruangan ini. Anna bangkit berdiri dan berjalan menuju ventilasi persegi berjeruji di belakangnya.


"Banyak sekali orangnya" kata Anna.


Lisa yang penasaran ikut melihat. Yang dapat ia ketahui dan lihat adalah bangunan mirip colloseum itu begitu besar dan ramai. Dipenuhi penonton yang bersorak.


"Apa itu colloseum?" tanya Lisa, memastikan.


"Lisa, apa kau berpikir kenapa kita ada di sini?" Anna melempar pandangannya.


Belum sempat Lisa menjawab, pintu besi ruangan ini terbuka. Ada dua penjaga berseragam abu-abu di sana, menatap tajam pada mereka. Keduanya menarik Lisa dan Anna dengan kasar keluar dari ruangan itu.


Pasrah dengan keadaan, mereka hanya menurut. Selain mereka, juga ada beberapa gadis yang di bawa ke koridor. Mereka tampak lesu dan lemah.


Mereka dibawa menuju keluar menara ini. Colloseum tepat berada di samping mereka. Anna tertegun memandangi bangunan yang menjulang tinggi dan juga lebar itu. Mereka digiring ke kastil satu lagi yang berada di belakang tribun selatan colloseum.


"Hadiah wanitanya sudah disiapkan, Pak"


Salah satu penjaga melapor pada atasan yang menjaga kastil itu. Setelah mendapat izin, mereka pun masuk. Para wanita ini dibawa ke atas kastil dan sampai pada ruangan yang luas. Di sana dipenuhi dengan berbagai barang yang bernilai tinggi, contohnya saja tumpukan berlian di sebelah sana dan juga pedang kristal yang terletak di peti kaca. Koin-koin emas juga ada.


Banyak para penjaga berlalu lalang di sana, tempat ini lumayan ramai, mencegah para perampok yang berusaha memungut barang-barang di sini.


"Sudah waktunya" kata salah satu penjaga di sana.


Lisa, Anna dan yang lainnya dibawa menuju tirai merah itu. Begitu melewatinya, sinar matahari dan gemuruh penonton menyambut mereka.


***


Dari salah satu gerbang


yang menjadi pintu masuk bagi para gladiator keluarlah seorang pria berpakaian rapi dengan penampilannya yang mirip seperti sarjana muda.


Ia berdiri di tengah-tengah lantai arena. Tangan kanannya ia angkat ke udara, di saat itu juga arena ini menjadi tenang.


"Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya! Para Raja, bangsawan kelas atas maupun bawah, masyarakat biasa, penggemar gladiator. Selamat datang di Pertarungan yang ke 236!!" seru pria itu. Tampaknya ia akan menjadi pembawa acara di tempat ini.


"Hari ini, Narres, yaitu saya akan membawakan pertarungan yang brutal dan ganas, siap untuk menghibur kegilaan kalian semua!!"

__ADS_1


Penonton bersorak.


"Pertama-tama saya mengucapkan selamat datang bagi para raja yang menyempatkan diri untuk datang kemari" Narres menunjuk pada tribun utara. Ada lima raja di sana, berdiri dari kursi mereka dan menyapa seluruh penonton.


"Untuk pertandingan kali ini, para gladiator akan merebutkan hadiah-hadiah yang telah dikumpulkan pihak colloseum. Hadiah pada hari ini menarik dan juga bernilai besar. Untuk itu saya sambut Pedang Kristal Samudera!!"


Dua penjaga mengeluarkan peti kaca yang berisikan pedang berwarna biru cerah itu dari tribun selatan. Dua raja tampak tertarik melihat hadiah itu. Narres menyeringai puas.


"Dan juga, kami mendapatkan sebuah selendang. Selendang ini bukan barang biasa, melainkan selendang sihir, siapa saja yang memakainya, luka pada orang itu akan disembuhkan 80%!"


Ya, itu bukan sembarangan hadiah. Dua raja lainnya terkagum dengan selendang itu. Pakaian itu mungkin bisa menjadi alat tempur yang sulit dikalahkan.


"Dan hadiah utama lainnya, tentunya wanita, tapi kami mendapatkan dua wanita cantik yang tidak pernah ada di penjuru Desa Safwan!!"


Perhatian Jein dan yang lainnya tertuju pada tribun selatan. Mata mereka lebar ketika mengetahui Lisa dan Anna lah yang menjadi salah satu hadiah utama.


Salah satu raja tampak tertarik. Raja itu sedikit menegakkan tubuhnya untuk dapat melihat Lisa dan Anna lebih jelas.


Raja itu merupakan raja yang paling muda diantara raja lain. Perawakkannya yang indah dengan kulit putih, rambut merah yang ditata rapi, tatapannya yang setajam elang membuat sosok itu terlihat sempurna di mata gadis-gadis.


Sepertinya aku berhasil membuat Ganory tertarik, batin Narres puas.


"Bisa-bisanya mereka menjadikan Anna sebagai hadiah utama" Roby geleng-geleng sendiri.


"Kita harus menyelamatkannya" Fio hendak bangkit, tapi bahunya langsung ditahan Jein.


"Jangan, kau malah membuat dirimu dalam bahaya. Di sini ada lima kerajaan berkumpul, tingkat keamannya juga extra ketat. Kita tunggu saja"


Dengan perasaan gelisah, Fio duduk kembali. Jein melirik pada Fio, jelas kalau lelaki itu sangat khawatir.


"Mereka berdua pasti akan kita selamatkan" ucap Jein. "Aku juga tidak ingin terjadi hal yang buruk pada mereka"


"Bagaimana ini? Aku tidak ingin berakhir di tangan gladiator yang ganas-ganas itu"


"Tenang, aku yakin pasti ada yang datang menyelamatkan kita" ucap Lisa, mencoba menenangkan.


Tiba dua penjaga di samping mereka. Mereka berdiri tegak sambil menatap lurus ke depan.


***


Riuh penonton semakin menggema begitu mendengar hadiah-hadiah yang akan dipertaruhkan itu.


Para gladiator semakin tidak sabar untuk beraksi dan membunuh satu sama lain. Semuanya sudah bersiap, tinggal menunggu waktu untuk keluar saja.


Alvin, salah satu gladiator bertubuh kecil ini hanya diam dengan wajah datarnya seperti biasa. Ia sama sekali tidak terintimidasi dengan petarung-petarung di sekitarnya.


Alvin mengenakan baju zirah pelindung dada dan perut. Ia juga memakai helm pelindung kepala. Di tangan kanannya ada pedang, sedangkan perisai ada di tangan kirinya.


"Ribet" gumam Alvin, begitu menyadari penampilannya saat ini.


Sementara itu, Arui yang berdiri di sampingnya tampak tidak tenang. Dari tadi ia komat-kamit, entah mengucapkan mantra atau doa. Tubuhnya juga tidak henti bergetar. Sepertinya ia ketakutan.


"Bagaimana kalau kita bekerja sama?" tanya Alvin, menawarkan.


"Kerja sama?" Arui bingung.


"Ya. Kau dan aku, kerja sama. Bagaimana?"

__ADS_1


"Tidak buruk juga"


"Tapi bersiap, karena target hadiah kita menjadi tiga orang"


Menyadari itu, Arui menjadi pucat. Ia ragu dengan Alvin. Selain tubuhnya yang tidak terbilang kekar, Alvin terlihat begitu lemah dan mungkin akan terkalahkan. Tapi yang membuat dirinya ada sedikit rasa percaya pada Alvin adalah ekspresinya yang tenang dan sama sekali tidak terganggu.


"Baiklah" Arui setuju. "Ayo kita bekerja sama"


Dari luar sana, suara Narres yang menggema terdengar sampai ke dalam.


"Tanpa berlama-lama lagi, mari kita sambut para gladiator yang perkasa!!"


Begitu mengucapkannya, seluruh petarung keluar. Mereka langsung mengitari arena ini dan mencari tempat berdiri. Sambil bergaya dan menunjukkan kekuatan mereka pada penonton, mereka dengan percaya dirinya berdiri di lantai pertarungan.


Alvin sendiri hampir terlena dengan pemandangan di bawah sini. Ribuan penonton tengah memperhatikannya dari atas sana. Sungguh suatu suasana yang menarik baginya.


"Alvin?" Lisa mengerutkan dahinya.


"Apa?! Itu Alvin?!" Anna sangat terkejut melihat sosok itu di bawah sana.


"Hey, lihat! Itu Alvin!" Roby menunjuk kearah Alvin. Fio dan Jein bisa melihat anak itu dari kursi tribun.


Alvin menoleh kearah tribun selatan, di mana hadiah-hadiah utama berada. Ia lihat Lisa dan Anna di sana, berlutut dan terpasang kalung besi di leher mereka.


Alvin mengangkat tangannya, menandakan kalau ia melihat kedua gadis itu. Lisa dan Anna melambai pada Alvin. Lisa memberi senyum penuh harapan pada Alvin.


"Hey! Kau berani juga, ya. Pertarungan belum dimulai, kau sudah melambai pada kedua gadis itu"


Tiba-tiba salah satu petarung menyapanya dari samping. Pria itu menatapnya sinis.


"Jangan sombong dulu, Bocah. Yang mendapatkan mereka tentu saja bukan kau"


Ada juga gladiator lain yang menyatakan rasa tidak sukanya pada Alvin.


Mereka kenapa? Aneh, batin Alvin.


Seluruh petarung sudah mengisi lantai arena. Mereka berdiri di setiap sisi lantai ini, menghadap kearah satu sama lain.


"Giliran gladiator para raja yang turun!"


Mendapat aba-aba dari Narres, petarung dari masing-masing raja keluar. Mereka turun begitu saja dari tribun utara dan mendarat dengan sempurna.


"Habislah kita" Arui menelan ludahnya.


Kelima petarung milik setiap raja ini bertubuh besar dan dilengkapi baju zirah yang bagus serta disenjatai dengan alat perang berkualitas tinggi.


"Curang" kata Alvin.


———


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!

__ADS_1


Makasih <3


Next : Ch.9 - Pertarungan Berdarah


__ADS_2