Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.1 - Selamat Datang


__ADS_3

"Mm.."


Fio merasa silau. Kedua matanya yang tertutup rapat ini mampu ditembus oleh kekuatan sinar cahaya yang ia yakini lampu kamarnya. Namun, anehnya, selain merasakan silau, ia juga merasakan kehangatan. Bisa jadi cahaya matahari yang menyelip dari sela-sela tirai kamarnya. Tapi, rasanya itu tidak mungkin.


Perlahan ia membuka kedua matanya. Begitu terbuka, sinar di atasnya menyengat kedua matanya. Ia halau cahaya hangat itu dengan tangan kirinya.


"Matahari?" gumam Fio, kebingungan.


Belum sempat kebingungannya terjawabkan, jeritan dari suara yang ia kenali memasuki gendang telinganya. Mengejutkannya.


Itu Roby. Dan di atasnya ada seekor hewan kecil berwarna merah, mirip seperti anak anjing tapi di ujung ekornya berbentuk segitiga dengan api yang mengambang di atasnya.


"Singkirkan ia dariku!" jerit Roby.


Hewan itu pergi sendiri, berlari ke suatu tempat. Roby pun mengusap-usap wajahnya yang tadinya menjadi target jilatan hewan itu. Ia mengumpat tidak jelas dan belum menyadari di mana ia sekarang.


"Um... teman-teman"


Kini, Lisa yang memanggil. Pandangannya terfokus ke depan, menunjuk sesuatu yang mengarah ke sana. Fio dan yang lainnya mengikuti arah tunjuknya.


Itu lautan.


Dan lagi, suara debuman ombak yang tercipta serta kicauan burung di atas membuat mereka tersadar kalau di sini adalah pantai.


Fio melebarkan matanya, ia segera bangkit dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tahu kalau ini bukan lagi perpustakaan, Fio memegang puncak kepalanya dengan mulut yang menganga.


"Kita di mana?" tanya Anna, yang ikut bangkit dari permukaan pasir putih.


"Dugaanku memang benar" sahut Alvin. Pandangan Alvin kosong ke depan, menatap laut yang biru itu. Indah, tapi bukan waktu yang tepat untuk mengaguminya.


"Kita masuk ke dalam buku itu?"


Giliran Roby yang bertanya. Tidak ada yang bisa menjawab, semuanya sama-sama kebingungan.


"Peringatan itu benar.." Lisa termenung, masih duduk di atas pasir.


"Peringatan itu memang benar!" Roby dengan gelisah menatap tajam kearah Fio. "Ini semua salahmu!"


"Salahku?" Fio membalas tatapan Roby.


"Tentu saja!" bentak Roby. "Jika kau tidak merobek kertas buku itu, kita tidak akan masuk ke dalam sini. Kami sudah memperingatimu, Fio! Lihatlah, kita terjebak di dunia yang mungkin berbeda dari dunia asli kita"


"Aku hanya memastikannya saja" Fio tertunduk, merasa bersalah.


"Selamat! Kau sudah memastikannya. Ah! Matilah kita" Roby yang kekesalannya meluap-luap memilih berjalan mendekati bibir pantai.


Anna menjadi kebingungan. Ia lihat Fio yang merasa bersalah itu kembali duduk dan merenungi perbuatannya. Roby yang marah berusaha untuk menenangkan dirinya di sana. Sedangkan Lisa dan Alvin sama sekali tidak melakukan apa-apa.


Mereka mati langkah saat ini. Terjebak di dunia antah berantah, tidak dapat memanggil pertolongan dan tidak ada yang dapat ditunggu.


"Teman-teman, aku tahu ini sangat buruk tapi kita harus bersama-sama. Memang... keadaan memaksa kita untuk sampai ke sini. Jadi, ayolah, jangan ada yang... putus asa. Mulai saat ini, kita harus berusaha untuk bertahan hidup sambil mencari cara untuk kembali ke tempat asal kita"


Anna berusaha menanamkan kembali semangat di hati mereka, tapi tidak satupun yang tampak tergerakkan hatinya.


Tiba-tiba, ada pergerakkan muncul dari belakang mereka semua. Dengan cepat mereka berlima menoleh kearah yang bersamaan.


Semak-semak itu bergerak, seperti ada yang tidak sengaja menggerakkannya. Lisa, Alvin dan juga Fio langsung bangkit dari pasir dan perlahan melangkah mundur.


Jantung mereka berpacu seiring menunggu apa yang keluar dari sana.


Tiba-tiba...


Seekor kelinci putih keluar sambil mengendus-endus tanah di sekitarnya. Untuk sesaat mereka berlima menghela napas lega, tapi kepanikan kembali muncul ketika dari dalam semak itu keluar moncong besar dengan ratusan gigi tajam.


Hewan raksasa baru saja memakan kelinci itu bulat-bulat. Sosoknya muncul begitu ia berdiri dari semak-semak tersebut.


Berdiri dengan dua kaki yang kekar. Memiliki sepasang tangan yang dilengkapi cakar. Moncong panjang, disenjatai ratusan gigi kecil yang siap menyayat apa saja. Memiliki ekor panjang dan ada sirip di atas punggungnya. Tinggi mencapai 5 meter dengan panjang 17 meter.


Hewan itu mengaum keras kearah mereka. Seolah menjawab, mereka berempat—kecuali Alvin— berteriak sekuat-kuatnya.


"Itu Spinosaurus?" Alvin berusaha mengidentifikasi hewan itu, namun tidak sempat, ia sudah ditarik oleh Roby agar berlari menjauh.


Mereka berlima berlari di pesisir pantai dengan di kejar predator raksasa. Langkah besar hewan itu hampir bisa menyusul lari kelima remaja tersebut.


"Matilah kita! Matilah kita!" seru Roby.


"Jangan di doakan, *****!" gerutu Anna.


"Belok sini!" Fio berbelok, masuk ke dalam hutan.

__ADS_1


Mereka menyalip-nyalip masuk melewati pohon-pohon. Langkah mereka agak melambat karena harus memperhatikan akar-akar pohon yang mencuat ke permukaan, belum lagi rumput-rumput yang tingginya semata kaki dan lumpur.


"Aduh!"


"Ah!"


Fio dan Lisa sama-sama terbentur oleh ranting-ranting di atas mereka, tapi untungnya mereka tidak jatuh.


"Aah!"


Namun sial bagi Roby yang tersandung akar pohon, alhasil ia jatuh mencium tanah.


"Roby!" teriak Fio. Ia hendak menyelamatkannya, tapi melihat hewan raksasa itu semakin mendekat, membuat nyalinya ciut.


"Ayo, kawan"


Alvin segera menarik Roby dari tanah. Mereka kembali berlari. Alvin berseru kepada ketiga temannya yang ada di depan, "Cepat! Jangan berhenti!"


Fio dan dua gadis itu kembali berlari. Alvin menoleh kebelakang, ia menatap hewan itu lari dengan menerobos pohon-pohon yang ada di depannya.


"Kita harus cari pohon yang lebih kuat agar menahan Spinosaurus itu" ucap Alvin, dengan tenang.


"Di mana kita akan mencarinya?!" tanya Roby, panik.


Sambil melihat-lihat ke depan dan ke samping, Alvin langsung menemukan ada cabang-cabang dari beberapa pohon yang menyilang antara satu sama lain. Arahnya berada di arah jam dua.


"Hey! Ke arah sana, cepat!"


Alvin berseru dengan menunjuk kearah yang ia maksud. Meski bingung, ketiga temannya yang di depan menurut.


Lisa paham kenapa Alvin menyuruh mereka ke sana. Ia berhenti ketika melewati pepohonan dengan cabang yang menyilang itu. Lisa melihat Alvin dan Roby masih berlari dari kejaran hewan itu.


"Ayo, Lisa!"


Anna menariknya pergi. Tepat setelah Lisa berlari dari sana, Alvin dan Roby melewati pepohonan itu. Mereka berhenti sejenak untuk melihat apakah hewan ini akan berhenti atau tidak.


Ternyata Alvin benar, hewan ini terhenti langkahnya ketika menubruk cabang pepohonan yang menyilang tersebut. Ia mengaum sambil mencakar-cakar yang ada di depannya.


"Yeah! Kau berhasil!" Roby bersorak senang lalu berpegangan pada kedua lututnya karena telah lelah berlari.


Namun, kesenangan mereka hanya singkat ketika hewan itu berusaha menubruk cabang pepohonan itu dengan kepalanya. Hewan tersebut berusaha sekuat tenaga, Alvin melihat cabang pohon itu tidak akan bertahan lebih lama.


"Ayo"


Hewan itu terus membenturkan kepalanya hingga cabang pohon yang menghalangi dirinya hancur.


"Aku tidak tahu kekuatannya bisa segila itu" ucap Alvin yang mengintip ke belakang.


Ketika jalan di depan adalah pintu keluar dari hutan ini, Anna malah tersandung sesuatu yang membuat kakinya terjerat oleh tali yang sumbernya entah dari mana.


"Apa-apaan ini?!" jeritnya.


"Ini perangkap!" Lisa terkejut. Segera ia berusaha melepaskan ikatan itu dari kaki Anna.


Melihat Lisa dan Anna berhenti, membuat Fio berlari menghampiri mereka. Ia lihat ada tali yang mengikat kaki Anna.


"Tolong bantu, jangan berdiri saja!" Anna yang panik memukul-mukul kaki Fio.


Bersama-sama, keduanya mencoba melonggarkan ikatan tali itu.


Di saat yang bersamaan Alvin dan Roby datang. Mereka berdua terkejut melihat ketiga teman mereka sedang duduk-duduk di tanah. Sementara itu, hewan tadi makin mendekat.


"Apa yang terjadi?" tanya Roby yang turut berlutut di samping Lisa.


"Anna kena perangkap" jawab Lisa.


"Kita harus cepat" Alvin membantu dari samping Fio.


Keempatnya berusaha sekuat tenaga. Ikatan ini begitu kuat, wajah Roby sampai memerah karena berusaha sekuat tenaga.


Tiba-tiba, bumi bergetar. Getaran yang dihasilkan seirama, seperti langkah besar.


"Ayo! Ayo!" seru Fio.


Tidak sempat. Hewan itu sudah sampai dengan mulutnya yang siap menerkam.


Dari arah samping, muncul seseorang yang bergelantungan dengan akar gantung. Kedua kakinya di depan, menghantam sisi wajah makhluk itu. Hewan tersebut berhenti dan mencari makhluk mana yang berani menendangnya tanpa izin.


Orang itu mendarat di atas pohon. Tubuhnya tertutupi oleh dedaunan, tidak dapat dikenali siapa dia.

__ADS_1


Ada busur besar di belakangnya. Segera ia mengambilnya dan mengarahkannya kepada predator itu. Ia pungut dua anak panak yang ada di saku celana pahanya. Di ujung kedua anak panah itu terdapat cairan hijau.


Ia pun meletakkan dua anak panah itu di busurnya. Ia mulai membidik, salah satu matanya terpejam. Setelah yakin dengan sasaran di depannya, orang itu pun melepaskan tembakannya.


Satu anak panah tertancap di kepalanya, sedangkan yang lain meleset. Tetapi, itu tidak membuatnya kesal.


Merasakan sakit di kepalanya, hewan itu mengaum lagi, namun tidak lama kemudian, ia merasa pusing. Setelah berjalan ke sana kemari, mencoba bertahan tapi sudah batasnya, hewan itu tumbang, tepat di depan kelima remaja ini, yang duduk dengan mulut menganga. Mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi.


Orang itu melompat dari atas pohon itu, lalu mendarat di atas kepala makhluk yang sudah mati ini.


Mereka baru sadar kalau orang ini mengenakan penutup mulut, tapi apa itu penting?


"Kalian tidak apa-apa?"


Dari balik penutup mulut itu, terdengar suara bariton yang gagah. Kelimanya tidak menjawab, melainkan tetap memandanginya.


"Kalian... tidak kanibal, kan?" tanyanya sekali lagi.


"Apa?"


"Tidak!"


"Mana mungkin!"


"Aku masih suka daging sapi"


Lisa, Fio, Anna dan Roby menjawab secara serentak dengan jawaban yang berbeda.


"Syukurlah. Aku tidak perlu menghabiskan sisa anak panah beracunku" jawabnya sambil turun dari kepala hewan itu.


Ia mendekati kelima remaja tersebut seraya membuka penutup mulutnya dan tempurung di atas kepalanya. Dan lagi, ia melepaskan kostum dedaunannya ini.


Terlihatlah sosok aslinya. Berkulit putih langsat, berambut pirang lebat, bermata biru samudera, memiliki rahang yang tegas. Tampan dan menawan, meskipun ada bekas cemong hitam di wajahnya. Ia mengenakan pakaian hijau daun dan celana kulit serta sepatu yang bahannya juga dari kulit. Namun ada sesuatu yang menarik darinya, ia memiliki sepasang telinga yang runcing.


Lisa sedikit tertegun melihat parasnya, tapi Anna lebih parah. Ia bahkan lupa kalau dirinya saat ini sedang terperangkap.


"Kau siapa?" tanya Fio.


"Aku Jein. Berasal dari Perkampungan Stofein" jawabnya. "Kalian?"


"Aku Fio"


"Namaku Anna"


"Aku Lisa"


"Aku Roby"


"Alvin"


"Ouh. Kalian semua kenapa berada di sini? Tempat ini berbahaya, kalian tahu?"


"Itu... em..?"


"Anu.."


Mereka semua tampak kesulitan menjawab pertanyaan dari Jein. Tidak mungkin kalau mereka menjawab bahwa mereka tidak berasal dari sini dan terdampar.


"Ada apa di sini?" tanya Alvin yang cuek.


"Di sini adalah wilayah para kanibal. Biasanya mereka bergerak pada malam hari. Tidak jauh dari sini ada perkampungan mereka. Jebakan yang ada di sini mungkin berasal dari mereka"


Anna seketika menjadi pucat, ia pun meronta-ronta agar dilepaskan. Jein mengeluarkan sebuah belati dari saku belakangnya, ia memotong tali itu dengan sekali tebasan.


"Kau bebas sekarang"


"Ah, terima kasih" Anna tersenyum lega.


Jein membalas senyuman Anna. "Apa kalian tersesat?"


"Iya" Fio mengangguk.


"Kalian ingin ikut denganku? Ke perkemahanku?" tawar Jein yang dijawab "Ya" langsung oleh Anna.


"Baiklah, ikut aku"


———


**Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.

__ADS_1


Makasih <3


Next : Elf**


__ADS_2