Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.7 - Colloseum


__ADS_3

Di sini dingin. Tempat ia tiduri ini begitu dingin membuatnya terpaksa terbangun dari tidurnya yang aneh.


Alvin bangkit perlahan dari lantai hitam ini. Ia lupa kenapa bisa kemari. Yang ia ingat adalah kekacauan di bar itu dan berakhir saat ia ditusuk oleh seseorang dari belakang.


Alvin menyadari ia dalam posisi yang bahaya. Dilihatnya tempat sempit ini, hanya dia seorang yang mengisi. Ruangan dua kali tiga meter ini begitu kusam. Dinding dan lantainya berwarna hitam, penuh dengan debu dan jaring laba-laba. Di belakangnya ada sebuah ventilasi berbentuk persegi dengan diisi dua batang jeruji. Lalu di depannya ada pintu besi, terdapat lobangan di atasnya.


Alvin berdiri dan mencoba mengintip dari lobangan itu. Di luar ruangan ini adalah koridor panjang, di setiap sisinya ada pintu besi.


"Hey, tahanan baru"


Di saat ia masih melihat-lihat koridor ini, suara seseorang menarik perhatiannya. Suara itu berasal dari pintu di seberang sana. Benar saja, ada seseorang mengintip dari sana, memandangi Alvin.


"Kau sudah bangun, ya?"


"Kira-kira seperti itu" respon Alvin seadanya. "Bisa kau beritahu aku tempat apa ini?"


"Apa? Kau tidak tahu tempat ini?" lelaki itu tampak tidak percaya. "Berarti kau sangat sial jika sudah sampai di sini, Bung"


"Sangat sial?" Alvin mengerutkan dahinya. "Beritahu aku dengan rinci tempat ini"


"Diam kalian!" Tiba-tiba saja ada suara yang menggelegar dari arah samping pintu lelaki itu. "Aku ingin menikmati waktu tidurku yang sedikit ini sebelum gladiatornya dimulai!"


"Gladiator?" gumam Alvin. Ia semakin tidak paham tempat ini, yang pasti bukan tempat yang bagus.


"Maaf, Hegro, aku hanya menjelaskan tempat ini kepada pendatang baru"


Pria yang berteriak tadi mengintip melewati lobang di atas pintunya. "Kau ingin tahu?"


"Ya" jawab Alvin, singkat.


Hegro pun mulai menjelaskan tempat yang mengurung mereka ini.


Orang-orang biasa menyebut tempat ini sebagai Arena Gladiator. Setiap minggunya akan ada pertarungan antara para gladiator. Pertarungan yang akan menghabisi nyawa setiap gladiator. Di setiap pertarungan hanya akan ada satu pemenang, sementara yang lain akan menjadi santapan para kanibal.


Ini tempat yang buruk bagi sebagian orang, tapi tidak untuk sebagian orang lainnya. Tempat ini justru menjadi ajang hiburan yang mengasyikkan bagi mereka. Mereka rela mendapatkan tiket yang mahal hanya untuk menonton pertandingan brutal ini.


Selain itu, di Arena Gladiator ini juga menjadi tempat ajang perjudian. Yang melakukannya banyak, ada yang dari kalangan bawah maupun kalangan elit sekalipun. Bahkan ada beberapa raja yang turut mempertaruhkan harta mereka di sini.


Setiap orang yang dikurung di sini adalah gladiator yang siap dipertarungkan antara satu sama lain. Namun, berbeda dengan gladiator para bangsawan. Mereka akan diperlakukan layaknya majikan hingga pertarungan dimulai.


"Tapi, di sini gladiator juga dapat untung"


"Untung bagaimana?" tanya Alvin.


"Jika menang, maka kau akan mendapat hadiah yang dipertaruhkan di akhir pertarungan"


"Hadiahnya seperti apa?"


"Tergantung. Kadang mereka menempatkan berlian samudera yang terkenal akan kelangkaannya, ada juga hewan seperti Unicron atau gadis-gadis cantik. Aku dengar mereka mendapatkan dua gadis cantik baru-baru ini, mereka mungkin akan mengisi tempat hadiah"


Alvin mengangkat sedikit kedua alisnya. Jika firasatnya benar, maka kedua gadis yang dipertaruhkan itu adalah Lisa dan Anna.


"Setiap gladiator di sini mempunyai keinginan sendiri jika benar-benar memenangkan turnament. Contohnya seperti aku, jika di sana ada peti yang berisikan emas, aku pasti akan memilihnya" Hegro tertawa lantang.


"Jadi, kalian kemari ingin mendapat satu permintaan?" tanya Alvin.


"Kira-kira begitulah. Kau juga bisa mendapat seluruh hadiah itu, tetapi tingkat kesulitan yang akan kau hadapi tentunya akan berkali-kali lipat" jawab lelaki di depannya.


"Begitu, ya.."


Alvin merenung sejenak. Berarti ia harus bertarung sekuat tenaga agar dapat mengeluarkan Lisa dan Anna dari tempat ini. Pertanyaannya, apa ia mampu?

__ADS_1


"Apa tujuanmu, Pendatang Baru?"


"Awalnya tidak ada. Aku datang kemari dengan paksaan, tapi ketika mendengar ada hadiah, aku jadi kepikiran tentang dua gadis cantik yang pria sana katakan tadi"


"Berarti kau mempunyai banyak saingan di sini" Hegro tertawa. "Berita akan kecantikan dua gadis itu sudah tersebar di seluruh gladiator, akan sulit untuk mendapatkannya jika tidak ada bantuan"


Dengan begini, ia berharap Jein, Fio dan Roby datang membantu. Tidak akan mungkin kalau Alvin bisa bertahan seorang diri saja di tengah-tengah pertarungan brutal itu.


"Apa tujuanmu?" Alvin bertanya pada lelaki di depannya.


Saat ditanyai, matanya perlahan mengarah ke bawah. Di sana Alvin dapat melihat kesedihan dan kecemasan yang mendalam yang dirasakan pemuda itu.


"Aku kesini demi adikku" ucapnya. "Seperti halnya hadiah lain, aku kemari karena adikku menjadi hadiah taruhan"


"Kenapa kalian bisa berakhir di tempat ini?" tanya Alvin.


"Oi, oi, ini adalah takdir mereka, kau tidak berhak ikut campur" Hegro memotong pembicaraan mereka.


Alvin menghela napas. "Ya sudah. Kapan pertarungan ini akan dmulai?"


"Sebentar lagi. Jadi, bersiaplah" jawab Hegro.


Alvin pun beranjak dari sana menuju ventilasi di belakangnya. Ia mengintip dari sana. Yang ia lihat adalah kerumunan orang yang mengantre demi menonton gladiator.


***


"Untuk membebaskan Lisa dan Anna, Alvin harus memenangkan pertarungan?!"


Fio dan Roby menjerit tidak percaya dengan apa yang mereka dengar ini dari Jein.


"Dia mungkin tidak akan tahan selama dua menit di sana, ya ampun!" Roby mengacak-acak rambutnya sendiri, panik.


"Alvin adalah pilihan pertama kita untuk membebaskan Lisa dan Anna. Pilihan kedua, kita akan mengendap-endap masuk ke ruang hadiah. Pilihan ketiga, kita akan mengacau di sana"


Mereka berbondong-bondong masuk ke dalam Colloseum. Ya, tempat ini mirip dengan Colloseum yang ada di Italy. Untuk sesaat Fio dan Roby terpukau dengan arsitekturnya yang mirip dengan yang ada di Italy.


Bangunan ini menjulang ke atas, kira-kira bisa mencapai 50 meter. Dengan panjang 190 meter dan lebar 158 meter membuat bangunan megah ini menjadi bangunan terbesar dan teramai di desa. Meskipun letaknya di desa, hal itu tidak mencegah pendatang luar seperti raja dan bangsawan lainnya untuk datang.


Di kelilingi tribun yang bakal dipenuhi oleh masyarakat yang antusias. Tempat ini akan menjadi tempat berdarah.


"Menurutmu di mana mereka menahan Lisa dan Anna?" tanya Fio.


"Kemungkinan besar di menara itu" Jein menunjuk pada menara yang berada di belakang tribun utara yang merupakan tempat duduk para bangsawan.


"Dan di tribun selatan di sana ada podium tempat meletakkan hadiah-hadiahnya. Lisa dan Anna akan diletakkan di sana" tunjuk Jein.


Tiba-tiba penonton mulai bersorak. Suara riuh yang ditimbulkan para penonton membuat colleseum ini bergetar. Jein, Fio dan Roby terpaksa duduk di tribun dan menunggu waktu untuk beraksi. Pertama-tama mereka akan menunggu kehadiran Alvin, Lisa dan Anna.


***


Riuh penonton terdengar sampai kastil gladiator. Alvin bangkit dan melihat situasi dari ventilasi.


"Semuanya bangun!"


Tiba-tiba, dari luar ruangan, terdengar seruan seorang pria yang menggema di sepanjang koridor ini. Seluruh pintu di buka oleh para penjaga.


Alvin keluar, tapi ia tidak bebas karena lengannya di pegang erat oleh penjaga berseragam abu-abu ini. Semuanya keluar, Alvin pun melihat sosok pemuda yang berbicara dengannya beberapa saat yang lalu dan juga Hegro.


Hegro adalah pria berambut panjang dengan tubuh besar. Ia kekar, namun sedikit gemuk. Wajahnya garang dan menatap tajam siapa saja yang melihatnya.


Pemuda itu ternyata hanya seorang lelaki yang kurus dan terlihat lemah. Terdapat bekas luka di sekujur tubuhnya. Sepertinya dia sudah pernah bertarung dan jelas bukan pertarungan yang sekali.

__ADS_1


"Akhirnya kita bertemu juga tanpa pintu yang membatasi" ucap pemuda itu.


Menghiraukan luka yang ada tubuh orang ini, Alvin dan yang lainnya digiring oleh para penjaga ini.


"Kita dibawa kemana?" tanya Alvin.


"Menuju ruang tunggu. Di sana kita akan bersiap untuk turnament" jawabnya. "Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan. Namaku Arui"


"Alvin"


Mereka pun sampai di ruang tunggu. Ruangan ini luas, dipenuhi senjata, baju zirah dan orang-orang yang bersiap untuk bertarung.


Alvin melihat-lihat sejenak. Jelas ia kebingungan di sini dibandingkan ketakutan. Orang di sini beragam, ada kuat dan bugar, besar dan lesu hingga yang kurus dan lemah.


"Di sini bukan tempat untuk melihat, Nak"


Hegro datang menghampirinya. Pria itu sudah memakai baju zirah perunggu yang menutupi dada hingga perutnya, ia juga mengenakan pelindung lutut. Hegro memegang gada hitam yang besar, sangat cocok untuknya.


"Benar juga, kau ingin mendapatkan kedua gadis itu, ya. Kalau begitu, akan kuperkenalkan kau kepada dua orang yang tujuannya juga sama denganmu" Hegro menyeringai lalu memanggil dua orang yang ia maksud.


Datang dua pemuda. Satu bertubuh kekar, berambut pendek hitam dan memegang kapak. Yang satunya pemuda berkulit sawo matang, tampan dan gagah, ia lebih tinggi dari Alvin yang hanya 171 cm.


"Perkenalkan, ini Mise dan dia Logan"


Mise untuk orang kekar itu sedangkan Logan untuk yang satunya. Alvin berpikir nama Logan cocok untuk orang kekar ini.


"Jadi, kau juga ingin dua gadis itu, ya?" kata Logan, memulai percakapan.


"Ya, aku harus merebutnya dari tempat ini" Alvin membalas.


"Maaf saja, karena mereka berdua sudah kami pastikan menjadi milik kami" balas Logan.


"Oh ya? Mau kalian apakan mereka kalau benar menjadi milik kalian?"


"Apa itu pertanyaan?" Logan menjadi bingung.


"Menurutmu?" Alvin yang merasa waktu terbuang-buang segera beranjak dari sana. Ia tahu orang-orang di sini berbahaya, jadi sebisa mungkin ia tidak akan mencari masalah sebelum pertandingan.


Ketika ingin mencari Arui, tatapannya mengarah ke seorang wanita.


Tunggu, wanita? Wanita ikut pertarungan ini juga?


Alvin menatap wanita itu. Wajah datar dan dinginnya menggambarkan tidak ada rasa takut sama sekali di wajahnya itu. Rambut hitam pendeknya dan juga mata kanannya yang tertutupi poninya yang panjang itu, dan dia ternyata seorang Elf. Terlihat jelas dari telinganya yang runcing. Wanita itu mengenakan pakaian hitam ketat, menjelaskan bentuk lekuk tubuhnya yang sempurna, hanya perutnya saja terekspos. Di samping wanita itu ada sebuah pedang panjang, mirip seperti katana—pedang yang berasal dari Jepang.


"Alvin, sebaiknya kau harus bersiap" Arui datang menghampirinya. Pemuda itu sudah bersiap, namun yang membuatnya tampak aneh adalah Arui menutupi seluruh tubuhnya dengan baju zirah yang berat dan senjatanya yang berupa palu raksasa itu juga terlihat mencolok.


"Ya.."


Walau begitu, Alvin tetap bersikap bodo amat.


———


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!


Makasih <3

__ADS_1


Next : Ch.7 - Gladiator


__ADS_2