
Jein berhadapan satu lawan satu dengan Cosmos. Keduanya saling melempar pandangan. Tatapan mereka begitu tajam dan mengancam.
Tidak menunggu lagi, Jein mengeluarkan langsung dua anak panah beracunnya dari kantung celana pahanya. Ia menembakkan dua anak panah itu.
Cosmos bisa menghindari keduanya, namun satu panah mengenai sisi kanan wajahnya. Pipinya robek dan mengucurkan darah segar.
"Kau akan membayarnya, Nak"
Cosmos menjadi kesal. Ia pun menerjang menuju Jein. Dengan cepat, Jein melompat tinggi untuk menghindarinya. Namun, siapa sangka? Jein tahu kalau Cosmos masih berada di bawah, tetapi pria besar itu mendadak muncul di sampingnya.
"Apa—"
Jein di pukul ke bawah dan mendarat di lantai arena dengan menyisakan bunyi yang cukup keras. Jein meringis kesakitan, lantai arena ini menjadi retak akibat tubuhnya yang mendarat keras.
Tidak sempat meredakan rasa sakitnya, Cosmos melesat menuju dirinya. Jein berputar ke belakang dan melompat dari sana. Cosmos mendarat di tempat Jein tadi.
Jein mengambil jarak aman. Keringat mengucur di wajahnya. "Dia kuat dan cepat. Apa yang harus kulakukan?"
Ganory tertawa pelan melihat Jein yang begitu terdesak.
Sementara itu, di lorong gladiator, Asvia berlari menuju gerbang keluar dengan membawa Alvin di kedua lengannya. Lorong ini sepi, sampai belasan beberapa penjaga datang menghambat jalannya.
"Tidak ada yang boleh pergi dari colloseum!"
"Menyerahlah!"
Mereka menodongkan busur kepada Asvia. Langkah gadis ini terhenti. Ia tidak bisa melawan mereka dengan Alvin di kedua lengannya, mau tidak mau, ia harus menyerah.
Arui datang dan berhenti di samping Asvia.
"Siapa kau?" tanya Asvia.
"Aku temannya Alvin"
"Baguslah, kalau begitu lawan mereka, kau bersenjata"
"Aku tidak bisa"
"Tunggu, apa?!"
Asvia dan Arui malah berdebat di sana. Di saat itu juga, para penjaga ini mendadak tumbang ke lantai. Asvia dan Arui terkejut tentunya, mereka melihat siapa yang baru saja melakukannya.
Itu Fio dan Roby. Di tangan mereka ada pedang. Walau mereka baru saja menyelamatkan Asvia dan Arui, tetap saja keduanya tampak gemetaran. Baru kali ini mereka membunuh orang dan itu bukanlah suatu pengalaman yang bagus.
"Siapa kalian?" tanya Asvia, waspada.
"Kami temannya Alvin" jawab Fio. "Kita harus pergi ke mana?"
"Di depan ada gerbang keluar" Asvia mendapat ide. "Bagaimana kalau kalian yang membawanya? Aku harus melakukan sesuatu"
Asvia menyerahkan Alvin pada mereka. Roby mengangkat Alvin di punggungnya.
"Baiklah, serahkan pada kami" Fio teringat sesuatu. "Bisa kau tunjukkan arah tempat hadiah-hadiah pertarungan ini berada? Kami harus menyelamatkan teman-teman kami"
"Mengenai itu, tidak perlu khawatir. Tunggu saja di luar" jawab Asvia, ia pun pergi dari sana.
***
"Kami mau dibawa ke mana?" tanya Lisa.
Keduanya digiring menuju ruang bawah tanah. Ternyata di bawah colloseum ini terdapat penjara yang menampung seluruh manusia dan hewan yang bisa dijadikan hadiah.
Sesampainya di sana, Lisa dan Anna memandangi seluruh manusia yang ditahan di sini. Kata yang cocok untuk menggambarkan keadaan mereka adalah menyedihkan. Ya, keadaan mereka di sini sangat menyedihkan, jauh dari kata layak dan mereka tidak terlihat ada semangat untuk hidup.
Semuanya hanya duduk meratapi nasib. Berharap menunggu keajaiban yang datang menyelamatkan mereka.
"Lisa..." Anna memanggil. Wajah gadis itu pucat pasi. "Apa kita akan ditempati di sini?"
Lisa tidak menjawab. Sejujurnya ia juga takut kalau mereka akan berakhir di sini.
Salah satu penjaga mengeluarkan kunci. Mereka berjalan menuju salah satu sel. Di sana ada sekelompok Elf berambut pirang dan hijau. Penampilan mereka yang paling baik di antara seluruh tahanan.
"Hey, siapa yang datang?" ucap penjaga ini sambil menyeringai lebar.
Suara penjaga itu menarik perhatian mereka untuk mengangkat kepala. Wajah mereka seketika menjadi cerah dan bersorak senang.
"Noya!"
"Syukurlah kau datang!"
__ADS_1
"Hey, aku juga di sini" Sova yang sama sekali tidak dapat perhatian menjadi cemberut.
Noya tertawa, ia segera membuka pintu sel itu. Tahanan ini tidak lain adalah teman-teman sekampung mereka. Karena suatu peristiwa yang tiba-tiba terjadi, dengan terpaksa mereka berada di tempat penuh dosa ini.
"Kau juga tertangkap, Paman Kanoe?" Sova tertawa mengejek pada seorang pria berkumis lebat dengan rambut pirang pendek yang tidak terlalu mencolok.
"Aku tahu ini memalukan" Kanoe melempar pandangannya ke tempat lain.
Lisa dan Anna memandangi mereka dengan heran dan kebingungan. Dua penjaga berseragam abu-abu ini baru saja melepaskan beberapa orang dan mereka tampak akrab.
"Di mana Jein, aku tidak melihatnya?" tanya Noya.
Mendengar nama Jein disebutkan, Anna dengan refleks berucap, "Aku tahu di mana Jein berada"
Ucapan Anna membuat seluruh pandangan tertuju padanya. Ada seorang yang perhatiannya paling tertarik. Orang itu menghampiri Anna dan memegang kedua pundaknya.
"Kau tahu di mana Jein?" tanyanya. "Beritahu kami"
Anna terdiam karena kaget. Penampilan orang ini begitu manis. Wajahnya yang feminin, rambut hijaunya yang pendek, berkulit putih bersih lalu tubuhnya yang hanya setinggi Anna, membuat Anna tertegun melihatnya.
"Y-ya, aku tahu" jawab Anna.
"Kalau begitu, kalian berdua ikut dengan kami" Noya melempar-lempar kunci di tangannya. "Tapi pertama-tama kita harus melepaskan seluruh tahanan di sini"
***
Jein berputar-putar ke belakang dan mendarat mulus dengan kakinya. Belum sedetik ia berdiam di sana, Cosmos kembali menyerang. Jein melesat ke samping untuk menghindar.
Tiba-tiba Jein berada di atasnya dengan pedang yang siap ia ayunkan. Dengan begini, Jein akan tamat.
Namun....
Asvia datang, menahan pedang raksasa itu dengan pedang panjangnya. Ia berdiri membatasi Cosmos dari Jein.
"Sudah kuduga kau tidak akan bisa menahannya!" Asvia mendecak kesal.
"Nanti saja mengomelnya!" Jein berguling ke belakang dan melompat tinggi. Ia menembakkan dua panah menuju Cosmos. Dengan terpaksa, Cosmos harus mundur dulu ke belakang.
Jein mendarat di samping Asvia.
"Cosmos" ucap Asvia. "Ini akan menjadi laporan yang menarik"
Asvia menoleh sejenak pada Jein. "Aku tidak tahu kenapa kau bisa ada di sini, yang pasti kau terpisah dari tim ekspedisi, kan?"
"Dari mana kau tahu?" Jein mengerutkan dahinya.
"Nanti saja penjelasannya" Asvia bersiap untuk menyerang. "Fokus dulu pada lawanmu" ia melesat cepat menuju Cosmos.
***
Di luar colloseum, Fio dan Roby beserta Arui bersembunyi di balik gerbang masuk halaman colloseum. Roby membaringkan Alvin yang kondisinya sedang tidak sadarkan diri.
Roby menghela napas. Ternyata situasi di sini menjadi semakin rumit saja. Padahal tujuan mereka kemari hanyalah mencari kendaraan.
"Bagaimana sekarang?" tanya Roby.
Fio yang dari tadi melihat colloseum dengan berharap penuh kalau Jein, Lisa dan Anna dapat keluar dengan selamat. Namun, waktu yang terus berjalan dan juga mereka yang tidak kunjung memunculkan diri membuatnya gelisah.
"Aku tidak tahan lagi" kata Fio. "Aku akan kembali ke sana"
"Tunggu, tunggu, kau serius?" Roby menatap heran. "Kau bisa saja mati di sana"
"Masa bodoh. Selagi mereka bertiga tidak muncul, aku tidak akan tenang" Fio menguatkan tekadnya.
"Aku ikut" Arui membuka suaranya. "Aku ikut bersamamu. Ada seseorang yang harus kujemput"
"Baik. Ayo"
Akhirnya, Fio dan Arui pergi, meninggalkan Roby yang harus menemani Alvin yang saat ini masih tidak sadarkan diri.
Fio dan Arui harus mengendap-endap saat memasuki terowongan colloseum. Pertarungan masih berlangsung, oleh karena itu penjagaan luar colloseum cukup ketat.
Fio menarik Arui untuk bersembunyi dibalik tiang bangunan ketika seorang penjaga datang. Fio menghela napas ketika penjaga itu berlalu pergi.
"Kau yang tahu tempat ini lebih baik dariku, sebaiknya kita harus ke mana?" tanya Fio.
"Tribun selatan ada di atas kita dan penjara ada di bawah. Letak tangga untuk menuju ke atas dan bawah ada di ujung sana" Arui menunjuk ke ujung koridor.
Fio mengangguk. Mereka pun pergi ke sana.
__ADS_1
Sementara itu, di saat yang bersamaan, Noya dan Sova sudah membebaskan seluruh tahanan di sini. Kata seluruh di sini hanyalah manusia. Hewan tidak ikut-ikutan.
"Ayo, kita pergi dari sini" ucap Sova.
Mereka berlari kecil menuju tangga. Langkah ribut mereka yang cepat terdengar sampai atas.
Ketika mereka sampai di atas, bertemulah mereka dengan Fio dan Arui. Semuanya melompat kaget, termasuk Sova dan Noya, tapi mereka langsung menghunuskan pedang. Dengan gugup dan gemetaran, Fio dan Arui juga bertingkah sama.
Kini mereka saling mengancam. Sova dan Noya menatap mereka tajam sambil membuat gerakkan perlindungan.
"Mundurlah atau aku lukai kau!"
"Ya! Mundurlah, kalian penjaga bodoh!"
Sova dan Noya melontarkan kalimat ejekkan.
"Siapa yang menjadi penjaga di sini?" Fio menatap heran. "Lihat kostum kalian sendiri"
Benar, Noya dan Sova saat ini sedang mengenakan pakaian seragam ala penjaga. Mereka kebingungan sendiri karena penyamaran mereka ini.
"Fio!"
Lisa dan Anna memanggil dari belakang dua lelaki kembar itu. Mereka menerobos garis pertahanan yang dibuat Noya dan Sova untuk menghampiri lelaki itu. Keduanya segera memeluk Fio dengan erat.
"Syukurlah kau tidak apa-apa" kata Anna.
"Kami senang melihatmu di sini" Lisa tersenyum.
Mereka pun melepaskan Fio. Wajah Fio memerah karena baru saja dipeluk secara tiba-tiba. Ia begitu kaget, soalnya selama ini ia belum pernah dipeluk oleh seorang gadis. Sekalinya dapat pelukan, ia langsung diterjang oleh dua gadis sekaligus.
"Di mana Roby? Apa Alvin masih bertarung?" tanya Lisa.
"Mereka berdua sudah di luar. Kami belum bertemu Jein. Dia saat ini sedang berada di arena" jawab Fio.
"Apa?!"
Tiba-tiba, seseorang menyahut dari belakang Noya. Dia itu orang yang berwajah manis tadi. Jein dan Arui tertegun dengan wajah manis itu.
"Dia akan tewas di sana!" ucapnya, panik.
"Kalau begitu, kita harus cepat!" Kanoe langsung bergegas.
Di saat seluruh orang mulai pergi dari sana, Arui terus mencari-cari keberadaan adiknya di kerumunan kecil para tahanan ini. Matanya bergerak kesana kemari, tapi tidak kunjung bertemu.
"Arui!" panggil Fio.
Merasa takut dengan apa yang terjadi dengan adiknya, Arui langsung turun ke lantai bawah tanah, di mana letak penjara berada.
"Oi, Arui!" teriak Fio.
Dadanya kembang kempis dengan cepat. Ia berusaha mencari keberadaan adiknya yang mungkin saja tertinggal. Ia tidak kunjung menemukannya, sampai sudut matanya menangkap sesuatu.
Dari sel paling ujung, tubuh seseorang dengan pakaian lusuh tampak terbaring membelakangi pintu. Arui berhenti sejenak di sana, pintu penjara ini sudah terbuka oleh Noya tadi.
Merasa kenal dengan tubuh mungil dan rambut ikal itu, Arui melangkah masuk. Namun baru selangkah, aroma busuk menyengat masuk ke dalam hidungnya.
Ingin rasanya ia muntah, tapi ia masih penasaran dengan pemilik tubuh mungil ini. Arui berlutut di belakangnya, tangannya menjulur ke depan, ia pun membalikkan tubuh mungil itu.
"Hah..."
Arui menahan napasnya, matanya melotot tajam. Ia mengenali siapa si mungil ini, ia sangat mengenalinya. Seseorang yang sudah lama tidak ia lihat, yang paling ia rindukan. Kini, orang itu tergeletak tidak bernyawa dengan kondisi yang sudah membusuk.
Itulah adiknya.
Fio yang dari tadi berdiri di luar sel ini hanya memperhatikan. Ia tahu Arui ingin menyelamatkan seseorang dan ia rasa Arui sudah bertemu dengan orang itu namun terlambat.
Perasaan sesak di dadanya ini ia lampiaskan keluar melewati tangisan dan teriakan. Arui melepaskan kesedihannya dan kemarahannya di udara, di depan mayat adiknya.
———
Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.
Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.
@haritsataqii
Oke, stay tune!
Makasih <3
__ADS_1
Next : Ch.13 - Jalan Keluar