Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.17 - Permainan


__ADS_3

"Dasar bocah keras kepala"


Asvia menatap jengkel pada Alvin. Awalnya, Asvia dengan pasrah mengizinkan Alvin untuk bermain Stickball, namun Alvin nyatanya ingin melawan dirinya dalam tim yang berbeda.


Kini, mereka berdiri saling berhadapan. Alvin dengan timnya, Asvia juga dengan timnya.


Sebelum permainan dimulai, Asvia menjelaskan aturan dan posisi permainan.


Aturannya sederhana, pemain lain tidak boleh memegang tongkat yang bukan punya dirinya, dilarang memegang bola saat permainan berlangsung dan tidak boleh bertindak kasar.


Diperbolehkan menendang bola dan merebut bola saat bola sedang berada di tongkat lawan.


Posisinya ada tiga, yaitu penyerang, pengumpan dan kiper.


"Sebaiknya kau menjadi pengumpan saja" saran Asvia, namun Alvin merasa Asvia meremehkannya. Alhasil sebagai isyarat penolakkan, Alvin berdiri di depan Asvia.


"Baiklah, kau ingin menantangku?" Asvia menatapnya tajam. "Akan kuberikan perlawanan yang tidak akan pernah kau lupakan"


"Apa benar?" ucap Alvin, datar.


Asvia menggeram padanya. Sungguh, Alvin semakin bersikap sombong dan mengejek, membuatnya benar-benar ingin menghajar bocah ini.


Permainan dimulai begitu bola yang berukuran mirip bola voli ini dilemparkan ke udara. Alvin dan Asvia melompat secara bersamaan untuk meraih bola itu dengan tongkat mereka.


Kalah menjangkau, Alvin harus rela karena Asvia berhasil mendapatkan bola dan menempatkannya di atas bulatan. Asvia berlari melewati Alvin.


Wanita berambut pendek itu berlari dengan cepat, melewati setiap pemain. Ia melambungkan bola kepada rekannya yang ditangkap sempurna, lalu dilambungkan lagi kepada rekan yang ada di pinggir lapangan.


Mereka bekerja sama dengan baik. Bola kembali ke tongkat Asvia. Wanita ini saking gesit dan lincahnya membuat lawannya kewalahan mau bergerak ke mana. Ia sudah hampir mendekati ring lawan. Asvia berada di posisi bagus untuk mencetak poin. Dengan melompat tinggi, ia mengayunkan tongkatnya. Bola di atas tongkatnya itu melambung masuk menuju ring tengah.


Asvia dapat dua poin.


Ia mendarat dengan sempurna dan menyunggingkan senyumnya pada Alvin. Lelaki itu hanya berdiri melipat tangannya di dada sambil memperhatikan gerak-gerik Asvia.


"Bagaimana, Bocah? Masih mau menyombongkan diri lagi?" tanya Asvia sambil meninggikan dagunya pada Alvin.


"Permainan belum selesai, Cerewet" jawab Alvin, sebuah senyum tipis mengambang di wajah datarnya itu.


Tim Alvin memulai pertandingan.


Bola berada di belakang. Salah satu pengumpan melambungkan bola ke tengah lapangan. Alvin melihat bola datang ke arahnya, namun sebelum itu ia melihat ada dua lawan berlari mendekatinya.


Apa mereka mengincar bolanya atau mereka hanya menjaga dirinya? Alvin tidak tahu, tapi ia akan bertaruh kali ini. Bola semakin mendekat, Alvin melompat setinggi mungkin, lawan mengikuti dirinya. Ternyata, mereka berdua melakukan dua hal itu, antara mengincar bola dan menjaga dirinya.


Namun, Alvin masih bisa berpikir. Bola itu dapat Alvin tangkap dengan tongkatnya, namun saat masih di udara, Alvin segera mengoper pada rekannya yang berdiri di pinggir lapangan.


"Hah?!"


Kedua lawannya terkejut. Alvin baru saja menerima bola itu, tapi belum sampai satu detik, Alvin sudah mengirimnya pada rekannya. Padahal Alvin belum kembali ke tanah.


Rekannya mendapat dengan sempurna dan mulai berlari. Alvin menapakkan kakinya kembali ke tanah, di saat itu juga ia berlari melewati dua orang ini.


"Dia cepat!" ucap mereka serentak.


Asvia dapat melihatnya. Lompatan Alvin yang tinggi itu, melebihi lompatan normal seorang Elf. Tidak, bukan lompatannya, ia hanya lebih dulu dan cepat dari dua lawannya. Selain itu, Alvin mengoper bola tanpa melihat posisi rekannya.


Alvin melesat melewatinya. Asvia hanya terpaku di sana, bahkan ia merasa waktu bergerak lambat ketika Alvin melewati dirinya.


Di sisi lain, Alvin sendiri cukup kaget. Bukan karena permainannya, tapi karena kecepatan pulih punggungnya ini. Normalnya, punggungnya akan terasa sakit setelah mendarat dari lompatan tadi, namun saat ini ia tidak merasakan apa-apa.


Bola dioperkan kembali pada dirinya. Alvin melihat ada seorang pengumpan dan kiper dari tim lawan di depannya. Sedangkan dari kedua sisi lapangan ada dua rekannya yang menunggu.


Ia berhenti dan mulai membidik. Alvin mengambil ancang-ancang untuk melempar. Dengan satu ayunan ringan tanpa kekuatan penuh, bola itu ia lambungkan ke udara.


Melihat ketinggian bola yang sepertinya mengarah pada ring atas, kiper lawan melompat tinggi. Mengira tebakannya benar, ternyata ia keliru. Bola itu malah menukik ke bawah, menuju ring tengah.

__ADS_1


"Apa?!" kiper itu tercengang.


Bola tersebut masuk dengan sempurna. Timnya bersorak dan menghampiri Alvin. Mereka memuji keterampilan Alvin yang nyatanya baru pertama kali mencoba permainan ini.


"Orang asing itu hebat!"


"Iya, Kapten Asvia bahkan tidak berkutik karenanya"


Orang-orang yang menonton mengagumi kemampuan Alvin. Bahkan, dari tadi Jein mengintip di sela-sela latihannya.


"Bagaimana?" tanya Alvin. Sejujurnya ia ingin mengejek Asvia, namun melihatnya pasrah menerima keadaan membuat Alvin tidak berselera mengejeknya.


"Kuakui kau hebat untuk seorang pemula" Asvia memalingkan wajahnya dari Alvin.


"Aku akan pura-pura tidak dengar kata 'Pemula' itu" ucap Alvin. "Aku akan kembali ke kamar, sepertinya obat yang kalian berikan sangat ampuh untuk punggungku"


"Itu karena perekat..." Asvia termenung sejenak ketika matanya bertemu dengan Alvin. ".... lupakan saja" Asvia kembali memalingkan wajahnya dengan ekspresi cemberut.


"Apapun itu, yang penting jangan racun" Alvin berbalik.


Diam-diam Asvia memandangi punggung Alvin. Ia teringat saat Alvin melompat tadi dan mengoper tanpa melihat. Entah mengapa, itu terasa begitu keren di mata Asvia.


"Hey, Tukang Protes" Alvin tiba-tiba berbalik. "Apa di sini ada tenaga listrik?"


"Kenapa kau bertanya?"


"Aku membutuhkan tenaga listrik untuk mengisi daya ponselku. Kalau ada, aku sangat berterima kasih padamu"


Asvia menaikkan sudut bibirnya. "Oh, begitukah? Apa kau benar-benar berterima kasih padaku?"


Alvin mengangguk malas. "Iya, kalau kau bisa memberikannya padaku"


"Aku akan memberikannya padamu" Asvia tersenyum licik.


***


Sebelumnya, Alvin meminta agar daya ponselnya kembali terisi penuh. Asvia memang sudah menunjukkan Alvin tempat untuk mengisi daya ponselnya itu. Ajaibnya, ponsel Alvin terisi penuh, namun Alvin malah muram.


Bagaimana tidak? Karena Asvia tidak memberitahu Alvin tentang efek dari tempat itu, Alvin masuk begitu saja dan saat keluar seluruh rambutnya berdiri ke atas layaknya orang tersetrum.


"Jadi ini balasanmu, kau licik sekali" kata Alvin.


"Aku..." Asvia semakin tidak tahan menahan rasa geli ini. Ditambah melihat Alvin yang terlihat mengerikan. Akhirnya Asvia tertawa terbahak-bahak.


"Kau bisa tertawa juga, ya" Alvin melirik pada Asvia.


"Apa maksudmu?" Asvia mengusap air matanya, ucapannya masih diiringi oleh tawa.


"Tidak ada" jawab Alvin. Ia menghidupkan ponselnya, Alvin sedikit gembira melihat baterai ponsel sudah 100%. Setidaknya itu sudah melegakan.


"Sebenarnya benda apa itu? Kenapa perlu energi listrik?" tanya Asvia, mengintip dengan penasaran.


"Sebut saja ini benda ajaib. Kau ingin melihat sesuatu?" Alvin mengangkat ponselnya dan menarik Asvia menempel pada dirinya. Asvia kaget, tapi perhatiannya segera tertarik ketika suara aneh keluar dari ponsel itu.


"Kenapa kau menarikku?!" tanya Asvia, kesal.


Menghiraukan protes Asvia, Alvin memperlihatkan layar ponselnya pada Asvia. Di sana ada gambar Asvia dan Alvin, mirip seperti lukisan namun lebih nyata.


"Ini ... aku?" tanya Asvia. Ia tertegun sejenak, melihat gambar di dalam benda itu.


"Ini adalah foto, hasil dari cetakan cahaya atau semacamnya.." Alvin malah bingung sendiri. "Kau bisa menangkap pemandangan ke dalam sini, tanpa perlu melukisnya"


"Bagaimana caranya?"


"Kau ingin coba?"

__ADS_1


"Tidak masalah"


Alvin memberikan ponselnya kepada Asvia. "Kau lihat simbol ini?" Alvin menunjuk tombol kamera yang berada di bawah layar. "Tekan ini dan kau dapatkan hasilnya"


Asvia mengerti. Ia mengangkat ponsel Alvin ke depan. Ia dapat melihat tiruan yang ada di depannya. Bahkan orang-orang yang berlalu lalang juga masuk ke dalam ponsel itu.


Asvia menekan tombol itu. Ia sedikit mengejang kaget ketika mendengar suara aneh itu lagi dari benda yang ia pegang saat ini.


"Lihatlah" kata Alvin.


Asvia terpukau. Ia baru saja mengambil sebuah gambar dari dalam ponsel itu dan hasilnya bagus. Terlihat beberapa Elf yang berlalu lalang dan ada seekor kambing yang sedang memakan rumput.


"Ini terlihat asli sekali" Asvia berdecak kagum.


"Dan kau juga bisa..." Alvin menekan tombol kamera memutar. Kini, Asvia melihat wajahnya sendiri di dalam benda ini.


"Mirip seperti cermin" kata Alvin.


"Kau benar.." Asvia menengok wajahnya. Ia memiringkan wajahnya, menoleh ke kiri dan kanan, melihat mata dan rambutnya.


"Tersenyumlah" ucap Alvin.


"Apa? Kenapa?"


"Coba saja, lihat bagaimana wajahmu kalau sedang tersenyum"


Asvia menurut. Ia mencoba tersenyum, namun terpaksa. Alvin ingin mengejeknya. "Jelek sekali. Yang tulus"


"Iya, iya" Asvia mendecak kesal. Ia pun mengembangkan kembali senyumannya, kali ini Asvia tersenyum lembut di depan kamera itu. Asvia terlihat lebih manis dan cantik, poni panjang yang menutupi setengah matanya ia sapu ke samping.


Alvin menekan tombol kamera. Terpotretlah wajah Asvia di sana.


"Benda ini hebat sekali" ucap Asvia. "Bagaimana? Wajahku lumayan, bukan?"


"Ya" Alvin mengambil ponsel itu dari tangan Asvia. Tidak lama kemudian, ia memperlihatkan kembali layar ponselnya kepada Asvia.


"Wajahku?"


"Wajahmu kuletakkan di depan. Orang menyebutnya wallpaper"


"Kenapa kau jadikan wajahku sebagai pajangan?" Asvia mendengus kesal.


"Aku tidak akan meletakkan foto apapun di dalam ponselku selain gambar itu terlihat indah bagiku" ucap Alvin.


Asvia tertegun sejenak. "Wajahku ... indah bagimu?"


"Ya, apa kau tidak menyadarinya?" Alvin menghela napas panjang lalu pergi ke atas pohon. "Mungkin kau terlalu keras dan dingin, sehingga kau lupa semanis apa wajahmu. Apa harus aku yang mengingatkannya?" Setelah itu Alvin pergi, menghilang dari pandangan Asvia.


Asvia masih terdiam membeku di sana. Kata-kata Alvin tadi terngiang-ngiang di telinga dan mulai membekas di hatinya. Alvin mengatakannya tanpa ada niatan apapun, ia juga terdengar jujur. Walaupun tanpa niatan, Alvin dengan jelas memuji kecantikan pada Asvia yang bahkan ia sendiri tidak menyadarinya.


Asvia benar-benar dibuat takluk oleh Alvin.


"Dasar, Bocah Sombong" Asvia cemberut. Meskipun begitu, ia tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang merah merona.


_____


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!


Makasih <3

__ADS_1


Next : Ch.18 - Rumit


__ADS_2