
Gerru memimpin kelompoknya mengendap-endap menuju tempat persembunyian Orc.
Semenjak mereka melihat Orc pertama beberapa waktu yang lalu, mereka terus mendapati beberapa Orc yang berlalu lalang di kawasan ini, membuat mereka semua yakin kalau mereka berada di jalan yang tepat.
"Sien, pergi ke atas pohon. Lihat ada berapa Orc di depan" Gerru memberi perintah pada salah seorang anggota.
Elf muda berambut pirang itu mengangguk dan segera memanjat pohon di sampingnya. Gerru menghentikan perjalanan mereka di sini sampai Sien datang. Beberapa anggota bertugas mengawasi sekitar, saat ini mereka dalam lingkaran wilayah Orc, bisa saja kalau makhluk itu muncul tiba-tiba dan mengepung mereka di sini.
Sien melompat dari dahan pohon ke pohon lainnya. Bagaikan seorang ninja, ia terlihat gesit dan cepat. Sien berhenti di salah satu pohon ketika melihat ada tujuh Orc berkumpul di satu titik. Sien memperhatikan ke sekitar, setidaknya ada satu Orc yang berdiri sendiri di sekitar titik ini. Perhatiannya pun tertuju pada sebuah mulut goa yang letaknya tidak jauh dari tempat berdirinya tujuh Orc tersebut.
Kembali ke rombongan.
Sedari tadi Anna menggesek-gesek tali kuda yang ia pegang dengan jarinya. Gadis ini terus merasa was-was di sekitarnya.
Selagi menunggu, Alvin memasang dua crossbow kecil di kedua punggung tangannya. Dua senjata ini merupakan versi mini dari crossbow. Alvin merasa ini lebih efektif dan busur, ia lebih senang lagi karena senjata ini akan menembak secara otomatis. Dua busur sudah ia pasangkan di crossbow, tinggal siap untuk ditembakkan.
"Vin"
Tiba-tiba, Fio memanggil. Alvin menoleh ke kirinya dan mendapati wajah Fio yang tengah menunduk.
"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini..." ucapnya.
Alvin mengangkat sedikit alisnya dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh teman masa kecilnya ini.
"Bagaimana perasaanmu kepada Lisa?"
Dari sini Alvin sudah menyadari jalannya pembicaraan. Dari sini pula Alvin mulai paham dengan tingkah tidak biasa Fio.
"Lisa? Aku menyayanginya" jawab Alvin, jujur namun terlihat cuek.
"Begitu, ya" Fio menurunkan pandangannya dari Alvin. "Jadi, kau menyukainya?"
"Iya, aku suka dan sayang padanya" Alvin memandang ke depan. "Tapi, bukan sebagai pasangan, melainkan sebagai saudara"
Fio melempar pandangannya bingung dan herannya pada Alvin. Bocah yang usianya lebih muda dua tahun darinya ini terlihat serius dan tidak mengada-ada.
"Lisa bagaikan kakakku sendiri. Kau tahu, sejak awal aku ingin sekali mempunyai seorang kakak. Makanya, aku lebih melihat Lisa sebagai kakakku" kata Alvin, ia mulai mengembangkan senyum tipisnya. "Sejak kita kecil, kalian selalu menjagaku ... dan kau ingat ketika aku jatuh dari sepeda? Saat itu, Lisa langsung menghampiri dan melihat lukaku. Padahal aku berusaha untuk tidak menangis ... tapi ia malah terlihat khawatir dan ingin menangis. Ia langsung mengobati lukaku ini..."
Alvin menjeda sejenak lalu menghela napas, "Saat kedua orang tuaku meninggal, dialah yang datang pertama kali untuk membantuku. Lisa ... rela menolongku waktu itu dan ... entah kenapa aku merasa aman dengannya. Ia mau menyuapkanku, menjagaku, mengantar jemputku dan ... selalu curhat denganku. Dia itu wanita pemberani dan layak untuk diperjuangkan..."
Fio membuka bibirnya yang dari tadi tertutup rapat.
"Jika kau ingin mendapatkan Lisa, tunjukkanlah hatimu yang tulus" ucap Alvin. "Aku sudah mengamatimu dari dulu, perhatianmu selalu tertuju pada Lisa. Meskipun kau belum berani mengutarakan isi hatimu, jaga terus hatinya dan perlihatkan bukti kasih sayangmu padanya"
Fio menunduk setelah mendengar nasehat Alvin.
"T-tapi ... aku selalu menunjukkan sisi lemahku padanya" ucap Fio. "Kebaikkan Lisa tidak dapatku balas walaupun dengan kasih sayang sekalipun"
"Meskipun kau begitu, tapi bagaimana dengannya? Mungkin saja Lisa menunggu balasanmu dan sedang berharap untuk kau jujur akan perasaanmu padanya"
Tidak lama kemudian, Sien datang dan melaporkan apa yang ia lihat kepada Gerru.
"Baik, bergerak semuanya. Kita akan masuk ke dalam sarang mereka" kata Gerru dari depan sana.
Alvin jalan terlebih dahulu. Kelompok sudah mulai jalan, Fio hanya mengikuti dari belakang. Pikirannya terganggu saat ini, tapi ini tidak boleh terjadi. Fio menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada misi.
Mereka sampai pada titik itu. Sesuai apa yang dikatakan Sien, ada tujuh Orc berkumpul di sini. Lalu, ada empat Orc yang berdiri terpisah. Jika mereka menyerang, ada kemungkinan kalau empat Orc lainnya ikut membantu, belum lagi Orc yang ada di dalam goa sana. Mereka akan kalah jumlah nantinya.
"Ketua" panggil Alvin dengan suara bariton khasnya. "Bagaimana kalau kita pakai taktik kucing-tikus?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Taktik kucing-tikus?" Gerru mendadak bingung.
"Sama dengan permainan umpan. Satu prajurit akan menarik satu Orc dari kawanannya, dengan begitu mereka akan terpisah" jawab Alvin.
"Seperti pengumpan, ya?" tanya Sien.
"Ya. Empat prajurit akan menarik para Orc yang di sana agar jauh dari lokasi, sisanya bisa menyerang tujuh Orc yang ada di titik ini. Lalu, tiga atau empat prajurit lainnya bisa berdiri di atas goa itu, jaga-jaga untuk mengantisipasi datangnya Orc lain dari dalam sana" jelas Alvin.
Gerru mengelus dagunya yang sedikit berjanggut itu. "Ide bagus, mari kita coba"
Keheningan hutan ini akan berakhir dalam beberapa saat lagi.
Gerru sudah menyebarkan kelompoknya di dalam area ini. Rencananya, Sien dan tiga prajurit lainnya akan menjadi penarik Orc. Alvin, Anna dan dua prajurit berdiri di atas mulut goa ini. Lalu, Gerru dan sisanya akan melawan tujuh Orc ini dari atas pohon.
Sien bersiul ketika melewati seorang Orc. Mendapati perhatiannya, Sien segera memacu kudanya. Orc itu menggeram marah dan mulai mengejar Sien.
Gerru melihat Sien sudah mulai menarik begitu juga dengan yang lainnya. Setelah mereka sudah pergi, Gerru memulai operasi pembantaian Orc di sini.
Seluruh pemanah termasuk Fio membidik tujuh Orc itu.
"Tembak!"
Mereka melesatkan anak panah demi anak panah kepada makhluk-makhluk buas itu. Mendapati hujan panah, tujuh Orc itu menjadi murka dan mengaum pada mereka semua.
"Jangan takut! Terus serang!" seru Gerru.
Salah satu Orc mengayunkan kayu di tangannya pada sebuah batang pohon yang ditempati tiga prajurit. Pohon itu bergetar hebat, namun belum jatuh. Ketiganya berpegangan erat pada batang pohon. Orc itu memukul lagi pohon tersebut hingga jatuh. Untung saja tiga Elf itu melompat ke pohon lainnya.
Fio menelan air liurnya dengan kasar melihat kekuatan Orc yang sebesar itu. Bagaimana nasibnya nanti jika pohon yang ia tempati ini ikut rubuh?
Dua Elf berusaha mengikat kedua lengan salah satu Orc dengan tali. Namun karena kekuatan makhluk itu yang super, ia bisa melempar kedua prajurit itu ke udara.
"Gunakan panah racun dan bidik mata mereka!" perintah Gerru.
"Ini dia" gumam Alvin.
Dua Orc keluar dari goa itu. Mereka berempat siap dengan senjata di tangan.
"Alvin!!" jerit Anna. Ia bingung mau melakukan apa.
Alvin menembaki belakang kepala salah satu Orc. Perhatian makhluk itu tertuju pada Alvin.
"Jelek sekali" gumam Alvin. Ia menembak kedua mata salah satu Orc tersebut. Jarak mereka cukup dekat dan penting membuat kedua makhluk ini menjadi buta.
"Giliranmu" Alvin mendorong Anna.
"Tapi aku belum siap!" Anna berteriak ketika Alvin mendorongnya dari atas goa itu. Beruntung Anna memegang pedang yang terhunus ke depan. Gadis itu sambil berteriak meluncur ke kepala Orc tersebut hingga pedangnya menembus kepala makhluk buas itu.
Satu serangan brutal dari Anna membuat Orc itu menghembuskan napas terakhirnya. Ia jatuh ke tanah dengan Anna yang ikut terjatuh pula di atas tubuh Orc tersebut.
"Aah!" jeritnya. Anna menghela napas lega ketika mendapati dirinya selamat. Namun, ia kembali menjadi pucat ketika salah satu Orc mendekatinya dari arah depan.
Mulut Anna bergetar hendak meminta tolong. Dari atas sana, Alvin menembakkan anak panahnya ke arah Orc itu, ia menambahkan serangan dengan mengeluarkan pedang dari sarungnya dan melemparkannya hingga menancap di wajah makhluk itu. Seketika ia tumbang dan tidak bernapas.
"Aah!" Anna menjerit lagi ketika ada Orc tumbang di sampingnya.
"Maaf, Nona" ucap dua prajurit di atas goa sana. Mereka baru saja mengalahkan Orc yang satunya.
"Kau tidak apa?" tanya Alvin, masih berdiri di atas goa.
__ADS_1
"Kau akan kuhajar saat sampai di sana" Anna menatap tajam pada Alvin.
"Kalau begitu, ambilkan juga pedangku" respon Alvin, tidak peduli dengan ancaman Anna.
Pertarungan masih berlangsung. Sudah ada lima Orc yang mereka tumbangkan, termasuk dengan Orc yang keluar dari dalam goa.
Fio sibuk menembak Orc yang tersisa, sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan salah satu Orc dari belakang pohonnya. Orc tersebut memukul pohon yang ia tempati, getaran hebat itu dapat ia rasakan. Rasanya ingin jatuh dari sana.
Sekali lagi, Orc itu memukul batang pohon dengan keras hingga akar pohon tersebut lepas dari tanah. Fio berteriak ketika ia mulai condong ke tanah, dengan sigap Fio melompat dan berguling di tanah lalu kembali berdiri.
Meskipun ia berhasil selamat dari pohon itu, posisinya berada dalam bahaya. Sadar akan keberadaannya dan tatapan penuh ancaman dari Orc yang membuatnya jatuh tadi, Fio berlari dari sana.
Melihat Fio berada di bawah, Gerru memerintahkan bawahannya untuk mengalihkan perhatian Orc itu. Namun sekeras apapun usaha mereka, Orc itu tidak mau mengalihkan perhatiannya dari Fio dan terus mengejarnya.
"Orc ini bermasalah!!" teriak Fio.
Tidak apapun yang dapat ia jadikan tempat untuk berlindung. Ia juga tidak bisa memanjat pohon dengan cepat.
"Tamatlah aku"
Tiba-tiba, Sien datang dari arah sampingnya dan menarik Fio ke atas kuda. Fio kaget dengan kemunculan Elf bermata sipit ini.
"Sien?! Kenapa kau ada di sini?"
"Urusanku sudah selesai dengan Orc itu, aku dapat bantuan juga"
"Dari siapa?"
Tanpa menjawab, Sien menunjuk ke arah kawanan badak berbulu dari arah selatan. Kawanan itu menerobos apa saja yang ada di hadapan mereka dan sepertinya sedang mengarah kemari.
Sien membelokkan kudanya dan berbalik menuju Gerru dan yang lainnya.
"Ketua! Menyingkir dari sini, ada lebih dari sepuluh badak akan menghancurkan tempat ini!" seru Sien sambil berlalu pergi.
Gerru dan yang lainnya segera menoleh ke kawanan badak yang Sien maksud. Ia segera memerintahkan kelompoknya untuk pergi dari sini.
Melihat Gerru dan anak buahnya mendadak pergi, Orc yang tersisa menjadi kebingungan. Tetapi jawaban atas pertanyaan mereka segera terjawab ketika melihat ada kawanan badak yang sudah mendekat.
Mustahil untuk menghindar, alhasil mereka mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk menahan kawanan itu. Namun, karena kalah jumlah, para Orc ini malah mati terpijak oleh kawanan tersebut.
"Kerja bagus, Sien. Kau memudahkan pekerjaan kami" puji Gerru.
Mereka melihat dari kejauhan dan tidak ingin mengambil resiko dengan kawanan itu.
"Yah, sebenarnya bukan karena aku" Sien tersenyum pahit. "Ada rombongan Raptor yang membuat mereka panik tadi"
Semuanya langsung terdiam, kecuali Anna yang tidak tahu sama sekali yang Sien katakan.
"Apa itu Raptor?"
___
Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.
Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.
@haritsataqii
Oke, stay tune!
__ADS_1
Makasih <3
Next : Ch.21 - Predator