Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.4 - Dikejar


__ADS_3

Anna tiba-tiba mengejutkan teman-temannya dengan teriakannya yang melengking itu.


Ia dipojokkan dengan sesosok manusia tanpa satupun busana di tubuhnya. Manusia itu kurus, berkulit keriput, berdiri dengan tubuh yang bungkuk dan ada beberapa helai rambut di atas kepalanya. Selain itu, wajahnya tidak menggambarkan manusia cerdas seperti umumnya, layaknya seperti hewan buas.


"Itu kanibal!" Jein melotot kaget.


Manusia kanibal itu menatap Anna dengan tajam, seolah-olah melihat makanan yang menggiurkan. Kedua tangan kurusnya terangkat ke udara dan ia mulai mengeluarkan suara aneh.


"GYAA!!" teriak kanibal itu, hendak menerjang Anna.


Tepat sebelum ia sampai ke tubuh Anna, anak panah lebih dulu menancap punggungnya. Kanibal itu langsung berlutut di depan Anna. Serangan itu memang melukainya, tapi belum cukup untuk membunuhnya. Alhasil, ia menjadi marah dan mulai melolong.


Lolongannya yang terasa mengerikan membuat siapapun merinding.


"Cepat bunuh dia!" teriak Roby.


Masih dengan tubuh yang bergetar, Anna langsung menusuk dada kanibal itu dengan tombak. Cipratan darah keluar begitu deras dari dadanya, lolongannya pun terhenti, berganti dengan suara seraknya yang merintih. Ia sempat bergetar sejenak, menahan sakit, sebelum jatuh ke tanah dan mati.


Anna begitu syok. Ia segera menjauh dari mayat kanibal itu. Wajahnya pucat dan tegang. Anna melepaskan tombak itu dari genggamannya karena tenaganya langsung terkuras. Dan lagi, cipratan darah kanibal itu mengenai wajah dan tubuhnya.


"A-aku...."


Anna terduduk di tanah sambil terus menatap mayat kanibal yang baru di bunuhnya.


Roby, Fio dan Jein bergegas mendekat. Mereka memanggil Anna, namun gadis itu tidak menyahut. Dia masih termenung.


Di saat yang bersamaan, Alvin dan Lisa datang. Mereka cukup kaget melihat ada orang yang tergeletak bersimbahkan darah di sana.


"Anna—"


Lisa melebarkan matanya, memandangi penampilan sahabatnya itu. Anna, kini ia berlumuran darah korbannya. Sungguh mengerikan, jauh dari Anna yang selalu menjaga penampilan dan kebersihan tubuhnya.


"Anna?" Lisa menghiraukan itu, ia mencoba memanggil Anna sambil mengguncang sedikit tubuh Anna.


"Lisa?" Anna baru sadar kalau Lisa sudah berada di hadapannya. "Lisa..." Anna menangis, ia pun memeluk Lisa erat. Tangisannya terisak-isak, tubuhnya bergetar karena tangis yang ia ciptakan.


"Tidak apa, tidak apa" Lisa berusaha memenangkan Anna. Gadis itu terlihat sangat syok.


"Darahnya... masuk ke dalam mulutku.." kata Anna, masih menangis.


Jein berlutut di samping Anna, ia mengeluarkan sebuah botol bambu yang berisikan air.


"Anna, minumlah ini"


Perlahan Anna melepaskan pelukannya dari Lisa. Ia menerima botol itu dan langsung meminumnya.


"Aku begitu kotor.." ucapnya, pelan.


Sementara itu, Alvin memberi kode kepada Fio dan Roby untuk menjelaskan kejadian ini, tanpa bersuara.


Fio mengedikkan dagunya ke mayat kanibal di sana, lalu mengucapkan, "Kanibal" tanpa bersuara.


"Kita harus pergi dari sini" Jein bangkit.


"Kenapa?" tanya Fio.


"Lolongan tadi, aku sering mendengarnya. Itu adalah lolongan minta tolong"

__ADS_1


"Sial, itu gawat" Roby menjadi pucat, ia memperhatikan sekitarnya begitu mendengar penjelasan Jein.


Iseng memasukkan tangan ke sakunya, Alvin merasakan ada benda persegi panjang di dalam saku celananya.


"Ponselku?"


Yang lainnya terkejut, kecuali Jein yang bingung sendiri. Alvin memutar-mutar ponsel layar sentuhnya itu, mencoba memeriksa benda tersebut.


"Kenapa kau ada ponsel?" tanya Fio.


Tidak menjawab rasa penasaran Fio, Alvin menghidupkan ponselnya. "Menyala" katanya. Ia langsung menggeserkan layarnya dan menghidupkan tombol senter. Cahaya terang keluar, Alvin menerangi sekitar.


"Apa itu?" tanya Jein, penasaran. "Itu lebih terang dari bola kaca milikku"


"Ini namanya ponsel" jawab Fio. "Kau bisa melakukan apa saja dengan benda kecil ini...."


Selagi Fio menjelaskan apa itu ponsel, Alvin menyenteri bagian gelap goa yang tidak mendapat bagian cahaya. Walaupun iseng, Alvin malah mendapat sial di sini.


"....Kau bisa bermain, menghubungi orang dari jarak jauh..."


Alvin menepuk-nepuk pundak Fio dengan cepat. Membuat Fio terpaksa menghentikan penjelasannya.


"Ada ap—"


Akhirnya ia paham kenapa Alvin sengaja menganggunya, ternyata ada puluhan manusia kanibal di dalam goa ini. Mereka semua mengawasi mereka dari kejauhan dengan sorot mata tajam, seperti hantu.


"Sial" gumam Roby.


Anna bangkit perlahan, dibantu oleh Lisa. Mereka bersembunyi di balik para lelaki. Alvin masih dengan ponsel yang menyalakan senter di tangannya. Jein mulai mengeluarkan busurnya.


"Lari! Lari!" teriak Fio.


Mereka mulai melarikan diri dari kejaran para kanibal itu. Apapun mereka lewati, tidak peduli itu kerangka manusia, serangga, kotoran, yang penting mereka harus menjauh.


Di depan sana ada bebatuan. Mereka harus melompati bebatuan itu dengan gesit. Tempat ini licin, akan sulit untuk mendarat setelah melompat.


"Alvin, kau di depan!" teriak Jein.


Alvin yang menjadi penerang jalan bagi mereka berpindah ke depan.


"Fio, tangkap!" Alvin melempar pedang yang ia dapat tadi. Fio mendapatkannya dengan sempurna.


"Lewat mana? Lewat mana?" tanya Alvin, bingung dengan goa yang bercabang-cabang ini.


"Sini!" Jein menarik Alvin berbelok ke kiri, masuk ke salah satu lorong cabang. Mereka yang di belakang hanya mengikuti, termasuk para kanibal itu.


Jumlah mereka banyak dan nafsu makan mereka juga tinggi, membuat mereka berjatuhan dan saling berhimpit ketika Alvin dan rekan-rekannya berbelok tiba-tiba.


"Aku berasa ada di film World War Z" ucap Roby.


Keenamnya kembali berbelok. Kecepatan yang dimiliki mereka hampir disamai oleh kecepatan lari para kanibal di belakang.


Salah satu kanibal hampir mendekati Roby. Kanibal itu hendak meraih tubuh Roby dengan cakarnya.


"Jangan!" teriak Roby, ingin menangis.


Fio melihatnya. Dengan pedang di tangannya, Fio memukul-mukul kanibal itu dengan pedang hingga ia terjatuh dan mati. Mayatnya diinjak-injak oleh sesamanya.

__ADS_1


"Mereka hampir mendekati kita!" teriak Fio.


Degup jantung mereka begitu cepat seiring langkah kaki yang mereka usahakan secepat mungkin.


"Di depan ada jurang!" kata Alvin.


"Lompat jika aku suruh!" seru Jein.


"Kau gila?!" Anna menjerit dari belakang.


Mereka berlari dengan cepat menuju jurang itu. Tidak seperti yang tadi, jurang ini hanya memisahkan sedikit saja antara daratan ini dengan daratan sana. Namun, melompatinya tetap saja gila.


"Lompat!" teriak Jein.


Mereka semua lompat secara bersamaan. Anna dan Roby mendarat tidak sempurna, alhasil mereka terjatuh dan tersungkur.


Malang untuk Fio, ia malah tidak sempurna saat mengambil ancang-ancang saat hendak melompati tadi. Ia pun hampir terjatuh ke jurang dan bergelantungan di tepi tebing ini.


"Tarik!" Jein dan Alvin sama-sama menarik Fio dengan cepat dari sana.


Kanibal semakin mendekat, mereka tidak tahu ada jurang di depan, sehingga sebagian besar yang ada di depan terjatuh ke dalam jurang.


Jein menarik busurnya dan mulai menembak. Beberapa kanibal itu ada yang melompat, sebagian dari mereka kena anak panah dari Jein, tetapi salah satunya berakhir dengan berpegangan pada kaki Fio.


Fio berteriak. Kanibal itu dengan gila berusaha naik lalu menggigit betis Fio.


"Dia mau memakanku!!" teriak Fio.


Jein susah mau bidik yang mana. Para kanibal masih ada yang berusaha melompati jurang agar bisa berhasil sampai ke tempat mereka, namun Fio juga berada dalam bahaya.


Lisa melihat pedang yang Fio pegang tergeletak di tepi tebing. Dengan cepat ia mengambilnya lalu melemparinya ke kanibal yang bergelantungan di kaki Fio. Kepala kanibal itu tertancap pedang dan ia pun terjatuh ke dalam sana.


Alvin menarik Fio dari sana. Karena luka di kakinya, Fio tidak bisa lari. Alhasil, Alvin dan Roby membopongnya. Jein menjaga dari belakang, sedangkan Anna dan Lisa berada di depan, menyenteri jalan.


Melihat ada retakan di langit-langit goa, tepat di atas mereka, Jein pun menembaki anak panah ke atas sana. Karena itu, ia memicu reruntuhan. Jalan di jurang tadi tertutup karena runtuhnya langit-langit goa, sehingga para kanibal itu tidak bisa mencapai tempat mereka.


"Kita selamat" kata Jein, terengah-engah.


"Kita harus keluar" Lisa berucap. "Luka Fio harus disembuhkan, jika tidak, akan infeksi"


Jein setuju, mereka pun mencari jalan keluar. Entah berapa lama mereka di dalam sana, begitu keluar, hari sudah sore. Hujan juga sudah reda dan di sini terasa sejuk selepas hujan. Mereka tidak lagi di tempat awal ketika masuk goa.


"Kita beruntung, ada danau" kata Jein. "Ayo kesana dan buat gubuk sementara untuk bermalam"


———


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!


Makasih <3


Next : Ch.5 - Perkampungan Kanibal

__ADS_1


__ADS_2