Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.9 - Pertarungan Berdarah


__ADS_3

Kelima pertarung raja itu menempati posisi mereka masing-masing. Mereka hanya berdiri begitu saja, tanpa bersiap. Mereka juga tidak mengeluarkan senjata.


"Cih, mereka meremehkan kita!"


"Awas saja, bakal kuremukkan wajahmu itu!"


Para gladiator tersulut emosinya ketika melihat para petarung raja ini sama sekali tidak ada niatan untuk bertarung.


Jein memperhatikan kelima petarung ini dan yang paling menarik perhatiannya adalah Cosmos, gladiator milik Raja Ganory.


Dari leher hingga kaki Cosmos dibaluti baju zirah emas. Tinggi pria itu mencapai dua meter, dengan tubuh sebesar itu bukan tidak mungkin Cosmos bisa melawan mereka semua dengan tangan kosong. Tidak memilik rambut namun mempunyai janggut dan kumis yang cukup lebat, senada dengan warna hitam pada rambutnya. Pandangannya dingin menusuk tanpa ada rasa takut sama sekali. Di belakang punggungnya terdapat sebilah pedang tumpul berwarna hitam.


"Apa semuanya sudah siap?!"


Narres dengan semangatnya bersorak akan memulai pertarungan. Disambut riuh oleh para penonton yang sudah tidak sabar.


"Baiklah, pertarungan ke 236, dimulai!"


Di saat itu juga Narres berlari dari sana. Para gladiator pun mulai menerjang dan menyerang satu sama lain.


"Arui, jangan tergesa-gesa!"


Arui hendak bergerak maju, tapi Alvin berteriak padanya. Alvin mempunyai rencana sendiri yang seharusnya berhasil untuk mereka.


Arui bingung, tapi ia lebih memilih untuk menurut. Dalam situasi ini, saling percaya adalah hal yang terpenting.


Alvin dan Arui sengaja tidak maju untuk menyerang. Mereka mencari tempat aman, menjauhi pertarungan.


"Apa yang dilakukan Alvin?" tanya Anna, heran.


Alvin dari jarak aman memperhatikan sekitar. Jelas para gladiator itu saling menghancurkan satu sama lain. Salah satu petarung terhempas ke udara karena lemparan Hegro. Pria itu begitu brutal, ia memukul dan menghantam siapa saja yang ada di dekatnya.


Hegro memukul dagu salah satu petarung hingga terlempar ke atas dan berakhir dengan menghimpit para petarung lain. Namun, dirinya tiba-tiba terdorong cukup jauh karena menangkap salah satu gladiator yang terhempas.


Hegro melempar orang yang ia tangkap tadi. Tatapan tajamnya terarah pada Rezro, dialah yang berani melempar sesuatu padanya tadi.


"Akan kubuat kau menyesalinya" Hegro mendengus, ia menggenggam erat gadanya.


Hegro berlari menerjang menuju Cosmos. Hegro melayangkan gadanya ke Cosmos, namun dapat dihindarkan dengan mudah. Hegro terus menyerang, Cosmos hanya menghindar dengan sedikit gerakkan.


Gada Hegro mengarah ke sisi kanan kepalanya, dengan satu gerakkan tangan, ia dapat menangkap gada Hegro.


"Apa?! Sial kau" Hegro menggerutu. Ia pun melayangkan pukulan ke sisi wajahnya yang lain, tapi juga dapat ditangkap.


Cosmos menarik tangan Hegro, hingga tubuhnya tertarik dengan kuat. Cosmos menghantam kepala Hegro dengan kepalanya sendiri. Pria besar itu menjadi pusing. Belum selesai, Cosmos menendang perut Hegro, membuatnya terdorong beberapa meter ke belakang sebelum berakhir dengan membentur dinding yang berada tepat di belakang Alvin dan Arui.


Penonton bersorak dan terkejut ketika melihat Hegro dengan mudahnya dikalahkan oleh Cosmos.


"Lihat! Hegro kalah!"


"Gladiatornya Raja Ganory memang hebat!"


Alvin memandangi Hegro yang terduduk lesu di belakangnya. Dinding yang menjadi tempat mendarat Hegro meninggalkan jejak yang cukup dalam, dengan kata lain hancur dan retak.


Arui menggigil ketakutan melihat kekuatan Cosmos.


Kini yang Alvin khawatirkan adalah perhatian Cosmos tertuju pada mereka. Namun ia salah, Cosmos nyatanya tidak tertarik sama sekali kepada mereka. Cosmos beralih ke gladiator lainnya yang tubuhnya lebih kuat dari Alvin.


"Untung saja"


Meskipun merasa diremehkan, Alvin tetap menghela napas lega. Dengan begini, ia hanya menunggu sampai jumlah petarung semakin sedikit.


"Aku tidak tahu apa yang Alvin rencanakan di sana, ia seperti menunggu sesuatu" kata Jein.

__ADS_1


"Dia sudah menjalankan rencananya" jawab Fio. "Meskipun cara ini kotor, Alvin sengaja menunggu jumlah gladiator menjadi semakin sedikit, karena itu ia tidak akan kerepotan untuk bertarung"


"Tapi, dia juga akan dirugikan kalau nantinya akan terjadi satu lawan satu" sahut Jein.


"Dia tidak akan menunggu satu lawan satu. Dia akan memanfaatkan satu lawan satu dari lawan, dia akan menjadi umpan untuk dirinya sendiri. Kita lihat saja"


"Kenapa kau begitu yakin?"


"Karena aku berteman dengannya sudah cukup lama. Alvin adalah tipe orang yang bergerak dibalik bayangan"


Mendengar itu, terselip rasa lega dan kagum pada diri Jein. Ia melihat Alvin dari atas sini. Namun, ketika ia memperhatikan lelaki itu, pandangannya tertarik pada salah satu petarung di sana. Merasa familier dengan petarung itu, Jein memusatkan pandangannya pada petarung tersebut.


Orang yang dilihat oleh Jein adalah Elf wanita berpakaian hitam ketat itu. Ia adalah satu-satunya petarung wanita di sana.


Wanita itu dengan lincahnya mengalahkan satu per satu lawannya. Ia memutar tubuhnya di atas lantai arena dengan anggunnya, dengan pedangnya yang ia tebaskan dengan cepat membuatnya menciptakan gerakan yang sempurna. Dari gerakan bertarungnya, ia selalu menjaga agar tubuhnya tidak tersentuh sedikitpun.


"Siapa si sexy itu?" tanya Roby.


"Ya ampun" Jein baru mengingatnya. "Itu Asvia"


Asvia, nama wanita itu. Ia baru melesatkan tendangannya ke salah satu wajah gladiator hingga tumbang tidak sadarkan diri di lantai. Asvia berdiri di atasnya, memperhatikan dengan tajam orang-orang yang mencoba menyerangnya.


"Kuharap Alvin tidak berurusan dengannya" ucap Jein.


Alvin juga berpikiran sama. Ia memilih untuk tetap diam hingga pertarungan ini menyisakan setidaknya 15 gladiator.


"Di sana kau rupanya!"


Namun, seseorang mengacaukan ketenangannya. Itu Logan dengan pedangnya yang baru saja melewati atas kepala Alvin. Dengan cepat tadi, Alvin menunduk untuk menghindari serangan itu.


Memutar tubuhnya, Alvin melesatkan tendangan ke perut Logan. Pria itu mundur untuk menjaga jarak aman.


"Aku mencarimu dari tadi" kata Logan, dingin. "Kau licik. Berani sekali kau tidak ikut bertarung"


Logan berpikir sejenak setelah mendengar jawaban dari Alvin. Kalau dipikir-pikir juga benar, Alvin tidak salah.


"Dan juga, mana temanmu itu yang namanya tidak kukenal?" tanya Alvin.


Logan meraih sesuatu di belakangnya. Begitu memperlihatkannya ke Alvin, lelaki itu dan Arui menjadi sangat terkejut. Bagaimana tidak? Kalau yang diperlihatkan Logan adalah kepala Mise, hanya kepalanya.


"K-kau membunuhnya?" tanya Arui sambil bersembunyi dibelakang Alvin.


"Kau gila? Tentu saja bukan! Dia mati karena dikepung oleh beberapa petarung. Aku.. aku terpaksa memenggal kepalanya agar Mise tetap bersamaku" jawab Logan, sedikit mencurahkan kesedihannya.


"Ya ampun" Alvin geleng-geleng sendiri melihatnya.


"Dengan begitu, aku akan mengalahkanmu! Sehingga target hadiah bisa kupersembahkan untuk Mise!" teriak Logan. Ia mengangkat pedangnya ke udara, lalu berlari menuju Alvin.


"Lari" kata Alvin.


"Hah?" Arui menjadi bingung.


"Lari" Alvin menarik lengan Arui dari sana. Mereka berdua berlari dari kejaran Logan.


"Mau kemana kau, Pengecut?!" teriak Logan.


"Saat aku bilang menunduk, kau menunduk, mengerti?" Alvin memberi instruksi.


"M-mengerti"


Meskipun bingung, Arui tetap patuh. Ia masih tidak paham dengan apa yang ada di kepala Alvin, hingga sampai-sampai berlari dari Logan.


Karena tingkah Alvin yang seperti pengecut itu membuat perhatian penonton tertuju padanya, begitu juga dengan para raja dan bangsawan lainnya.

__ADS_1


Mereka menertawakan dan menyorakki Alvin.


Jein, Fio dan Roby berdiri untuk melihat Alvin lebih jelas. Lisa dan Anna juga memperhatikan dari atas sana.


"Lihat mereka" Ganory tertawa pelan, mengejek. "Mereka takut kepada seorang petarung lemah"


Alvin menarik Arui ke tengah arena, di mana seluruh pertarung kebanyakan sedang bertarung di sana.


"Bersiap" kata Alvin.


Arui menelan ludahnya. Ia merasa ini akan buruk.


Mereka semakin dekat ke para petarung bertubuh besar itu. Mereka saling sibuk menghancurkan satu sama lain tanpa menyadari kedatangan dua serangga kearah mereka.


Alvin mendadak berhenti, Arui tergelincir karenanya. Alvin berbalik dan menunggu Logan. Pria itu mendekat sambil berteriak.


Alvin melirik ke kanan dan ke kirinya. Begitu Logan sampai, ia hendak menerjang dengan melompat kearah Alvin.


"Menunduk!" Alvin berseru, diikuti Arui yang langsung jongkok.


Tiba-tiba, pukulan besar menghantam wajah Logan dengan telak dari sisi kanan dan kiri. Merasa rencana kecilnya sukses, Alvin segera menarik Arui dari sana sebelum kedua petarung disamping mereka kembali bertarung.


Tanpa ia sadari, Alvin berhasil membuat seluruh penonton yang mengejeknya tadi terdiam lalu bersorak. Ganory juga tidak menduga hal yang demikian.


"Apa yang ia lakukan barusan?" tanya Jein sambil mengedipkan matanya karena hal yang baru saja terjadi lewat begitu cepat.


"Sudah kubilang, Alvin itu umpan" Fio tersenyum lebar.


"Itu rencananya dari dulu" sahut Roby yang ikut menyeringai.


Fio menjelaskan, Alvin sengaja menarik Logan menuju arena tengah di mana pertarungan besar terjadi. Di sana dipenuhi oleh gladiator bertubuh besar dan mereka tidak akan sadar dengan kedatangan Alvin yang hanya bertubuh kecil.


Memanfaatkan beberapa hal di sana, Alvin berhasil menemukan dua petarung yang mulai bertarung satu sama lain. Karena itu, ia menempatkan dirinya di tengah-tengah mereka, tepat sebelum mereka saling bertemu.


Logan tidak tahu itu, perhatiannya tetap saja terarah pada Alvin. Sehingga ketika tiba waktu yang pas, Alvin menunduk untuk menghindari dua serangan yang datang dari dua arah berbeda. Nasib malang pun menimpa Logan, secara tidak sengaja ia kena pukulan itu yang seharusnya Alvin lah yang kena.


"Dengan begitu, ia dapat menyelesaikan pertarungan dengan cepat" ucap Fio.


Jein menoleh ke Alvin yang kembali ke tempat aman. "Tidak kusangka dia licik" Jein tersenyum tipis.


Logan yang kena pukulan telak itupun tumbang. Wajah tampannya hancur dan ia tidak bisa melanjutkan pertarungan.


Asvia sempat memperhatikan tadi. Kini, ia mulai tertarik pada Alvin. Kelicikan, kecerdikan dan pandainya Alvin memperkirakan waktu dan suasana menjadikan Alvin sebagai orang yang patut ia waspadai.


"Alvin" Anna menghela napas. "Dia belum berubah, ya"


"Benar" Lisa tersenyum. "Dia tidak akan berubah"


Alvin menyingkirkan poni rambutnya yang panjang itu dari depan matanya, tidak ada ketakutan yang terpancar dari kilat matanya itu. Kini, Alvin sudah siap untuk masuk ke dalam pesta.


———


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!


Makasih <3


Next : Ch.10 - Kerja Sama

__ADS_1


__ADS_2