Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.5 - Perkampungan Kanibal


__ADS_3

"Aduh.."


"Sakit, ya?"


Lisa tengah mengolesi luka di betis Fio dengan salep atau semacamnya yang diberikan Jein. Lisa ikut ngilu melihat Fio yang dari tadi meringis menahan sakit.


"Tahan sedikit lagi"


Dengan perlahan dan lembut, Lisa membersihkan luka Fio lalu mengolesinya lagi. Dari jauh, Jein memperhatikan dengan cermat melihat bagaimana Lisa menangani pasiennya.


Ia mengembangkan senyum di wajahnya, ini mengingatkan dirinya kepada ibunya. Dari raut wajah yang serius serta penanganannya yang lembut membuat siapa saja pasien yang diobatinya bisa rileks.


Karena tidak ada perban, Lisa merobek lengan bajunya untuk menjadi pengganti perban. Fio tertegun melihat Lisa dengan entengnya merobek pakaiannya hanya untuk menutupi lukanya.


Lisa membaluti bekas gigitan kanibal itu dengan sobekan lengan bajunya.


"Selesai!" Lisa tersenyum puas.


"Lisa.." gumam Fio, ia menatap lekat wajah polos gadis itu. "Terima kasih" ujarnya dengan senyuman.


Lisa membalas dengan senyuman juga.


Melihat pasangan itu, Jein tidak menyadari kehadiran Alvin di sampingnya.


"Katanya mau bikin gubuk..."


"AAAHH!!"


"....tapi kenapa termenung di sini?"


Alvin berhasil membuat Jein kaget hingga berteriak. Seolah cuek, Alvin melanjutkan ucapannya ketika Jein berteriak.


"Sejak kapan kau di sini?" tanya Jein.


"Sebaiknya bangun gubuknya di mana?" Alvin balik bertanya, tanpa menjawab pertanyaan Jein.


Jein memandang ke sekitar. Ia menemukan spot bagus diantara pohon-pohon cemara itu.


"Di sana" tunjuknya.


"Kau yakin aman di sana?"


"Aku sudah memeriksa area ini, tidak ada sarang makhluk apapun sejauh mata memandang"


"Hm, sebaiknya begitu"


Di malam harinya, mereka hanya bisa membuat sebuah gubuk dan perapian untuk menghangatkan diri. Karena kurangnya bahan yang didapat serta waktu yang terasa begitu cepat.


"Jadi, siapa yang akan menempati gubuk?" tanya Anna.


"Gubuk itu bisa muat empat orang" ucap Roby.


"Lisa dan Anna saja, karena mereka wanita, sebaiknya masuk ke dalam" saran Fio.


"Benar, malam ini kalian tidur di dalam, sedangkan kami di luar" Jein mengangguk setuju.


Lisa dan Anna saling melempar pandangan. "Baiklah, tapi jika ada dari kalian yang kedinginan, kalian boleh masuk, asal jangan macam-macam" ujar Anna.


Lisa menoleh ke Alvin yang duduk menyandar di batang pohon sambil menyelimuti dirinya dengan jaket. Lelaki itu tampak kelelahan. Meskipun berwajah cuek dan dingin, jika dilihat saat mengantuk membuat siapa saja menjadi iba dan gemas sendiri.


"Alvin, kau ingin masuk?" tanya Lisa.


"Apa?" Alvin melempar pandangan ke Lisa. "Tidak, aku di sini saja"


"Tapi, kau terlihat kedinginan"


"Tidak, ini tidak masalah, jangan khawatir"


Melihat Lisa yang menaruh rasa khawatir kepada Alvin, membuat Fio dan Jein gigit jari. Seandainya mereka berada di posisi yang sama dengan Alvin, pasti keduanya sudah menerima tawaran itu.


"Baiklah, kalau mau masuk, tidur saja di sampingku"


Fio dan Jein sama-sama tercengang. Mereka seperti patung yang mengalami keretakan ketika mendengar Lisa berkata seperti itu kepada Alvin. Lebih parahnya, itu tidak ditawarkan kepada mereka berdua.


Setelah mengatakan itu, Lisa masuk ke dalam.


Alvin hendak menguap, tapi ketika melihat tatapan tajam dari Fio dan Jein membuat ia merasa aneh dan heran.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Alvin.


Sementara itu, Roby asyik dengan ikan bakar yang baru saja matang dari api unggun.


"Selamat makan" ucapnya dengan riang.


Malam ini pun dilewati dengan tenang sampai keesokan harinya. Ini adalah hari pertama mereka berada di dunia ini dan sejauh ini sangatlah buruk. Baru sehari mereka sudah dekat dengan kematian, bagaimana nantinya?


Fio membuka kedua kelopak matanya yang berat itu. Dilihatnya hari sudah berganti. Dengan malas ia bangkit lalu meregangkan badannya yang kaku karena semalaman tidur. Kakinya masih belum pulih dan sebaiknya mereka menghindari bahaya sampai kakinya sembuh.


Jein turut bangun. Ia tertidur dengan posisi duduk sambil memeluk busurnya. Matanya terbuka begitu merasakan kehangatan matahari meraba kulitnya.


"Baru bangun?" tanya Jein, melihat Fio sudah duduk. Rambutnya acak-acakkan khas orang baru bangun tidur.


"Ya, mana Roby?" tanya Fio, setengah sadar.


"Ada di belakangmu" tunjuk Jein


Fio menoleh sejenak ke belakang. "Benar. Alvin?"


"Aku tidak melihatnya" jawab Jein.


Untuk sejenak, mereka terdiam. Tiba-tiba mereka teringat sesuatu tentang tawaran Lisa pada Alvin tadi malam.


Kesadaran dan tenaga mereka berdua langsung terkumpul penuh. Tanpa sadar, mereka bersamaan menuju gubuk dengan cepat dan memeriksa apakah ada Alvin di sana.


Namun, zonk.


Alvin bahkan tidak ada di sana. Hanya Lisa dan Anna yang masih terlelap. Kehadiran mereka membuat Anna terbangun.


"Kalian kenapa?" tanya Anna, matanya menyipit curiga.


"T-tidak. Tidak ada apa-apa" jawab mereka serentak lalu menjauh dari gubuk.


"Mau mengintip...."


"GYAAAHH!!!"


"......gadis-gadis yang sedang tertidur, ya?"


"D-dari mana saja kau?" tanya Fio.


"Aku mencari minum. Kau tidak lihat?" jawab Alvin sembari menunjukkan botol bambu di tangannya.


"Yah, aku bisa melihatnya"


***


Pagi ini cukup cerah. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Menurut Jein, lokasi perkemahannya agak sedikit jauh dari perjalanan mereka semula. Karena ada sedikit insiden kemarin, saat keluar dari goa melewati pintu yang berbeda.


Mereka melangkah di padang rumput yang sedikit berbukit ini. Di sisi kiri dan kanan padang rumput terdapat hutan cemara.


Anna menghirup udara segar pagi ini. Suasananya sungguh berbeda dengan apa yang ia dapat dari suasana perkotaan.


"Rasanya seperti menjelajahi alam bebas, ya?"


"Memang kenyataannya seperti itu"


"Tapi, tetap saja suasanya berbeda"


"Dunia ini tidak buruk juga"


Dari belakang, Anna dan Roby berbincang-bincang ringan mengenai dunia ini. Selain hal buruk yang mereka alami, juga ada hal baik yang indah seperti saat ini.


Dari tempat mereka berjalan ini, mereka bisa melihat pegunungan di sisi kiri dan kanan mereka, seolah-olah menjadi latar belakang untuk perjalanan yang panjang ini.


"Kau sering menghadapi kanibal, ya?" tanya Lisa.


"Aku lebih sering menghindarinya" Jein tertawa canggung. "Kami biasanya akan menghadapi mereka jika kami terusik"


"Begitu, ya"


"Hey, Jein!"


Fio memanggil dari belakang. Saat Jein menoleh, Fio menunjuk ke suatu arah, mengarah ke atas puncak pegunungan di sebelah kiri mereka.


"Apa itu?" tanya Fio.

__ADS_1


Di sana ada tembakan cahaya ungu dari puncak gunung itu menuju langit. Dan lagi di tengah-tengah cahaya itu terdapat cincin emas yang mengambang, berputar di sana.


"Itu sinyal langit" Jein mengerutkan dahinya. "Biasanya... sinyal itu muncul ketika ada pemberitahuan penting, berita besar ataupun... deklarasi perang"


"Siapa yang membuat sinyal itu?" tanya Anna.


"Entahlah" Jein menggeleng. "Ayo, kita lanjutkan perjalanan ini" ucap Jein sambil terus memandangi sinyal itu dengan perasaan yang curiga.


***


Hutan ini berasa sangat menyeramkan jika dilihat-lihat.


Ya, mereka kembali masuk ke dalam hutan. Meskipun ini siang, cahaya matahari serasa sulit ditembus masuk ke dalam hutan ini. Hanya ada sedikit celah yang dapat disinari matahari.


Dari tadi, begitu masuk ke dalam hutan ini, Jein sudah bersiaga dan menyuruh kelompoknya agar tidak bersuara. Ia merasakan perasaan aneh lagi di sekitar sini.


"Berhenti" kata Jein.


Ia melihat ada jejak di tanah. Mirip seperti telapak kaki manusia. Jejak itu terus berjalan lurus.


"Ayo"


Jein dan yang lainnya mengendap-endap. Mereka pun sampai ke suatu permukiman kecil yang terlihat tidak berpenghuni. Di sana ada beberapa gubuk tua yang terbuat dari kayu dan dedaunan.


"Perkampungan kanibal" bisik Jein.


Mendengar itu, Fio dan teman-temannya menjadi pucat. Setelah pertemuan buruk mereka dengan kanibal di goa kemarin, mereka menjadi lebih takut. Kanibal kini menjadi mimpi buruk bagi mereka, melebihi predator raksasa manapun.


"Kalau begitu, ayo kita pergi!" bisik Roby, memaksa.


"Sebentar, ada yang perlu aku periksa"


Jein masuk ke dalam permukiman itu. Tidak ingin terlibat, yang lainnya tetap berada di sana, bersembunyi di balik semak-semak.


Jein dengan busur di tangannya memeriksa tempat itu. Perkampungan tersebut sangat sepi, seolah tidak ada yang menempatinya. Ketika ia masuk lebih dalam, Jein menemukan sesuatu yang cukup mengejutkannya.


Ada dua mayat Elf tergeletak di tanah. Keduanya tidak lagi utuh, tubuh mereka sudah banyak dimakan dan organ dalam tubuh mereka tampak terburai keluar.


Jein memeriksa kedua jasad itu. Ia cukup mengenali salah satu diantara mereka.


"Kapten Agney?"


Wujud dari Elf yang ia kenali itu berambut hijau daun. Ia mengenali wajahnya yang terdapat bekas cakaran dari mata hingga dagu, meskipun tidak lagi sempurna.


Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dari belakang, membuat Jein bergidik ngeri. Ternyata itu Fio dan yang lainnya.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Jein.


"Kami menyadari kalau tanpamu kami bisa terkena bahaya" jawab Fio. "Ya ampun, siapa itu?" Fio tidak berani melihat mayat di depannya itu.


Yang lainnya juga begitu. Lisa dan Anna memilih untuk bersembunyi di belakang Roby.


"Dia adalah salah satu Kapten pasukan di perkampunganku. Aku cukup kaget melihatnya menjadi santapan para kanibal di sini"


"Aku ingin muntah.." gumam Roby.


Tiba-tiba, mereka mendengar suara gaduh tidak jauh dari sini.


"Mereka kembali! Ayo, pergi" bisik Jein.


Dengan cepat, mereka keluar dari tempat yang mengerikan itu. Benar saja, saat mereka pergi, para kanibal datang.


Jein menengok kearah mereka dari balik pohon. Para kanibal itu, selepas pulang langsung memakan dua Elf tersebut dengan ganas dan rakus.


———


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!


Makasih <3


Next : Ch.6 - Perkemahan

__ADS_1


__ADS_2