Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.10 - Kerja Sama


__ADS_3

"Aku akan mulai, kau ikuti apa yang aku lakukan"


Alvin membungkukkan sedikit tubuhnya, bersiap untuk berlari. Sedangkan Arui kebingungan dan panik mau melakukan apa.


Alvin melesat menuju arena tengah lagi. Perisai di salah satu tangannya ia angkat ke depan, sedangkan pedangnya ia turunkan. Alvin merendahkan sedikit tubuhnya dalam berlari, badannya ia condongkan ke depan.


Meskipun bukan berasal dari sini, aku tahu cara bertarung yang cocok dengan dunia ini.


Alvin merupakan penggemar komik dan novel fantasi, selain itu ia juga menyukai film dan video game yang berbau petualangan dan aksi, ditambah ia juga suka menonton acara bela diri. Alvin bukan hanya penikmat dari itu semua, ia juga meneliti dan mempelajarinya.


Karena itu, ia tahu apa yang harus ia lakukan.


Alvin muncul dengan mendadak di depan salah satu petarung. Ia menendang kaki petarung itu, namun tentu saja itu bukan serangan yang bagus, tapi itu langsung membuat emosi dari petarung tersebut terpancing.


"Kau ingin remuk, Bocah?!"


"Tidak, justru kau"


Alvin menyingkir setelah menjawab. Tiba-tiba dari belakang tempat Alvin berdiri tadi, petarung lainnya berlari sangat cepat menuju dirinya dengan gada di tangannya. Awalnya petarung itu ingin menghantam Alvin, tapi kini ia sudah menghindar dan alhasil serangannya malah kena petarung yang emosinya tersulut oleh Alvin tadi.


Alvin menoleh ke sampingnya. Ada dua petarung yang berkelahi. Alvin dengan diamnya berjalan menuju mereka. Ia jongkok membelakangi salah satu petarung yang sedang berkelahi itu. Alvin jongkok di sana sampai dua petarung itu mengarah padanya.


Ketika mereka saling tukar serangan, salah satu petarung terjungkal ke belakang. Ternyata Alvin sengaja membuat dirinya sebagai perangkap untuk membuat satu dari kedua petarung itu jatuh.


"Sialan!" umpat pria yang terjatuh ini.


"Kejutan" ucap Alvin pelan. Ia menebaskan pedangnya ke mata petarung yang lain—yang tidak terjatuh.


Petarung itu menjerit sembari memegangi kedua kelopak matanya yang sudah mengucurkan darah. Ia berjalan pelan ke belakang hingga palu nyasar mendarat di kepalanya.


Belum selesai dengan urusan pria yang ia buat jatuh tadi. Orang itu hendak bangkit, tapi Alvin langsung melarangnya.


"Sebaiknya jangan, kau tetap berbaring saja, itu akan mengurangi rasa sakitnya" kata Alvin.


"Apa maksudmu, Bocah?!" tanya pria itu yang kini sudah setengah bangkit.


Tidak lama kemudian, tiga orang petarung tiba-tiba jatuh, menghimpit tubuh pria tadi. Mungkin kepalanya sudah cidera atau lehernya kemungkinan patah akibat himpitan itu.


Hey, Jumbo!"


Alvin memanggil lagi petarung yang lain. Saat pandangannya tertuju pada Alvin, bocah berumur 17 tahun itu malah mengacungkan jari jempol yang mengarah ke bawah, tanda untuk meremehkan.


"Kau akan menjadi daging cincang!"


Petarung itu berlari menuju Alvin yang berdiri saja di sana. Karena perhatiannya yang terfokus dengan Alvin, ia tidak menyadari ada orang yang mendekat dari sampingnya.


Tanpa berbuat apa-apa, Alvin tetap berdiri di sana. Ketika hendak menerjang Alvin dengan kapaknya, sebuah bulatan besi raksasa menghantam kepalanya hingga ia terhempas beberapa meter dari tempat awal ia berdiri.


Alvin memunguti tombak yang tergeletak di lantai. Ia menggunakannya sebagai pemukul untuk siapa saja yang mendekat.


Empat petarung terpukul oleh tombaknya. Ia pun melesatkannya menuju pria di sana. Dengan asal-asalan, Alvin mengenainya tepat sasaran di dada. Tombak itu menancap tembus di dadanya. Alvin berlari kearahnya lalu mendorong tubuh pria itu dengan kedua kakinya, akibatnya petarung lain yang ada di belakang petarung tersebut ikut-ikutan jatuh karena tabrakan yang terjadi.


"K-kau lihat itu?"


"Bocah itu... dia hampir mengalahkan seluruh petarung?"


"Ini... aku tidak bisa mempercayainya"

__ADS_1


Penonton menjadi terkejut dan keheranan atas apa yang mereka tonton dari aksi solo Alvin yang terbilang cepat.


Mereka bersorak. Hari ini, mungkin menjadi pertarungan yang paling menarik di sejarah colloseum Desa Safwan. Seorang bocah yang terlihat lemah bisa mengalahkan belasan petarung yang tubuhnya dua hingga empat kali lipat besar dari dirinya.


Meskipun di mata orang-orang ia adalah keajaiban, maka tidak untuk Alvin. Di seluruh tubuhnya, ia menggigil takut. Memang benar jika dilihat dari tatapan datarnya yang kosong itu tidak terlihat sama sekali ketakutan, tapi memang beginilah yang Alvin rasakan.


Karena tangannya bergetar cukup kuat, genggaman pedang di tangannya terjatuh. Alvin menghela napasnya, ia pun membungkuk hendak mengambil pedang itu.


Namun tiba-tiba, seseorang menariknya dari belakang dan membekapnya dengan kuat. Lengan orang itu melingkar dengan keras di lehernya, mencegah Alvin untuk bergerak dan sebuah pedang terhunus di samping leher Alvin.


"Jangan bergerak atau tidak lehermu akan menjadi korbannya"


Suara yang dalam dan mengancam itu menahan Alvin yang ingin memberontak. Itu bukan pria, melainkan wanita yang merupakan satu-satunya petarung wanita.


Napas wanita itu dapat ia dengar dan rasakan dari belakang lehernya, karena saking dekatnya. Posisi ini membuat siapa saja canggung.


"Astaga, ini gawat" Jein menjadi panik. "Kalau tidak dicegah, Asvia akan membunuhnya"


Alvin hanya diam menurut. Selagi mereka berdiri di sana, petarung lain yang sudah tersisa sedikit masih saling membunuh.


"Kenapa kau tidak langsung membunuhku?" tanya Alvin. Ia bertanya demikian karena bingung, tapi juga berharap tidak ingin dibunuh.


"Apa kau ingin dibunuh?" tanya Asvia, heran.


"Tidak, aku tidak sudi. Lagipula, aku ingin pulang dan tidak akan mati di tempat ini"


"Apa kau ada tujuan di sini?"


"Aku harus menjawabnya?"


Alvin menghela napas panjang. "Aku ditangkap oleh orang asing dan dibawa kesini. Aku bahkan tadinya tidak tahu ini tempat apa"


"Kau tidak tahu? Begitupun dengan hadiahnya?"


"Ya. Aku baru diberitahu beberapa waktu yang lalu"


"Dan apa yang kau inginkan?"


"Kebetulan aku ditangkap di sini bersama dua temanku. Dan anehnya, mereka sekarang dijadikan hadiah utama"


Asvia mengerutkan dahinya. "Dua gadis itu?"


"Iya. Setelah mendapatkan mereka, aku pergi dari sini"


"Apa kau bersungguh-sungguh?"


"Kau kira aku apa? Pembohong?"


Setelah merenung beberapa saat, Asvia melepaskan Alvin. Alvin mengelus lehernya yang disakiti oleh wanita ini.


"Kalau begitu, kita harus bekerja sama" kata Asvia, tiba-tiba.


"Kau menyakitiku dan dengan seenaknya meminta kerja sama" Alvin menatapnya tidak suka.


"Apa kau ingin menyelesaikan ini dengan cepat? Kebetulan tujuanku juga sama untuk membebaskan beberapa teman-temanku dari sini"


"Ya, aku tidak ingin lama-lama di sini" jawab Alvin.

__ADS_1


"Jadi.." Asvia mengambil pedang Alvin yang berada di lantai. "Kau setuju?" Asvia menyodorkan pedang itu kepada pemiliknya


"Asal kau tidak menyerangku" Alvin dengan datarnya merespon sambil menerima pedang itu.


"Itu cukup adil" Asvia memandang ke depan. "Menurutku, taktikmu tadi cukup cerdas" setelah mengatakan itu, Asvia melesat pergi.


"Aku memang cerdas" gumamnya. Tidak seperti Asvia, Alvin hanya lari-lari kecil menuju arena tengah.


Sementara itu, Jein menjadi bingung sendiri atas apa yang ia lihat barusan. Beberapa saat sebelumnya Asvia tampak menahan Alvin dengan gerakan mengancam, namun kini mereka sudah berpisah seolah tidak terjadi apa-apa.


"Apa yang terjadi?" Jein menggaruk kepalanya.


"Kau berlebihan, Jein" Fio tertawa.


"Tidak kusangka kau bisa begini" Roby ikut-ikutan.


Jein hanya mendengus kesal. Di samping itu, ia masih memikirkan alasan Asvia berada di sini.


"Pasti sesuatu yang tidak beres" gumam Jein.


Sementara itu, di tribun selatan. Dua penjaga yang menjadi pengawal hadiah utama ini mendapati kalau giliran mereka sudah habis dan siap untuk digantikan.


Mereka berdua kembali masuk ke dalam. Namun, saat mendapati tempat itu sudah kosong oleh orang-orang yang bertugas menjaga di sini, mereka menjadi panik dan mencari tahu.


Dari atas, ada seseorang bertopeng putih dengan jubah hitam menempel di langit-langit. Ia memegang sebuah belati di tangannya. Orang itu turun dan mendarat pada salah satu penjaga.


Terkejut dengan kedatangan orang misterius itu, penjaga ini hendak menyerang, namun tangannya ditebas dari samping oleh orang bertopeng lainnya yang menggunakan pedang. Penjaga itu ingin menjerit, tapi mulutnya disumpal oleh kain.


Dua penjaga itu berhasil dilumpuhkan dan diletakkan di gudang bersama penjaga-penjaga lainnya yang sudah dibunuh terlebih dahulu.


"Tidur dulu di sini"


"Jangan bangun, ya"


Mereka membuka topeng dan mengganti pakaian dengan seragam abu-abu dari para penjaga itu. Kini keduanya menjadi penjaga colloseum dan mereka berakting layaknya mereka.


Rambut hijau mereka sama, postur tubuhnya juga sama. Hanya saja yang membedakan adalah warna mata mereka. Yang satu biru terang dan satunya hijau pekat.


"Kau keren, Noya"


"Kau juga, Sova"


Dan mereka adalah dua lelaki kembar.


———


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.


Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.


@haritsataqii


Oke, stay tune!


Makasih <3


Next : Ch.11 - Terluka

__ADS_1


__ADS_2