Dataran Lafier

Dataran Lafier
Ch.2 - Elf


__ADS_3

Begitu keluar dari hutan ini, mereka sudah disambut oleh sungai yang airnya begitu deras. Butuh cara untuk sampai ke seberang sana.


"Bagaimana sekarang?" Fio bertanya.


Jein mendengung sembari memperhatikan sekitarnya. Tidak ada apa-apa di sini selain batang kayu yang sudah lapuk.


"Biasanya aku melompat ke seberang sana, tapi karena lompatan kalian kurang tinggi, aku harus menggendong kalian satu per satu" ujar Jein.


"Menggendong?"


"Satu per satu?"


Fio dan Roby menatap Jein dengan bingung. Jein hanya tersenyum menanggapi kebingungan mereka.


"Wanita terlebih dahulu" ucap Jein.


Anna segera maju, ia ingin digendong langsung oleh Jein. Dengan mengangkat tubuh Anna dengan kedua lengannya, Jein mulai bersiap melompat.


Jein pun melompat tinggi, Anna menjerit saat berada di udara. Lelaki itu mendarat dengan mulus di seberang sana. Ia menurunkan Anna yang tegang.


Jein pun kembali ke tempat awal. Kini giliran Lisa. Malu-malu, Lisa melangkah mendekati Jein.


"Maaf, ya"


Setelah meminta izin, Jein mengangkat Lisa dengan mudahnya. Ia melompat tinggi ke udara dan mendarat di seberang sana. Begitu urusannya selesai, Jein kembali.


"Dia hebat, bukan?" Anna memuji Jein. Gadis ini tampak tergila-gila dengan pemuda yang baru saja menyelamatkan hidupnya ini.


"Kurasa semenjak kita masuk ke dunia ini sudah terasa hebat bagiku" respon Lisa. "Tapi ya, ada sesuatu yang menarik dari Jein"


"Ketampanannya?"


"Bukan!" Lisa mendengus. "Aku melihat telinganya yang panjang dan runcing, tidak seperti kita"


"Hm.." Anna berpikir. Di seberang sana, para laki-laki itu berdebat untuk siapa yang digendong Jein terlebih dahulu.


"Elf?" tebak Anna.


"Elf?" Lisa mengulang ucapannya.


"Ya, kurasa begitu. Elf biasanya digambarkan sebagai makhluk telinga runcing, kan?"


"Tapi, makhluk seperti itu biasanya ada di dunia fiksi"


"Apa kau baru menyadarinya, Lisa? Kita memang sudah berada di dunia itu"


Lisa pun termenung. "Benar juga, kita bukan berada di dunia normal lagi"


Kembali ke tempat Fio dan yang lainnya. Akhirnya, Alvin mengalah. Selain ia yang paling muda, tubuh Alvin juga terlihat lebih ringan daripada Fio dan Roby.


"Aku tidak ingin digendong seperti ala tuan putri" ucap Alvin.


"Iya, kau akan kubawa di atas punggungku" Jein berlutut dan membelakangi Alvin.


Alvin naik, Jein kembali berdiri. Ia mengambil ancang-ancang, lalu berlari dan kemudian melompat ke udara. Alvin sempat mencengkram bahu Jein di atas sana.


"Kau mencengkramku, ya?" tanya Jein ketika sudah sampai di darat.


"Refleks" jawab Alvin, cuek.


Jein geleng-geleng sendiri sebelum kembali ke tempat Fio dan Roby. Perjalanan mereka pun berlanjut setelah sungai yang deras itu dilalui.


Mereka kembali memasuki hutan. Jika yang sebelumnya mereka berlari-lari hingga terbentur ranting-ranting, kali ini mereka berenam berjalan dengan santai sekaligus bisa menikmati alam di sekitarnya.


Jein memimpin di depan, dengan busurnya yang siap kapanpun digunakan jika ada ancaman. Sejauh ini tidak ada, hanya ada beberapa kawanaan rusa, rubah dan dua ekor serigala.


Roby yang berada paling belakang harus terkenal sial, kaki kanannya secara tidak sengaja masuk ke dalam lumpur yang cukup dalam.


Ia menggerutu. Berusaha ia tarik kembali keluar kakinya, namun tidak bisa.


Anna menertawakannya. "Makanya kalau jalan lihat-lihat"


"Jangan menceramahiku. Ayo, tolongin" kata Roby, kesal.

__ADS_1


Jein dan Fio datang membantu. Ketiganya menarik kaki Roby dari jebakan lumpur itu. Perlahan kakinya mulai terangkat dan bisa dibebaskan.


"Celana dan sepatuku kotornya jadinya" Roby mendengus kesal.


"Di situasi sekarang kau malah mengkhawatirkan celanamu" sahut Alvin di depan sana.


"Diamlah. Aku selalu memperhatikan penampilanku" Roby membalas.


Jein tertawa renyah melihat mereka dan kembali memimpin depan. Ia memperhatikan Lisa yang daritadi sangat kalem untuk sejenak. Gadis itu tampak tenang dari yang lain—kecuali Alvin yang tampak tidak peduli dengan sekitarnya.


Ketenangan yang ada pada dirinya memunculkan suatu aura kewibawaan, layaknya seperti tuan putri. Ia ingat ketika menggendong Lisa saat menyebrangi sungai. Saat itu Lisa tidak berteriak, ia hanya memejamkan matanya, ada sedikit ketakutan pada dirinya waktu itu. Lengannya yang melingkar di leher Jein menegang waktu itu, tapi ia berusaha untuk tidak terlihat panik.


Yah, Lisa berhasil membuatnya terpukau daripada yang lain.


Jein kembali berjalan, Fio ikut melangkah di sampingnya.


"Jadi, kau hebat dalam memanah?" Fio membuka suaranya.


"Lumayan, aku sering berlatih" jawab Jein. "Busur ini merupakan alat serang jarak jauh, aku suka berada lebih jauh dari musuhku daripada menghadapinya langsung"


Fio mengangguk mengerti. "Lalu, bagaimana hewan besar tadi langsung jatuh? Padahal hanya satu anak panah yang tertancap di kepalanya"


"Ah, itu aku memakai panah spesial" Jein mengeluarkan satu anak panah dari kantung pahanya. "Lihat, di ujung anak panah ini dicairi racun yang mematikan"


"Begitu" Fio terpukau. "Cerdik juga"


Jein tertawa dan kembali memasukkan anak panah tersebut. "Jadi, kenapa kalian bisa tersesat?"


"Hm, entahlah. Awalnya kami terdampar di pantai, hanya kami berlima"


"Kalian tidak punya tempat tinggal?"


"Untuk sekarang tidak"


"Begitu, ya. Kalian bisa mengikutiku sampai perkampungan. Di sana mungkin masih tersisa banyak tempat untuk kalian"


"Terima kasih karena sudah menerima kami"


"Ah, tidak apa-apa" Jein tertawa malu. "Aku suka menolong orang yang tersesat"


Setelah beberapa jam ditempuh, mereka berhenti sejenak di kaki gunung. Roby mengeluh karena haus dan Anna juga merasa kakinya sakit. Kedua orang itu saling menyandarkan punggung, duduk di bawahnya pohon yang rindang.


"Kita istirahat sejenak di sini" kata Fio. "Aku dengar ada air mengalir di sekitar sini. Aku akan kesana untuk mengambil beberapa botol air minum. Ada yang ingin ikut?"


"Aku ikut" Lisa mengajukan diri.


"Baiklah, mari" Jein berbalik dan pergi terlebih dahulu.


"Hey" tiba-tiba, Fio memanggil. "Hati-hati"


Lisa tersenyum lembut sambil mengangguk. Ia berlari kecil mengikuti langkah Jein. Mereka menghilang saat memasuki hutan.


Fio menghela napas, cemas akan terjadi sesuatu yang buruk pada Lisa.


"Tenang saja" ucap Roby. "Dia bersama Jein, jangan khawatir"


Roby seolah membaca isi pikirannya.


Tidak lama kemudian terdengar helaan napas Anna. "Jika kakiku ini tidak sakit, aku bisa menemani Jein" keluhnya.


"Kau ini..." Roby menggeleng pelan.


Berpindah ke tempat Jein dan Lisa. Mereka sama-sama berjalan mengikuti sumber bunyi air yang semakin mendekat. Jein ingin membuka obrolan bersama gadis itu, tapi ia begitu gugup.


"Jein" panggil Lisa, tiba-tiba. "Menurutmu, hewan besar tadi, itu makhluk apa?"


"O-oh.. itu adalah reptil raksasa. Hewan itu biasanya hidup di perairan, seperti rawa-rawa, sungai ataupun danau. Kami biasa memanggil hewan itu dengan sebutan Monster rawa-rawa"


"Begitu, ya. Mirip seperti dinosaurus"


"Apa itu dinousurus?"


Lisa terkekeh. "Dinosaurus. Itu hewan purba yang ada pada zaman dahulu. Mereka berupa reptil yang kau jelaskan tadi"

__ADS_1


"Seperti itu, ya"


"Kebanyakan dari mereka berbahaya, kan?"


"Benar, benar. Tapi kita juga harus lebih berbahaya dari pada mereka"


"Dengan begitu kitalah yang akan ditakuti, bukan?" Lisa tertawa pelan. Dari sana, Jein malah melamuni senyum gadis itu sampai-sampai ia terbentur dengan batang pohon yang ada di depannya.


"Eh, Jein, kau tidak apa-apa?"


"I-iya.."


Sambil menahan sakit dan juga malu, Jein kembali berjalan. Tidak butuh waktu lama untuk mereka menemukan sungai. Air di sini ternyata jernih dan segar.


"Kita sampai juga akhirnya" kata Jein.


Lisa duduk di tepian sungai. Ia menampung air sungai tersebut di kedua telapak tangannya.


"Di sini jernih" ucap Lisa. Ia pun membasuh wajahnya dengan air itu. "Segar.."


Jein diam-diam melirik kearah Lisa. Gadis itu begitu menikmati air sungai ini.  Dari samping saja, ia sudah terlihat cantik, ditambah kedua matanya yang terpejam karena menikmati sentuhan air yang segar ini.


"Jein, mana botolnya?"


Mendadak saja Lisa memanggilnya. Segera Jein mengeluarkan beberapa botol bambu di tas belakangnya.


Kembali ke tempat Fio dan yang lainnya. Mereka berempat begitu kelelahan. Selain panasnya terik matahari, kerongkongan mereka juga terasa sangat kering.


Alvin tergeletak tidak berdaya di tanah. Anna bersandar pada dada Roby yang menjadi bantalan kepalanya. Roby dari tadi mengipasi dirinya dan Anna yang berada di dalam rangkulannya dengan sebuah daun besar. Sedangkan Fio duduk bersandar pada batang pohon.


"Kapan terakhir kali kita seperti ini?" tanya Fio.


"Entah, liburan akhir musim panas tahun lalu?" Anna balik bertanya.


"Kurasa memang liburan akhir musim panas tahun lalu" Roby mengangguk membenarkan.


"Saat-saat yang paling buruk" ucap Alvin yang dibalas tatapan heran dari ketiga temannya.


"Kami kembali!"


Suara Lisa muncul. Semuanya—kecuali Alvin— menoleh kearah sumber suara. Jein dan Lisa kembali dengan membawa beberapa botol bambu yang penuh air mineral, selain itu, Lisa juga membawakan buah-buahan yang ia tampung di atas daun pisang.


Jein memberikan botol-botol itu kepada mereka berempat.


"Apa ini tidak berbahaya?" tanya Anna, curiga dengan buah-buahan yang warnanya tampak mencolok itu.


"Coba saja" Jein melempar salah satu buah seperti berry ke dalam mulutnya.


Dengan ragu, Anna mengambil satu. Ia memasukkan buah tersebut ke dalam mulutnya dan mulai mengunyahnya perlahan.


"Manis!" jerit Anna. Ia pun dengan lahap memakan buah-buahan yang lain.


"Dari mana kalian mendapatkan buah-buahan ini?" tanya Fio.


"Kebetulan di dekat sungai ada tumbuhan yang penuh dengan buah" jawab Jein.


"Hey, apa perkemahanmu masih jauh?" tanya Roby.


"Seharusnya tidak. Jika perjalanan kita lancar, nanti sore kita mungkin akan sampai"


"Kenapa kau berpergian jauh dari perkemahanmu?" tanya Alvin yang duduk terpisah dari mereka.


"Aku diberi tugas mengawasi pergerakkan para kanibal. Akhir-akhir ini mereka mulai berani bergerak di luar wilayah mereka"


"Hm.." Alvin merespon setelah mendapat jawaban.


Jein bangkit dari duduknya. "Ayo, kita harus berangkat. Perjalanan kita sudah hampir berakhir"


Semuanya pun kembali melanjutkan petualangan menuju perkemahan Jein.


———


Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.

__ADS_1


Makasih <3


Next : Ch.3 - Menjelajahi Goa


__ADS_2