
Akhirnya perjalanan yang panjang ini akan berakhir juga. Beberapa saat lagi, mereka akan sampai di Perkampungan Stofein.
Fio dan teman-temannya merasa lebih lega dan tenang. Setelah perjalanan yang panjang serta berbagai bahaya dan ancaman yang meneror mereka sejak masuk ke dalam dunia ini akan berakhir sejenak setelah sampai di perkampungan.
"Lembah Stofein sudah terlihat di depan sana, Paman" lapor Noya dari atas atap kereta.
"Bersiap, setelah sampai di lembah, kita akan berjalan kaki" ucap Kanoe pada semuanya.
Mereka pun sampai di lembah itu. Baru saja Fio dan teman-temannya keluar dari kereta, mereka disambut hembusan udara segar. Lembah ini indah, sepanjang mata memandang warna hijau tumbuhan mendominasi. Terdapat berbagai tumbuhan ratusan tahun yang ukurannya besar-besar.
"Kau bisa, Teman Kecil?"
Roby membantu Alvin turun dari kereta. Saat ini Alvin masih belum berjalan seperti biasa, punggungnya masih terasa sakit. Roby membopong bocah 17 tahun itu untuk membantunya berjalan.
Dari sini mereka memakai kaki-kaki mereka untuk berjalan sampai perkampungan. Kanoe bilang kendaraan besar seperti tadi tidak bisa memasuki lembah ini, mereka pun harus mau tidak mau jalan kaki sampai tujuan.
"Di sini menyegarkan" Lisa menghirup udara segar lembah.
"Ya, aku bersedia berjalan kaki kalau suasananya segar seperti ini" Anna mengangguk setuju.
"Aku tidak" sahut Alvin dari belakang. Mungkin hanya dia satu-satunya yang tidak menikmati alam di sini.
Kanoe dan Jein memimpin di depan, sedangkan Noya dan Sova berjalan di belakang. Mereka terus mengikuti jalan setapak ini, di atas mereka ada pepohonan raksasa yang rimbun, menjadikan atap untuk mereka. Di samping jalan terdapat semak-semak dan bunga-bunga yang tumbuh secara acak.
Di sini tambah sejuk, terlebih lagi di kawasan ini baru saja reda dari hujan. Naru dengan isengnya menjelaskan daerah ini sebagai kawasan basah, dengan kata lain sering kehujanan, namun setelah keluar dari hutan kecil ini, mereka tidak akan terlalu sering kehujanan, kecuali saat musim hujan datang.
Begitu keluar dari hutan ini, mereka menemukan sungai dengan jembatan besar sebagai penghubung di atasnya. Sungai ini memiliki aliran air yang cukup tenang, terdapat berbagai hewan di sana berkumpul untuk minum. Selain itu, di setiap sisi sungai ini juga terdapat pohon-pohon yang akarnya menggantung ke bawah.
Begitu mereka menapakkan kaki di jembatan, suara dengung muncul tiba-tiba di sekitar mereka. Saat itu juga, dari atas pohon-pohon turun beberapa Elf bertudung hijau dengan senjata di tangan mereka.
Pasukan Elf itu segera mengepung mereka. Selain dari pohon, ada juga yang keluar dari sungai, membidik mereka dengan panah yang siap menancap kapan saja.
"Hey, hey, tunggu, tunggu!"
"Apa yang kalian lakukan!"
Rombongan Jein langsung panik dan ribut. Kanoe mengangkat kedua tangannya keatas sembari menjelaskan siapa mereka pada prajurit-prajurit itu.
"Jaga senjatamu, Prajurit" Asvia menghempaskan senjata salah satu Elf yang berusaha memojokkannya. "Kau tidak tahu siapa aku, huh?"
Keributan itu tidak akan berhenti jika seseorang dari balik hutan muncul segera dengan tudung hijau dan busurnya, sama seperti prajurit lain.
"Berhenti!" seru pria itu dengan suara baritonnya yang menggelegar. "Turunkan senjata kalian! Mereka adalah rekan!"
Mendapat instruksi dari pemimpin mereka, prajurit-prajurit itu akhirnya menurunkan senjata mereka.
"Baru kalian turunkan sekarang?" Noya mengangkat dagunya sambil menatap para prajurit itu.
"Kalian akan kami beri pelajaran nanti di markas" Sova menatap tajam mereka, penuh dengan ancaman.
Pria yang memberi perintah tadi membuka tudungnya. Nampaklah wajahnya yang berseri, dengan rambut pirang yang diikat, mata setajam elang, namun memiliki tatapan yang ramah.
"Apa mereka skuadmu, Taysen?" Kanoe menghampirinya, diikuti oleh yang lainnya.
__ADS_1
"Ya, mereka prajurit baru" Taysen mengangguk. "Maafkan aku, mereka hanya menjalani tugas"
"Tidak, aku memahaminya" jawab Kanoe.
"Baguslah" Taysen tersenyum, lalu memeluk pria berkumis ini. "Syukurlah kau selamat, Kanoe"
Kanoe terkekeh dan membalas pelukan Taysen. Pria ini mengintip ke belakang Kanoe, di sana ada tim Kanoe dan juga ada Asvia dan dua bersaudara itu beserta lima orang asing. Perhatian Taysen lebih tertarik kepada pria kekar yang tubuhnya dibungkusi kain dan diikat dengan tali, ia diseret oleh Zenzen dan Gilvai.
"Sepertinya ada berita yang harus kau sampaikan pada Tetua"
"Ya, ada banyak"
Taysen menyuruh skuadnya kembali ke posisi masing-masing. Ia akan menemani Kanoe dan rombongannya ke perkampungan.
***
Perkampungan Stofein. Awalnya Roby mengira perkampungan ini seperti perkampungan-perkampungan biasa pada umumnya.
Dengan rumah sederhana yang dikelilingi sawah, perkebunan, dan lumbung padi serta lapangan yang dipenuhi hewan ternak. Namun, perkampungan ini berbeda dari perkiraan Roby.
Mereka melewati gerbang masuk yang berupa dua pohon yang membungkuk antara satu sama lain hingga tidak sengaja membentuk seperti gerbang masuk.
Begitu melewati gerbang itu, pemandangan pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi atas langsung memanjakan mata mereka. Bagaikan atap untuk permukaan, pepohonan di sini membuat seluruh kawasan ini teduh dari sengatan matahari dan dinginnya hujan.
Anna memperhatikan perumahan di perkampungan ini. Rumah-rumah di sini tidak jauh dari pepohonan. Mereka menyatu, bergantung, bersembunyi dan mengitari pepohonan. Di atas mereka, rumah-rumah ini saling terhubung dengan jembatan gantung yang menyatukan antara satu pohon dengan pohon lainnya. Ya, setiap pepohonan di sini pasti dihubungkan oleh jembatan.
Ada juga beberapa menara yang unsurnya tidak jauh dari pohon. Ada yang berdiri di tanah, ada pula yang di atas pohon.
Alvin melirik ke sampingnya, di mana banyak anak-anak bermain dengan busurnya mereka di sebuah area mini untuk para Elf cilik itu latihan.
Lisa dikejutkan oleh dua peri kecil yang bercahaya. Mereka adalah Elf juga, hanya berukuran mini dan dapat terbang. Keduanya mengitari Lisa kepala Lisa dan melambai pada gadis itu. Kedua peri itu terbang ke atas, membuat Lisa semakin kagum dengan tempat ini.
"Sepertinya mereka menyukaimu" sahut Jein dari sampingnya.
"Kenapa?" Lisa bertanya dengan wajah polosnya.
"Mereka mengira melihat seorang Elf yang sangat cantik..." ucap Jein, tentunya ia tidak sadar dengan ucapannya itu.
"M-maksudku... anu.. peri.. biasanya menyukai kecantikan.. mereka.. ermm.. akan menghampiri orang yang cantik... eh tidak.. maksudku..." Jein malah gugup dan salah tingkah. Wajahnya memerah tidak karuan.
Lisa tertawa ringan melihat tingkah Jein. "Kau lucu, Jein"
Seketika Jein termenung sejenak, menatap Lisa. Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah pohon, di sampingnya ada jenjang yang melingkari pohon. Mereka pun menaikinya dan sampai di atas.
"Kalau kalian ingin membasuh diri, kalian bisa ke sana" Kanoe menunjuk pohon di seberang sana yang terhubung oleh jembatan.
"Aku ingin mandi!" Roby melesat ke sana. Ia melepaskan Alvin begitu saja, untung Fio menangkap Alvin dengan cepat.
"Roby, aku juga ikut!" Anna ikut lari ke sana.
"Oi, Roby!" Fio mendecak kesal pada temannya itu.
"Akan kuhajar dia setelah aku sembuh" Alvin mengeluarkan wajah dinginnya.
__ADS_1
"Kalau sudah selesai, kalian bisa ke sini lagi. Ada beberapa hal yang akan kami tanyakan" ucap Kanoe.
Alvin melirik pada Asvia. Gadis petarung itu membalas tatapan datarnya. Alvin menatapnya, seperti mengisyaratkan sesuatu. Asvia paham itu, Alvin hanya mengingatkan syarat yang ia ajukan pada malam itu.
"Terima kasih atas segalanya, Paman" Lisa membungkuk hormat.
"Tidak apa-apa, ini juga tanda terima kasihku kepada kalian karena mau menemani Jein hingga sampai bertemu dengan kami. Kalau tidak ada kalian, mungkin dia akan tersesat di jalan" Kanoe merangkul Jein.
Lisa tersenyum lembut pada mereka.
"Kalau begitu, kami akan membersihkan diri dulu" kata Fio sambil berbalik dan membopong Alvin.
"Untukmu Alvin" panggil Asvia. Dengan terpaksa, Alvin menoleh ke belakang. "Kalau ingin sembuh, urus lukamu terlebih dahulu"
"Ck, iya" Alvin memutar kedua bola matanya. "Kau cerewet sekali"
"Cih, untung aku nasehati dan jangan panggil aku cerewet lagi" protes Asvia.
"Iya, dasar tukang protes"
"Aku tidak akan protes kalau kau tidak mengejekku"
"Sudah, sudah" Jein menengahi mereka. "Bukannya kau ada laporan yang harus diberikan?" Jein bertanya pada Asvia.
"Ck, baiklah" Asvia mendengus kesal. "Lisa, aku serahkan dia padamu"
"Memangnya kau Ibuku?" Alvin masih saja melontarkan ejekan.
"Tenang saja, Alvin adalah tipe anak patuh jika aku yang menyuruhnya" Lisa terkekeh.
Fio hanya tersenyum geli melihat perdebatan remeh mereka tadi. Mereka bertiga pun pergi menyusul Roby dan Anna yang sudah melesat terlebih dahulu.
Jein, Asvia dan Kanoe juga harus pergi, masuk ke dalam rumah pohon yang megah ini. Rumah ini bukanlah rumah biasa, di sini tempat pemimpin Perkampungan Stofein berada.
"Sepertinya kalian cocok" kata Jein, menggoda Asvia.
"Apa? Dengan bocah itu? Kau pasti bercanda" Asvia menggeleng pelan.
"Kau saja yang belum menyadarinya" Jein tersenyum miring.
"Cih, kalau kau? Aku melihatmu tertarik pada Lisa" Asvia langsung menanyakan pertanyaan yang membuat Jein mati langkah. "Aku sudah menduganya" Asvia tersenyum penuh dengan kemenangan.
_____
Jika kalian puas, kalian boleh menekan tombol like pada novel ini. Satu like dari kalian, maka akan menambah kesan dari kisah ini.
Oh, jika kalian ingin mendapat info lebih dari 'Dataran Lafier' atau novel lainnya, kalian bisa follow instagram saya.
@haritsataqii
Oke, stay tune!
Makasih <3
__ADS_1
Next : Ch.16 - Professor Caligria