Days After You

Days After You
Bab 11 - Malu?


__ADS_3

Akhir-akhir ini entah mengapa rasanya aku jadi lebih banyak bicara dengan orang-orang di sekitarku. Mau itu Stella, Rio si sekretaris merangkup asisten pribadiku di kantor, kakek-nenek tetangga sesama penghuni lantai lima belas, Kevin-Naomi yang tinggal dua lantai di bawah, hingga petugas kebersihan apartemen yang biasa datang mengambil sampah.


Setiap pagi mulai dari sarapan di rumah, menggunakan lift, berjalan di tempat parkir, hingga sampai di kantor, selalu saja akan ada salah satu dari orang-orang tadi yang menyapa dan memulai obrolan singkat denganku. Berbeda dengan beberapa bulan lalu, ketika mereka semua masih begitu segan dan cenderung menjauh dariku.


Aku tidak bilang benci dengan perubahan ini, hanya saja aku masih belum terbiasa dengan keramahan dari orang-orang di sekitarku sekarang.


"Sore, pak," sapa salah satu petugas kebersihan yang kebetulan lewat saat aku baru keluar dari mobil. Dia tengah mendorong gerobak berisi alat-alat kebersihan menuju gudang penyimpanan di ujung basemant.


Aku mengangguk, "Sore."


"Macet ya pak dijalan?"


"Lumayan pak."


"Lumayan ya? Baguslah kalau tidak terlalu ramai. Hari lain jam segini biasanya suka macet. Kan capek ya kalau lama-lama di jalan, gerah terus suka haus."


"Iya pak."


Aku tidak pandai basa-basi jadi aku hanya bisa memberikan jawabam langsung dan singkat. Pak petugas kelihatan tidak keberatan dan lanjut menyungginkan senyum.


"Salam ya pak sama Bu Stella. Saya sama teman-teman paling senang ke rumah bapak, soalnya sering dikasih makanan. Saya lanjut ke gudang dulu ya pak."


Tidak salah lagi, Stella memang punya andil dalam perubahan sikap orang-orang ini padaku. Sudah kuduga, dia memang terlalu baik untuk semua orang yang baru ia temui.


"Aku pulang," salamku dari pintu masuk sambil melonggarkan dasi dari kerah.


Sesaat sesudah menutup pintu, aku mendengar suara tawa dari ruang nonton. Di sana Stella, Naomi dan Kevin sedang duduk dan bercerita akan sesuatu. Stella berdiri duluan begitu menyadari aku sudah pulang.


"Oh, Luiz. Kau sudah pulang," Stella tersenyum lalu melirik ke Naomi dan Kevin, "Kuharap kau tidak masalah kalau kita makan bersama Naomi dan Kevin malam ini."


Pandanganku langsung terarah pada dua orang yang dimaksud. Mereka memandangku dengan tatapan menanti dan penuh harap.


"Halo, paman!" Seru Kevin melambaikan tangan kencang seolah aku tidak bisa melihatnya dari jarak empat kaki. Dia terlihat jauh lebih semangat ketimbang dulu saat dia pertama datang ke sini.

__ADS_1


"Malam, pak. Kuharap kami tidak menganggu waktu kalian," Naomi membungkuk dan tersenyum sopan. Berbeda dengan Kevin, dia masih wanita yang kalem walau kini sudah terlihat jauh lebih ceria dan berisi.


Kalau mau bicara jujur, aku lebih memilih jika waktu makan malam tidak ditambah siapa-siapa lagi. Aku sudah cukup lelah bersosialisasi dengan orang lain saat di luar, saat dirumah aku cenderung ingin sendiri atau berdua jika memang harus meladeni Stella dengan segala antiknya. Tapi mengingat pasangan anak dan ibu ini juga baru pertama mampir ke rumah kami—sesuatu yang mengejutkan jika memikirkan betapa sukanya Stella pada mereka—kurasa malam ini tidak apa.


Aku mengangguk dan tersenyum tipis, "Halo, tentu saja kalian boleh makan bersama kami."


Stella begitu gembira dan antusias sepanjang makan malam. Jika biasanya dialah yang selalu pergi ke rumah Kevin dan Naomi, kali ini dia yang mengundang mereka kemari. Aku tidak tahu mengapa dia tidak mengundang mereka kemari daridulu semenjak mengenal mereka dua bulan lalu, tapi begitulah yang terjadi. Dia secara semangat menaruh lauk ke piring Kevin dan Naomi yang bahkan masih penuh sambil menjelaskan masakannya. Sesekali dia juga menanyakan pendapatku, namun kurasa itu hanya usahanya untuk melibatkanku dalam obrolan mereka.


Selesai makan, Kevin dan Naomi tidak langsung pulang. Naomi membantu Stella untuk mencuci piring dan merapikan alat masak sedangkan Kevin dititipkan padaku untuk sementara. Kevin melompat di sofa dengan girang.


"Lebih asyik di sini daripada di rumah! Rumah paman bibi jauuuuh lebih luas dan punya tembok kaca!"


"Kevin, jangan lompat-lompat sembarangan, sofa itu bukan untuk dilompati," tegur Naomi. Kevin masih tertawa tapi ia juga segera duduk manis setelahnya.


"Paman dan bibi sangat beruntung diberi rumah yang ini. Kalau aku yang mencabut nomornya, aku juga pasti dapat rumah yang paling atas."


"Menurutmu begitu?" Aku tersenyum kecil. Aku hampir lupa kalau unit di bawah lantai kami punya luas dan interior yang berbeda dari yang ada disini. Itu karena dari lantai dua sampai lantai empat belas per lantainya  diisi oleh empat unit sedangkan lantai teratas atau lima belas yang kutempati ini khusus hanya diisi oleh dua unit.


Saat memilih unit ini dulu, ada dua hal yang terlintas di benakku. Pertama, aku tidak perlu khawatir harus banyak bersosialiasi dengan tetangga karena hanya ada satu unit lain di lantai yang sama denganku. Dan dua, pemandangan dari dinding jendela kaca yang mengelilingi seluruh bagian unit ini juga sangat bagus di sore menjelang malam hari. Aku tidak terlalu mementingkan soal luas, sebab waktu itu aku berpikir hanya akan tinggal sendiri.


"Kalau kau belajar dengan baik, tidak malas-malasan dan rajin membantu ibumu, kau pasti juga bisa jadi orang beruntung seperti paman."


"Sungguh?"


"Hm. Makanya kau jangan membuang-buang waktu dan jadilah anak rajin yang juga dengar-dengaran pada ibumu."


Nasihat itu tidak lain kudapatkan dari ayahku sendiri. Walau menurutku pribadi ayah bukanlah tipe orang tua yang layak dijadikan teladan sepenuhnya, beberapa nasihat yang dia lontarkan kadang memegang nilai kebenaran yang masih kuingat hingga kini.


"Oke!"


Kevin mengacungkan jempol dan berlari menuju ke jendela kaca. Ia menempelkan wajahnya ke sana dan berdiam diri di posisi itu untuk waktu yang lama. Entah apa yang dia lakukan, aku juga tak begitu paham. Namun aku merasakan tepukan pelan pada pundakku tak lama kemudian, Stella menyodorkan sepiring apel yang baru dipotong sebelum duduk di sebelahku.


"Luiz, kata-katamu tadi sungguh bagus untuk memotivasi Kevin. Lihat, dia sedang menyimpan memori pemandangan yang dia lihat untuk bisa menyemangati dirinya sendiri nanti."

__ADS_1


"Itukah yang dia lakukan?" Sesuatu yang aneh tapi aku bisa membayangkan Stella juga melakukan hal yang sama saat masih kecil.


Ah. Ini pasti hal yang membuatku sedikit merasa familiar pada Kevin. Dia sedikit mengingatkanku pada energi dab keceriaan Stella.


"Iya, aku yakin itu yang sedang dia pikirkan sekarang," angguk Stella, lalu menoleh ulang padaku, "Kau pasti sangat paham dalam masalah mengurus dan mengajar anak-anak kan, Luiz? Aku yakin kau akan jadi ayah yang baik kelak."


Aku hampir tersedak oleh apel yang ada di mulutku habis mendengar ucapan Stella. Aku berdeham pelan, berharap wajahku tidak terlihat aneh atau merah sama sekali.


"Luiz, kau baik-baik saja?" Stella terkesiap, suaranya setengah berbisik, "Astaga, aku tidak bermaksud menakutimu. Aku tidak bermaksud kalau aku ingin anak atau apa..."


"A-aku juga tidak berpikir tentang itu sama sekali."


"Oh syukurlah. Kupikir aku hampir saja membuatmu sesak dengan ucapan tadi, maaf ya," Stella tertawa kecil. Ia lalu mengusap punggungku sejenak sebelum beranjak menghampiri Kevin yang kini sudah ditemani ibunya di depan jendela. Tiga orang itu mengobrol asyik sementara aku menyendiri bersama sepiring apelku.


Naomi dan Kevin pamit tidak lama setelah itu. Namun sebelum pergi, Naomi berbisik pelan padaku.


"Terima kasih lagi sudah mengizinkan kami makan bersama kalian, pak. Aku selalu berpikir kau orang yang dingin dan kaku, tapi ternyata kau begitu pemalu saat bersama istrimu. Kalian sangat cocok bersama."


Tubuhku terasa membatu seketika. Darimana? Dari sisi mana dia melihat aku bertingkah malu di depan Stella? Atau begitukah aku di mata orang lain yang melihat kami? Apapun itu, aku hanya tahu punggungku masih terasa menggelitik akan sesuatu dan tidak bisa fokus akan hal lain dengan baik.


"Luiz?" Stella menepuk punggungku dan aku spontan terlonjak, "Ada sakit? Wajahmu merah dan kau kelihatan tidak fokus."


Aku mundur dan berdeham, "Aku tidak kenapa-napa Stella. Aku...aku cuma harus segera ke kamar buat melanjutkan kerjaku."


"Oh, benar. Kau pasti jadi banyak pekerjaan yang tertunda karena menemani kami. Kau yakin tidak ingin kubuatkan teh hijau kalau-kalau kau begadang?"


"Tidak perlu. Sungguh. Jangan repot-repot."


"Oh oke," Stella mengerjap sebelum tersenyum lembut, "Tapi kalau kau berubah pikiran, jangan sungkan untuk bangunkan aku di kamar ya."


"Hm."


Kakiku lalu bergegas dari sana menuju ruang kerjaku secepat yang aku bisa. Aneh. Aneh sekali. Aku tidak seharusnya merasa gugup atau sejenisnya di depan Stella. Aku jelas bukan tipe yang mudah terasa tersudut atau terintimidasi akan sesuatu.

__ADS_1


Malu? Apalagi itu. Aku tidak malu, aku hanya sedang berada di luar elemenku saja hari ini. Yang perlu kulakukan adalah bekerja keras malam ini dan menemukan jati diriku kembali agar bisa bertingkah normal lagi besok.


__ADS_2