
Malam kedua, aku harus kembali tidur di ranjang yang sama dengan Stella. Kali ini dia tidak bermimpi buruk jadi aku dapat tidur dengan nyenyak walau sempat susah tidur selama dua jam akibat terus terngiang wajah Stella dalam pemandangan sunset ketika di acara pernikahan tadi.
Aku terbangun dengan memeluk bantal guling yang kuletakkan di tengah kasur seperti malam sebelumnya dan mendapati Stella juga melakukan hal yang sama, tangan kami hampir bersentuhan dan wajahku langsung berhadap-hadapan dengan miliknya yang masih terlelap. Aku bisa lihat lentikan bulu matanya dari jarak ini.
"Um..." Stella mengernyit sebelum perlahan membuka mata. Aku harusnya segera bangkit pada momen pertama kelopak matanya mulai terbuka tapi alih-alih aku malah mematung di posisiku. Stella menatapku balik, "Luiz sudah bangun?"
Seluruh sistem sarafku baru bereaksi beberapa detik kemudian. Aku spontan bangkit duduk dan mengangguk pelan.
"Hm, baru saja," ucapku, "Kita harus segera bersiap-siap karena mau mengantar orang tuamu ke bandara."
"Oh iya..."
Aku dan Stella tidak membutuhkan waktu lama buat bersiap-siap karena semua barang bawaan sudah kami kemas semalam sebelum tidur. Kami lalu menunggu orang tua Stella di lobby sebelum berangkat menuju bandara.
"Oh kalian sudah di sini," ayah Stella datang dengan menarik sekoper besar diikuti istrinya.
"Pagi papa, pagi mama," salam Stella diikuti olehku. Selepas saling menyapa dan memastikan tidak ada yang ketinggalan, kami pergi check-out dan keluar hotel.
Tidak terlalu banyak obrolan selama perjalanan selain dari sekadar basa-basi tentang cuaca dan suasana jalan dari Stella dan kedua orang tuanya. Aku pun hanya menimbrung sesekali saja jika mereka menanyakan pendapatku akan sesuatu.
"Ah sampai juga. Terima kasih ya Luiz dan kalian hati-hatilah dalam perjalanan pulang. Jangan berkendara terlalu laju walau di jalan poros yang sepi," ucap ayah Stella ketika akan berpamitan. Ibu Stella tersenyum dan memaluk kami satu-persatu, "Sampai jumpa nanti ya kalian. Dengarkan nasihat ayah."
Orang tua Stella kemudian masuk ke dalam ruang tunggu bandara sementara aku dan Stella pergi kembali ke mobil. Walau Stella ingin menunggu sampai saat pesawat yang ditumpangi kedua orang tuanya lepas landas, kami sendiri harus segera berangkat sebab kami berencana untuk singgah membeli oleh-oleh untuk keluargaku terlebih dahulu sebelum lanjut pulang. Aku tidak mau sampai terlalu malam di Kota A jadi lebih baik untuk tidak menunda waktu.
Toko cenderamata yang kami singgahi merupakan salah satu yang terletak pada jalur jalan menuju gerbang keluar kota, jadi ada cukup banyak orang yang juga berhenti di sana untuk mencari oleh-oleh selain kami.
"Luiz, menurutmu kakek akan suka ini?" Stella mengangkat sebuah mangkuk ukir kayu di rak. Dia ingat kalau kakek suka mengoleksi barang-barang ukiran yang bernuansa antik seperti itu.
"Kurasa kakek akan suka."
"Kalau begitu ambil yang ini. Untuk ayah dan ibumu...bagusnya apa?"
Ayah tidak pernah menunjukkan ketertarikan khusus pada sesuatu, tapi kurasa ibu akan suka jika kami mebawakan dia sebuah tas atau perhiasan khas daerah sini. Meski aku yakin dia sudah punya beberapa dari kunjungan terdahulunya ke kota ini.
__ADS_1
"Ambil apa saja untuk ayah, kalau ibu mungkin kalung atau gelang."
"Oh oke. Aku coba lihat di bagian aksesoris kalau begitu. Sepertinya banyak yang cantik di sana untuk ibumu."
Agak aneh menyaksikan Stella begitu antusias memilihkan hadiah untuk ibu yang lebih sering memperlakukan dia dengan cukup dingin, tapi lagi mungkin itu cuma dianya saja yang memang suka memilih hadiah untuk seseorang. Dia memilih tas, kalung dan gelang untuk ibu sementara aku memilih beberapa miniatur mini kayu, sarung, dan beberapa ukiran lain untuk ayah dan juga kakek.
"Luiz kah?"
Suara pria yang tak kukenal tiba-tiba terdengar dari belakangku, saat itu Stella sedang berada di sisi toko yang lain dan tidak bisa mendengar apapun. Aku berpaling mendapati seorang pria yang sedikit lebih tinggi dariku, berbadan kurus dan memakai kemeja beserta celana kain yang sedikit kebesaran sedang tersenyum lebar ke arahku.
"Iya...?" Jawabku sedikit ragu karena sama sekali tidak mengenali orang di hadapanku ini, "Maaf, aku tidak ingat aku pernah bertemu denganmu sebelumnya."
"Oh memang sudah lama, wajar kau tidak mengingatku. Aku Carlos. Carlos Benjamin, si pembuat onar dari kelas dua belas ingat?"
Aku berpikir sejenak seraya menilik penampilan pria itu sebelum sebuah bohlam seakan menyala dalam otakku. Oh. Aku ingat. Dia adalah senior yang berada satu tingkat di atasku dulu semasa masih SMA. Dia sangat nakal dan terkenal sebagai pemberontak kelas. Karena aku pernah menjadi ketua OSIS, aku secara otomatis sering berurusan dengan dia selama periode itu juga. Wajar jika aku sulit mengenali dia. Pria ini...jauh berbeda dengan kating yang dulu kukenal itu.
"Oh...aku ingat. Halo."
Carlos tertawa, "Terkejut melihat perubahanku? Yah katakanlah ini dan itu terjadi selama beberapa tahun semenjak sekolah dan di sinilah aku bersama toko ini."
Bukan bermaksud tidak sopan atau apa, tapi aku betul-betul tidak menyangka akan bertemu dia lagi dengan penampilan baru ini. Dulu dia selalu melanggar peraturan berpakaian di sekolah, bolos, sering berkelahi dengan anak-anak kelas lain maupun sekolah lain. Mungkin segala hal buruk yang terlintas di benakmu tentang kenakalan remaja sudah dilakukan oleh orang ini dulu. Seburuk itu hingga jika aku datang ke reuni sekolah dan teringat akan dia tanpa tahu seluruh perubahan ini, aku mungkin akan berpikir dia sudah jadi mafia atau preman saat ini.
Senyumnya tidak pudar kala menjawab pertanyaanku tapi dia tampak sedikit malu, "Iya, aku asli sini. Toko ini milik ayahku sebenarnya dan aku meneruskannya. Bukan apa-apa jika dibandingkan dengan perusahaan keluargamu tapi lebih dari cukup untukku dan keluarga kecilku."
"Tidak perlu membandingkan. Toko ini bagus dan pasti punya nilai tersendiri bagimu dan keluarga."
Carlos mengangguk, "Kulihat kau tidak berubah sama sekali. Masih laki-laki baik-baik yang dulu selalu dibanggakan guru dan seluruh sekolah. Aku dengar kau sudah menikah? Grup alumni sempat heboh."
Ah. Soal itu. Aku tidak masuk grup yang sama dengan Carlos karena angkatan kami berbeda, tapi sesuatu yang sama terjadi di grup angkatanku. Aku masuk ke sana karena seseorang mengundangku, tapi tidak pernah muncul atau bersuara sama sekali, jadi aku tidak pernah memberitahu apapun ke grup soal pernikahanku. Kurasa salah satu temanku yang tahu menulis di grup soal itu? Entahlah, apapun itu, aku tidak akan pernah mengerti mengapa berita pernikahanku meledak di grup itu, apa aku ini pria yang begitu buruk hingga fakta seorang wanita bersedia untuk menikah bersamaku saja terdengar begitu mengejutkan bagi mereka?
Aku menghela napas dan memberi gestur ke arah Stella yang masih asik melihat beberapa aksesoris, "Itu istriku."
Carlos mengikuti arah pandangku dan matanya membulat, "Wanita itu? Wah...benar kata orang-orang kalau pada akhirnya kita akan menikah dengan orang yang bukan tipe kita sama sekali. Bukan cuma aku, tapi kau juga rupanya."
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Maksudku tipe-tipe pacarmu dulu kan selalu wanita cantik dan yang kelihatan pintar atau berkelas bukan? Istrimu kelihatannya berkebalikan dari itu semua..."
Aku akui tipe wanita yang kusukai memang begitu adanya tapi ada yang keliru dari perkataan Carlos.
"Aku tidak pernah pacaran dengan siapapun sebelum menikah."
"Hah? Lalu yang semasa sekolah dengan ketua kelompok debat bahasa inggris apa? Ketua marching band? Anak kembang olimpiade matematika?"
Aku hampir termangu, "Aku bahkan tidak ingat mereka siapa saja. Darimana kau mendengar itu?"
Carlos menggaruk rambutnya, "Eh, mereka sendiri yang bilang. Banyak sekali yang mau mendekatimu sewaktu sekolah kau tahu, tapi wanita-wanita itu membuat semua orang mundur. Saat ada kabar kau menikah, mereka semua nostalgia karena katanya kau cinta pertama mereka."
Hah? Kenapa aku baru tahu ini...ternyata aku cukup populer semasa sekolah?
Stella muncul tidak lama kemudian. Dia menatap aku dan Carlos bergantian dengan tatapan penasaran.
"Halo, aku Carlos. Kakak kelas Luiz semasa sekolah," Carlos menyunggingkan senyum ramah seraya mengulurkan tangannya.
Mata Stella lantas membulat sewaktu menjabat uluran tangan itu, "O-oh halo. Aku Stella. Senang bertemu denganmu."
Carlos lalu mulai bercerita tentang aku semasa sekolah dari sudut pandangannya selama mengemas barang belanjaan kami. Hal yang lewat dalam pikiranku saat mendengarkan ceritanya adalah betapa masa remajaku begitu monoton dan cenderung membosankan dibanding kehidupannya, tapi Stella yang sudah terlanjur penasaran itu mendengarkannya bagai itu sebuah cerita legenda yang baru pertama kali dia dengar.
"Ini dia semuanya. Totalnya tujuh ratus ribu ya," Carlos mengoper empat paper bag besar dengan senyum lebar dan aku memberi uang untuk membayar dia. Sesudah itu, dia mengulurkan tangan untuk menjabat aku dan Stella.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Luiz. Maaf ya kalau sudah banyak menyusahkanmu dulu, percayalah aku sudah mengubur semua kenakalanku dulu dalam-dalam. Nona Stella juga, senang bertemu denganmu pada akhirnya. Grup alumni pasti akan heboh jika aku cerita tentang ini."
"Terima kasih, tapi tolong jangan bilang apapun yang berlebihan di sana," ucapku, "Semoga tokomu ini terus laris. Sampai jumpa...Kak Carlos."
"Sampai jumpa, Kak Carlos," Stella membungkuk dan mengekori aku keluar toko. Aku tahu dia pasti akan memborbadirku tentang pertanyaan semasa sekolah dalam perjalanan nanti. Mau bagaimana lagi, setidaknya itu membangkitkan topik pembicaraan di jalan.
"Oke, hati-hati di jalan!" Carlos bersandar di depan pintu, kini bersama seorang anak gadis di belakangnya. Aku mengangkat tangan sejenak sebelum masuk ke mobil.
__ADS_1
Bicara dengan seorang kenalan lama serupa Carlos membuatku sedikit merenung akan betapa dinamisnya seseorang untuk mampu berubah seratus delapan puluh derajat dari sosok yang ku kenal dulu. Itu terdengar cukup menakutkan jika itu memgarah pada hal negatif, tapi Carlos jelas berubah menjadi pribadi yang lebih baik ketimbang dia yang dulu.
Aku melirik Stella sejenak. Faktanya aku bisa memilih untuk duduk bersama dia dalam perjalanan yang mungkin akan menghabiskan waktu lebih dari setengah hari dua kali berturut-turut ketimbang naik pesawat yang membuatku tak perlu berlama-lama di dekatnya dan tidak mengeluh sama sekali soal itu membuatku berpikir apa aku juga telah ada berubah sejak menikah dengannya?