
Jika ada yang bertanya bagaimana bisa aku tidak pernah tahu jika istriku punya bisnis rumah makan, aku sendiri tidak tahu. Secuek apa aku sampai tidak pernah menyadarinya, aku rasa tidak secuek itu. Yang pasti aku masih belum benar-benar percaya akan apa yang kudengar sampai saat aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri.
Berdiri di hadapanku sebuah bangunan yang cukup sederhana yang terbuat dari bambu. Di bagian depan ada beberapa meja dan kursi yang terisi pengunjung dan di sekelilingnya terdapat pohon kelapa dan rumput hijau yang mengelilingi. Bangunan ini terletak cukup dalam dari jalan raya dan berbanding terbalik dengan gedung pencakar langit lain di sekitarnya.
Aku mengernyit. Mengapa aku tak pernah menyadari tempat ini sebelumnya? Tempat yang lumayan unik di antara hiruk pikuk kota ini harusnya tidak mungkin kulewati begitu saja.
"Aku tidak pernah dengar tempat ini sebelumnya," ucapku sambil menaiki tangga kecil yang ada di depan.
"Luiz belum pernah kemari?" Tanya Stella. Aku menggeleng dan dia tertawa kecil, "Oh itu tidak apa. Konsep tempat ini memang bukan fine dining yang menargetkan pengunjung dari kalangan elit seperti Luiz jadi wajar saja kalau kau tidak tahu. Ini lebih ke casual dining, menunya juga beragam ada yang oriental dan western."
Mendengar Stella menyebutku sebagai kalangan elit, rasanya aku ingin bilang kalau dia pun berasal dari kalangan yang sama denganku, tapi mengingat sifat dan penampilannya yang cukup berbeda dari orang-orang yang biasa kutemui, aku mengurungkan niat itu.
"Selamat datang ke—oh Nona Stella," Salah satu karyawan berseragam yang bertugas menjadi penyambut pengunjung itu tersenyum kian lebar.
"Halo, Jia. Kalau kau masih ingat ini suamiku, Luiz," ucap Stella mengangkat kedua tangannya ke arahku.
"Oh tentu saja ingat, Nona. Halo, Pak Luiz," karyawan bernama Jia itu membungkuk pelan, "Pesta pernikahan anda dulu sangat meriah, saya dan yang lain takkan pernah lupa pernah diundang ke sana."
Oh aku tidak sadar jika beberapa dari tamu undangan dulu adalah karyawan Stella dan bukan kerabat jauhnya.
"Halo...Jia."
Senyum Jia merekah seraya membawa aku dan Stella menyusuri ruangan melewati beberapa meja dan kursi yang diisi oleh beberapa pengunjung seperti keluarga atau teman. Aku memperhatikan interior yang ada di dalam dan merasa cukup kagum dengan desainnya.
"Ah," langkahku terhenti di depan sebuah mading berukuran sedang yang terpajang beberapa kaki dariku.
"Ada apa, Luiz—Oh itu mading tempat pengunjung menuliskan ulasan selama berkunjung kemari," Stella terkekeh, "Itu idenya tapi beberapa pengunjung menggunakannya untuk curhat dan mengirim pesan pada orang asing yang mereka sukai saat berkunjung kemari."
"Oh..."
"Ayo duduk."
Aku dan Stella lalu duduk di salah satu meja di ujung ruangan, itu setelah menyapa beberapa pelayan yang datang untuk menengok Stella yang mampir.
"Kenapa kau tidak pernah bilang soal tempat ini padaku?" Tanyaku, sebab yang benar saja, sudah setahun aku dan dia tinggal bersama sebagai suami isteri tapi aku baru tahu sekarang.
"Aku pikir kau sudah tahu sejak awal Luiz. Kau tidak pernah bertanya, jadi kupikir kau pasti sudah tahu dari ayahku atau ayahmu."
Ah, obrolan yang tidak selesai waktu itu. Ayah Stella pasti berniat menceritakan soal hal ini tapi seseorang memotong pembicaraan kami sebelum dia sampai ke bagian itu dan aku dengan bodohnya langsung menyimpulkan sendiri kalau Stella itu tidak punya pekerjaan tanpa bertanya lagi sedikit pun.
"Aku pikir ayahmu tidak mengizinkanmu bekerja atau melakukan hal yang berat? Dia yang bilang kalau pernah menyuruhmu berhenti bekerja dulu. Wajar jika aku berasumsi kau tidak melakukan apapun selain beraktifitas di rumah. Tempat ini...pasti butuh usaha keras membangunnya kan."
Rumah makan Bamboo Resto ini, mungkin tempat yang terbilang sederhana jika dibandingkan dengan tempat makan lain di kota ini yang kebanyakan bersifat high-end. Tapi yang namanya membangun sebuah usaha, seberapapun bentuknya pasti bukanlah hal yang mudah.
__ADS_1
"Oh...soal semua itu, maksudku tentang ayah, tempat ini, dan bagaimana dia mengizinkanku ceritanya lumayan panjang. Kau bakal bosan jika harus kuceritakan."
"Ceritakan saja. Aku ingin tahu."
Aku tidak mengerti mengapa Stella berpikir dia akan membuatku bosan dengan ceritanya kali ini saat aku sudah mendengar hampir seluruh ceritanya yang lain tanpa mengeluh sedikit pun selama ini. Yang kali ini tentu takkan berbeda jauh dan aku sudah terlanjur penasaran kali ini.
Seorang pelayan datang untuk menulis pesanan kami, jadi aku dan Stella menjeda obrolan dan memesan makanan sebelum melanjutkannya kembali.
"Baiklah kalau kau memang mau dengar Luiz," ucap Stella sesudah pelayan tadi pergi, "Sejak dulu, aku sudah cukup dimanja oleh kedua orang tuaku. Ayah tidak pernah mengizinkanku melakukan pekerjaan berat dan ibu hanya mengajarkanku pekerjaan wanita rumah tangga seperti memasak dan beres-beres yang ringan. Mereka selalu bilang kalau pada akhirnya hakikat wanita hanya akan menjadi ibu rumah tangga atau istri yang melayani suami, jadi tidak perlu mengajarkanku hal lain."
Ah. Ternyata dugaanku soal didikan orang tuanya benar. Mereka tidak punyak ekspestasi besar untuk putri mereka selain dari pernikahan.
"Tapi kau bisa belajar banyak hal sendiri. Kau tidak perlu mereka untuk terus mengajarkanmu sesuatu," ucapku.
Stella mengangguk, "Masalahnya aku tidak punya banyak kenalan atau akses jika tidak melalui ayah dulu. Seluruh ponsel dan komputer dikontrol oleh ayah dulu. Saat aku mencoba untuk memasukkan aplikasi ke salah satu universitas, aku juga tertangkap basah oleh ayah."
Aku tidak menyangka kalau ceritanya akan jadi sedepresi ini. Aku tidak bisa membayangkan dikekang oleh kedua orang tuaku sampai seperti itu.
Stella yang menceritakan masa lalu itu masih bisa tersenyum begitu melanjutkan kalimatnya, "Tapi aku berhasil memohon pada ayah untuk membiarkanku bekerja di kafe buku milik temannya selama beberapa lama. Bagaimanapun aku juga bosan di rumah terus jadi kegiatan pulang pergi dari kafe ke rumah waktu itu cukup menyenangkan."
"Kau suka baca buku?"
Stella menggeleng-geleng, "Tidak juga. Tapi tempatnya lucu jadi aku suka di sana."
Stella tetaplah Stella. Aku tersenyum samar.
Stella mengerem ucapannya begitu menyadari pesanan kami sudah tiba. Matanya berbinar dan dia hampir lupa kalau sedang bercerita.
"Jadi apa yang terjadi selanjutnya?" Tanyaku begitu tinggal kami berdua lagi yang ada di meja.
"Hah—Oh! Iya cerita tadi. Um...Jadi aku banyak bercerita pada Kat. Termasuk waktu aku mulai khawatir soal masa depanku. Ayah dan ibu semakin tua, meski aku tahu semua yang mereka lakukan itu karena mereka menyayangiku, aku tidak bisa terus bergantung pada mereka. Aku tidak khawatir ayah dan ibu akan kekurangan sesuatu di masa tua mereka dengan semua harta mereka, tapi aku takut akan jadi wanita yang cuma bisa bergantung pada kerabat saat mereka pergi."
"Pergi...maksudmu meninggal?"
Stella mengangguk, lalu buru-buru menjelaskan, "Tapi aku tidak meminta-minta hal itu. Aku selalu berharap mereka berumur panjang. Aku cuma khawatir..."
"Aku mengerti."
"Intinya begitu. Walaupun ayah bilang aku tidak perlu khawatir kalau sudah menikah nanti, aku selalu tahu kalau aku tidak secantik dan sepintar para sepupu atau anak dari teman ayah, jadi aku tak pernah membayangkan bisa menarik perhatian lawan jenis dari levelmu. Bahkan Luiz pun harus dipaksa ayah dan kakekmu untuk menikahiku kan?"
"Stella—"
Stella tertawa kecil dan mengibaskan tangan, "Aku tidak berniat membuatmu terlihat buruk atau merasa kasihan Luiz. Itu hanya fakta yang sudah kuterima dari diriku. Aku tidak begitu cantik dan pintar, tapi tidak ada masalah dengan itu. Aku masih punya kelebihan lain."
Sekarang aku merasa buruk atas segala pendapatku tentang penampilannya pada masa awal bertemu dulu. Padahal dia hanya berusaha menjadi dirinya apa adanya.
__ADS_1
"Ah, lanjut ke cerita. Karena aku cuma punya kelebihan di bidang masak-memasak. Aku beride untuk membuka sebuah rumah makan. Rumah makan ini. Aku tidak tahu soal bisnis jadi Kat yang membantuku untuk segala urusan dan tata cara dari mencari tempat, arsitek dan modal lain. Mulanya tempat ini juga milik Kat, tapi dia ingin mengejar karirnya sebagai travel blogger untuk salah satu majalah bergengsi di Kota D dan melepaskan semua bagiannya padaku. Dia mengajarkanku ini itu, tapi pada akhirnya aku tetap mencari seorang manajer untuk mengurusnya karena semua itu terlalu memusingkan."
"Jadi itulah mengapa kau sangat dekat dengan Kat."
"Iya. Dia juga yang mengenalkanku pada salah satu pemilik yayasan tuna sosial di kota ini ketika aku dan dua bibi pembantu yang ikut membantuku masak tidak sanggup lagi melayani pelanggan yang kian meningkat. Jia dan yang lain berasal dari yayasan itu."
Saat aku berpikir Stella tidak bisa jadi orang yang lebih baik lagi, dia malah menceritakan ini semua.
"Lalu soal ayahmu? Kapan dia tahu soal tempat ini?"
"Oh ayah tahu ketika semua ini sudah jadi dan aku mulai sering keluar rumah lagi untuk kemari. Waktu itu aku bohong dengan bilang kalau aku hanya mampir ke rumah makan Kat untuk membantu sedikit saja. Dan karena ayah pikir rumah makannya tidak begiu besar dan pekerjaannya takkan sebanyak itu, dia mengizinkanku. Tapi tentu saja, itu tak bertahan lama. Aku tidak tahan terus berbohong dan berakhir mengaku pada ayah setelah sebulan berlalu. Dia marah tapi kali itu aku menggunakan seluruh kemampuanku untuk meminta izinnya, untuk menunjukkan tekadku bagi rumah makan ini. Singkat cerita, butuh empat bulan untuk berhasil membuat dia luluh."
Aku tidak tahu harus berkata apa selain daripada aku cukup bangga pada Stella. Aku tahu dia banyak dibantu oleh Kat, tapi ide dan keinginan kuatnya untuk tidak menyerah lagi pada ayahnya adalah sesuatu yang dapat diacungi jempol.
"Luiz, sudah kubilang ceritanya panjang dan membosankan," ujar Stella ketika aku tidak langsung merespon.
Aku tersenyum kecil, "Aku hanya sedang berpikir. Itu tidak membosankan."
Stella mengambil sate lilit di piringnya, "Apa yang kau pikirkan?"
"Bagaimana bisa kau pergi kemari dan aku tidak pernah sadar sama sekali? Kau yakin tidak ingin menyembunyikan ini dariku?"
Mata Stella terbelalak, "Tidak Luiz. Tidak akan pernah. Mungkin kau tidak pernah sadar karena aku tidak pergi kemari setiap hari, hanya dua kali seminggu paling banyak dan aku selalu kembali sebelum waktu pulang kantormu. Aku juga tidak pernah pergi di akhir pekan karena harus memasak untukmu di rumah."
"Harusnya kau mengajakku kemari sekali-sekali. Kenapa menunggu setahun untuk melakukan ini?"
Stella terkekeh seraya menggaruk pipi, "Ah, itu karena makanan di sini semuanya berasal dari resep yang sama dariku, kupikir itu tidak perlu. Aku kan tinggal masak di rumah untukmu."
Benar juga. Tapi aku tetap merasa sedih karena baru tahu hal ini sekarang.
"Tapi Luiz, kalau aku ingat-ingat lagi, kau pernah lihat aku pulang agak telat tapi tidak pernah bertanya aku darimana."
"Itu karena aku kira kau dari tempat Naomi dan Kevin."
"Oh kadang aku memang dari sana tapi kadang aku cuma singgah sebentar saja di tempat mereka dan lanjut kemari untuk menengok Jia dan yang lain."
"Oh..."
"Luiz jangan sedih," Stella menepuk tanganku, "Aku akan membawamu kemari lebih sering kedepannya."
Tidak. Bukan begitu. Jangan memperlakukanku sebagai anak kecil.
Aku mengangguk, "Baiklah."
Aku sadar kalau aku sudah salah menilai Stella dengan sebelah mata dulu. Aku hanya melihat dia dari apa yang terlihat di mataku dan itu semua adalah kekurangan dia. Hingga saat ini dia telah menunjukkan kalau dia adalah wanita yang baik hati, pekerja keras, dan berempati tinggi pada orang di sekitarnya.
__ADS_1
Kurasa aku cukup suka pada Stella, bukan dalam artian yang spesial tentunya, tapi aku menyukai dia, katakanlah, sebagai seseorang yang bisa dijadikan teman.