
Tawa dan bisikan beberapa wanita yang berlalu lalang keluar masuk toilet memenuhi kupingku saat aku menunggu Stella menyelesaikan urusannya di dalam dari depan toilet wanita. Entah cuma perasaanku saja, tapi rasanya aku melihat beberapa wanita yang sama bolak-balik masuk toilet dalam waktu dekat. Apa ada yang aneh dari masakan tempat ini hingga mereka terus-terusan perlu pergi ke toilet? Apa mereka juga sakit perut seperti Stella?
Lebih mengherankan lagi sebagian dari wanita itu dengan ramahnya melempar senyum padaku saat pertama kali melihat aku bersandar di depan pintu masuk toilet, namun setelah beberapa kali juga aku turut membalas dengan seulas senyum tipis sebagai sopan santun, mereka malah mulai berlenggak seolah koridor toilet ini adalah runway fashion show dadakan. Ada apa dengan wanita-wanita ini sebenarnya?
"Em...permisi," seorang wanita bertubuh mungil bergaun ungu yang turut berlalu lalang tadi menghampiriku ditemani temannya, dia mengulurkan tangan, "Boleh kenalan tidak kak? Aku Elena."
Aku mengerjap, melirik tangan dengan kuku berkuteks glitter itu ragu sebelum menjabatnya balik, "Luiz."
Wanita itu menarik kedua ujung bibirnya lebar, dia menyisir rambutnya ke belakang telinga dengan jari sambil berbicara lembut, "Aku perhatikan kakak sendirian terus di sini, jadi penasaran aja buat ajak kenalan, boleh minta nomornya tidak kak?"
Hmm...aku masih bisa meladeni kalau diajak kenalan sebab rasanya tidak sopan jika aku menolaknya, tapi kalau soal nomor, aku tidak memberinya begitu saja pada sembarang orang.
"Maaf, kalau soal itu tidak bisa," ucapku. Aku mengucapkannya dengan nada yang tak menyinggung.
Senyum wanita dan temannya yang tak memperkenalkan diri melainkan cuma mengekor di belakang itu sontak meredup seketika, namun aku tidak sempat memperhatikan mereka lagi sebab fokusku segera beralih pada Stella yang juga sudah berjalan keluar dari dalam toilet pada waktu bersamaan. Dia tampak sudah enakan namun wajahnya masih agak pucat dan terlihat tidak bersemangat.
"Sudah baikan?"
"Iya..."
"Em...adik kakak?" Wanita yang tadi rupanya masih berdiri di sebelahku, dia menatap aku dan Stella secara bergantian.
Aku yang saat itu telah memegang lengan Stella lantas mendongak dengan sedikit rasa tersinggung dengan asumsi itu, kataku, "Istriku."
Apa aku terlihat setua itu bersama dengan Stella?
Alih-alih raut wajah wanita dan temannya itu segera berubah kala mendengar jawabanku. Mereka buru-buru minta maaf dan berjalan pergi ke dalam toilet lagi sambil saling menyenggol satu sama lain.
__ADS_1
"Siapa...?" Tanya Stella pelan.
Aku menggeleng, "Aku tidak tahu. Hanya wanita iseng. Perutmu bagaimana? Kalau masih tidak nyaman, kita pulang saja. Tidak perlu merasa tidak enak dengan yang lain, mereka bakal mengerti."
Stella yang ketaranya memang masih merasa tidak enak itu pun mengangguk pelan, "...Maaf ya Luiz, aku jadi menganggu waktu reunimu dengan kawan lama."
"Kau tidak menganggu siapapun Stella. Ayo."
Alhasil aku dan Stella pamit lebih awal dari yang lain. Karena sudah separuh mabuk, Jeffrey dan Ethan tidak terlalu memperhatikan dan cuma selonjoran di kursi mereka, namun August dan Nino beserta pasangan mereka sempat merangkul dan memberi salam berpisah untuk kami.
"Hati-hati di jalan Luiz, aku mungkin bakal menghubungimu perihal bisnis nanti," ucap August.
"Hm, telpon saja jika perlu sesuatu. Kau juga Nino."
"Oke, sampai jumpa, Luiz. Sering-sering berkabar ya."
Dalam perjalanan keluar restaurant, ketika melewati area meja tamu reguler yang juga ramai, mataku secara kebetulan menemukan sosok pria yang sebelumnya sempat bertabrakan dengan Stella di salah satu meja untuk berempat. Ya, pria yang berbau masalah itu, dia sedang duduk bersama seorang wanita dan dua anak kecil. Aku hampir bernapas lega karena mengira itu pasti keluarganya dan firasatku mungkin salah, namun begitu menyadari pandangan Stella juga mengarah ke orang yang sama namun dengan tatapan sedikit sendu, perasaan tidak senang itu kembali mencuat dari dalam hatiku.
Berbagai pertanyaan timbul saat itu juga, namun aku baru mengungkitnya ketika kami telah meninggalkan restoran dan sedang menunggu lampu merah.
"Kau kenal dengan pria tadi?" Tanyaku. Nada suaraku kubuat sesantai mungkin agar tidak terkesan begitu penasaran.
"Ah?"
"Pria yang tak sengaja bertabrakan denganmu saat menuju toilet tadi. Kau kenal dia?"
Stella langsung membenarkan duduknya, dia melihat ke jendela sambil menjawab, "Dia...cuma teman lama."
__ADS_1
"Teman lama? Kelihatannya lebih dari itu..." gumamku. Aku menginjak gas dan memutar setirku masih dengan mimik kalem.
"Luiz, aku sedang tak enak badan, mengobrolnya nanti saja ya," ujar Stella. Aku tahu dia sedang berusaha menghindari obrolan ini, tapi secara bersamaan dia juga tak sepenuhnya bohong soal tak enak badan. Mau tak mau, aku menyudahi pertanyaanku tentang pria misterius itu.
Sebetulnya dengan sekali jentikan jari pada asistenku, aku bisa mencari info tentang pria itu sampai ke detil-detil nenek moyangnya, namun aku takkan puas selama mengetahui jika Stella berusaha menyembunyikan sesuatu soal pria itu dariku. Aku mau mendengar semuanya dari mulut Stella sendiri bukan dari hasil mematai-matai.
Setiba di rumah, aku membopong Stella naik ke kamarnya dengan berhati-hati. Sangat aneh melihat Stella begitu kelihangan spirit dan keceriaannya, jadi aku berusaha agar tak menambah beban pikirannya.
Kata kunci: berusaha.
Sebab apa yang kulakukan malah berkebalikan. Begitu Stella selesai membasuh kaki dan tangan serta mengganti baju untuk bersiap tidur, aku kembali masuk ke kamarnya dengan langkah lebar. Kala itu hanya lampu tidur di atas nakas yang menyala, jadi aku cuma bisa melihat sebagian siluet wajah Stella di antara cahaya remang.
Suara napas tercekal dari Stella yang kaget tidak lolos dari pendengaranku. Berdiri di sebelah kasur penuh bonekanya, aku membungkuk demi menyamai level mulutku dengan telinganya.
"Stella, dalam perjanjian kita...saat tertulis kita tak boleh mencampuri urusan satu sama lain, bukan berarti selingkuh atau memikirkan pria lain itu diperbolehkan. Selama kau masih menikah denganku, kau milikku, mengerti?"
"...Luiz?"
Aku menegapkan tubuhku, tersenyum seolah tidak terjadi apapun, "Tidurlah. Kau butuh istirahat. Panggil aku jika butuh sesuatu."
"Oke...tapi Luiz—" Stella berbicara setengah ragu, tapi aku mengacak rambutnya dan mematikan lampu tidur.
"Selamat malam, Stella," potongku.
"...Selamat malam, Luiz."
Seratus persen yakin, Stella pasti masih kebingungan bahkan setelah aku berbalik meninggalkan kamarnya. Aku saja kaget dengan sikapku tadi, seakan selama sesaat, aku mendadak dirasuki roh posesif yang siap menerkam siapapun atau apapun yang berani mengambil kepunyaanku. Itu pertama kali seumur hidupku aku sadar ada sisi seperti itu juga dalam diriku.
__ADS_1
Sisi yang berkeinginan kuat dan dominan. Kurasa Stella menjadi trigger yang membuat sisi itu muncul ke permukaan.