
Sepulang dari rumah keluargaku. Aku bekerja tanpa henti. Benar-benar tanpa henti hingga aku sangat jarang berada di rumah. Aku sengaja melakukannya karena aku merasa setelah malam di rumahku itu, sesuatu mengganjal setiap kali aku harus menatap wajah Stella, jadi aku bekerja sekeras mungkin sebagai alasan untuk menghindari dia.
Aku tidak membenci Stella, malah aku ingin mengenal dia lebih dalam sebagai seorang teman, tapi di sisi lain aku mulai merasa aneh saat berada di dekatnya. Aku berpikir dengan memberi ruang antara kami selama beberapa waktu ke depan, aku dapat menormalkan kembali hubungan kami seperti sebelumnya saat aku tidak merasakan segala perasaan aneh yang menjangkitiku itu.
Jadilah aku terus bekerja, bekerja, dan bekerja. Hari demi hari aku semakin menyibukkan diri demi terus bisa mengulur waktu untuk pulang ke rumah. Aku tidak sarapan dan makan malam di rumah lagi bersama Stella, aku bahkan tidak membiarkan diriku beristirahat di kantor sebab itu cuma memancing pikiranku untuk melantur membayangkan wajah Stella di malam kami bercerita di bawah selimutku.
Tidak jarang, Stella yang menjadi objek utama penyebab aku melakukan semua ini, menunjukkan kekhawatirannya akan gaya kerjaku itu.
"Luiz, sesibuk apapun, kau harus beristirahat dan mengatur waktu makanmu," ucap Stella tiap kali mendapati aku pulang larut sekali. Dengan menekan perasaan tidak enakku, aku berlagak seolah tak begitu menghiraukan nasihatnya dan memperpadat jadwalku.
Namun lagi, aku cuma manusia biasa. Lepas tiga minggu bekerja seperti di kejar setan, tubuh dan pikiranku pada akhirnya menyerah pada demam yang membuatku tidak bisa beranjak dari kasur sama sekali. Aku belum pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Kurasa aku benar-benar melewati batas dengan semua pekerjaan itu.
Untuk bilang Stella begitu marah dengan akibat ini adalah sesuatu yang dapat dimaklumi. Ini pertama aku melihat dia secara ekspresif menunjukkan ketidaksukaannya akan sesuatu dan itu adalah aku. Bagaimana lagi, dia memang sudah menasihatiku beberapa kali tapi akulah yang tidak mendengar.
Stella memanggil dokter keluarganya untuk memeriksa kondisiku namun sepanjang itu aku tidak berani menatap dia yang ketara sekali ingin mencakarku saat itu juga. Aku tidak menyangka dia sanggup menampilkan ekspresi seperti itu.
"Hmm, ini asam lambung anda yang naik. Kalau berdasar dari yang Nona Stella ceritakan tentang kebiasaan kerja anda beberapa minggu terakhir, mungkin juga diakibatkan dari stress dan tekanan waktu kerja hingga waktu makan yang tidak teratur," ucap dokter pria yang sudah lumayan tua itu.
Aku mengernyit dan memaksakkan suara parauku untuk terdengar, "Aku tidak pernah sakit asam lambung sebelumnya."
Dokter itu mengangguk, "Itu semakin membuktikan tubuh anda sudah benar-benar mencapai batas untuk segala stress yang ada paksakan dari pekerjaan anda hingga memancing penyakit. Saya sarankan untuk benar-benar istirahat walau nanti demamnya sudah turun, akan berbahaya juga jika anda terus bekerja tanpa istirahat dan makan tidak teratur."
__ADS_1
Sambil menghela napas dan menahan panas yang menyelimuti seluruh tubuhku aku mendengar dokter itu memberi beberapa obat sekaligus menjelaskan resepnya pada Stella sebelum pamit pergi. Stella kembali tidak lama kemudian setelah mengantar dokter itu keluar, aku masih enggan membuka mata hingga sesaat aku merasakan tekanan di sisi kasur.
Stella tidak mengatakan apapun selama satu menit full dan itu membuatku semakin merasa tidak nyaman dalam keheningan ini.
"Apa kau harus memaksakan diri sampai begini, Luiz?" Tanya Stella akhirnya dengan nada yang tidak senang. Aku spontan menoleh dan mengangkat kelopak mataku dari menutup pandangan.
"Aku hanya bekerja seperti biasa. Ini bukan apa-apa."
"Bukan apa-apa? Luiz kau bisa mati jika terus begini. Aku pernah melihat berita anak sekolah yang mati karena terlalu memaksakan diri untuk belajar tanpa henti. Kau ingin seperti itu?"
"Kau terlalu berlebihan," ucapku seraya menatap langit-langit. Dari ujung mata aku lihat kepalanya mengangguk-angguk sebelum dia berdiri dan keluar dari kamar. Ah aku benar-benar membuat dia marah—batinku seraya meletakkan lengan pada dahi—kalau begini mungkin aku harus merawat diriku sendiri hingga sembuh.
Aku melirik dia yang menatap mangkuk bubur panas itu dan menghela napas.
"Luiz, aku suap ya."
Karena sudah cukup bagiku membantah segala perkataan dan nasihat Stella, kepalaku pun bergerak naik turun mengiyakan. Stella membantuku duduk dan mulai menyuapiku bubur ayam itu sedikit demi sedikit.
Untuk seseorang yang baru saja berdebat denganku dan pergi keluar tanpa mengatakan apapun, Stella merawatku dengan begitu lemah lembut. Setelah menyuapiku, dia kembali membantuku berbaring dan menaruh kompres. Kami tidak bertukar sepatah katapun selama proses itu hingga dia pergi keluar lagi dengan nampannya.
Kapan dan tepatnya aku tertidur sehabis itu, aku tidak yakin. Tapi begitu aku tak sengaja terbangun di tengah malam, aku mendapati Stella sedang membalikkan handuk kompres di atas dahiku. Dia setengah kaget melihat aku membuka mata dan berbicara dalam volume berbisik.
__ADS_1
"Oh maaf. Apa aku membangunkanmu Luiz?"
Aku menggeleng. Stella tersenyum kecil.
"Kalau begitu tidurlah kembali. Aku bakal pergi segera setelah kau sudah terlelap."
"Maafkan aku dan terima kasih, Stella," ucapku karena sungguh aku bukan orang tidak tahu diri yang tidak bisa berterima kasih setelah menyaksikan sendiri dedikasi Stella.
Kali ini Stella yang menggeleng, "Aku juga minta maaf, Luiz. Aku tak bermaksud menceramahimu seperti anak kecil tadi. Kau sedang sakit dan aku malah memarahimu."
"Aku pantas dimarahi."
Suara tawa Stella yang khas mengisi kupingku, "Mungkin Luiz, tapi tidak sekarang. Kau butuh istirahat. Tiga minggu kau bekerja nonstop dan makan tidak teratur, aku sudah berfirasat ini bakal terjadi cepat atau lambat, bahkan pada pria seperti Luiz sekalipun. Luiz, kau harus memperingatkan wanitamu di masa depan untuk siap siaga berjaga tengah malam saat kau tiba-tiba bekerja terlalu keras dan jatuh sakit lagi."
Kalimat terakhir Stella lontarkan dengan separuh bercanda tapi aku tak mampu tertawa bersamanya. Sebab aku tidak mau mendengar kata 'wanita lain' dari mulutnya, tidak juga aku ingin membayangkan masa depan yang tidak ada dirinya. Semua yang kurasakan, segala gelora aneh yang timbul tiap kali aku berada di dekatnya, semua itu, aku akhirnya mengerti.
Aku sayang padanya. Aku sayang padanya selayaknya pria yang menyayangi wanita yang dicintainya. Bodoh sekali aku baru menyadari ini dan bodoh sekali aku berusaha lari dari perasaan ini.
Aku tertawa dengan suara parau yang mungkin terdengar mengerikan. Stella memiringkan kepala, matanya mengerjap-ngerjap sambil dia menggaruk pipi.
"Luiz, reaksimu lambat sekali. Demammu pasti sudah mempengaruhi separuh otakmu ya."
__ADS_1