
Acara pernikahan sepupu Stella belum akan dimulai hingga nanti menjelang sore, jadi aku dan Stella lumayan punya banyak waktu luang sampai saat itu tiba.
"Luiz kau ingin makan apa?" Tanya Stella. Sekarang aku dan dia sedang mengantri di antara antrian untuk mengambil makanan di restaurant hotel yang memakai sistem buffet atau prasmanan ini. Aku sempat heran darimana banyaknya orang-orang ini datang, tapi aku teringat kalau semalam semua kamar di hotel ini kan terisi penuh, ditambah beberapa orang yang mungkin berasal dari luar, karamaian ini jadi tidak terlalu mengherankan.
"Nanti lihat apa yang ada dulu."
Tanpa kusadari, Stella ternyata berniat mengambilkan makananku, makanya dia bertanya. Dia langsung menungguku berbicara setelah mengambil nasi dan aku bisa merasakan tatapan orang-orang di sekitar kami saat itu juga.
Aku berdeham dan menyuruh Stella maju supaya aku bisa mengambil piring sendiri, "Aku ambil sendiri, Stella."
"Eh, tidak Luiz, aku sebagai istri harus melayani suami dulu. Kau ingin lauk apa?"
Aku memejamkan mata. Tatapan ke arah kami kian bertambah akibat perkataannya.
"Stella, biarkan aku ambil sendiri. Dan kau menghambat antriannya daritadi."
Kalimat itu berhasil membuat Stella sadar dan melangkah maju. Dia langsung gelagapan sendiri dan—syukurlah bagiku—langsung melupakan pembicaraan tadi.
"Oh astaga, aku tidak sadar," gumam Stella.
Aku menghela napas lega. Hampir saja aku dilihat sebagai suami yang diperlakukan istrinya seperti anak kecil oleh orang-orang di sekitar kami. Aku harus bicara pada Stella untuk menghentikan sikap 'harus melayani suami sebagai istri yang baik' ini saat sedang berada di luar, saat makan di rumah mungkin aku memperbolehkan dia mengambilkan makanan untukku, tapi tidak di depan umum. Itu memalukan.
Sebuah tepakan pelan dari seseorang yang berada di sebelahku kemudian membuatku menoleh. Itu seorang wanita lansia yang tertawa hingga menunjukkan dua gigi ompongnya di depan. Dia pasti tak sengaja mendengar obrolanku dengan Stella tadi.
"Ohaha, kau punya istri yang baik, nak. Lagi bulan madu ya? Atau liburan ulang tahun pernikahan?"
Aku segera menggeleng, "Bukan, kami cuma mau menghadiri pesta pernikahan kerabat saja."
Senyum wanita itu tidak pudar sedikit pun walau dia mengangguk mengerti. Dia menepuk pundakku sambil berbisik, "Baik-baiklah dengan istrimu kalau begitu. Tidak usah malu-malu. Yang modelan begitu susah untuk dicari loh, jangan sampai menyesal."
"...Oke."
Aku tidak mau memperpanjang obrolan ini jadi aku segera mengiyakan perkataan wanita itu. Barangkali perkataannya soal wanita yang seperti Stella akan sangat jarang kutemui memang ada benarnya apalagi jika mempertimbangkan lingkunganku biasa bergaul, tapi pernikahan kami tidaklah berlandaskan perasaan.
__ADS_1
Mau seharmonis apapun aku dan Stella, dalam waktu kurang lebih dua tahun lagi saat kontrak pernikahan ini telah mencapai tenggatnya, aku dan dia tahu itu berarti perpisahan. Aku takkan menyesali apapun, karena dari semua yang telah kami lalui hingga detik ini, aku selalu memperlakukan dia dengan baik. Aku bahkan percaya aku bisa tetap berteman dengan Stella tanpa ada perasaan berat hati seperti yang acap terjadi pada pasangan lain yang bercerai. Aku tetap bisa menanyakan kabarnya atau mengajak dia bertemu sesekali sebagai teman yang peduli dan begitupun sebaliknya. Jadi tidak ada penyesalan yang perlu dikhawatirkan.
Aku sedang memandang Stella mengambil sepotong telur fuyunghai ketika tiba-tiba seseorang memanggil namaku. Suara seorang wanita yang lantang dan sungguh bertolak belakang dari Stella yang bersuara halus. Menyusul panggilan itu juga sebuah lengan yang merangkul leherku, namun beruntung aku tetap bisa menjaga keseimbangan dan tidak menjatuhkan apapun dari piringku.
"Luiz! Lama tidak berjumpa!"
Tanpa berbalik pun, dari cara menyapanya aku bisa menebak siapa itu. Siapa lagi jika bukan Caryna, salah satu anak dari teman ibuku yang sudah lebih dari satu kali kuperingatkan kalau aku tidak suka dengan caranya yang terlalu banyak melibatkan kontak tubuh saat menyapa. Dia selalu melakukan ini pada siapapun jadi dia menganggap ini hal normal.
Aku mengernyit dan melepaskan rangkulan yang membuatku tidak nyaman itu, "Caryna."
Caryna yang kini mewarnai rambutnya biru itu menyunggingkan senyum lebar, "Siapa sangka akan bertemu di sini. Dunia pasti begitu kecil."
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku, karena jujur saja kemungkinan untuk bertemu dengan orang seperti dia di hotel sederhana ini begitu kecil.
Caryna adalah tipe wanita yang sibuk. Dia punya bisnis fashion besar yang sudah terkenal di berbagai belahan dunia jadi dia lebih sering berada di luar negeri untuk mengurusi cabang-cabang butiknya. Dan meskipun dia menyapaku dengan sangat akrab seperti tadi, aku dan dia tidak pernah dekat selain dari sesekali berpapasan atau dipaksa ibu untuk bertemu.
"Oh aku sedang menunggu salah satu manajerku. Sudah lama aku tidak mampir melihat butikku yang ada di kota ini jadi aku meminta dia untuk menemaniku ke sana. Dia bilang untuk pergi sarapan di sini, entah apa yang begitu spesial dari tempat ini sampai dia ngotot menyuruhku kemari, tapi ya begitulah. Kau sendiri apa yang kau lakukan disini?"
"Aku mau menghadiri pernikahan salah satu kerabat sore nanti. Ini istriku—" aku menoleh dan terdiam begitu menyadari Stella sudah tidak ada di sebelahku.
Aku mengangkat tangan ke arah Caryna dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang penuh dengan berbagai kepala. Kemana perginya Stella? Kenapa dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun dulu?
"Di mana dia, namanya Stella kan?"
Aku mengangguk, sambil mulai berjalan, "Tadi dia masih di sebelahku."
Caryna melipat tangan dan tertawa seraya mengekoriku, "Wah, mesra sekali kalian, istrinya saja sampai pergi meninggalkan suaminya sendiri."
Aku mendelik, "Tidak lucu, Caryna."
"Maaf-maaf," ucap Caryna sambil masih setengah terkekeh. Dia lantas menepuk bahuku sehabis itu, "Karena kau sudah tidak fokus lagi, aku mau pamit saja. Salam untuk ibumu dan Stella...walau mungkin dia belum kenal aku ya. Dah, Luiz."
Aku tidak sempat menjawab atau bahkan sekedar melihat Caryna pergi karena saat itu aku pun berhasil menemukan Stella di salah satu meja bundar yang berada di ujung ruangan. Dia tidak makan, melainkan hanya duduk seperti sedang menunggu seseorang. Benar saja, dia langsung melambai begitu melihatku.
__ADS_1
Aku bisa merasakan kedua alisku kian menekuk seiring langkahku menghampiri dia.
"Kenapa kau pergi begitu saja meninggalkanku?" Ucapku seraya menaruh piring ke meja.
Stella memiringkan kepala, "Oh kukira kau bakal lama bercerita dengan wanita itu Luiz, kalian sangat akrab jadi kupikir lebih baik kalau aku tidak menganggu kalian dan pergi mencari meja untuk kita."
Stella mengatakan itu dengan ekspresi yang polos tapi aku tak bisa berhenti melupakan kalau tindakan dia yang langsung pergi tanpa mengatakan apapun begitu berlawanan dengan sifatnya, biasanya dia pasti akan tetap menunggu untuk dikenalkan atau sekedar menyapa siapapun itu yang datang berinteraksi denganku.
"Kau tidak mengganggu siapapun. Lain kali tunggulah sampai aku memperkenalkanmu dulu baru pamit. Kau tidak mau kalau orang sampai salah paham dengan hubungan kita kan?"
"Oh...oke. Aku tak bermaksud bersikap tidak sopan tadi, Luiz..."
Aku mengangguk, "Aku tahu."
Lalu sambil meraih sendok, aku kembali angkat suara, "Yang tadi itu Caryna. Dia anak teman ibu yang dulu pernah mau dijodohkan denganku tapi karena ayah dan kakek tidak suka dengannya, perjodohan itu tidak dilanjutkan. Aku tidak akrab dengan dia sama sekali seperti yang kau kira."
Stella mengerjap, "Tapi...jika ayah dan kakekmu setuju, kau pasti akan menikah dengan dia dan bukan aku yq, Luiz."
Aku mendongak.
"...Mungkin?"
"Kalian juga terlihat sangat serasi berdiri bersebelahan," gumam Stella.
Aku mendengus lirih, "Serasi darimana. Aku tidak bisa bersama wanita yang terlalu dominan dan bergaya hidup bebas seperti dia. Entah apa yang ibu pikirkan saat mengenalkan dia padaku. Bahkan Caryna juga bilang aku 'terlalu baik-baik' bagi dia."
"Oh tapi banyak yang bilang opposites attract. Mungkin dia bisa membawamu keluar dari zona nyamanmu dan kau bisa menyejukkan dia dengan sifatmu, Luiz."
Kerutan pada keningku kembali muncul, "Jadi kau bilang aku lebih baik bersama dengan dia?"
Stelle terdiam dan aku menghela napas. Rasa kesalku yang sedikit mengambil alih kuredakan kembali. Suaraku kembali memelan.
"Aku tidak suka dengan Caryna, oke? Tidak dulu, sekarang ataupun nanti. Mau dia hampir menikah denganku atau tidak, hal itu tidak penting lagi. Aku sudah menikah denganmu sekarang dan dia juga sudah menikah dengan pacarnya yang ada di luar negeri. Jadi berhentilah berpikir tentang aku bersama dia."
__ADS_1
Stella menatap ke bawah dan mengangguk pelan. Aku sedikit merasa buruk karena membuat dia lumayan kaget dan gugup seperti itu tapi begini memang lebih baik, aku tidak mau kalau sampai ada salah paham antara aku dan dia, jadi sudah sepatutnya aku meluruskan hal begini kepada Stella sebelum dia mulai berimajinasi yang tidak-tidak tentang hubunganku dan Caryna.
Aku melihat ke langit cerah dari balik jendela kaca restauran sebelum menoleh ke Stella lagi, aku harus menebus sikapku yang agak keras tadi, "...Mau jalan-jalan sehabis ini?"