Days After You

Days After You
Bab 25 - Panggilan Telpon dari Ibu


__ADS_3

Sehabis jamuan makan malam, aku dan Stella pergi memberi selamat pada Kat dan Alvian di meja mereka. Saat itu aku menyaksikan perubahan wanita yang tadi berjalan menuju pelaminan dengan begitu anggun menjadi wanita yang berkelakuan layaknya laki-laki.


"Yo Stella! Luiz juga! Makasih ya sudah datang," Kat memeluk Stella lalu mengepalkan tangannya untuk ditos padaku. Aku mengetosnya balik dengan agak canggung karena baru pertama kali berbicara dengan dia.


"Terima kasih sudah datang, Tuan dan Nona Wilcolm," Alvian yang malah menunjukkan sifat terbalik dari istrinya itu membungkuk pelan menyapa kami. Betapa bertolak belakang tapi cocoknya mereka untuk dipertemukan satu sama lain.


"Kat, jangan lupa membaca kartu yang kuselip di kotak hadiahmu. Aku memilih hadiah itu di bantu oleh Luiz yang mengajarkanku tentang makna bendanya, jadi itu penting," Stella menggenggam tangan Kat dan berucap dengan penuh spirit. Kini aku cuma bisa berharap kalau hadiah itu tidak akan begitu mengecewakan, bagaimanapun itu juga akibat omong kosong yang kulontarkan secara spontan yang mendorong Stella hingga memutuskan membeli barang itu.


"Pastiii, Stella. Aku akan membuka hadiahmu pertama," ucap Kat sambil mengedipkan sebelah matanya. Dia lalu beralih dan menepuk pundakku, "Eh kau juga, Luiz. Tak kusangka kalian berdua bisa seakrab ini dalam waktu dekat. Aku sempat khawatir kau tidak akan cocok dengan Stella dan berakhir membuat dia sedih. Tapi syukurlah itu tidak begitu. Entah apa yang akan kulakukan padamu kalau sampai aku dengar Stella sedih karena kau."


Kalimat terakhir diucapkan dengan nada setengah bercanda, tapi aku terus mengingatnya sebagai sebuah peringatan. Lagipula aku dan Stella tidak akrab. Tapi aku terlalu malas untuk mengkoreksi ucapannya dan lebih memilih mengatup bibir rapat-rapat dan mengikuti alur obrolan.


Kat bercerita tentang hubungannya dengan Stella pada Alvian sebelum dia memutuskan untuk pindah kota dan aku bisa lihat pria itu mendengar dan menatap wanita itu dari awal hingga akhir dengan mata berbentuk hati. Terkadang jatuh cinta itu tampak menakutkan, bayangkan saja dia bisa mengubah seorang pengacara yang katanya ternama ini menjadi serupa anak anjing di sekitar istrinya.


"Tuan Wilcolm, andai kau butuh bantuan atau asistensi hukum untuk suatu urusan, hubungi saja aku. Aku akan membantumu dengan sebaik mungkin," Alvian menyodorkan sebuah kartu nama. Ada logo Your Advocate, yang mana aku asumsikan adalah nama dari firma hukum milik ayah Kat sekaligus tempat dia bekerja.


Aku mengangguk dan mengantonginya, "Baiklah, terima kasih. Dan panggil saja Luiz."


Nada dering dari ponselku di saku lantas terdengar tidak lama kemudian. Aku melihat kalau itu panggilan dari ibu dan memohon permisi sebentar sebelum mengangkat telpon dari tempat yang agak jauh dan kurang orang.


"Halo, bu."


"Halo, Luiz. Dimana dan sedang apa kau sekarang? Kenapa kau sudah lama tidak mampir ke rumah?"


"Aku sedang di acara pernikahan sepupu Stella di Kota D, bu. Aku akan coba mampir begitu sudah pulang."


"Pernikahan? Kenapa aku dan ayahmu tak diundang?"


"Mungkin karena sepupu Stella tidak mengenalmu dan ayah? Ini sepupu jauhnya bu, tidak banyak juga yang di undang..."


"Tetap saja, kami ini kan besan dengan orang tua Stella..."


"Ibu..." Kadang ibu terdengar menyedihkan saat mempermasalahkan hal kecil begini.


Suara hembusan napas terdengar dari ujung telpon, "Terserahlah. Aku cuma mau bilang aku ingin kau mampir secepatnya ke rumah, Luiz. Aku, ayah dan kakek kangen padamu...dan Stella."


Aku mengernyit mendengar nada bicara ibu yang berubah aneh ketika menyebut nama Stella. Seolah dia tidak sungguh-sungguh saat mengatakan itu.

__ADS_1


"Oke, aku akan mampir, asal...ibu janjilah untuk memperlakukan Stella dengan baik."


"Kapan aku tidak memperlakukan dia dengan baik? Aku selalu menyambut dia di rumah. Apa dia bilang sesuatu yang jelek soal aku?"


"Ibu kau mengerti apa yang ku maksud. Dia tidak pernah bicara apapun tentangmu, aku yang menyaksikan sikapmu dengan mataku sendiri."


Aku bahkan tidak merubah nada suaraku dari biasanya bicara tapi kalimat itu punya kekuatan untuk membuat ibu diam sejenak sebelum kembali berbicara.


"...Ya sudah, aku akan mencoba untuk lebih ramah lagi. Yang penting kau mampir ke rumah ya. Kakek ngomel terus karena kalian jarang mampir."


"Oke. Aku akan menelponmu lagi nanti. Salam buat ayah dan kakek."


"Mm...dah."


Aku menunggu ibu mematikan sambungan telpon seraya menatap layar ponselku. Selain dari sibuk, terkadang sifat ibu yang kurang enak pada Stella lah yang membuatku enggan untuk mampir ke rumah. Sekalipun ada kakek dan ayah yang memihak pada Stella, ibu selalu saja bisa menemukan waktu untuk 'berbicara sendiri' dengannya. Dan walau Stella sudah mulai mencoba untuk tidak membiarkan ibu merendahkan dia lagi sejak natal tahun lalu, acap kali aku tetap merasa sungkan pada dia akan sikap ibu itu.


Sesekali, aku mencoba mampir sendiri tanpa membawa Stella dan itu membuat ayah dan kakek tidak senang. Aku jadi serba salah, maka dari itu aku kian jarang pulang ke rumah sekarang.


Hela napas terbebas dari mulutku, aku berbalik dan jalan kembali menghampiri Stella dan yang lain. Stella masih asik mengobrol dengan Kat dan suaminya jadi aku memilih untuk memberitahu dia soal telpon ibu tadi nanti saja.


"Vian kau tahu tidak kenapa aku bisa pandai masak? Ya karena dia ini yang mengajarku. Dia jago sekali kalau soal masak, tiap kali ke rumahnya aku selalu melihat dia memasak berbagai makanan. Aku sampai menggoda dia untuk membuka restauran sendiri, tahu-tahunya itu memang sudah ada dalam rencananya," Kat merangkul pundak suaminya sambil berceloteh.


Stella menggeleng, "Oh soal itu aku belum kepikiran sama sekali. Dulu juga Kat yang banyak membantuku untuk mencari tempat dan sejenisnya..."


"Kalau kau memang mau, kami akan membantumu Stella. Banyak tempat strategis disini dan Vian bisa membantu untuk mengurus dokumen-dokumen legalnya nanti. Jangan sungkan," ucap Kat.


"Kurasa itu ide yang bagus," timpalku. Ketiga orang itu serempak menoleh.


Stella memandangku dengan penasaran, "Menurutmu juga begitu Luiz?"


"Iya. Rumah makanmu kan lumayan punya ciri khas sendiri dengan nuansa tradisionalnya dan menu di dalamnya lumayan beragam. Menurutku itu cukup menarik bagi turis-turis untuk mampir."


Kat mengangkat jempol, "Aku setuju."


"Baiklah...aku akan memikirkannya kalau begitu," ucap Stella tersenyum lebar.


Tidak lama sesudah itu, Kat dan Alvian mohon diri untuk menyapa beberapa tamu dan anggota keluarga lain sementara aku dan Stella juga lantas kembali ke ayah dan ibunya di meja kami. Kami duduk beberapa lama sebelum akhirnya memutuskan untuk pamit kembali ke hotel ketika malam sudah semakin larut dan para tamu juga sudah mulai bubar. Ayah dan ibu Stella ikut dengan menumpang di mobil kami.

__ADS_1


"Kalian kapan rencananya balik, Luiz? Apa mau liburan di sini dulu?" Tanya ayah Stella di tengah perjalanan kembali menuju hotel.


"Tidak, aku harus segera masuk kantor lagi, jadi besok pagi kami langsung balik," Jawabku, sebisa mungkin menunjukkan nada penyesalan seolah aku berharap untuk bisa berlibur bersama putrinya di sini.


"Papa mama kapan balik?" Tanya Stella dari sebelahku.


"Sama, besok pagi juga. Karena lusa jadwal check up mama ke dokternya jadi tidak bisa berlama-lama di sini."


"Kalau begitu kami bisa antar papa mama ke bandara sekalian," ucapku seraya melirik pada Stella sejenak, dia mengangguk-angguk.


"Oh tidak perlu, Luiz," Ibu Stella yang daritadi kupikir telah tertidur menyahut pelan, "Arahnya kan berlawanan dengan jalur yang kalian ambil."


"Tidak apa, ma. Kami juga tidak terburu-buru," ucapku.


Stella berbalik di kursinya, "Iya ma, kami antar saja ya."


"Oh baiklah nak..."


Setiba di hotel, aku dan Stella berpisah dengan orang tuanya untuk menuju kamar masing-masing. Begitu masuk aku langsung teringat kembali akan telpon ibu dan memberitahu Stella tentang itu.


"Tadi ibuku yang menelpon."


Stella sontak mematung, "Oh..."


"Dia mau kita mampir ke rumah. Sudah lama tidak ke sana, kakek pasti sangat rindu padamu."


Air wajah Stella masih kelihatan kaku walau dia mencoba tersenyum begitu mendengar kata kakek. Stella itu bagai buku yang terbuka, kau hampir selalu bisa tahu apa yang dia rasakan dari ekspresinya saja. Saat ini dia pasti sangat gugup memikirkan kunjungan ke rumahku nantinya walau dia senang bisa bertemu kakek lagi.


Aku jadi menyesal memberitahu dia malam ini ketika suasana hatinya mungkin sedang baik dari bertemu sepupunya tadi. Alih-alih aku yang tidak tahu bagaimana harusnya menghibur dia cuma mengangkat tangan dan menepuk puncak kepalanya pelan. Aku juga mungkin sedikit mengacak rambutnya meski cuma sepersekian detik.


"Semua akan baik-baik saja."


Stella mendongak hingga mata cerahnya bertemu dengan milikku yang gelap, "...Iya."


Aku berdeham, "Aku pakai kamar mandinya duluan kalau begitu..."


"Oh biar aku tampungkan air panasnya."

__ADS_1


Aku mengibaskan tangan, "Tidak perlu, aku sedang tidak ingin mandi air panas."


__ADS_2