Days After You

Days After You
Bab 35 - Tidak Mau Mengalah


__ADS_3

'Cynthia, aku—'


"Achuu!"


Suara dari protagonis pria yang hendak mengungkap perasaan pada protagonis wanita di tv tiba-tiba terpotong suara bersin Stella. Stella yang duduk di ujung lain sofa demi menjaga jarak dariku segera menarik tisu di pahanya untuk membersihkan hidung. Walau sudah tidak demam atau merasa tubuhnya hangat lagi, pilek yang menyerang dia masih belum sepenuhnya hilang, dan karena itu juga dia masih tidak memperbolehkanku untuk mendekati dia kurang dari jarak dua meter.


Padahal aku sudah coba meyakinkan Stella kalau daya tahan tubuhku tidak selemah itu, tapi dia terus beranggapan jika aku barang sedikit saja menyentuh dia, aku pasti akan tertular. Hal ini menyebalkan karena aku ingin membantu tapi dia sendiri yang menghalangiku dari melakukan itu.


Aku melihat cangkir yang ada di hadapannya telah kosong dan baru mau beranjak dari sofa untuk mengambilkan Stella air hangat atau teh di teko lagi, tapi dia langsung terhenyak dan menaruh tangan di depan dada seolah ingin menangkisku.


"Luiz, jangan mendekat!" Seru Stella. Matanya melotot dan dia menaikkan masker yang tadi dia turunkan agar bisa mengelap hidung untuk kembali menutup mulut dan hidungnya. Ya, dia memakai masker di rumah, seheboh itu.


"...Aku cuma mau ambil air hangat atau teh lagi untukmu," jawabku.


Stella membentuk lambang silang dengan kedua tangannya, "Tidak usah, Luiz. Aku akan ambil sendiri saat ingin nanti. Duduklah lagi."


"Stella..." ucapku lepas menghembuskan napas, "Kalau seperti ini terus, aku jadi merasa seperti kuman atau bakteri yang kau hindari, bukan yang berusaha dilindungi dari pilekmu. Berhentilah bersikap paranoid."


Kedua alis Stella bertaut di balik helai poninya, "Aku cuma tidak mau kau tertular. Kau tidak ingin tertular kan, Luiz?"


"Sudah kubilang, aku tidak akan tertular hanya dari menyentuhmu. Kalaupun tertular, kita tinggal saling merawat."


Aku mengitari sofa untuk pergi menuju dapur, "Aku akan ambil air hangat untukmu dan setelah itu aku akan duduk di sebelahmu tak perduli kau mau atau tidak."


"Luiz tunggu—"


Tanpa berhenti, aku lanjut berjalan menuju dapur dan mengambil teko air panas. Aku kembali ke ruang tv dan menuangkan secungkupnya di cangkir Stella.


"Ini minumlah—apa yang kau lakukan?"

__ADS_1


Mataku membesar begitu melihat Stella sudah berselonjor mengisi separuh sofa memanjang yang tadi ku duduki. Kepalanya bertumpu di lengan sofa sementara kakinya dipanjangkan hingga hampir menyampai tempatku duduk tadi.


"Luiz, aku ingin nonton sambil berbaring, duduklah di tempatmu yang tadi."


Oh...jadi begitu cara dia bermain. Oke, tapi dia salah jika aku akan menuruti keinginannya begitu saja. Kelopak mataku menurun sembari meletakkan teko tadi di meja, pandanganku tidak lepas dari dia.


"Oke, kalau itu maumu. Tapi aku juga takkan berubah pikiran dari apa yang kukatakan tadi," mengikuti perkataan itu, aku lantas mengangkat betis berbalut piyama Stella, duduk di bagian tengah sofa di tempat dimana dia berusaha memblokirku dari duduk dan sontak mendaratkan kedua kaki rampingnya ke atas pahaku.


Stella terkesiap, "Luiz—"


Tanganku menahan kakinya dari bergerak turun. Aku melirik dia dari sudut mata, "Kenapa? Kau bilang ingin berbaringkan? Berbaringlah, aku akan duduk di sini."


"Luiz! Turunkan kakiku! Berhentilah bermain-main..." Kedua kaki Stella menggeliat dari terus mencoba turun. Dan aku bohong jika itu tidak menimbulkan suatu 'reaksi' dariku.


Aku berusaha mengalihkan pikiran dengan membayangkan wajah kakek yang sedang mengusap-ngusap janggut atau apapun itu yang bisa membuatku tidak terangsang, semua itu dengan masih sambil menahan kaki Stella, "Uh...tenanglah dan kembali nonton."


"Luiz..."


"Kalau kau tidak bertingkah, kau tahu kau tidak akan berada di posisi ini, jadi jangan memasang wajah seolah kau korban di sini," ucapku kala mendapati Stella memanyunkan bibir sambil menatap layar tv. Kedua pupilnya bergerak turun untuk melirikku tapi dia tidak mengatakan apapun.


"Kau mau minum?"


Stella menggeleng.


"Bagaimana lilin aromaterapi yang kubelikan untukmu, kau suka aromanya? Kudengar yang itu bagus untuk relaksasi dan sakit kepala."


Stella mengangguk.


Aku menghela napas, "Sekarang kau tidak mau bicara denganku?"

__ADS_1


"...Aku mau nonton," gumam Stella sambil menunjuk televisi.


Tahu takkan mendapat respon yang banyak dari Stella yang ketaranya agak ngambek itu, aku memilih untuk tidak meneruskan obrolan lagi. Aku lantas berjerih supaya fokus ke tv dan bukan pada keberadaan kaki Stella di atas pahaku. Aku selalu sadar kalau Stella punya postur yang cenderung ramping tapi aku tidak pernah benar-benar memperhatikan kalau dia punya kaki yang begitu indah. Jemari kuku kakinya begitu rapi dan cantik, betisnya kecil namun sedikit berisi. Belum lagi, sebagai hasil dari dia yang menggeliat-liat tadi, tanganku jadi berkontak langsung dengan kulit kakinya yang mulus—


Apa yang kupikirkan? Tidak, fokus Luiz. Nonton tv dan jangan jadi pria freak. Fokuslah.


"Um...Luiz," Suara Stella membawaku kembali ke realita, aku menengok pada dia yang lalu menunjuk kakinya, "Itu...jangan meremas kakiku."


"Ah maaf."


Kedua pipiku seketika menghangat tapi aku bertindak seolah tidak ada yang aneh. Aku merilekskan tubuh dan kembali menatap layar tv. Aku dan Stella berada di posisi yang sama hingga acara drama di tv berakhir dan dia hendak pergi tidur. Kini, dia tidak protes lagi saat aku turut mengikuti dia ke kamar untuk membawakan cangkir berisi air hangatnya.


Menaruh cangkir di atas nakas, aku melihat obat-obatan yang diberi dokter tertata rapi di sana.


"Obatmu tinggal ini?" Tanyaku sambil mengangkat salah satu strip obat yang isinya tinggal dua keping.


Stella yang membaringkan tubuh di antara boneka-bonekanya dan menarik selimut mengangguk pelan, "Iya...tapi aku sudah baikan, jadi tidak perlu minta obat lagi ke dokter."


"Oke, tapi jika masih belum betul-betul sembuh juga, aku akan menelpon dokter lagi," Aku menaruh obat tadi kembali dan beralih pada Stella, "Tidurlah. Panggil aku jika kau butuh sesuatu. Tidak perlu segan."


"Iya...terima kasih ya Luiz. Maaf jika tadi aku membuatmu sebal," Stella berucap lirih dari balik selimut yang kini telah dia tarik lagi hingga menutupi seluruh tubuh hingga dagunya. Mata bulatnya menatapku lekat.


Hatiku menghangat. Aku menganjurkan tangan untuk mengacak rambutnya, "Tidak apa. Aku mengerti kau berniat baik. Tidurlah."


Stella menganggut dan menutup matanya. Aku merapikan beberapa boneka yang kelihatan terlalu memadati areal kepalanya agar membuat dia lebih nyaman.


"Ingat untuk panggil aku jika butuh sesuatu," ucapku sebelum akhirnya mematikan lampu dan pergi keluar.


Di luar aku berdiam diri sejenak. Tak pernah sekalipun aku membayangkan kalau diriku bakal mampu menunjukkan perhatian dan kasih sayang pada seorang wanita yang bukan ibu atau kakakku. Stella benar-benar berhasil membawa sisi lemah lembut yang bahkan tidak pernah kusadari ada dalam diriku untuk mencuat ke permukaan.

__ADS_1


Jika wanita yang kunikahi bukan Stella melainkan orang lain, akankah aku pada satu poin juga berdiri di sini dan memberi perhatian serta perlakuan yang sama untuk wanita itu?


Mungkin iya, mungkin tidak. Aku tidak akan pernah tahu karena aku juga tidak mau membayangkan itu, namun satu hal pasti adalah ada sesuatu dalam diri Stella—keseluruhan pribadinya—yang membuatku terikat dan kuyakin tidak ada wanita lain yang dapat memicu perasaan itu dariku selain dia.


__ADS_2