
Seminggu setelah kondisi Stella kembali membaik—yang mana juga berarti telah lewat sebulan dari rencana awalku untuk membawa dia pergi kencan—aku akhirnya bisa mengajak dia ke salah satu restaurant fine dining untuk makan malam bersama.
Aku telah siap duluan dengan mengenakan salah satu setelan hitamku dan sedang menunggu dengan bersandar di punggung sofa ketika Stella yang berbalut gaun biru sederhana dan memakai sepatu juga tas selempang putih akhirnya turun. Dia mengikat rambutnya setengah dan menjepitnya dengan jepitan pita yang berwarna senada dengan gaunnya. Ditemani senyum merekah yang selalu melekat di wajahnya, dia tampak sungguh manis malam ini.
"Luiz, maaf membuatmu menunggu."
"Tidak apa, aku juga baru selesai," ucapku. Seulas senyum terukir di wajahku sementara otakku berusaha mengukir sebuah kalimat yang tepat untuk memuji penampilan Stella kali ini. Dari yang aku baca, aku tidak boleh berlebihan dalam pujianku.
Belum sempat aku mengutarakan satu kata lagi, Stella mendahuluiku.
"Seperti biasa, kau selalu terlihat keren dalam setelanmu itu, Luiz."
"Seperti biasa?"
"Iya, seperti saat kau pergi kerja."
Apa itu pujian atau Stella secara tidak langsung bilang gaya berpakaianku ini membosankan? Memang hampir seluruh isi lemariku adalah kemeja, jas, celana kain dan setelan lengkap. Tapi itu karena aku lebih suka gaya semi-formal ketimbang kasual, kasual yang kumiliki pasti hanya sebatas kaos polo, jeans hitam dan sweater. Apa itu buruk?
"Luiz?" Stella mengerjap-ngerjap menatapku dan aku baru sadar bulu matanya terlihat lebih lentik dari biasa.
"Apa aku terlihat membosankan bagimu?" Mulutku melontarkan pertanyaan itu sebelum bisa dihentikan.
"Eh...tidak sama sekali, Luiz. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
Aku menggeleng, "Bukan apa-apa, aku hanya ingin tahu."
"Oh," Stella tertawa kecil, "Jangan khawatir, kau tidak pernah tampak membosankan di mataku, Luiz."
Detak jantungku meningkat dan aku lekas mengalihkan pandangan, "Terima kasih kalau begitu. Kau juga tampak manis malam ini."
"O-oh..." Giliran Stella yang gelagapan dengan wajah memerah, "Terima kasih juga, Luiz."
"Kita berangkat sekarang?"
"Ayo."
Dalam perjalanan menuju restoran, aku melihat langit tidak menampakkan bintang sama sekali, mungkin karena bekas hujan tadi sore jadi awan gelap masih menutupi mereka semua. Tapi itu pun tidak mengurangi suasana hatiku yang sebaliknya malah cerah, aku sudah janji pada diri sendiri akan membuat makan malam kali ini terasa romantis, jadi itu yang akan aku lakukan juga malam ini.
__ADS_1
Restoran dimana aku memesan tempat adalah salah satu yang ternama di Kota A. Sering kali supaya bisa kebagian meja, seseorang harus memesan hampir sebulan sebelum waktu berkunjungnya, namun berbekal koneksi dan identitasku, aku bisa mendapat satu ruangan VIP dengan mudah meski baru memesan satu hari sebelumnya.
"Oh sudah lama sejak terakhir kemari," ucap Stella sesampai di restaurant yang desainnya banyak menggunakan warna emas dan hitam itu, "Terakhir aku pergi bersama ayah dan ibu hampir dua tahun yang lalu. Ternyata masih sangat ramai juga."
"Tidak apakan kita makan di sini?" Tanyaku untuk memastikan. Dan leganya Stella mengangguk sebagai respon.
Kami melangkah masuk dan mengikuti pelayan yang begitu mendengar namaku langsung mengantar menuju ruangan yang dimaksudkan untuk kami. Namun sebelum sampai, kami malah bertemu wajah-wajah familiar yang kelihatannya selalu berada dalam radar yang sama setiap kali aku dan Stella pergi berdua.
"Pak Luiz!" Seru Rio dan melambai, di sebelah dia, istrinya Melinda turut tersenyum lebar. Mereka yang datang dengan setelan dan gaun mewah berwarna senada kelihatannya baru mau masuk ke salah satu ruangan VVIP lain.
"Rio," sapaku.
"Wah siapa sangka bakal ketemu bapak dan ibu disini. Halo Bu Stella, selamat malam," Rio tersenyum lalu menunduk pada Stella.
"Halo Stella, apa kabar?" Melinda turut menyapa via mencium kedua pipi Stella.
"Halo Melinda dan Pak Rio, aku baik," sapa Stella balik. Kali ini Stella tidak begitu terkejut lagi dengan keenergikan pasangan di hadapan kami ini. Dan dari cara dia berinteraksi dengan Melinda sekarang, tampaknya sejak pertama bertemu di Mall dulu, mereka berdua sudah cukup sering saling kontak atau mengobrol. Itu sebuah berita bagus, karena berarti Stella punya orang lain untuk menjadi teman ngobrolnya.
"Halo Pak Luiz."
"Halo Bu Melinda."
Aku melirik Stella sejenak, "Hanya ingin makan malam."
Melinda menepuk tangan di depan dada, "Kalau begitu seruangan saja dengan kami. Ruangannya kan muat untuk satu keluarga. Jadi kita bisa mengobrol juga sambil makan, kau setuju kan Rio?"
Belum pernah aku benar-benar berharap untuk bisa melakukan telepati sebelum malam ini, tapi momen aku mendengar ajakan Melinda, mataku langsung menatap Rio dalam-dalam sebagai signal agar dia mengerti kalau aku hanya ingin berdua saja dengan Stella kali ini.
Beruntung itu bukan hal sulit untuk dicerna seorang Rio yang sudah melalang buana bersamaku di dunia bisnis dalam jangka waktu yang cukup lama, sebab begitu bertemu pandang denganku, dia segera mengerti dan beralih merangkul istrinya, "Mel, biarkan Pak Luiz dan Bu Stella mendapat privasi mereka. Kita makan malam berdua saja, oke?"
Aku hendak mengangguk namun lengan jasku ditarik pelan dari samping. Stella mendongak dan menatapku melalui kedua mata bulatnya, "Luiz, tidak apa kan?"
Oh tidak. Jangan lagi. Aku telah menunggu lama untuk kesempatan ini agar bisa berdua saja dalam suasana yang romantis bersama dia, dan aku harus merelakannya lagi?
Kepalaku bergerak naik turun, kedua ujung bibirku kutarik naik agar membentuk senyum, "Iya, tentu saja. Rio, kau dan istrimu bisa ikut kami. Aku sudah memesan ruangan VVIP, di sana lebih leluasa."
"B-baik Pak."
__ADS_1
"Bagus, ayo Stella," Melinda tersenyum lebar dan menggaet lengan Stella untuk kembali berjalan mengekor langkah pelayan.
Sementara itu Rio berbisik meminta maaf atas ketidakpekaan istrinya itu kepadaku, "Maafkan istri saya pak."
"Sudahlah, aku hanya mengikuti kemauan Stella."
Dalam ruangan yang cukup untuk memuat lebih dari sepuluh orang itu, hiasan lilin dan balon yang telah kupesan kepada pihak restaurant untuk ditata seromantis mungkin langsung menyambut pemandangan kami semua. Rasanya aku ingin berubah pikiran dan menarik Rio dan istrinya agar keluar dan meninggalkan aku dan Stella, namun aku cuma bisa mengekor mereka yang kini melihat ruangan dengan takjub.
"Aku tidak ingat mereka menghias ruangan seperti ini," gumam Melinda meraba sebuah balon hati merah di dekat pintu. Untungnya pelayan yang mengantar telah pergi, kalau tidak mereka pasti akan tahu jika akulah yang khusus memesan dekorasi ini.
Di atas meja juga telah tersaji dalam bucket beberapa botol wine merah beserta gelas champagne. Rio menatapku lekat begitu melihat seluruh persiapan itu, tapi aku mengabaikan dia dengan mengambil satu botol dan menuangkannya ke gelasku dan Stella.
"Terima kasih, Luiz," ucap Stella dan aku tersenyum tipis.
Baru juga aku mengangkat gelasku, suara Melinda yang mendadak terkesiap sudah menahan gerakanku untuk minum.
"Oh astaga," Melinda melotot seraya menatap aku, Stella dan Rio bergantian, dia menutup mulutnya dengan tangan, "Astaga, apa aku sudah mengacau kencan kalian berdua di hari yang spesial ini?"
"Hari spesial?" Tanya Rio yang juga ikut keheranan dengan tingkah istrinya.
Melindak mengangguk, "Iya, aku baru ingat, inikan hari ulang tahun Stella! Pak Luiz, kau pasti memesan semua ini untuk memberi kejutan pada istrimu bukan? Rio ayo berdiri, kita harus pergi."
Tubuhku langsung kaku. Bagian memberi kejutan boleh dibilang ada benarnya tapi ini bukan untuk merayakan ulang tahun Stella. Aku...bahkan tidak tahu hari ini dia berulang tahun. Kepalaku perlahan bergerak untuk menoleh.
Stella tertawa kecil dan mengibaskan tangan, "Tidak-tidak, ini cuma makan malam saja. Melinda dan Pak Rio bisa tetap di sini."
Mata Stella melirikku selama sekelibat dan aku membenci diriku karena tidak tahu akan tanggal penting begini. Lelaki macam apa yang tidak tahu akan ulang tahun istrinya? Tapi itu wajar dalam kasusku, aku dan Stella kan tidak pernah saling mengucap selamat ulang tahun atau sejenisnya—Oh tidak. Stella mengucapkan selamat ulang tahun untukku tahun lalu, aku saja yang tidak pernah melakukannya.
"Aku baru ingat, tadi pagi waktu buka Facebook, aku dapat notifikasi kalau hari ini kau berulang tahun Stella. Walau aku sudah post ucapan di sana, aku akan bilang lagi. Selamat ulang tahun ya, Stella," Melinda menjulurkan tangan dan Rio mengikutinya dengan ucapan selamat serupa.
Aku merasa konyol namun tetap memainkan peran seolah aku memang merencanakan semua ini dengan maksud untuk merayakan ulang tahun Stella. Makan malam itu berlangsung kembali dengan damai dan seluruh menu spesial yang juga kupesan langsung pada kokinya juga memuaskan seluruh dari kami.
Dalam perjalanan pulang dari restoran setelah itulah aku baru mengangkat suara pada Stella perihal hari spesialnya ini, "Kenapa kau tidak bilang jika ini hari ulang tahunmu?"
"Kau tidak pernah bertanya dan kupikir itu takkan penting bagimu."
Aku terdiam, tanganku terkepal dalam saku. Wajar saja jika dia pikir begitu, tahun lalu aku memang sama sekali tidak akan mempedulikan hal-hal begini.
__ADS_1
"...Happy birthday," ucapku pelan.
Dari sudut mata aku melihat Stella menoleh dengan senyum khasnya, "Terima kasih, Luiz."