
Aku memandang Stella mengetuk pintu unit B-30. Di hari terakhir tahun ini, dia kelihatan begitu ceria dan energik. Padahal dari pagi hingga siang tadi dia sibuk memasak beef wellington dan klapertaart dalam porsi besar untuk dibagikan kepada keluarga dan tetangga. Mulai dari kakek-nenek yang tinggal di depan unit kami, para petugas kebersihan dan sekuriti yang harus tetap bekerja di hari libur ini, Naomi dan Kevin, hingga yang untuk dibawa saat acara tahun baru nanti. Saat kau pikir itu akan menguras seluruh tenaganya, dia malah kelihatan semakin semangat di sore hari.
Pintu di hadapan kami terbuka. Naomi menyunggingkan senyum begitu melihat kami dari balik pintu, "Ah, Stella, Pak Luiz. Selamat sore."
"Naomi, selamat hari terakhir tahun ini!" Seru Stella, "Aku membuat sedikit makanan untukmu dan Kevin. Aku ingin sekali mengundang kalian makan malam lagi hari ini untuk merayakan tahun baru bersama, tapi aku dan Luiz harus datang ke acara keluarga hari ini."
"Oh ini banyak sekali. Kevin pasti akan sangat senang makan semua ini. Terima kasih ya."
"Iya, sama-sama Naomi."
Aku turut memberikan bingkisan berisi satu set wine merah dan putih dalam botol kepada Naomi setelah dia kembali dari meletakkan makanan tadi di dalam. Aku memesan itu cukup banyak dari salah satu temanku yang memang pengusaha wine dan minuman alkohol untuk diberikan ke teman dan keluarga sebagai hadiah tahun baru.
Mata Naomi sontak membelalak begitu menerima bingkisan itu, "Ah...? Yang begini...bukannya sangat mahal ya?"
Aku terkejut melihat reaksi Naomi. Kalau dia bisa tinggal di apartemen ini, harusnya dua botol wine seperti ini tidak begitu mengejutkan bagi dia. Apalagi aku juga tidak membeli yang terlalu mahal.
Aku menggeleng pelan, "Tidak juga. Aku hanya kebetulan membelinya untuk kerabat kami jadi kupikir kenapa tidak sekalian saja. Kau juga sudah banyak menemani Stella selama disini."
Stella mengangguk, lalu berbisik, "Iya. Dan Naomi, jangan sampai suamimu melihatnya."
"Disembunyikan pun, aku takut dia punya penciuman yang tajam masalah minuman begini," ucap Naomi tertawa pelan meski beberapa saat cahaya matanya redup, "Tapi sungguh, terima kasih untuk semua ini. Kuharap pesta bersama keluarga kalian berjalan lancar. Dan selamat hari terakhir tahun ini juga Stella, Pak Luiz. Kevin masih belum bangun dari tidur siang, kalau tidak aku akan memanggil dia kemari."
"Tidak apa, Naomi. Salam saja buat Kevin ya. Sampai jumpa tahun depan!" Ucap Stella dengan cengiran khasnya, sementara aku mengikuti dengan salam singkat, "Sampai jumpa."
Setelah selesai membagikan makanan dan wine buat orang-orang yang kami kenal di sekitar rumah, aku dan Stella lantas kembali ke unit kami. Sebuah hela napas terbebas dari mulutku, walau memakai lift rasanya pegal juga bolak-balik dari lantai lima belas ke lantai lain untuk mengambil dan mengantar wine dan makanan-makanan itu.
"Luiz, semua wine itu apa bakal muat di dalam mobil?" Tanya Stella saat kami baru masuk. Dia menunjuk ke arah enam puluh set wine di ruang tamu yang rencananya mau diberikan kepada keluarga dan kerabat kami pada saat acara tahun baru di rumah orang tua Stella malam ini.
Aku melirik bingkisan-bingkisan itu sejenak sebelum berjalan ke arah wastafel dan menyalankan keran untuk mencuci tangan, "Aku sudah menelpon kakak ipar untuk membantu membawa beberapa di mobilnya nanti. Dia bakal datang sore nanti bersama kakakku dan anaknya. Sekalian mereka juga mau datang lihat-lihat karena sudah lama tidak mampir."
"Oh, benar. Kak Esther sakit waktu pesta pernikahan dulu, dia belum sempat mampir kemari tapi harus langsung pergi dengan suaminya setelah sembuh. Cuma orang tua kita yang datang berkunjung waktu itu."
"Hm. Itupun hanya sekali itu saja."
Stella tertawa pelan, "Mau bagaimana lagi, itu karena kau sendiri yang bilang pada mereka kalau kau lebih senang jika kita yang mengunjungi mereka ketimbang mereka yang kemari, Luiz."
Itu benar. Aku lebih suka jika aku yang pergi ke rumah orang ketimbang mereka yang datang kemari. Tak ada alasan khusus tapi sudah begitu sejak pertama aku memutuskan untuk tinggal sendiri di sini. Ayah dan ibuku sudah paham akan sifatku itu sejak dulu jadi mereka secara natural tidak mempertanyakannya, tapi bagi ayah Stella untuk benar-benar mendengarkan keinginanku agar tidak berkunjung dan tidak protes sama sekali bisa kukatakan cukup membuatku terkejut. Sepertinya dia benar-benar mempercayakan Stella padaku.
__ADS_1
Di lain sisi, kakakku Esther yang kebiasaan tidak pernah mendengarku itu, dulu sering datang berkunjung kemari. Namun sudah dari dua tahun lalu, dia belum mampir sama sekali karena sibuk. Dia dan suaminya mulai banyak berpartisipasi dalam sebuah organisasi sosial dan sering pergi keluar kota dan negeri untuk itu jadi dia jarang untuk bisa pulang kemari. Dia bilang kalau ingin ikut ayah dan ibu mampir kemari sehabis pesta pernikahan dulu tapi dia malah sakit pada hari itu. Dan begitu sembuh, dia sudah harus langsung ikut bersama suaminya ke luar negeri sebelum kembali lagi beberapa bulan lalu.
"Luiz aku pergi bersiap-siap dulu kalau begitu. Kalau terlalu sore, nanti Kak Esther keburu datang," ucap Stella menuju tangga.
Aku mengangguk, "Oke. Aku juga mau mandi sebentar lagi."
Dua jam berlalu. Tepat pukul enam pas, bel di pintu depan berbunyi.
Stella yang kini sudah memakai gaun biru polos selutut itu pergi membuka pintu dengan langkah ringan. Berbeda saat berhadapan dengan ibu, dia tidak merasa tertekan sama sekali kalau bersama kakakku.
"Halo kak Esther, kak Bram, halo Ale sayang. Mari masuk."
"Hai, Stella. Apa kabar? Kau tampak manis dengan gaun itu. Oh dan lihat apartemen ini, tidak banyak yang berubah dari terakhir aku berkunjung kemari. Saat itu Luiz masih bujang dan sekarang dia sudah beristri. Betapa cepatnya waktu berlalu."
"Esther lepas sepatumu dulu."
"Oh iya, aku sampai lupa karena terlalu bersemangat."
"Mama endong!"
Dari tangga, aku bisa mendengar suara-suara dari pintu depan bahkan sebelum tiga orang itu melangkah masuk. Kakakku Esther, suaminya Kak Bram, dan anak laki-laki mereka yang masih lima tahun Alejandro melangkah menjelajah ke ruang tamu.
Kak Esther yang menggendong Ale kecil menoleh padaku, "Luiz, apa kabar?"
"Halo Luiz," Kak Bram yang sifatnya hampir sama pendiam denganku tapi jauh lebih ramah itu merangkul pundakku dan tersenyum. Saat itu Kak Esther sudah pergi ke ruangan lain bersama Stella, berkeliling dan menanyakan segala hal ini itu seolah dia baru pertama kali kemari. Tawa mereka menggema sampai ke ruang tamu.
"Kakakmu rindu sekali datang kemari, katanya dia ingin lihat seperti apa apartemenmu sekarang."
"Dia pasti kecewa kalau begitu. Tidak banyak yang berubah."
Kak Bram mengedarkan pandangan, "Hmm, kelihatannya begitu, tapi suasananya sudah tidak sesuram dulu."
Aku memberi 'tatapan' pada Kak Bram tanpa bersuara dan dia tertawa.
"Hei, aku tidak bermaksud menyinggung seleramu," ujar Kak Bram.
Kuharap begitu. Karena orang yang masih tinggal di rumah mertua mereka setelah menikah, tidak berhak mengkritik rumah orang yang berusaha untuk hidup sendiri. Atau berdua karena aku sudah menikah sekarang. Ya, Kak Bram dan Kak Esther tinggal bersama kedua orang tuaku di mansion dari sejak mereka menikah.
"Tidak apa. Kak Bram, terima kasih lagi sudah mau membantu."
__ADS_1
"Tentu saja. Ini bukan apa-apa."
Setelah Kak Esther dan Ale kecil puas memakan kue kering yang dibuat Stella, dan aku dan Kak Bram juga telah memasukkan seluruh bingkisan wine ke mobil dengan dibantu beberapa petugas kebersihan yang kebetulan lewat, kami pun berangkat.
Acara tahun baru yang disiapkan orang tua Stella tidak semeriah perayaan Natal yang disiapkan ibuku, tapi terasa jauh lebih baik sebab tidak mengundang pemain musik yang jelas sekali adalah orang asing atau kue mewah yang pada akhirnya hampir tidak tersentuh sampai akhir acara. Kami makan malam, berdoa dan mendengar wejangan kakek sebagai bagian penutup tahun. Karena Kakek adalah anggota keluarga paling senior diantara kedua keluarga besar ini, semua secara alami begitu menghormati dia dan bersedia memasang telinga untuk setiap nasihatnya.
Setelah itu, seluruh keluarga pergi keluar untuk menyalakan kembang api demi menyambut tahun baru.
"Luiz, apa keluargamu juga biasa menyalakan kembang api saat tahun baru?" Tanya Stella sambil memegang kembang api percik di tangannya. Cahaya dari percikan api menyinari separuh wajahnya.
Aku mengangguk, memegang kembang api percikku sendiri di tangan, "Iya. Tapi biasanya kami pergi ke lapangan dekat rumah untuk itu."
"Ah, karena rumahmu cukup berdempet dengan rumah lain ya."
"Begitulah."
Mansion keluarga Stella terletak di dataran tinggi yang lumayan jauh dari pusat kota dengan hanya ada beberapa rumah saja di sekitar situ, jadi berjalan beberapa langkah saja kau sudah bisa menemukan tanah lapang yang cukup untuk menyalakan kembang api tanpa harus khawatir akan mengotori atap rumah lain dengan abu bekas kembang api.
Orang tuaku dan Stella serta anggota keluarga lain berdiri di beberapa areal sekitar sambil menunggu. Seluruh kembang api besar masih belum dinyalakan, aku hanya dipaksa Stella untuk menunggu waktu hitung mundur tahun baru dengan menyalakan ini.
"Luiz, apa harapan atau resolusimu untuk tahun baru nanti? Kalau aku ingin bisa jadi orang yang lebih dewasa lagi, ingin bisa menyelesaikan seluruh buku resep baruku dan agar semuanya dipermudah ke depannya. Ah, dan kalau sempat aku juga ingin sekali belajar bahasa baru."
Bahasa baru? Itu menarik. Sesuatu yang tidak kusangka dari seorang Stella.
Aku berpikir sejenak sebelum menjawab, "Aku harap...seluruh urusan perusahaan diperlancar."
"Itu saja?"
"Dan agar aku tidak bertemu dengan orang-orang menyebalkan lagi saat perjalanan bisnis."
Aku juga berharap agar semua baik-baik saja diantara aku dan dia hingga tenggat waktu kontrak pernikahan kami tiba dan bagiku untuk dapat mengurangi kecanggunganku di sekitar dia, tapi aku tidak perlu mengatakan semua itu padanya.
Stella tertawa halus, "Semoga semua harapan kita terkabul kalau begitu."
Tanpa kusadari, hitungan mundur oleh para anggota keluarga lain telah dimulai. Aku lantas membantu Stella berdiri dengan tanganku yang kosong.
"6...5...4...3...2...1! Selamat tahun baru!!!"
Semua orang berseru dan saling berpelukan. Kembang api dengan berbagai bentuk mulai meluncur ke langit, bagai memenuhi kanvas polos biru tua dengan corak bunga berbagai warna.
__ADS_1
"Selamat Tahun Baru, Luiz!" Seru Stella.
Aku mengangguk, "Selamat Tahun Baru, Stella."