
Sudah lewat minggu kedua sejak cuaca mendung disertai hujan badai datang menghinggapi kota, aku hanya bisa memandang ke luar jendela ruanganku di kantor dengan wajah memanjang. Di titik ini aku sudah menyerah berharap pada rencana piknik dan hanya ingin mengajak Stella makan malam di restaurant saja—setidaknya dengan begitu aku masih bisa membuat reservasi khusus untuk sebuah meja dengan suasana romantis di salah satu tempat fine dining—tapi kenyataannya rencana itu tetap harus ditunda sebab Stella yang malah terkena pilek sejak dua hari lalu.
Masih terukir jelas wajah merah dan mata kurang fokus Stella saat turun tangga pagi itu. Dia berbicara dengan slur sambil sesekali menarik ingusnya. Hatiku mencelos melihat dia seperti itu.
Belum lagi akibat dari demam dan pilek yang Stella alami—walaupun kata dokter tidak begitu berat—dia kularang untuk pergi keluar kemanapun. Dan itu termasuk untuk tidak membawa makan siang untukku sampai saat dia telah benar-benar pulih. Suasana hatiku karena itu—singkatnya—jadi kian buruk.
Kenapa...kenapa harus begini?
Kesenduan yang kurasa dalam meratapi kemalangan seluruh rencanaku masih berlanjut ketika bersamaan suara pintu yang di ketuk mengusik benakku.
"Masuk," ujarku.
Asumsiku yang mengira itu Rio yang tadi kupesan untuk membeli makanan dari salah satu kantin di cafetaria yang terletak di lantai satu terbukti salah begitu melihat perempuan asing yang melangkah masuk. Aku mengernyit sesaat begitu berusaha mengingat apa aku punya janji bersama orang lain lagi yang kulupakan hari ini sebelum aku sadar kalau perempuan itu adalah gadis yang ibu bawa dulu.
Siapa namanya—Lusi? Lu...Ah Luna. Aku hampir lupa tentang keberadaannya sebab telah menyerahkan segala urusan yang berkaitan dengan dia pada Rio. Aku tahu itu pasti akan membuat kuping ibu cukup panas saat tahu, namun sudah itulah yang harus kulakukan, lagipula salah satu tugas Rio sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadiku juga termasuk dalam membantu menangani sejumlah masalah kecil yang cenderung tak begitu penting.
Alisku bertaut, apalagi ketika menyadari dia datang bukan dengan tangan kosong melainkan membawa sebuah nampan dengan beberapa mangkuk dan gelas di atasnya.
"Ada yang kau perlukan di sini..?" Tanyaku.
Luna tersenyum menampilkan kedua relung pipinya yang dalam, "Tadi waktu di kantin, aku dimintai tolong oleh Pak Rio untuk membawakan kakak makanan karena tiba-tiba saja dia dipanggil oleh orang dari departemen lain untuk membantu sesuatu."
Semangkuk sup asparagus seafood, salad dan teh hangat yang mana bukan pesananku ditata di hadapanku. Mataku bergerak melihat kedua menu itu dengan heran.
"Aku tahu kak Luiz bukan memesan ini tapi kurasa mendung-mendung begini makan sup yang hangat jauh lebih baik. Kak Luiz juga cukup sibuk belakangan ini kan, makanan sehat akan jauh lebih baik untuk tubuh kakak."
Hah...sejak kapan dia menjadi ahli giziku? Siapa orang di luar sana yang akan mengganti pesanan seseorang begitu saja tanpa konfirmasi terlebih dahulu seperti ini?
Aku mengusap kening pelan, "Aku mengerti intensi baikmu, tapi tolong jangan mengganti pesananku begitu saja, aku memesan lasagna dan hot chocolate maka itulah yang juga ingin kumakan. Bukan sup asparagus, salad buah ataupun teh. Dan..kau bekerja di sini bukan untuk membawakanku makanan, jadi kembalilah ke lantaimu. Biarkan Rio yang melakukannya."
Meski aku berharap itu sudah cukup untuk membuat Luna sadar akan posisinya. Dia tidak kelihatan goyah, alih-alih dia maju selangkah dan merendahkan pundaknya sejenak dengan masih mengenakan senyum yang sama sejak masuk tadi, "Kak Luiz aku minta maaf, tapi aku hanya berusaha mengikuti kata ibu kakak untuk memperhatikanmu yang selalu sibuk dan kadang makan tidak teratur. Pak Rio hanya mendengarkan keinginanmu untuk makan ini dan itu tapi kau butuh seseorang untuk mengatur pola makan sehatmu."
__ADS_1
"Aku tahu, aku sudah punya istri yang akan melakukan itu. Karena itu juga, sekarang aku bilang padamu untuk tidak melakukan ini lagi. Tak peduli itu kata ibuku atau tidak, atasanmu di sini adalah aku, jadi kau mengikuti perkataanku. Pekerjaanmu ada di bagian keuangan dan bukan ini, kau tentu tidak mau masa empat tahun kuliah di luar negeri yang kau habiskan hanya berakhir dengan membawakan makan untukku kan?"
"Aku administrasi kak."
"...Iya, maksudku itu. Intinya sekarang kau bawa lagi semua ini kembali dan panggil Rio masuk kemari," ucapku final.
Luna menghela napas pasrah, namun sebelum dia bergerak mengambil mangkuk dan gelas tadi, dia terlebih dahulu mengibaskan rambut panjangnya ke belakang dan menarik bagian kerah kemejanya sekilas hingga mengekspos kulit putih mulusnya yang tersembunyi saat menunduk di hadapanku.
Aku memejamkan mata, "Pakai baju yang lebih sopan saat bekerja dan jaga sikapmu saat di depan orang lain. Kuingatkan sekali lagi, kau di sini untuk bekerja. Mengerti?"
"Aku mengerti Kak Luiz, aku cuma refleks saja karena agak panas tadi. Omong-omong kak..." Aku membuka mata dan mendapati Luna tersenyum lebar ke arahku, "Alasanku berani kemari dengan makanan ini karena kulihat Kak Stella tidak pernah kemari lagi sejak dua hari lalu? Aku sedikit khawatir dan berpikir untuk mengikuti saran ibu untuk menengokmu."
Sudah cukup. Gadis ini sudah melewati batas dari mencampuri kehidupan pribadiku saat dia bukan siapa-siapa yang berhak melakukannya. Bahkan Stella di awal pernikahan tahu batasan-batasan yang tidak boleh ia lewati dan berusaha agar tidak mengangguku sebisanya. Nyatanya Stella lebih dewasa ketimbang gadis yang berusaha keras untuk terlihat lebih tua dari umurnya ini.
"Stella sedang sakit. Kau tidak perlu kemari lagi setelah ini. Kembalilah."
"Kau tidak boleh terus dingin padaku kak, ibumu takkan senang," Luna memiringkan kepalanya, "Dan tidak perlu berpura-pura di hadapanku, aku tahu pernikahan kakak hanya kontrak. Setelah itu kakak akan bersamaku."
Mataku menyipit dan kebaikan yang tersisa dariku sirna dalam sekali kedipan, "Apa kau mengancamku dengan ibuku?"
"Fakta apa? Fakta kalau kau adalah seorang gadis yang belum lama lulus sekolah dan sudah berusaha menggoda atasannya? Sifatmu sangat jauh dari kakakmu dan bahkan Stella, kau tidak berkelas sama sekali..."
Kata-kata itu berhasil menggoyahkan kepercayaan diri Luna, wajah tenangnya perlahan berubah masam, "Jangan bandingkan aku dengan Caryna atau istrimu yang jelek itu! Aku lebih baik dari mereka berdua, dan yang paling sempurna dan cocok untukmu."
"...?" Wah. Perubahan sikap itu membuatku terkejut.
Luna—walau memiliki penampilan yang kalem dan lemah lembut di luar—ternyata hanyalah perempuan delusional yang egois dan berwajah dua. Dia berhalusinasi seolah dunia ini hanya berputar untuk dia seorang, sifatnya terbanting jauh dari kakaknya Caryna yang walau bagiku cenderung terlalu bergaul bebas masih punya kelas dan standar. Aku yakin dia tidak pernah menunjukkan sisi dirinya yang ini di depan ibu. Kalau tidak, mana mungkin ibu bisa menyukai dia.
"Keluar," ucapku. Jika dia menyadari nada dingin dari kata itu, maka dia begitu batu untuk tetap bertahan di posisinya. Aku mulai muak dengan obrolan ini.
Luna langsung mengembalikan wajah kalem dan ramahnya, dia memasang senyum manis, "Kak Luiz, jangan begitu, aku minta maaf—"
__ADS_1
Aku menggeleng, "Keluarlah sebelum aku mencoret namamu dari daftar karyawan di sini."
"Tidak. Kakak tidak akan berani melakukan itu, ibu kakak—"
"Ibuku tidak punya kuasa sama sekali di sini. Keluarlah."
"Ck," Luna yang akhirnya mengerti juga kalau keberadaannya tidak diinginkan di sini lantas berbalik menuju pintu bersama nampan berisi seluruh makanan yang dia bawa masuk tadi. Dia bergumam sesuatu tapi aku tidak perduli untuk mencaritahu apa itu.
Sepeninggal Luna, Rio masuk tidak lama kemudian. Wajahnya berkeringat dan dia tampak pucat.
"Pak Luiz..."
Keningku mengkerut, "Ada apa denganmu?"
"T-tidak kenapa-kenapa pak, cuma tadi nona Luna..."
"Hmm. Kenapa kau membiarkan dia yang pergi mengantar makanan untukku? Dia bahkan tidak membeli apa yang kupesan."
Rio menggigit bibir bawahnya dan menatapku ragu, "Soal itu pak, Nona Luna bilang jika dia memang ada janji pribadi untuk bertemu dengan anda, jadi saat dia menawarkan diri untuk membelikan makanan untuk anda, saya tidak menolak...Tapi saya sudah bilang detail pesanan anda tadi pak. Saya tidak tahu kalau Nona Luna bakal memesan makanan lain."
Kepalaku menggeleng, "Lain kali jika aku memintamu melakukan sesuatu itu berarti kau juga yang harus menyelesaikan hal itu. Jangan asal menyuruh orang lain untuk menggantikanmu. Mengerti?"
"Saya mengerti, pak. Maafkan saya atas ketidaknyamanan yang tadi, saya pesankan makanan bapak sekarang," Rio membungkuk dan berbalik menuju pintu.
Aku mengibaskan tangan kanan dan memijat hidung dengan tangan satunya, "Lupakan. Nafsu makanku sudah hilang. Kembalilah ke mejamu dan selesaikan tugasmu yang lain."
Rio mengangguk, "Baik pak. Saya mengerti."
Suara langkah kaki menjauh dan pintu tertutup dari Rio yang meninggalkan ruanganku menyusul setelah itu.
Sekali sudah hilang, nafsu makanku takkan kembali lagi dalam jangka waktu yang lama. Menyaksikan perubahan sikap dari Luna tadi cukup membuatku merasa tidak nafsu dan mulas untuk makan sesuatu, lebih mendingan aku melampiaskan pikiranku ke hal lain saja.
__ADS_1
Sungguh, ini hari yang benar-benar buruk. Aku menyandarkan punggung di kursi dan memutarnya ke kiri. Mataku kembali mengarah ke jendela kaca sepanjang ruangan di mana rintik-rintik hujan masih tampak membasahi dari luar sana.
Kira-kira bagaimana keadaan Stella di rumah sekarang? Tadi pagi badannya masih hangat dan lemas, aku jadi agak khawatir. Karena itu juga walau rasa ingin terus bersantai di tengah cuaca hujan begitu besar, aku tidak boleh menunda waktu barang sedetik saja jika ingin bisa cepat kembali hari ini. Mana tahu Stella membutuhkan diriku di rumah.