
Hatiku takkan tenang sebelum membelikan Stella sebuah hadiah malam ini juga, jadi sepulang dari restoran, aku tidak langsung menyetir pulang namun membawa dia ke salah satu toko perhiasan ternama.
Stella tentu saja langsung terkejut pada detik pertama dia melihat papan nama besar dari gedung yang kami singgahi, tapi dia belum yakin apa yang kami perlukan di sana.
"Luiz, kau butuh perhiasan?" Tanya Stella melangkah turun dari mobil.
"Iya untuk hadiah ulang tahunmu."
Stella berpaling secepat kilat, "Eh tidak perlu, Luiz. Aku kan jarang memakai perhiasan. Ucapan sudah cukup buatku."
"Stella, ini hadiahku, kalau kau menolak itu akan membuatku sebagai pemberi merasa tidak nyaman, jadi terima saja," Aku menaruh tangan di punggung Stella agar dia lanjut berjalan, "Pilihlah yang mana kesukaanmu di dalam, oke? Aku yakin ada yang cocok untukmu."
"Tapi Luiz..."
"Ayo."
Aku disambut langsung oleh pria pemilik toko yang tak lain adalah salah satu kenalanku. Dia membawa aku dan Stella menjelajahi etalase demi etalase yang berisi berbagai macam perhiasan dari yang berbalut batu permata hingga yang polos yang terbuat dari lapisan emas putih.
"Ada yang menarik mata?" Tanya Erik dengan senyum lebar. Matanya bergantian menatap ke arah aku dan Stella.
Ada satu kalung yang menonjol di mataku waktu itu—sebuah kalung dengan bentuk pendant bulan sabit dari batu kristal—tapi aku tidak mau Stella memilih itu hanya karena aku bilang kalung yang itu bagus dan cocok untuknya. Aku mau dia memilih sendiri dulu, baru kemudian membelikan dia kalung itu. Dengan begitu dia mendapat yang dia mau dan aku tetap memberikan dia apa yang kupilih.
Aku menoleh pada Stella, "Ada yang kau suka? Atau ingin coba lihat yang lain lagi?"
Stella mencondongkan tubuh sambil menjijit untuk mendapatkan penglihatan yang lebih jelas ke dalam etalase kaca. Tidak lama dari itu, matanya terkonsentrasi pada satu benda yang kemudian dia tunjuk.
__ADS_1
"...yang itu."
Mataku mengikuti arah tunjuk jarinya dan seketika kelopak mataku terbuka lebar kala mendapati benda yang dia maksud. Itu kalung yang sama dengan yang ingin kupilihkan untuk dia. Aku tak menyangka ini. Apa aku sudah cukup lama mengenal Stella sampai bisa menebak preferensinya akan sesuatu?
"Yang ini? Oh...Selene Necklace, pilihan yang bagus," ucap Erik sembari bergerak untuk mengambilkan kalung itu, " Terinspirasi dari Dewi Bulan yang ada di mitologi yunani, Selene. Dan terbuat dari perak padat berlapis emas dua puluh empat karat, kalau batunya itu asli kristal swarovski."
Aku meraih kotak perhiasan yang dia keluarkan dan menilik kalung tadi lebih dekat, "Jadi bukan emas murni?"
Dengan berhati-hati, aku memasangkannya pada leher Stella. Dan benar saja, kalung itu jatuh dengan indah pada lingkaran lehernya.
"Cantik," gumamku dan pipi Stella memerah. Aku kembali menoleh pada Erik.
"Yang itu bukan, kalau ingin yang emas murni itu ada yang lain seperti ini," Erik mengeluarkan kotak berisi kalung lain, "Sama bentuk bulan juga tapi polos tanpa permata."
"Tidak ada yang sama dengan ini tapi dari emas murni?" Tanyaku lagi, kali ini membantu Stella yang hendak melepaskan kalungnya.
Erik menaruh tangan di bawah dagu, "Kalau kau mau Luiz, aku bisa memesankan khusus untukmu yang terbuat dari emas asli ke pembuatnya. Tapi kau mungkin harus membayar tiga atau empat kali lipat dari harga aslinya. Bagaimana?"
"Oke. Begitu saja," ujarku seraya menaruh kalung tadi kembali ke kotaknya. Aku ingin Stella bisa mendapat yang terbaik, soal harga yang harus dikeluarkan itu bukan masalah.
"Luiz yang itu saja sudah bagus kok," bisik Stella di tengah Erik sedang merapikan kembali kotak-kotak tadi ke dalam etalase.
Aku tersenyum kecil, "Tidak apa, kita tunggu saja yang pesanan itu."
__ADS_1
Sebagai jaminan, aku membayarkan uang muka sejumlah harga asli dari kalung tadi yang bernilai tiga juta—yang ternyata sangat murah dari perkiraanku—dan keluar toko bersama Stella. Dari sana kami langsung pulang ke rumah.
"Terima kasih lagi ya, Luiz. Padahal kau tidak usah repot-repot," ujar Stella setiba kami di rumah. Senyum di bibirku kembali tubuh.
"Sama-sama. Kalau sudah datang nanti, kau harus menjaganya dengan baik."
"Oke, aku janji," angguk Stella dengan penuh tekad, aku jadi tak bisa menahan diri dari mengacak rambutnya pelan karena itu.
Di malam yang sama, dalam kamarku, aku tidak langsung mendarat tidur. Alih-alih aku iseng-iseng mencari tentang Dewi Selene yang jadi inspirasi dari kalung yang aku dan Stella pilih itu. Aku tidak percaya ada dewa-dewi di kehidupan masa lalu selain dari mengganggapnya sebagai sebuah kepercayaan masyarakat di peradaban kuno, tapi aku penasaran saja seperti apa gambaran Dewi Bulan ini di masyarakat yunani kuno.
Berdasarkan dari pencarian yang kulakukan selama kurang lebih lima belas menit, Dewi Bulan Selene adalah dewi yang identik dengan passion, kebaikan dan hati yang mengasihi. Tidak seperti kakaknya Helios sang Dewa Matahari yang menyolok, dia lebih banyak tersembunyi di balik bayangan. Dia juga lebih banyak menyendiri.
Wah.
Kemiripan karakteristik yang dimiliki si Dewi Bulan Selene dengan Stella begitu menakjubkan, aku sampai kehabisan kata-kata. Sungguh kebetulan yang luar biasa bagi aku dan Stella karena sama-sama tertarik untuk memilih kalung yang terinspirasi dari karakter ini. Sekarang aku jadi benar-benar ingin melihat Stella memakai kalung itu lagi di lehernya.
Dari mencari info tentang Dewi Bulan aku berpindah ke akun sosial media Facebook yang lama telah tidak kujamah lagi, aku cukup kaget begitu tahu kalau ternyata masih banyak yang menggunakannya sekarang termasuk Stella. Aku mencoba mengingat kata sandi yang kupakai dulu namun buntutnya aku terus salah menginput, jadi aku pun memilih supaya mengganti kata sandi yang baru saja ketimbang memakan waktu yang lama dari mencoba mengingatnya.
Masuk laman Home, aku melihat notifikasiku yang belum dibaca ada tak terhitung jumlahnya akibat lama ditinggal, namun aku mengabaikan itu dan langsung mengetik nama Stella di kotak pencarian. Beberapa nama muncul namun aku mengklik akun yang profilnya adalah kucing. Dan tebakan yang tepat, itu adalah Stella yang kukenal.
Stella tidak bisa dibilang aktif dalam menggunakan akunnya tapi aku bisa lihat dia beberapa kali mengunggah foto untuk momen-momen penting di sana. Ada foto dia bersama kucing atau anjing waktu di tempat penampungan hewan, jalanan dalam perjalanan menuju Kota D, selfie bersama Kat saat pernikahannya, dan beberapa tanaman yang ada di rumah ini. Oh dan tentu saja foto makanan yang resepnya baru dia coba juga ada di sana.
Jempolku tidak berhenti untuk mengusap layar ke bawah demi melihat unggahan lain hingga sebuah foto lama yang lewat berhasil menahanku. Itu foto Stella bersama keluarganya, namun yang mencubit perhatianku adalah pria yang berdiri di sebelah Stella saat itu. Pria yang memakai kaca mata hitam dan rambut lumayan panjang itu tampak sangat asing, aku tidak ingat pernah melihat dia dimanapun bahkan saat acara keluarga dulu. Apa dia keluarga jauh yang kebetulan sedang ada di luar negeri sekarang? Tapi di foto ini tampaknya dia sangat akrab dengan Stella dan orang tuanya. Masa dia tidak datang ke pernikahan kami dulu?
Lihat saja dari cara dia yang merangkul Stella dengan begitu erat, tidak mungkin hanya seorang kenalan biasa. Siapa pria ini?
__ADS_1
Wih siapa tuh??