Days After You

Days After You
Bab 24 - Gelora Tak Biasa


__ADS_3

Ayah Stella lanjut mengobrol bersama diriku selama sejumlah menit. Di selanya, kami juga menyapa sebagian tamu yang datang dan duduk di meja yang sama atau dekat dengan kami.


"Aku percaya padamu Luiz," Ayah Stella tersenyum seraya merendahkan volume suaranya, "Asal kau tahu saja, Stella itu banyak memujimu tiap kali bicara di telpon. Dia bilang kalau kau itu pria yang mengagumkan dan selalu dapat diandalkan. Kurasa dia juga terdengar lebih bahagia akhir-akhir ini juga berkat dirimu."


Pupil mataku membesar sekilas. Aku tidak menyangka Stella akan banyak bercerita tentangku pada ayahnya, apalagi juga sampai memujiku. Dan terdengar lebih bahagia karenaku katanya? Tidak mungkin, itu pasti memang Stella saja yang sedang senang, tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang spesial hingga mampu membuat dia jauh lebih bahagia dari sebelumnya.


"Ah...itu sedikit berlebihan," jawabku.


Ayah Stella tertawa kecil dan mengibaskan tangan, "Sudah-sudah, tidak perlu sungkan. Coba lihat, mereka sudah kembali."


Mereka itu adalah Stella dan ibunya. Pasangan ibu dan anak itu berjalan perlahan menghampiri meja kami. Stella memegang tangan ibunya yang kini mengurus dan menuntun wanita itu dalam melangkah.


"Oh Luiz..." ibu Stella yang suaranya parau itu maju untuk memelukku jadi aku spontan menunduk dan membalas rangkulannya. Selagi begitu, aku juga tak sengaja melakukan kontak mata dengan Stella. Dia tersenyum hangat tapi ada juga pancaran melow dalam tatapannya.


"Apa kabar ma?" Ucapku.


"Aku baik. Oh aku senang sekali kau bisa menyempatkan waktu menemani Stella kemari. Aku tahu kau sangat sibuk," jawab ibu Stella.


Aku tersenyum kecil, "Tidak juga, bu. Aku akan selalu sempat menemani Stella."


"Ibu duduklah," Stella menarik kursi di sebelah ayahnya untuk ibunya. Setelah ibu duduk, dia juga menarik kursi untuk dirinya di sebelahku.


Aku sangat terkejut dengan penampakan ibu Stella. Terakhir aku bertemu dengan dia baru sebulan lalu, tapi karena sakit yang sering datang menyerang dia di antara jeda waktu itu, dia jadi begitu kurus dan kelihatan berbeda.


"Kalian betul naik mobil kemari? Apa tidak capek?" Ibu Stella kembali bertanya.


Aku menggeleng, "Tidak terlalu, ma. Pemandangan yang dilewati juga membayar impas rasa capeknya."


"Ada banyak areal persinggahan di jalan, ma," timpal Stella, "Di sana banyak kafe dan tempat fastfood."


"Kau tidak mabuk darat, sayang?"


"Tidak," Stella menyunggingkan senyum, "Aman sampai tujuan."

__ADS_1


"Oh baguslah. Aku selalu khawatir kau itu tipe yang gampang mabuk darat, makanya kami tidak pernah membawamu berpergian naik mobil untuk keluar kota."


Kami berempat mengobrol dan tanpa sadar venue sudah semakin padat dengan para undangan. Seorang pembawa acara juga tampak sedang bersiap dari caranya mengetes microphone di sebelah panggung.


"Maaf jika aku lama ya, Luiz. Aku keasikan bicara dengan Kat," bisik Stella begitu pembawa acara membuka acaranya. Matanya berkilat jahil untuk alasan yang tidak kuketahui.


"Tidak apa."


"Kat cantik sekali! Dia memakai gaun putih yang pendek selutut dan itu sangat cocok dengannya. Sama denganku dulu, dia juga kesulitan dengan bulu mata palsunya."


Ah itu. Stella memang sempat mengeluh akan bulu mata palsu yang membuat dia jadi susah berkedip sewaktu di pesta pernikahan kami dulu.


"Ah itu mempelai prianya," tunjuk Stella ke arah panggung. Seorang pria yang bertinggi sedang, berkacamata dan mengenakan setelan lengkap putih berdiri tegap dan tersenyum lebar ke arah tamu undangan.


Tadi dalam perjalanan kemari Stella sempat bercerita akan si mempelai pria atau calon suami sepupunya itu. Namanya Alvian, seorang pengacara muda yang lumayan ternama, pertama bertemu dengan Kat saat dia mulai bekerja di firma hukum keluarga mereka tiga tahun lalu.


Alunan musik mulai diputar dan sorak-sorai dari tamu yang duduk di belakang menandakan ketibaan dari mempelai wanita. Kat, sepupu Stella yang berambut pendek dan berkulit agak eksotis itu, berjalan perlahan didampingi ayahnya.


"Kedua mempelai dipersilahkan untuk saling berciuman," umum pembawa acara.


Kedua mempelai pria dan wanita yang telah saling mengucap janji pun saling berciuman dengan dilatar belakangi ombak laut lepas dan matahari terbenam. Aku akui itu salah satu pemandangan yang sangat indah untuk sebuah momen pernikahan.


Di antara suara tepuk tangan tamu lain, aku mendengar suara Stella berbicara pelan.


"Oh romantis sekali. Seperti adegan dalam drama-drama."


Aku lantas menoleh. Saat itu pancaran sinar jingga dari sunset membuat mata Stella sedikit memantulkan warna gelapnya, helai poninya juga terbelah di bagian tengah karena tertiup angin, sementara dia tersenyum lebar. Untuk beberapa saat pada momen itu, Stella terlihat bersinar. Aku tidak pernah terlintas kalau akan ada waktu dimana aku akan mendekskripsikan dia dengan kata bersinar, tapi seperti itulah adanya. Seolah segala fitur yang dulu pernah kuanggap sebagai kekurangannya tidak lagi kelihatan, berganti dengan sosok baru yang begitu bercahaya, luar dan dalam.


Jantungku berdetak cepat, wajahku memanas. Aku beruntung tidak ada yang memperhatikan sebab aku yakin aku terlihat aneh. Apa ini? Aku tidak pernah merasa gelisah seperti ini, tidak sekalipun.


Aku menggeleng berusaha menyingkirkan perasaan itu, syukurlah ayah Stella segera lanjut mengajakku berbicara setelah itu dan mengalihkan pikiranku.


"Ah jika aku tahu pemandangannya bakal seindah ini, aku pun pasti akan mengusulkan pesta resepsi kalian diadakan di pantai atau tempat terbuka dulu," Ayah Stella terkekeh kecil. Aku cuma tersenyum tipis seraya mengangguk pelan.

__ADS_1


"Iya benar juga," jawabku, karena cuma itu respon yang terlewat.


Seluruh tamu kembali duduk dan aku perlahan berhasil menenangkan detak jantungku yang sempat abnormal tadi. Betapa momen yang aneh. Aku yakin itu cuma akibat dari aku yang terbawa suasana dari acara pernikahannya. Aku jadi terlalu sensitif untuk satu dan lain hal, tapi kini semua baik-baik saja. Aku bisa menoleh ke arah Stella tanpa menunjukkan reaksi aneh saat dia memanggilku.


"Luiz, aku mau ke toilet," ucap Stella.


"Oke."


Stella mengerjap ke arahku. Aku mengerjap balik.


"...kenapa tidak pergi?"


Stella tertawa kecil dan menggaruk pipi, "Kamar mandinya jauh dan disana sepi...temani boleh?"


Oh. Aku mengangguk dan mulai berdiri. Stella menyusulku tapi entah bagaimana caranya dia berdiri, dia malah mendadak terkait kaki sendiri dan jatuh ke permukaan pasir. Ada kira-kira sepuluh pasang mata yang langsung memperhatikan kejadian itu sementara aku terlalu terkejut untuk bereaksi.


"Aduh..." Stella bergumam, wajahnya seketika memerah dan dia gelagapan. Dengan segera, aku berjongkok dan membantu dia berdiri.


"Stella, hati-hati sayang," ayah dan ibu Stella memandang khawatir.


Tidak salah lagi, tadi aku hanya terbawa suasana saja. Tidak mungkin aku tiba-tiba merasakan segala perasaan atau gelora yang aneh itu untuk Stella yang bahkan tidak bisa berdiri dengan benar ini. Tidak, tidak mungkin.


"Oh memalukan sekali..." ucap Stella begitu kami sudah berada jauh dari tamu-tamu lain. Dia mengerucutkan bibir dan mengembungkan pipinya.


"Ada yang luka?" Tanyaku sambil melihat kakinya.


Stella menggeleng.


"Ya sudah, yang tadi lupakan saja. Mereka juga tidak akan ingat lagi saat pulang nanti."


"Oke...maaf ya Luiz."


Aku menghela napas. Mau bagaimana lagi, dia selalu ceroboh pada waktu yang tidak tepat. Aku mengisyaratkan dia untuk lanjut berjalan melalui uluran tangan, "Tak perlu minta maaf. Kau tidak salah apa-apa."

__ADS_1


__ADS_2