
Mendekati seorang wanita adalah sebuah hal asing bagiku. Sepanjang hidupku belum pernah sama sekali aku melakukan yang namanya pendekatan seperti meminta nomor, mengirim pesan hingga mengajak wanita berkencan dan sejenisnya. Jadi ketika aku menyadari perasaanku pada Stella, aku benar-benar tidak punya petunjuk harus melakukan apa selanjutnya.
Yang aku tahu—sebab aku dan Stella sudah tinggal bersama selama satu tahun lebih—aku tidak perlu memulai pendekatan dari titik nol dan aku tinggal melanjutkan ke tahap selanjutnya. Di tahap selanjutnya itulah letak masalahnya bersarang. Aku tak punya ide apapun untuk melakukannya.
Sudah lebih dari sejam aku menilik artikel satu dan yang lain hingga aku memutuskan untuk mulai merencanakan sebuah kencan dari apa yang sudah kupelajari dari sana. Di komputerku yang ada di ruang belajar, aku lantas mulai mencari spot-spot bagus untuk sebuah kencan pertama, apa saja yang bisa kami lakukan dan sebagainya.
Rasanya lumayan aneh, kami sudah menikah dan aku baru memikirkan masalah kencan pertama sekarang, tapi lebih baik begitu ketimbang aku menyesal tak melakukan apapun.
Aku berkutat di depan komputer demi mengumpulkan berbagai hal yang dapat kuambil idenya hingga sebuah ketukan di pintu membuatku mengangkat kepala. Tahu siapa di baliknya, aku lekas menutup browser yang sedang membuka beberapa artikel tadi dan menyimpan catatan yang baru kuketik.
"Masuklah," ujarku.
Gagang pintu terputar dan menyusul setelah itu ialah wajah Stella yang menengok ke dalam ruangan, karena sudah larut dia telah berganti memakai piyama dan mengepang rambutnya, "Luiz, aku membawakanmu biskuit dan teh, barangkali kau butuh cemilan sambil lembur."
"Oke," jawabku walau jelas aku sedang tidak lembur untuk bekerja sama sekali. Mataku mengikuti figur Stella yang masuk menghampiri meja kerjaku.
"Aku taruh di sini ya," Stella meletakkan cangkir teh dan piring mungil berisi biskuit aneka bentuk itu di hadapanku.
"Iya," jawabku lagi, namun begitu lihat kalau dia tak berpikir untuk tinggal, aku kembali berbicara, "Duduklah dan makan bersamaku, Stella."
"Oh," Stella memeluk nampan dan menatapku sejenak, "Baiklah..."
Aku bersandar pada kursi dan memperhatikan Stella lekat, "Kau punya waktu minggu depan?"
"Ah minggu depan? Sabtu atau minggu?
"Yang mana saja."
"Um..." Stella menaruh tangan di dagu dan memiringkan kepala, dia bertahan dalam posisi itu hampir semenit sebelum tertawa kecil, "Tentu saja Luiz. Aku selalu punya banyak waktu luang."
Aku mengabaikan degupan jantungku yang mulai naik dan memasang wajah santai tak terpengaruh apapun. Perkataan selanjutnya harus kusampaikan dengan senatural mungkin, jadi aku tak boleh tampak gugup.
__ADS_1
"Kalau begitu, bagaimana jika kita pergi makan di luar? Piknik mungkin? Sekalian refreshing juga. Dokter kan menyarankanku agar melakukan itu sekali-sekali."
"Oh iya," Stella menepuk tangan, "Kau harus banyak-banyak refreshing supaya tidak stres dan tumbang lagi. Soal piknik atau apa, aku ikut saja kau mau kemana, Luiz."
"Jadi kau mau...?" Tanyaku. Rasanya seperti ada bunga yang mekar dalam diriku.
Stella mengangguk, tersenyum manis, "Iya tentu, pasti bakal seru."
Pipiku terasa sedikit hangat karena pemandangan di depanku, "Oke...Sabtu depan kalau begitu."
Stella kembali menaikturunkan kepalanya sambil mengambil sebuah biskuit dan mencelupkannya di teh. Ketika sadar teh itu dia buat untukku dan bukan miliknya, dia tertawa lagi. Kurasa suara itu perlahan mulai menjadi kesukaanku.
"Hehe, maaf Luiz, aku refleks."
Aku hanya tersenyum dan menirukan apa yang dia lakukan hingga pada akhirnya biskuit itu ludes di piring.
"Jadi kita mau kemana Sabtu depan?" Tanya Stella ketika kami sama-sama pergi keluar dari ruang belajar. Pertanyaan itu kedengaran sedikit mesra seolah kami sudah sering merencanakan kencan bersama sebelum ini.
Stella bertepuk tangan, "Oh aku tak sabar kalau begitu."
Jadilah kami berencana untuk pergi belanja bersama untuk beberapa keperluan nantinya. Kata kunci berencana. Yang berarti sesuatu itu baru sebuah wacana dan belum terjadi, yang mana dalam hal ini cocok untuk menggambarkan rencana kami selama beberapa waktu ke depan.
Bagaimana tidak, secara mendadak, esok harinya ayah melaksanakan rapat demi bisa mempresentasikan dan memulai ide bisnis barunya bagi perusahaan dan alhasil kami semua di jajaran direksi jadi super sibuk selama lebih dari seminggu penuh untuk melaksanakan itu.
"Luiz," panggil ayah saat aku dan jajaran direksi lain baru keluar ruang rapat. Aku berhenti dan berbalik.
"Ayah, ada apa?"
"Bukan apa-apa, cuma kulihat kau tidak begitu energik hari-hari ini. Ada masalah di rumah? Bagaimana kau dengan Stella selama ini?"
Ingin sekali aku menjawab kalau dialah yang jadi biang masalahnya hingga aku tidak bisa menghabiskan waktu lama di rumah akhir-akhir ini, tapi aku menahan diri dengan akhirnya cuma menggeleng saja, "Tidak ada. Kami baik-baik saja, aku hanya sedikit letih."
__ADS_1
"Oh, baguslah kalau begitu. Jangan terlalu memaksakan diri tapi lakukanlah tugasmu dengan baik, Luiz. Proyek ini harus berhasil."
"Baik, Yah."
Hampir tiap hari aku harus lembur di kantor hingga subuh dan harus balik lagi jam delapan pagi. Tak ada waktu di rumah selain dari pulang untuk mandi dan berganti baju saja.
"Luiz, biar aku saja yang pergi belanja dan mempersiapkan semuanya. Jadi saat kau punya waktu luang, kita bisa tinggal pergi. Tulis saja apa yang kau butuhkan dan aku akan cari. Aku yakin setelah semua masalah di kantor lewat, kita bisa pergi bebas pada akhirnya," ucap Stella setelah aku mengundur rencana kami untuk ketiga kali. Aku tidak enak pada dia karena tujuannya aku ingin membuat dia merasa senang bersamaku. Namun tuturan Stella yang demikian menjadi motivasiku demi melalui pekan berikutnya.
Dan tebak apa? Akhir pekan berikutnya tiba, aku punya waktu luang tapi hujan mengguyur deras bagai badai di seluruh kota dari pagi hingga malam.
"Ck. Kenapa tiba-tiba hujan begini, padahal kemarin-kemarin langitnya cerah," gerutuku pelan seraya memandang ke luar jendela dengan ujung mulut yang tertekuk ke bawah.
Saking buruknya suasana hati yang mencuat dariku malam itu, Stella bahkan merasa perlu untuk mencoba membujukku.
"Luiz, jangan murung. Aku sudah masak mie telur dan katsu kesukaanmu. Dan kita tidak perlu keluar untuk refreshing, dengan memasang musik yang pas, kita bisa tetap membayangkan sedang berada di alam terbuka."
"...Itu takkan sama," jawabku mengusap kening. Alih-alih itu malah memperkeruh suasana hatiku bagai langit di luar sana. Bayangkan seputus asa itu hingga harus menghayal hanya untuk merasa telah ke tempat liburan itu.
Alis Stella bertaut khawatir, "Kita tidak bisa apa-apa selain menunggu kalau begitu."
"..."
"Luiz, kita masih bisa pergi minggu depan. Jangan menambah beban pikiranmu dengan hal ini. Sama saja bohong kalau kau sampai stres."
Aku menghela napas, "Oke..."
Jika ada sisi positif yang bisa kuambil, itu adalah aku yang masih bisa menghabiskan waktu bersama Stella di rumah selama hampir seharian penuh walau itupun aku harus rela ikut menonton drama yang dimainkan oleh aktor kesukaan Stella si Damian itu. Mendengar Stella mendesah penuh kekaguman saat Damian muncul di layar adalah hal terakhir yang ingin kulakukan sekarang tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Hah..." aku menghela napas untuk yang kesekian kali hari ini. Aku harus bersabar. Minggu depan, aku pasti bisa mewujudkan rencana kencanku bersama Stella yang tertunda dan memberi dia sebuah memori yang takkan pernah bisa dia lupakan sebagai ganti dari keterlambatan ini.
Waktu sedang menyemangati diri sendiri seperti itu aku sungguh yakin dengan pemikiranku, tapi satu hal yang berada di luar perhitunganku ialah aku tidak bisa memprediksi cuaca dan kalau ternyata cuaca mendung dan hujan deras bagai badai yang mengguyur seluruh kota juga akan tetap awet selama dua minggu ke depan.
__ADS_1
Uh...apa ada sesuatu yang aku perbuat sehingga membuat langit membenciku?