
Jariku menekan profil pria asing yang merangkul Stella dan ditandai dalam foto postingan lama Facebook itu. Tidak banyak informasi yang dia catumkan pada profilnya selain namanya Albert Sam, bekerja di salah satu agensi periklanan dan kalau itu sudah lewat dua tahun sejak terakhir ia aktif menggunakan akunnya. Hal terakhir yang dia unggah adalah momen saat istrinya melahirkan. Aku bisa menghela napas lega begitu melihat itu namun rasa penasaranku masih ada akan siapa sebenarnya dia dan kenapa aku tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya, jika dia terlihat seakrab ini bersama Stella dan orang tuanya. Apa aku saja yang tidak sadar pernah lihat dia?
Kantuk mulai menjamah kedua kelopak mataku. Entahlah. Mungkin dia memang hanya sepupu jauh yang kebetulan sedang berlibur bersama Stella dan orang tuanya saat itu. Aku bisa bertanya pada Stella besok pagi. Setelah itu aku pun keluar dari halaman pria itu, mengirimkan permintaan pertemanan pada Stella dan beranjak sikat gigi lalu tidur.
Malam pun berlalu dan pagi berawan tiba.
Saat sarapan di meja makan, aku tidak lantas melupakan pertanyaan yang melingkupi pikiranku semalam sebelum tidur. Aku mendongak menatap Stella di seberang meja dan mengemukakan pertanyaanku seolah hanya sedang mencoba membuka obrolan basa-basi yang tidak begitu penting.
"Kau punya sepupu yang tinggal di luar negeri?"
Stella mengangkat wajah polosnya, "Sepupu di luar negeri...? Oh ada beberapa tapi tidak ada yang dekat denganku. Kenapa Luiz?"
"Bukan apa-apa, cuma mau tanya saja."
Tidak ada yang dekat dia bilang, berarti pria itu bukan sepupunya. Pamannya? Pria itu tampak masih muda untuk jadi paman Stella, tapi itu bisa saja. Otakku tak berhenti menerka-nerka. Atau...jangan bilang itu mantan kekasih Stella? Jika benar, syukurlah dia sudah menikah dan punya anak sekarang, berarti dia takkan mengganggu atau mencoba merebut Stella kembali. Aku tidak mau menjalani hubungan yang penuh drama jadi begitu lebih baik.
"Luiz, ada yang aneh pada makanannya?" Tanya Stella tiba-tiba. Aku sedikit tersentak dan melihat dia lagi, dia menatap piringku, "Kau cuma terus memotong-motong fritatta-nya tanpa dimakan."
Oh. Aku menunduk memandang hidangan zucchini fritatta yang Stella buat untuk sarapan kami. Tanpa sadar sebab terlalu larut dalam benakku, bukannya makan, aku malah cuma memotong-motong fritatta itu jadi bagian-bagian kecil tanpa memakan mereka sama sekali.
Aku menyendok salah satu bagian yang sudah terpotong dan menggeleng, "Tidak. Aku cuma terpikir sesuatu tadi."
"Sungguh? Kalau memang kurang sesuai dengan seleramu bilang saja Luiz."
"Sungguh, ini enak. Aku hanya kurang fokus."
"Hmm..." Stella masih tidak melepaskan pandangannya, "Sesuatu terjadi di kantor? Ada masalah?"
Sebab aku tidak mau Stella tahu apa yang mencuri fokusku, aku mengiyakan pertanyaannya.
"Cuma beberapa masalah biasa."
"Oh aku mau bilang ingin membantu, tapi dengan kemampuanku, aku ragu kalau ada bisa kukerjakan untukmu."
Seulas senyum timbul dari kedua ujung mulutku ketika mendengar ucapan Stella itu, aku menelan fritatta yang ada dalam mulutku sebelum menjawab lagi, "Makasih sudah mau membantu, tapi kau tidak perlu khawatir. Itu bukan masalah besar."
Masih pada hari yang sama, siang harinya, salah seorang teman dekatku semasa kuliah, Jeffrey Harison yang selama ini kuketahui bekerja di luar negeri tahu-tahu datang tanpa kabar.
"Jeff," ujarku kala membuka pintu.
"Hei Luiz, apa kabar bro?" Jeff menyengir dan mengepalkan tangannya untuk tos. Aku mengangkat tangan dan menjawab tosnya masih agak heran akan tujuannya.
"Kapan kau pulang dari luar negeri?"
__ADS_1
"Baru saja. Aku sedang ambil cuti buat merayakan pertunanganku dengan Aura."
Kedua alisku naik, "Oh kau melamar dia juga akhirnya. Kupikir bakal menunggu seratus tahun lagi."
Jeff menyipitkan mata, "Hei bukan aku niat menunda karena apa ya, aku perlu persiapan matang untuk perubahan status. Bagaimanapun ini kan sebuah keputusan besar."
Jeffrey adalah pria yang dulu terkenal dengan julukan playboy. Sebelum bertemu Aura, kekasihnya yang sekarang, hobinya selalu gonta-ganti wanita jadi mendengar dia akhirnya serius bersama seorang wanita cukup mengejutkan.
Dari belakang, aku mendengar langkah kaki kecil menghampiri, itu pasti Stella yang mendengar keributan kami di pintu masuk.
"Halo," sapa Stella dengan senyum kecil, ia pasti menebak-nebak siapa gerangan yang bersamaku.
Jeffrey cuma menganguk kecil lalu mengedarkan pandangan ke arah ruang televisi di dalam, "Oh jadi di sini kau tinggal selama ini, kau punya tempat yang luas tapi tidak pernah membiarkan kami mampir kemari."
Kami yang dia maksud tak lain adalah kawan-kawan satu pergaulanku dulu semasa kuliah. Mereka suka berkumpul di waktu luang untuk sekedar nongkrong dan berdiskusi bersama jika waktu ujian telah dekat, tapi aku tak pernah mengajak mereka ke tempatku sama sekali. Mereka tahu aku tinggal di sini tapi mereka juga tak pernah memaksa untuk mampir karena tahu aku tidak suka membawa orang kemari.
"Makanya aku datang tanpa bilang-bilang, kalau tidak kau pasti menyuruh untuk bertemu di kafe di bawah kan," Jeffrey menaik turunkan kedua alisnya. Namun aku sedikit merasa canggung karena dia tidak begitu merespon salam Stella yang tadi.
"Ohiya, mana istrimu? Kudengar dia tipe yang tertutup ya. Aku datang waktu pernikahanmu dulu tapi entah kenapa aku tidak begitu ingat wajahnya," Jeffrey terkekeh.
Mataku melirik Stella dan mendapati dia melakukan hal serupa. Sebelum kecanggungan yang ada di udara meningkat, aku berdeham.
"Dia sudah menyapamu daritadi, Jeff. Ini istriku, Stella."
Stella mengibaskan tangan di depan dadanya, "Oh tidak apa-apa. Maaf juga karena tidak memperkenalkan diri dulu. Silahkan masuk dulu."
"Masuklah, Jeff."
Kalau boleh jujur, meski Jeffrey termasuk teman lamaku, setelah kegagalannya dalam mengenali Stella tadi, rasanya aku enggan mengundang dia masuk. Namun karena dia sudah jauh-jauh kemari dan Stella juga telah mempersilahkan duluan, rasanya tidak sopan untuk membiarkan dia pulang begitu saja tanpa masuk sama sekali.
Ujungnya Jeff jadi ikut makan siang bersama aku dan Stella setelah itu.
"Oh ini sangat enak," Puji Jeffrey di tengah makan, "Tadi aku masih sempat bertanya-tanya, sekarang aku mengerti kenapa Luiz betah bersamamu, Stella."
"Jeff," ujarku memperingati. Walau dia mengatakannya dengan tawa, makna dari ucapannya takkan lolos dari telingaku. Aku tidak tahu dia bisa bersikap tidak sopan begini di depan orang lain.
"Apa? Aku memuji istrimu, iyakan Stella?"
Stella tersenyum tanpa menjawab. Lihat? Bahkan Stella yang selalu positif juga mengerti maksud lain dari pujian bermata duanya itu. Kepalaku mengayun.
"Oh dan omong-omong, kalian harus datang ke acara makan-makan nanti. Kau sudah baca di grup kan Luiz? Aku sudah mengajak yang lain juga, katakanlah ini sebagai reuni kecil-kecilan sekaligus menyambutku kembali."
"Aku belum baca tapi aku akan lihat nanti."
__ADS_1
"Hei jangan lihat nanti, tapi kau harus datang. Bersama Stella juga. Aku yakin yang lain bakal senang jika bisa mengenal istrimu lebih dekat juga."
Setelah melihat reaksimu, aku meragukan itu. Aku ingin bilang begitu tapi menahan diri via mengambil gelas untuk minum.
"Aku tentu senang jika bisa bertemu teman-teman Luiz," ucap Stella dan aku hampir tersedak. Dia mengusap pundakku dengan seulas senyum yang rasanya tidak setulus biasanya.
"Nah, itu berarti kau harus datang, Luiz," Jeffrey tersenyum hingga menampakkan jejeran gigi putihnya.
Aku menghela napas. Bukan aku tidak mau datang, tapi aku hanya khawatir jika teman-temanku yang lain juga akan memandang remeh atau berbicara seolah Stella hanya bahan candaan seperti yang Jeffrey lakukan tadi. Lebih baik aku pergi sendiri atau tidak sama sekali daripada menyaksikan itu.
Jeffrey pulang setelah makan siang. Dan aku yang habis mengantar dia ke pintu, langsung kembali menghampiri Stella di dapur.
"Kau tidak harus pergi jika tidak mau, jangan merasa terpaksa karena undangan Jeffrey tadi" ucapku.
"Oke."
Oke? Itu saja?
"Oh...oke," ucapku, sebab aku tidak berekspetasi dia akan menjawab sesingkat itu dengan nada secuek itu.
Seolah mendengar isi pikiranku, Stella yang tengah mencuci piring itu menengadahkan dan memutar kepalanya dari wastafel, "Luiz, kalau kau memang tidak mau aku ikut, aku takkan pergi. Aku mengerti itu reuni bersama teman-temanmu, jadi aku takkan mengganggu."
Hah...aku tidak pernah bermaksud demikian. Kenapa dia malah menyalah artikan ucapanku seperti itu?
Aku mengacak rambut pelan seraya bersandar di sebelah wastafel, "Stella bukan itu maksudku. Aku cuma bilang kalau kau tidak nyaman bertemu temanku seperti Jeffrey tadi, kau tidak harus datang. Kita tidak harus datang."
"Oh tapi kau harus datang, Luiz."
"Bagaimana denganmu? Tadi kau bilang ingin bertemu teman-temanku. Jangan salah paham Stella, kalau kau bilang mau pergi, kita akan pergi bersama. Aku hanya tidak mau kau memaksakan diri, itu saja."
Stella mengangguk, "Aku mau..."
"Oke, kita pergi kalau begitu," ujarku melembutkan suara seraya mengacak rambut Stella. Hampir saja aku membuat dia salah paham akan intensiku.
Begini, aku cuma bisa berharap agar teman-temanku tidak bertingkah atau berkata apapun itu yang mengecewakan di hadapan Stella saat waktu acara makan itu tiba.
-----
Haii, maafkan atas keterlambatan update bab ini. Author sakit dan tepar dari empat hari yang lalu :")
Makasih buat yang sudah mampir bacaa. Bagi like, komen dan votenya ya kak. Have a nice fridayy♡♡♡
^^^-Ela^^^
__ADS_1