
Lepas berbaring di atas kasur untuk kebanyakan hari pada minggu kemarin, demamku akhirnya turun juga. Aku sudah dapat beraktivitas normal di rumah namun sesuai saran dokter dulu, aku lebih baik tetap menunggu beberapa hari lagi sebelum memutuskan untuk masuk kerja.
"Pagi Luiz, duduklah," ucap Stella sambil menyendok nasi begitu melihat aku turun dari tangga. Ini sarapan pertama sejak aku akhirnya bisa meninggalkan ranjang dan aku merasa dua kali lebih berenergi dari yang biasa.
"Pagi, Stella."
Aku masih mencoba beradaptasi dengan pengetahuan baruku akan perasaanku pada Stella tapi kini aku tahu ketimbang perasaan aneh yang kukira kurasakan, itu sebenarnya adalah antisipasi. Kau tahu kan, perasaan seperti ketika kau akan menghadap sesuatu yang baru dan dari membayangkannya saja dapat membuat jantungmu berdebar. Aku diam-diam berpikir akan seperti apa obrolan dan waktuku bersama Stella akan berlangsung hari ini, akan apa lagi hal yang dia lakukan dan sesuatu sejenisnya. Aku merasa sangat lega kala menyadari hal ini jadi aku tak perlu merasa takut lagi untuk berada di dekat Stella.
"Luiz bagaimana jika kau bawa bekal ke kantor saja untuk makan siangmu? Kau bilang kau sering melewatkan waktu makan siang karena sering lupa dan tidak sempat di sana, kalau begini bakal lebih efisien untuk waktumu tanpa harus menunggu Pak Rio memesan dulu di luar, dan yang paling penting lebih sehat juga," ucap Stella.
Aku tentu saja merasa senang mendengar saran itu tapi aku tetap menjaga ekspresiku agar terlihat kalem.
"Oke, tapi aku tidak suka makanan yang sudah dingin. Bagaimana kalau kau membawakannya untukku ke kantor? Dengan begitu kau juga bisa sekalian memastikan kalau aku tidak lupa makan, karena kadang aku perlu seseorang mengingatkanku."
Kadang aku melihat Melinda membawakan atau membeli makanan untuk Rio, begitu juga dengan beberapa manajer lain, jadi tidak apa jika aku minta Stella buat melakukan hal yang sama bukan?
"Oh baiklah. Aku juga tidak terlalu sibuk apa-apa jam segitu. Asal Luiz bisa makan tepat waktu dan yang terjamin, aku tidak masalah."
Jadilah beberapa hari setelah itu, pada hari pertama aku kembali masuk kantor, sesuai kesepakatan, Stella datang membawa makan siang untukku. Dia tidak hanya membawa untukku saja tapi juga untuk Rio yang walau sudah dibelikan makanan oleh istrinya sendiri tetap menerima semua makanan itu dengan antusias.
"Terima kasih banyak, Bu Stella. Ini kelihatan lezat sekali."
"Sama-sama, Pak Rio. Kau sudah banyak membantu Luiz selama ini jadi anggap saja ini sebagai terima kasihku."
"Iya, bu. Senang juga bisa lihat Pak Luiz masuk kembali tadi pagi. Saya harap ibu sudah menasihati bapak untuk tidak bekerja terlalu keras, saya juga jadi kena soalnya."
"Rio, jika tidak ada lagi, kembalilah ke mejamu," ucapku menopang kepala dengan tangan di meja. Karena sebaik-baiknya dia sebagai sekretarisku, aku tidak perlu melihat dia mengobrol dengan Stella seolah aku tidak ada disini.
Rio tertawa kecil, "Saya bercanda pak. Terima kasih lagi ya, Bu Stella. Saya permisi ke luar dulu."
"Oke, Pak Rio," Stella mengangguk dan melambai pelan. Dia lalu duduk di depan mejaku dan hendak membuka tempat bekal yang dia bawa ketika pintu yang baru ditutup Rio tadi terdengar terbuka kembali. Aku pikir itu Rio yang melupakan sesuatu tapi ternyata bukan.
Itu ibuku.
__ADS_1
Padahalaku sudah merasa cukup senang hanya dari kedatangan Stella yang pertama di perusahaan tepatnya di ruang kerjaku ini, namun tentu saja ibu juga memilih datang pada hari yang sama dan menginterupsi momen ini. Normalnya jika mampir kemari ibu hanya akan datang untuk menyapa sebentar dan pulang, namun kini dia membawa seorang wanita tak dikenal bersamanya.
"Luiz—Oh Stella, siapa sangka akan bertemu denganmu disini," ucap Ibu begitu melangkah masuk. Dia memakai kacamata hitam jadi matanya tidak kelihatan tapi aku yakin dia pasti sangat kaget melihat Stella ada di sini dari nada suaranya.
"Siang ibu," Stella berdiri dan membungkuk memberi salam. Dia juga diam-diam langsung merapikan roknya.
"Ibu," sapaku ikut berdiri. Dalam hati aku berdoa agar dia tidak mengatakan apapun yang menghancurkan suasana lagi. Akhir-akhir ini aku tidak bisa mempercayai apa yang keluar dari mulut ibu saat dia sedang berada di bawah radar yang sama dengan Stella.
Ibu mengibaskan tangan dan segera beralih mengabaikan Stella. Alih-alih dia membawa wanita di belakangnya untuk melangkah lebih dekat menuju mejaku. Wanita itu tampak masih begitu muda tapi gaya berpakaiannya sangat elegan bak gaya wanita kantoran yang sudah memiliki begitu banyak pengalaman dalam umurnya, "Luiz, perkenalkan ini Luna, adik Caryna. Yang kuliah di luar negeri itu."
Ah...ini lagi. Salah satu antik ibu kala berniat menjodohkanku bersama seorang wanita. Siapa dia bilang ini tadi, adik Caryna? Jadi setelah mengetahui yang kakak telah menikah diam-diam dengan pria asing dan tidak dapat lagi dijodohkan denganku, dia beralih ke adiknya. Apa ibu mau aku menikah dengan gadis di bawah umur atau apa?
"Halo, salam kenal kak Luiz. Bibi sudah banyak cerita tentangmu dan aku selalu penasaran ingin bertemu langsung denganmu," ucap gadis bernama Luna itu dan tersenyum. Suaranya lembut dan sifatnya kelihatan sangat tertata.
Aku mengangguk tapi memandang ke arah ibu, mengirim tatapan yang aku yakin dia paham betul maksudnya, "Ada apa, bu? Kenapa tiba-tiba datang membawa adik Caryna kemari?"
"Oh bukan apa-apa sebenarnya. Cuma ini, Luna belum lama ini wisuda dan sedang mencari pekerjaan. Kau bisa membantu dia untuk mencarikan sebuah posisi untuk bidang administrasi bisnis bukan?" Senyum ibu sedikit terlalu lebar dari yang biasa dan itu membuatku agak merinding, "Bagaimana kalau jadi sekretaris atau asistenmu, hm? Kurasa kalian bakal cocok."
Aku tidak gagal menangkap implikasi lain dari perkataan ibu dan mengangkat sebelah alis, perempuan ini benar-benar masih gadis! Apa yang ibu pikirkan sebenarnya membawa dia kepadaku? Aku memberi isyarat pada Stella yang daritadi hanya bolak-balik menatap aku dan ibu penasaran untuk duduk kembali dan menunggu sementara aku berbicara bersama ibu.
"Luiz, apa yang kau lakukan—" ibu berbalik ketika aku telah memutar gagang pintu dan membawa mereka keluar.
Di wajahku, aku yakin seulas senyum 'bisnis' terbaikku sedang terpampang seolah sedang berhadapan dengan beberapa klien dan rekan kerja di ruang rapat yang sulit untuk di atur.
"Aku akan bicara denganmu nanti, bu," ucapku. Lalu menoleh pada Rio, "Rio, antarkan ibuku ke ruangan ayah dan jelaskan kalau gadis ini ingin melamar posisi sebagai salah satu sekretarisnya untuk magang."
Ibu melipat tangan di dada, "Tidak perlu. Kau pikir aku baru pertama kali kemari? Kami bisa menjelaskan semua itu sendiri pada ayahmu. Aku tidak percaya kau memperlakukanku seperti ini, Luiz. Kau anakku sendiri."
"Ibu, aku tidak bermaksud menyinggungmu, tapi kita lanjutkan pembicaraan nanti saja. Aku sibuk."
"Sibuk? Sibuk apa, jika aku tidak salah lihat Luiz, kau dan Stella hendak makan siang saat aku datang."
Aku mengangguk, "Tepat sekali."
__ADS_1
Kedua alis ibu terangkat tinggi, "Hah?"
"...Hm?"
"Ukh, kau membuatku pusing. Terserahlah, jika ayahmu tidak butuh sekretaris. Aku akan kembali lagi padamu," Ibu lalu melenggak diikuti oleh gadis itu.
"Oke."
Aku menghela napas lega. Maafkan aku ibu tapi kau sendiri yang memancingku untuk bertindak begini. Mataku melirik Rio yang kebingungan di mejanya.
"Carikan posisi kosong di bagian staf administrasi atau apalah yang berhubungan dengan itu. Usahakan yang pekerjaannya tidak berhubungan langsung denganku."
"Untuk gadis yang tadi pak?"
"Iya."
Aku ragu ibu akan benar-benar bertanya pada ayah. Dia dan aku tahu, ayah takkan menerima seorang gadis yang baru lulus untuk jadi sekretarisnya. Tak perduli mau sedekat apapun koneksi milik gadis itu dengan ibu.
Kepalaku tak bisa berhenti bergeleng melihat tingkah ibu. Aku menutup pintu dan kembali menghampiri Stella.
"Gadis itu kelihatan dewasa sekali ya, Luiz," ucap Stella yang jelas tidak sadar akan maksud sejati ibu datang kemari bersama gadis itu.
"Hm."
"Dan dia akan bekerja untuk ayahmu?"
"Kurasa tidak, ayah takkan mau, aku cuma bilang itu untuk memberi alasan pada ibu, aku sudah meminta Rio untuk mencarikan posisi lain bagi dia," Aku membuka salah satu tempat bekal ungu yang di bawa Stella, "Apa yang kau bawa?"
Dalam sekejap, Stella langsung melupakan topik tadi demi menjelaskan makanan yang dia buat satu persatu. Aku tidak tahu harus menyebut sifat Stella yang kadang tidak begitu peka atau cenderung terlalu percaya pada orang lain ini sebagai sisi positif atau negatif. Jika itu pria yang tidak loyal, dia bisa saja dengan mudah dibodohi dan diselingkuhi, tapi dalam kasusku, aku tidak perlu khawatir akan berurusan dengan dia yang marah atau minta penjelasan akan sikap ibu yang membawa perempuan lain.
...Kurasa aku akan ambil sisi positifnya saja.
Aku menelan makanan di mulutku perlahan sebelum melirik ke jam tangan, "Karena kau baru pertama mampir kemari. Mau kuajak berkeliling?"
__ADS_1
Stella sontak mengangguk cepat, wajahnya kembali berseri, "Mau!"