
Lebih dari dua minggu berlalu.
Aku memutar setir mobil menyusuri jalan penghubung antara Kota A dan Kota D sambil mendengar Stella berceloteh dari kursi di sebelahku tanpa henti. Saat ini kami tengah dalam perjalanan menuju Kota D untuk menghadiri pernikahan sepupu Stella, Kat, dan dia—saking antusiasnya—tak bisa menahan diri dari berbagi cerita tentang kenangan masa lalunya bersama sepupunya itu dari sejak aku baru tancap gas dari rumah. Hanya ceritanyalah yang daritadi membantu perjalanan ini jadi tidak sesepi yang seharusnya.
Alasan aku memilih untuk menyetir sendiri ketimbang naik pesawat yang tentu lebih cepat dan praktis adalah karena aku butuh suasana baru dari pemandangan perkotaan. Hamparan alam indah yang terlihat sepanjang perjalanan dari Kota A ke Kota D rasanya dapat membantuku untuk sedikit menyegarkan pikiran dari kepenatan. Untunglah Stella baik-baik saja dengan hal ini, karena walaupun belum pernah melakukan perjalanan darat sebelum ini dia tampak senang-senang saja dan tidak menunjukkan gejala mabuk darat daritadi.
"Kat sangat beruntung punya ayah yang suportif untuk segala keputusannya. Padahal dia sempat mau dijadikan penerus firma hukum keluarga mereka oleh ayahnya, tapi begitu dia bilang ingin berhenti demi jadi travel blogger dan influencer, ayahnya langsung mengizinkan dan melepaskan dia dari tanggung jawab itu," Stella yang mengenakan kemeja biru muda dan celana jeans itu berbicara sambil menengok keluar jendela.
"Apa jadi travel blogger atau influencer sebagus itu sampai dia rela melepas firma hukum keluarganya demi itu?" Tanyaku karena serius penasaran. Jika itu aku, aku mungkin takkan pernah menimbang untuk melepas pekerjaan yang lebih pasti seperti bekerja di firma hukum.
Stella berpaling ke arahku, "Tentu saja. Dia bisa melakukan hal yang dia suka dan jalan-jalan ke berbagai belahan dunia hampir setiap minggu ketimbang harus terjebak di kantor dari pagi hingga malam."
Aku melirik sejenak ke samping, "Apa bekerja di kantor itu hal yang buruk?"
"Ah?...Oh! Tidak," Stella mengibaskan tangannya berulang kali, "Bukan begitu maksudku. Cuma bagi seseorang seperti Kat, lingkungan bekerja kantoran seperti itu memang rasanya terlalu ketat dan monoton saja."
"Oh..."
"Luiz, aku tidak bermaksud menyinggung pekerjaanmu," Stella tersenyum, "Kau selalu terlihat keren dengan apa yang kau kerjakan, apalagi saat kau sampai muncul di tv karena itu."
"Tv?"
Stella mengangguk, "Iya, beberapa hari lalu ada acara yang membicarakan para pebisnis muda di tv dan kau salah satu dalam daftar mereka. Mereka bicara banyak soal pencapaianmu."
Oh...Aku tidak tahu soal itu.
Seulas senyum yang tadi singgah di wajah Stella segera melebar saat dia melanjutkan perkataannya lagi, "Intinya semua pekerjaan itu bagus selama orang yang melakukannya juga senang dengan apa yang dia lakukan kan? Luiz terlihat keren saat bekerja di perusahaan dan Kat terlihat keren saat pergi travelling dan menulis untuk majalah atau blognya. Jadi tidak ada yang rugi dengan pilihannya masing-masing."
Aku tersenyum tipis, sedikit ingin bercanda dengannya, "Dan kau terlihat keren saat memasak?"
Stella terkekeh, "Kuharap sih begitu."
Sisa perjalanan aku dan Stella lalui dengan obrolan-obrolan kecil serupa, sementara sesekali dia juga memutar radio atau menonton tv diselanya. Ada total hampir enam belas jam perjalanan yang kami habiskan sebelum akhirnya sampai ke gerbang masuk Kota D. Saat itu matahari sudah lama terbenam, namun selayaknya suasana perkotaan, lalu lintas jalan Kota D justru kian macet menjelang malam hari. Ini bahkan jauh melebihi suasana malam Kota A saat aku biasa pulang kantor sehabis lembur.
Kota D yang terkenal dengan wisata pantainya itu, tampak semarak dengan berbagai pusat hiburan yang buka di malam hari. Sudah lama sejak aku terakhir datang kemari untuk urusan bisnis dulu, jadi aku hampir lupa dengan keramaian kota ini.
Aku menoleh begitu mendengar pergerakan dari sebelahku dan mendapati Stella yang tadi sempat tertidur selama beberapa jam terakhir kini telah terbangun dan melihat keluar jendela.
"Hotel Ritz Carlton kan?" Tanyaku. Sebelum berangkat Stella bilang jika sepupunya sudah memesankan beberapa kamar untuk para tamu undangannya di salah satu hotel dekat pantai.
Stella mengangguk, "Iya."
"Kalau masih ngantuk, kau tidur saja lagi, hotelnya masih agak jauh dan ini juga macet."
Stella menggeleng lalu mencondongkan dan membulatkan matanya ke arahku, "Tidak perlu. Aku sudah segar kembali, Luiz. Lihatlah."
Dia tidak perlu melakukan itu, tapi aku juga tak mau mengomentarinya, jadi aku hanya menjawab pelan, "...Oke."
Syukurlah perjalanan menuju hotel tidak selama perkiraanku. Aku dan Stella tiba di salah satu hotel—yang mengejutkannya—tidak begitu besar tapi yang paling dekat dari lokasi pantai dan kawasan perbelanjaan lain. Aku mungkin tidak akan pernah memesan kamar di sini jika melihat dari bangunannya tapi mungkin sepupu Stella ingin memesan yang dekat dari lokasi pernikahannya. Aku memberi kunci mobil pada valet parking, menarik koper dan jalan masuk ke lobby bersama Stella yang entah mengapa jadi kelihatan begitu antusias akan sesuatu.
__ADS_1
"Semoga Kat tidak lupa untuk memesankan kamar yang menghadap langsung ke pantai," ucap Stella.
Ah, jadi itu yang membuat dia begitu antusias. Kenapa aku tidak terkejut?
"Aku akan pesankan kamar yang lain kalau dia lupa."
Aku memberitahu bagian front desk soal kamar yang telah dipesan atas nama Katrina Miryam dan wanita yang sedang bertugas di sana segera memberikan cardlock untuk kamar 458.
"Ayo," ucapku pada Stella begitu seorang bellboy juga sudah duluan menarik koper kami menuju lift. Yang aneh adalah Stella yang mulanya bersemangat tadi ternyata sedang menatap lurus ke pintu masuk dengan tatapan kosong yang tidak kumengerti. Dia baru tersentak saat mendengar suaraku.
"Oh, ayo Luiz."
"Ada apa? Kau melihat sesuatu?"
Stella menggeleng cepat, tertawa kecil, "Tidak ada Luiz. Hanya ada orang yang berpakaian aneh."
Aku sedikit curiga, tapi aku tidak mau terlalu mengejar-ngejar pertanyaanku. Stella mungkin memang benar melihat itu. Bayangkan betapa anehnya orang itu jika bisa membuat seorang Stella berekspresi seperti tadi.
Sampai di kamar, sebuah kabar baik terutama bagi Stella, sepupunya sungguh memesan kamar yang menghadap ke arah pantai. Stella pun langsung berlari kecil menuju balkon sementara aku memberikan uang tip pada bellboy tadi. Aku belum sadar dengan apa yang jadi masalah dengan kamar ini hingga aku berjalan melewati ruang tamu ke ruang tidur dan melihat satu buah kasur besar di dalamnya.
Apa yang kupikirkan, tentu saja sepupu Stella akan memesan kamar dengan satu buah kasur untuk pasangan suami istri kan?
Aku mengusap wajah, "Astaga. Bodoh sekali aku."
Tanpa buang-buang waktu, aku segera menelpon bagian front desk dan bertanya soal kamar kosong lain dengan dua kasur yang masih tersedia, tapi nihil. Tidak ada. Semuanya sudah terisi oleh turis lain. Sedangkan aku tidak bisa memesan dua kamar berbeda, karena jika salah satu saja dari kerabatnya sampai tahu kalau kami tidak tidur di kamar yang sama, sudah pasti akan memicu pergunjingan.
Dengan bimbang, aku melangkah menuju balkon. Angin malam langsung menyapu wajahku begitu melewati bingkai pintu kaca yang membatasi.
"Kasurnya hanya satu Stella."
Stella mengerjap sejenak dan memproses ucapanku.
"Oh...aku baru ingat kalau kita tidak tidur sekasur," ucapnya seraya bersandar pada pegangan besi balkon, angin meniupi rambut panjang bergelombangnya menjadi semakin liar, "Apa tidak ada extra bed atau kamar lain yang kosong?"
Aku menggeleng, ikut bersandar sambil menggerutu dalam hati akan ketidaksediaan hotel ini, "Tidak ada. Sepertinya semua orang berpikir untuk menginap di sini malam ini."
Tawa renyah terdengar dari sebelahku dan sebuah tepukan pelan mendarat di lenganku.
"Luiz, aku janji tidak akan banyak gerak saat tidur, oke? Kalau aku banyak gerak pun, tinggal bangunkan aku dan aku akan segera pindah ke sofa."
"Tidak mungkin aku menyuruhmu begitu, Stella. Aku yang akan tidur di sofa."
"Oh jangan, Luiz. Kau pasti pegal dari perjalanan jauh. Biar aku saja yang di sofa."
"Aku saja, Stella."
"Tidak, aku saja, Luiz."
Perdebatan ini tidak akan pernah selesai jika begini terus. Aku menghela napas dan mengusap tengkukku, "Mau bagaimana lagi kita tidur di kasur berdua saja kalau begitu. Kau harus bersabar denganku untuk hal ini."
__ADS_1
Selama aku dan Stella tetap di sisi kasur masing-masing, harusnya takkan ada masalah.
"Oke," Stella mengangguk, dia lalu berbalik dan menunjuk ke depan, "Luiz, coba lihat cahaya lampu dari pulau di tengah laut sana. Itu apa ya?"
Mataku mengikuti arah yang tangannya menunjuk, "Oh itu resort yang baru mau di bangun. Aku menaruh investasi di sana."
"Sungguh? Itu yang New Land Resort itu ya? Aku pernah lihat iklannya tapi lupa kalau itu di kota ini. Kelihatannya itu proyek yang sangat besar."
"Iya, pembangunannya masih belum rampung tapi prospek yang mereka presentasikan lumayan bagus."
"Wah...kuharap itu bakal berhasil kalau begitu. Jangan sampai kau rugi ya, Luiz."
"Ayahmu juga ikut investasi di sana, kau tahu."
"Eh ayah juga?" Mata Stella membulat. Dia tampak lucu untuk beberapa saat jadi aku membolehkan sebuah senyum kecil melintas di mulutku.
"Bicara soal ayahmu, apa dia dan ibumu tidak jadi datang kemari?"
Belum lama ini—mungkin sekitar dua minggu lalu—aku mendapat kabar kalau kondisi ibu Stella yang memang sering sakit-sakitan itu tiba-tiba menurun lagi, jadi aku secara alami berpikir orang tuanya belum mau berpergian ke luar kota.
Stella menoleh, "Oh mereka datang, tapi baru akan tiba besok pagi."
Alisku terangkat naik, "Bukannya ibumu masih harus beristirahat?"
"Harusnya. Tapi dia juga ngotot ingin kemari. Katanya dia bosan di rumah terus. Kalau dilarang, nanti malah hanya akan membuat dia makin stress, jadi begitulah," Stella tertawa kecil, namun matanya sedikit meredup beberapa saat, "Luiz, bagaimana dengan pekerjaanmu nanti selama kau berada di sini?"
Aku tidak gagal menyadari kalau Stella sedang mengalihkan pembicaraan tapi aku juga tak suka memaksakan topik pada lawan bicaraku apalagi jika itu sesuatu yang sensitif, jadi aku mengikuti alur saja.
"Tidak ada masalah. Aku sudah menyelesaikan beberapa dokumen penting dan memberi sebagian untuk diurus Rio. Sisanya tinggal mengecek ini itu lewat email."
"Oh baguslah."
Angin yang bertiup terasa semakin kencang. Aku khawatir Stella malah akan masuk angin jika berdiam diri di balkon lebih lama lagi, jadi aku hendak menyuruh dia masuk saat tiba-tiba suara tawa dan ******* seorang wanita masuk ke lubang pendengaranku.
Aku spontan menoleh ke arah suara yang bersumber dari balkon kamar sebelah yang berjarak kira-kira sepuluh kaki dari kamarku dan Stella itu. Dan apa yang kulihat di sana, sungguh membuatku ingin mencuci mataku berkali-kali. Sepasang pria dan wanita yang kini sudah setengah tak berbalut pakaian sedang asik berc*mbu di sandaran balkon tanpa peduli apapun.
"Ck. Apa gunanya kamar kalau melakukannya di luar?" Aku menggerutu dan berpaling. Di sampingku, Stella malah masih menonton pasangan itu dengan mata yang membelalak dan mulut yang menganga.
Ternodai sudah kepolosan matanya.
Dengan sigap aku lekas berdeham dan mengangkat tangan menutupi mata Stella. Aku menggiring dia masuk kembali ke dalam lalu menggeser pintu kaca dengan keras. Berharap suara itu bisa sampai pada pasangan yang jelas sekali tidak punya etika itu agar mereka sadar kalau kelakuan vulgar mereka sudah membuat tamu lain tidak nyaman.
"Eh...Luiz..."
"Anggap saja kau tidak pernah melihat yang tadi."
"O-oke."
Semburat merah mewarnai mulai dari kedua pipi hingga pada kuping Stella begitu aku menurunkan tangan dari wajahnya dan jika panas pada wajah dan badanku ini merupakan suatu indikasi, maka aku tahu dia bukan satu-satunya yang berwajah seperti itu.
__ADS_1
Bagus sekali. Pada saat aku dan Stella harus berbagi ranjang kasur malam ini, hal ini malah terjadi.