Days After You

Days After You
Bab 27 - Perdebatan dengan Ibu


__ADS_3

Seminggu lebih setelah pulang dari Kota D, aku akhirnya dapat menemukan waktu luang untuk berkunjung ke rumah keluargaku. Ibu sudah berulang kali menelpon karena kami tak kunjung datang setelah kembali tapi apa boleh buat aku memang sibuk dengan urusan perusahaan. Maka dari itu, hari ini tepat saat akhir pekan, aku dan Stella pun baru bisa bertandang ke mansion kediaman keluargaku.


Sejak pagi, layaknya yang sudah-sudah ketika aku dan Stella datang berkunjung ke rumah, Stella giat membuat beberapa makanan untuk dibawa ke rumah nanti. Aku tidak berusaha menahan dia lagi seperti dulu karena aku tahu dia akan tetap bersikukuh menyiapkan semua makanan itu tak perduli apa kataku. Alih-alih aku yang menyaksikan dia berkutat di dapur sambil minum kopi pagi pun memilih menawarkan sedikit tangan demi membantu setelah dia hampir menjatuhkan mangkuk yang berisi adonan di tangannya. Terkadang otakku masih terus memproses bagaimana rasa makanannya bisa begitu enak kalau dia yang memasak sangat ceroboh bagai seorang pemula di dapur.


Stella berencana membuat cranberry tart dan chipotle chicken burrito. Jadi sementara dia berurusan dengan adonan untuk tart dan ayamnya, dia memintaku untuk menyiapkan nasi yang akan ditaruh di burrito-nya nanti.



...cranberry tart...



...chipotle chicken burrito...


"Luiz, campur jus jeruk nipisnya dua sendok saja ya, jangan semuanya," ucap Stella. Aku yang sudah mengangkat botol jus jeruk nipis dan hampir menuangkan semua isinya ke dalam mangkuk nasi perlahan menurunkannya lagi.


Hampir saja.


"Oke," jawabku lalu mengangkat semangkuk kecil daun-daun yang tidak kuketahui namanya, "Bagaimana dengan daun-daun ini..?"


"Kalau daun cilantro itu taruh saja semuanya."


"Oke..."


Stella muncul di sebelahku untuk mengambil sendok tidak lama sehabis itu sembari tersenyum, "Aku senang bakal bertemu kakek lagi, dia selalu baik padaku seolah aku ini cucunya sendiri. Kuharap dia suka semua makanan ini, begitu juga dengan ayah dan ibumu."


Aku lantas menoleh dan memiringkan kepala, "Aku selalu bertanya-tanya kenapa kau tidak pernah marah pada kakek dan ayah? Tidakkah kau menyimpan sedikit rasa kesal pada mereka karena sudah menjodohkanmu denganku, orang yang tidak kau kenal sama sekali?"

__ADS_1


Pasti ada. Sebaik apapun Stella, dia pasti tetap akan menyimpan, walau sedikit, sebuah rasa kesal untuk seseorang yang memaksakan sesuatu padanya bukan?


"Aku kenal kau bahkan sebelum semua ini Luiz, kau ada dimana-mana di majalah dan tv jadi mustahil untuk tidak tahu tentangmu. Soal ayah dan kakek...apa kau pernah merasa benci pada ayah dan ibuku untuk alasan yang sama?"


"...Tidak."


"Aku juga sama. Luiz, kau sendiri tahu kalau tidak ada gunanya bagi kita untuk bersusah hati pada mereka yang hanya ingin yang terbaik untuk kita bukan? Walau kau dan aku akan bercerai nanti, kita harus tetap menghormati mereka. Lagipula aku benar-benar suka mendengar cerita kakek, dia pria yang hebat dan bijaksana."


Aku menyaksikan dia menyalakan kompor dan menaruh wajan di atasnya. Rambutnya yang dikepang berayun ke kiri dan kanan akibat pergerakannya.


"Luiz," ucap Stella lagi, dia melirik dari pundaknya, "Aku ingin tanya sesuatu. Kalau kau tidak ingin menikah denganku kenapa tidak membatalkannya saja sejak awal ketimbang harus membuat kontrak denganku? Aku yakin begitu akan lebih mudah untukmu."


"Aku tidak bisa menolak. Kakek sangat suka padamu. Satu-satunya cara agar dia merubah pikiran adalah jika kau sendiri yang menolak perjodohan ini. Dia tidak akan tega memaksamu, aku yakin itu."


Stella sontak membeku, "Oh...aku tidak tahu. Maafkan aku, Luiz. Aku selalu hanya menurut pada apa yang disuruhkan kepadaku jadi aku tidak membantah sama sekali, kupikir kau tidak keberatan, jika aku tahu ini benar-benar membuatmu merasa terjebak aku pasti akan berusaha menolaknya secara baik-baik."


Aku benci pada diriku yang telah mengangkat topik ini. Aku cuma berakhir membuat Stella yang tidak salah apa-apa merasa bersalah akan semua yang terjadi hingga kini sebagai akibat. Kemungkinan terburuk? Aku mungkin juga turut  menyakiti perasaannya pada saat bersamaan.


Di kala matahari telah menunjukkan tanda melewati waktu tengah hari, begitu semua telah kelar dan siap, aku dan Stella berangkat ke rumahku. Di sana kami bertemu ibu yang sedang menonton tv sambil meminum teh. Kami memberikan seluruh bingkisan oleh-oleh dan makanan yang dibuat Stella pada pembantu yang menghampiri kami.


"Luiz! Dan...Stella, aku rindu kalian," Ibu beranjak dari sofa dan bergerak memeluk aku dan Stella sambil menarik senyum yang cenderung dipaksakan. Diam-diam aku menyadari kalau dia tidak memeluk Stella seerat dia memelukku.


"Oh kalian akhirnya datang, akhirnya datang," Kakek juga menyusul muncul beberapa saat kemudian dari arah tangga. Dia lantas mengajak Stella untuk bercerita tentang hari-hari di Kota D dan oleh-oleh yang kami bawa pulang dari sana sementara ibu beralih untuk menarik lenganku menuju ruangan lain.


Aku mengernyit tapi tidak mengutarakan satupun kata yang melawan selain dari pertanyaan singkat.


"Ada apa lagi ini bu?"

__ADS_1


"Ada apa lagi? Tidak ada apa-apa Luiz selain dari kau yang semakin dekat dengan Stella."


"Hah?"


"Bukankah kau bilang kalau pernikahan kalian hanya kontrak? Kenapa aku dengar kalau kau pergi  jalan-jalan bersama dia di mall, tempat penampungan hewan dan...dan pergi keluar kota untuk menghandiri pernikahan sepupunya seolah kalian memang pasangan yang harmonis?"


"Ibu...kau mengawasiku selama ini?" Tanyaku dengan nada tak percaya. Sejak awal, aku memang memberitahu ibu soal kontrakku dengan Stella karena hanya dialah yang sejak awal tidak begitu setuju dengan perjodohan ini. Kalau tahu dia hanya akan menjadi-jadi dan justru bersikap begini, aku takkan melakukan itu.


"Tidak, ibu tidak mengawasimu. Teman-teman ibu melihat kalian tanpa sengaja."


Aku menyipitkan mata, "Sungguh? Karena jika kau melakukannya bu, aku tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Kau selalu wanita yang baik selama membesarkanku tapi kenapa—"


Ibu meraih tanganku, "Oke...oke, ibu minta maaf jika itu menyinggungmu. Mengertilah sayang, aku hanya ingin kau bahagia. Kau layak mendapatkan wanita yang lebih baik Luiz, yang bisa membawa yang terbaik darimu. Dan wanita itu bukan Stella."


"Stella tidak seburuk yang kau kira bu. Dia punya kelebihan dia sendiri dan jika kau berpikir akan menjodohkanku lagi setelah ini, lupakanlah, itu tak ada guna. Lebih baik aku tidak bercerai saja dengan Stella ketimbang harus menikahi wanita asing pilihanmu."


Alis ibu menukik jatuh, "Tidak. Tentu saja ada gunanya. Wanita pilihan ibu akan selalu lebih baik, kalian akan seimbang. Dan jangan beri aku tatapan itu, ibu tahu Stella bukan wanita yang buruk, dia hanya tidak cocok untukmu Luiz. Satu-satunya hal yang membuat dia bisa jadi istrimu sekarang, ya karena dia pintar mencari muka pada kakek dan ayahmu. Dia tidak sepolos pikiranmu asal tahu saja."


Aku membuka mulut tapi ibu mencegatku dengan mengangkat tangan. Dia berbalik badan dan melangkah pergi.


"Sudah. Aku tak mau berdebat denganmu lagi, Luiz. Ayo kembali."


Aku tidak percaya ibu mampu mengatakan semua hal itu tentang Stella tanpa perasaan bersalah. Mencari muka? Kurasa kakek atau ayah bisa segera mengetahui sesaat seseorang mencoba melakukan itu di hadapan mereka.


Kuharap ibu bisa perlahan merubah persepsi dia akan wanita yang pantas bersamaku dan bersabar hingga kontrakku berakhir tanpa menyakiti Stella, sebab aku tidak mau jika sampai harus memilih ingin berpihak pada ibu atau Stella lagi di masa depan. Aku tak mau harus melawan ibu lagi demi membela Stella. Karena ibu selalu adalah wanita yang ingin kuhormati sejak kecil dan Stella juga adalah wanita yang ingin kuhormati sebagai seorang teman dan istriku saat ini. Aku tidak mau menyakiti satupun dari antara mereka berdua.


Lagipula aku tak habis pikir, Caryna sudah menikah dengan orang lain, dengan siapa lagi ibu berpikir akan menjodohkanku nanti?

__ADS_1


__ADS_2