
Dengan peluh yang mulai membasahi dahi, aku berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar dimana ayah Stella bilang mereka berada. Sebisa mungkin aku menghindari orang-orang yang berlalu-lalang dengan berbagai urusannya masing-masing di sana.
Tak ada yang kupikirkan selain dari kalau aku harus segera melihat keadaan Stella secepatnya. Begitu, saat sampai di depan kamar yang dimaksud, aku langsung memutar gagang pintu dan menerabas masuk.
"Stella—" panggilku refleks sebelum terhenti ketika melihat keadaan di dalam ruangan.
Ada Stella, ayahnya, dan seorang suster yang sedang membalut pergelangan kaki Stella dengan kain kasa. Selain pada kakinya, dari posisi aku berpijak, tak tampak luka atau cidera lain yang visibel pada Stella yang duduk di atas kasur.
Ketiga orang itu berpaling ke arahku.
"Oh Luiz, kau sudah di sini," Ayah Stella mengangguk dan mengisyaratkanku agar mendekat. Di sebelahnya, Stella yang sedang duduk di tempat tidur kembali menunduk menatap kakinya.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku.
Ayah Stella menghela napas, "Ini Stella tadi datang ke rumah, saat baru mau pulang dia terjatuh dari tangga, akibatnya dia menyenggol vas keramik di bawah pecahan keramiknya juga sampai merobek kulit di area pergelangan kakinya. Dia juga sempat pingsan karena itu."
"Jatuh?" Tanyaku. Bukan tertabrak?
Ayah Stella mengangguk, "Iya jatuh. Untung dia sadar tidak lama setelah tiba di sini, dan lukanya juga tidak lebar dan bisa pulih dalam waktu dekat, iya kan Sus?"
Suster yang menangani kaki Stella berdiri dan tersenyum membenarkan, "Iya pak, kurang lebih satu minggu kalau lukanya juga sudah betul-betul kering, benang jahitnya sudah bisa dilepas. Ini sudah selesai saya perban, nanti lewat tiga hari boleh kemari lagi buat ganti perban baru."
"Oke, terima kasih ya, Sus," ucap ayah Stella waktu suster yang tadi pamit untuk pergi.
Kelegaan segera meliputiku kala mendengar penjelasan dari ayah Stella dan suster itu. Asumsiku ternyata salah dan Stella bukanlah wanita yang sama yang tertabrak di depan gerbang kompleks.
"Luiz, ini obat yang dari dokter, sudah kutebus tadi," Ayah Stella menepuk pundakku dan memberi gestur ke atas plastik bening berisi obat-obatan di atas nakas, "Jaga Stella ya, usahakan dia tidak banyak gerak apalagi jalan-jalan dulu. Aku harus pulang sekarang, kasihan mamanya ditinggal di rumah daritadi. Dia pasti khawatir. Kalian baik-baik ya, jangan sering bertengkar juga, selesaikan semua baik-baik. Oke?"
Mendengar kalimat terakhir, aku sontak mendongak. Apa Stella memberitahu ayahnya soal pertengkaran kami semalam? Aku melirik Stella tapi dia masih menunduk.
Aku balik menatap ayah Stella dan mengangguk, "Iya, Yah. Aku mengerti."
"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Stella kau hati-hati saat jalan ke depannya ya, kau membuatku jantungan saat jatuh tadi."
"Iya Pa..."
Bunyi pintu yang terbuka dan tertutup kembali sesudah itu pun menandai kepergian ayah Stella dari kamar rumah sakit. Aku melirik Stella yang perlahan mengangkat mukanya kembali. Kedua alisnya miring ke atas sambil dia membuka mulut, "A-aku tidak cerita pada ayah kalau kita bertengkar. Tapi dia langsung tahu sebab aku menahannya dari menelponmu kemari. Luiz aku—"
Aku berjongkok, memandang kaki Stella yang sudah di perban itu, "Sakit?"
"Ah?"
"Kakimu. Sakit sekali?"
__ADS_1
Stella menggeleng pelan, "Tidak terlalu..."
"Mau pakai kursi roda atau kugendong saja buat ke mobil?"
"Kursi roda!" Stella berseru lantang. Untung saja ayah meminta kamar VIP jadi saat itu cuma kami berdua yang berada dalam ruangan, "Eh...tidak jadi. Tidak perlu dua-duanya, aku masih bisa jalan sendiri," timpal Stella lagi.
Aku tersenyum kecil seraya berdiri kembali, "Hm, tapi aku tidak yakin kau takkan jatuh lagi nanti di tangga rumah sakit, aku gendong saja ya."
Pipi Stella memerah, bibirnya mengerucut gemas saat dia bergumam, "...Aku tidak seceroboh itu."
"Selain ini, benar tidak ada luka lain kan? Yang sakit atau memar?" Tanyaku memastikan lagi dan Stella menggeleng.
"Oke. Kita pulang saja sekarang kalau begitu."
Aku meraih plastik berisi obat tadi, memberinya pada Stella untuk dipegang dan bergerak untuk menggendongnya kemudian. Sebab dia menolak untuk digendong di depan, aku jadinya menggendong dia di belakang punggungku. Diluar perkiraanku, tubuh Stella terasa begitu enteng, padahal dia tidak sekurus itu tapi badannya sungguh ringan hingga aku merasa seperti tak sedang menggendong orang dewasa lagi.
Tidak terlalu banyak orang di rumah sakit, jadi cuma ada beberapa orang yang menyaksikan aku menggendong Stella menuju pintu keluar.
Kedua lengan Stella yang melingkar di leherku tiba-tiba mengerat, "Luiz...malu."
"Tidak perlu malu. Aku cuma menggendongmu bukan menciummu di muka umum."
"Luiz!" Stella setengah berseru dalam volume rendah yang cuma aku yang bisa dengar. Aku tertawa kecil.
"Syukurlah kau cuma cedera kecil," ucapku, diam-diam menahan sensasi bahagia yang timbul dari tubuh Stella yang menempel padaku, "Aku sempat panik saat tak mendapatimu di rumah tadi. Aku pikir kau itu wanita yang ditabrak di depan gerbang kompleks."
"Tak apa, wajar kalau kau ngambek, aku sudah memarahimu untuk hal sepele kemarin. Aku yang minta maaf atas yang kemarin."
Stella menggeleng membuat rambut panjangnya bergesekan dengan pipi dan leherku, "Aku juga salah...maaf ya."
Stella yang tidak mau lagi aku salah paham, saat itu juga langsung menjelaskan tentang pertemuannya kemarin dengan mantannya itu.
"Dia sungguh datang hanya untuk minta maaf saja, tidak ada maksud lain lagi," jelas Stella.
Ternyata pria itu benar-benar hanya berniat minta maaf tanpa meminta apapun lagi pada Stella, dia sungguh merasa bersalah atas apa yang sudah ia perbuat di masa lalu yang telah menyakiti Stella dan keluarganya. Katanya setelah tanpa sengaja bertemu Stella di restoran, perasaan bersalah kembali menghantui dia. Kini pria itu sudah sukses, dia ingin membayar semua harta yang pernah dia kuras dari Stella namun tentu saja Stella menolaknya karena telah ikhlas.
Stella juga bilang bahwa terkadang dia masih sesekali mengingat saat-saat bahagianya dengan pria itu—aku mengabaikan sesak yang timbul di hatiku untuk mendengarkan—tetapi dia menyadari bahwa itu sudah menjadi masa lalu dan cuma menjadikannya kenangan dalam pikirannya saja.
Aku menurunkan Stella untuk membuka pintu mobil dan membantunya duduk. Tak lupa aku juga memasangkan sabuk pengaman untuknya.
Dari jarak yang hanya terpisah beberapa senti dari wajahku, Stella menatapku dengan matanya yang bersinar dan senyumnya yang cemerlang, "Terima kasih, Luiz."
Aku senyum dan mengacak rambutnya pelan, "Hm."
__ADS_1
Setelah malam itu, Stella masih rutin untuk pergi menengok ibunya walau dengan frekuensi yang dibatasi hingga kakinya benar-benar pulih. Aku akan mengantar dia pada pagi hari sebelum kerja dan menjemput dia pada waktu pulang.
Saat ini, aku baru saja selesai berdiskusi bersama ayah di ruang kerjanya perihal beberapa urusan di perusahaan dan bersiap untuk keluar ketika ayah tiba-tiba bertanya perihal kondisi ibu Stella.
Aku mengurungkan niat untuk berdiri, "Sudah membaik tapi masih harus terus istirahat. Stella juga masih sering ke sana untuk menengok ibunya."
"Oh syukurlah, semoga ibunya cepat sembuh. Dan soal Stella...bagaimana kabar hubunganmu dengan dia, Pak Wesley bilang kalian sempat bertengkar?"
Aku mencoba memikirkan jawaban sejenak, "Cuma masalah biasa, sekarang kami sudah tidak apa-apa."
"Hm. Itu bagus. Pertengkaran cuma salah satu dari bagian dari perjalanan rumah tangga, jangan biarkan itu menjauhkan kalian," ayah menyeruput kopi.
Aku menunggu dia menaruh cangkirnya kembali sebelum lanjut bertanya, "Ayah, kenapa kau dan kakek memilih Stella dari antara banyaknya anak direktur lain yang juga bisa dijodohkan denganku?"
Entah darimana, aku tiba-tiba ingin menanyakan pertanyaan itu saat ini.
"Ah, akhirnya kau menanyakan itu. Sejak awal kau tidak pernah bertanya akan alasan kami, kenapa tiba-tiba?"
"Itu, aku hanya penasaran saja."
Ayah bersandar dan mengusap dagu, "Hm soal itu...ya karena menurut kami dia gadis yang paling cocok denganmu. Sesimpel itu. Dia memang bukan wanita yang sering kau lihat dalam pertemuan bisnis atau yang penuh prestasi seperti yang diinginkan ibumu, tapi sifatnya dari pandanganku, bisa membuatmu jadi lebih seimbang. Aku ini ayahmu, meski aku bukan ayah yang sempurna dan penuh kasih sayang seperti orang lain di luar sana, aku kenal kau dan tahu mana yang terbaik untukmu. Kakek juga begitu."
Aku memang bertanya tapi aku juga tidak berekspetasi akan mendapatkan jawaban yang sentimentil dari ayahku. Ayah yang sama yang selalu mendidikku dengan keras kini berkata-kata padaku dengan...hangat? Rasanya aneh diperlakukan begini tiba-tiba.
"Kau sungguh tidak ingat pernah bertemu dengan Stella dulu? Dia juga pernah main ke rumah kita dan bermain denganmu dulu saat masih kecil, yah walaupun hari itu berakhir dengan kurang mengenakkan," ucap ayah lagi.
Aku mengerjap, "...Kurang mengenakkan?"
"Iya. Kalau aku tidak salah ingat, saat itu kau masih tujuh tahun dan Stella empat tahun. Ketika pertama kali bertemu denganmu, dia langsung suka padamu. Dia terus memanggilmu kakak-kakak dan mengekorimu kemanapun. Kebetulan waktu itu juga bertepatan dengan sepupu-sepupumu dan anak rekan kerja ayah yang lain mampir, jadi kalian semua pergi bermain keluar bersama. Aku tidak ingat bagaimana pastinya, tapi kau tiba-tiba pulang dengan wajah yang masam sambil menggendong Stella yang menangis di punggungmu. Kau memarahi dia di depan semua orang, bilang kau benci dia dan dia tidak pernah datang lagi sesudah itu."
Ayah tertawa kecil mengingatnya namun aku cuma bisa terdiam. Jika memori ayah memang tepat, apa itu berarti aku sudah pernah menyakiti Stella bahkan sejak masih kecil? Apa—apa Stella masih ingat tentang hal ini? Kurasa tidak, dia kan masih empat tahun saat itu. Jika aku yang lebih besar saja idak ingat, tidak mungkin dia mengingatnya.
Ayah tersenyum kecil, "Wajar jika kalian tidak ingat, kalian masih sangat kecil. Tapi asal kau tahu saja, cukup sulit untuk membujuk Pak Wesley dulu agar mau memberi izinnya menikahkanmu dengan Stella, alasannya ya karena dia masih ingat kejadian itu, dia takut kau akan membenci dan memperlakukan Stella dengan buruk seperti dulu."
Ah pantas saja. Sebelum menikah dengan Stella dan pada masa-masa awal pernikahan kami, Pak Wesley, tiap kali bertemu denganku saat rapat gabungan di perusahaan, agaknya sering bersikap dingin padaku. Sekarang aku tahu alasannya.
Aku menggeleng dan tersenyum kecil, "Aku jadi sedikit takut untuk bertemu Pak Wesley setelah ini."
"Kau mau ke rumah Pak Wesley?"
Aku mengangguk, "Iya, mau jemput Stella."
"Ah, salam pada Pak Wesley dan istrinya kalau begitu. Stella juga ya. Tenang saja, kau sudah lumayan membuktikan kalau kau itu menantu yang baik sampai sekarang."
__ADS_1
Lumayan, ya.
Aku menyunggingkan senyum kecil, "Aku harap juga begitu."