Days After You

Days After You
Bab 21 - Air Dingin


__ADS_3

Berendam dalam air hangat sehabis melakukan perjalanan yang cukup jauh memang ampuh untuk merilekskan otot-otot pegal dan menaikkan suasana hati. Aku yang tadi sebal akibat pemandangan tidak senonoh dari penghuni kamar sebelah, setidaknya kini bisa mengelap rambut sembari melangkah keluar dari kamar mandi dengan suasana hati yang lumayan membaik.


Kakiku baru saja hendak menanjaki ranjang agar bisa segera tidur begitu mataku menemukan Stella yang sudah lebih duluan mandi sedang duduk di depan meja rias sambil menampar kedua pipinya berkali-kali.


"...Stella, apa yang kau lakukan, kenapa kau menampar-nampar wajahmu?"


Menghentikan gerakan tangannya, Stella lantas berpaling. Dia memakai sebuah bando untuk menahan poninya, jadi aku bisa lihat dahinya yang lumayan lebar tampak berkilau.


"Oh Luiz. Aku cuma mengikuti cara memakai serum yang ada di internet. Katanya aku harus menampar-nampar pipi agar cairannya bisa menyerap dengan baik."


Uh...aku tidak akan pernah mengerti segala perawatan yang dilakukan wanita untuk wajah mereka. Tidak bisakah mereka melakukan hal yang normal saja tanpa menampar-nampar pipi?


"Luiz, kau tidak pernah memakai skincare seperti ini?"


"Aku tidak pernah memakai skincare apapun kecuali pencuci wajah."


Kedua alis Stella terangkat naik, "Tapi kulitmu sangat halus dan bersih, Luiz."


"Sudah begitu sejak lahir..."


"Wah senangnya. Aku dulu juga hanya cuci muka dan pakai pelembab. Aku baru belajar pakai skincare setelah menikah karena banyak yang memberi hampers skincare dan kulitku jadi lebih bercahaya semenjak itu. Kalau kau pakai, mungkin kau akan jadi transparan sekarang, Luiz."


Itu sungguh konyol jadi aku tertawa kecil, "Syukurlah aku tidak terlalu tertarik untuk itu kalau begitu."


Stella tertawa. Dia melanjutkan gerakan tangannya dan menyelesaikan sisa rutinitasnya sementara aku mengatur bantal guling di tengah kasur untuk membatasi kedua sisinya. Dengan begini, antara aku dan Stella tidak akan ada yang menerobos wilayah masing-masing selama tidur.


Saat aku membaringkan tubuh, rasanya aku bisa langsung tertidur dengan pulas. Aku memejamkan mata ketika merasakan beban lain menekan sisi kasur yang satunya.


"Luiz, aku matikan lampunya ya. Selamat malam," ucap Stella dengan volume berbisik. Suara klik dari lampu tidur yang dimatikan terdengar menyusul tidak lama kemudian dan ruangan seketika menjadi begitu hening.


"Malam," gumamku sambil memutar tubuh membelakangi Stella. Aku bersyukur tidur dengan cepat melingkupiku sesudah setelah itu.

__ADS_1


Itu tak lama begitu memasuki pertengahan malam ketika aku merasakan pergerakan di sebelahku. Serupa dengan gerakan ulat yang menggeliat tanpa henti, mau tak mau aku jadi terjaga dari tidurku akibatnya. Masih dengan rasa kantuk, aku membuka kelopak mataku perlahan.


Di sana di sisi kasur lain, Stella yang kelihatannya masih terlelap berulang kali mengganti arah tidurnya seolah dia sedang tidak nyaman akan sesuatu. Peluh dan kerutan yang muncul pada keningnya jadi membuatku agak khawatir.


Apa dia bermimpi buruk?


Aku mengangkat guling yang membatasi kami untuk perlahan bergeser mendekati Stella. Bukan apa, tapi aku tidak bisa tidur jika dia terus bergerak begitu. Tanganku sudah terangkat untuk membangunkan dia namun sebuah pemikiran tiba-tiba menghentikanku.


Apa yang harus kulakukan saat dia terbangun, bukankah dia akan cukup sebal waktu tahu aku membangunkannya hanya karena mimpi dan membuat dia harus mencoba tidur lagi? Mungkin cara terbaik adalah menenangkan dia tanpa perlu membangunkannya, dengan begitu aku juga bisa sekalian menghindari kecanggungan yang datang kan?


Perlahan, aku mencoba menahan tubuh Stella dari memutar arah lagi memakai lenganku. Aku lalu menepuk-nepuk lengannya selembut mungkin dan mencoba meluruskan kerutan di keningnya dengan mengusapkan ibu jariku di sana.


"Em..." Stella bergumam dan tubuhku menegang. Aku menunggu untuk melihat apa dia terbangun tapi dia hanya lanjut tidur.


Entah apa atau siapa yang membuat alam bawah sadarnya bereaksi hingga seperti itu aku tidak tahu, tapi caraku tampaknya berhasil menenangkan dia. Dia kembali tidur tenang jadi aku menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya kembali dan bergeser ulang ke sisi kasurku untuk melanjutkan tidur.


Esok pagi, Stella bangun lebih dulu dari aku. Dia sudah duduk di kasur dengan rambut seperti singa dan wajah yang memerah ketika aku membuka mata lagi. Wajahnya memerah untuk alasan yang tidak kuketahui.


Aku menggosok mataku, "Uh, pagi."


"Um...aku..." Stella menggigit bibir seraya menatapku dengan alis berkerut, dia lalu turun dari kasur dan membungkuk, "Aku tidak bermaksud melewati batas wilayahku dan melecehkanmu, Luiz!"


"Hah...?" Aku melotot dan bangkit duduk, "Apa maksudmu... melecehkanku?"


Wajah Stella makin merah, "Saat bangun, aku sudah dalam posisi memelukmu. Piyamamu juga terangkat naik, jadi aku menyentuh kulitmu langsung..."


Memelukku....Apa dia berguling ke arahku semalam, sehabis aku menenangkannya? Aku melihat guling yang semalam sudah terletak di sebelahku. Astaga. Aku lupa menaruh gulingnya kembali ke tengah setelah menenangkan Stella dan malah memakainya saat tidur.


Aku menggaruk tengkukku pelan, "Stella, tenanglah, kau tidak melecahkanku sama sekali. Itu bukan apa-apa."


"Sungguh? Walau aku menyentuhmu tanpa izin?"

__ADS_1


"Iya, tenanglah."


Stella sontak menghela napas lega, ia bahkan mengusap dada pelan dan berbicara dengan suara setengah berbisik, "Oke...terima kasih Luiz."


Tidak, jangan berterima kasih seolah aku baru saja meloloskanmu dari sebuah kesalahan fatal, ini sungguh bukan apa-apa.


Aku menggeleng, "Kalau...kalau kau mau pakai kamar mandinya duluan, duluan saja."


"Oh oke."


Stella segera pergi ke kamar mandi dan aku menghempaskan tubuhku kembali ke kasur. Itu benar-benar canggung. Sudah kuduga keputusanku untuk tidak membangunkan dia semalam memang sudah tepat.


Uh...bagaimana reaksinya jika dia tahu kalau aku menenpuk-nepuk lengan dan mengusap keningnya tanpa izin semalam, apa dia akan meneriakiku? Aku lebih baik menutup mulut rapat-rapat soal itu. Padahal aku berniat untuk bertanya pada dia tentang mimpinya semalam, tapi barangkali lebih baik jika aku tidak mengungkit itu.


Ketika Stella keluar dari kamar mandi, aroma semerbak dari sabun mandi yang selalu dia gunakan langsung memenuhi indera penciumanku. Aroma itu—sejak beberapa minggu terakhir jika aku tanpa sengaja menghirupnya—selalu berhasil membuatku merinding. Aku tidak mengerti mengapa aku bereaksi seperti itu tapi itulah yang selalu terjadi.


Aku mengernyit dan menggeleng sebelum mendengar Stella memanggil namaku. Rambutnya lembab dan wajahnya polos tanpa polesan apapun.


"...Hah?" Gumamku. Aroma tadi masih terus menyerang hidungku.


"Bukan apa-apa, Luiz," Stella tersenyum, "Cuma mau bilang, aku sudah menampung air panas untukmu."


"Oh oke..."


Senyum Stella meredup, "Luiz, kau tidak apa? Wajahmu merah."


"...Tidak, aku baik-baik saja."


Aku bergegas ke kamar mandi dan menutup pintu rapat. Ada apa denganku sebenarnya? Stella bahkan tidak cantik atau apa, tapi kenapa aroma sabun atau parfumnya saja dapat memancing reaksi aneh dariku akhir-akhir ini?


Mungkinkah karena itu juga aroma yang sama dengan yang tak sengaja kuhirup saat dulu harus mencium dia di acara pernikahan kami? Segala memori yang berkenaan dengan itu jadi ikut kembali mengisi pikiranku.

__ADS_1


Aku melihat bak mandi yang sudah penuh dengan air panas yang ditampung Stella tapi aku bergerak untuk mencabut tutup salurannya dan menyalakan shower. Maafkan aku Stella, saat ini yang kubutuhkan adalah air dingin.


__ADS_2