Days After You

Days After You
Bab 41 -Panik


__ADS_3

"Da-darimana kau tahu, Luiz?" Stella menaruh tangan di dada sambil melotot.


"Papamu yang bilang padaku. Dia sangat geram karena aku membiarkanmu menemui pria itu tapi aku berhasil menahannya dari melabrak kalian tadi."


"Oh..."


"Kenapa kau berbohong padaku, Stella?" Tanyaku, "Kalau tidak mau memberitahu siapa dia sebenarnya, kau tinggal bilang saja 'Oh aku tidak bisa memberitahumu Luiz, itu bukan urusanmu dan bla bla' gampang kan?"


Stella mengalihkan pandangan, "Maaf...kupikir urusan pribadi dan masa laluku bukan hal penting bagimu Luiz."


Jleb.


Sesuatu yang tajam serasa menusuk ulu hatiku. Setelah semua yang kulakukan untuknya, dia masih berpikir jika aku tidak peduli padanya...?


Aku berkacak pinggang dan mengacak rambut, "Aku itu peduli Stella! Aku peduli padamu, kau pikir kenapa aku selalu mau membantumu selama ini jika aku tak peduli? Bukankah kau bilang ingin jadi teman atau...partnerku dulu? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi kalau kau sendiri masih memandangku dengan pemikiran seperti itu? Kau selalu bilang aku ini pria yang bisa diandalkan tapi ternyata jauh di lubuk hatimu aku cuma pria dingin yang tak benar-benar peduli padamu ya kan?"


Mata Stella bergerak naik, pandangannya bertemu milikku, ada sedikit api di sana, "Kau—kau sendiri yang sejak awal menutup diri dan menolakku. Malam itu kan, saat kau lembur, aku cuma ingin mengajakmu bersahabat tapi kau bahkan tidak mau. Tentu saja aku akan menganggapmu tidak peduli. Jangan membalikkan fakta, Luiz."


Tanpa membiarkan aku mencegahnya, Stella berlari menuju kamarnya dan mengunci pintu. Seketika aku kehabisan kata-kata. Tak ada yang lebih kuinginkan sekarang selain dari punya kemampuan untuk kembali ke masa lalu dan memukul diriku yang pernah menolak Stella. Sekarang, omonganku pada malam itu jadi berbalik arah dan menyusahkanku sendiri.


Gigiku menggeretak sementara tanganku mengusap wajah gusar dan membuka pintu kamarku sendiri. Malam itu tak ada satupun dari aku maupun Stella yang pergi keluar kamar. Aku tidak memedulikan rasa laparku dan melarutkan diri pada tumpukan pekerjaanku.


Apa yang bisa kulakukan? Mau minta maaf pun, Stella pasti takkan membukakan pintunya lagi malam itu. Salahku yang langsung meledak cuma karena dia bilang aku tak pernah peduli padanya. Harusnya aku tahu untuk tidak membiarkan perasaan menguasai diriku. Aku selalu bersikap tenang, tapi malam itu aku kehilangan kontrolku dan bertingkah seperti bukan diriku.


Besok aku harus minta maaf. Apapun yang terjadi, mau Stella masih ngambek atau apa, aku harus segera minta maaf.


Itu rencanaku. Tapi tentu saja, esok hari, Stella masih enggan berhadapan atau berbicara denganku secara langsung walaupun dia tetap menyiapkan sarapan untukku. Entah dia bangun jam berapa, namun saat aku turun sudah ada sarapan yang dia siapkan di atas meja makan, tapi sayang makanan-makanan itu...juga sudah mulai mendingin.

__ADS_1


Aku menghela napas. Alih-alih duduk dan makan, aku justru kembali naik dan mengetuk pintu kamar Stella.


Tok. Tok.


"Stella...Stella!"


Suaraku tak begitu lantang tapi aku yakin Stella mendengar itu dari dalam kamarnya. Tidak ada respon atau jawaban sama sekali darinya.


"Masih marah?" Tanyaku, "Aku minta maaf Stella, kumohon keluarlah..."


Hening. Aku menghela napas.


"Oke, aku akan membiarkanmu sendiri untuk saat ini. Tapi pulang nanti, kita harus bicara."


Sehabis berucap itu, aku lalu turun ke bawah, menyantap nasi goreng dan potato wedges yang sudah dingin tadi sebelum berangkat kerja dengan hati yang kusut. Ini akan menjadi hari yang panjang di perusahaan.


Aku bergeser kala bersamaan dua ibu-ibu yang asik mengobrol sambil membawa begitu banyak tas belanja juga hendak masuk ke dalam lift. Mereka tersenyum sekilas ke arahku sebelum kembali melanjutkan perbincangan mereka itu.


"Eh dia itu penghuni sini juga ya?"


"Kurang tahu, bu. Tapi bisa jadi sih iya, kan pas benar di depan pintu gerbang ketabraknya, mungkin lagi nunggu taksi, kasian ya. Cewek masih muda lagi."


"Padahal kalau mau tunggu taksi mah di dalam gedung juga bisa ya, kenapa mesti repot-repot ke gerbang depan. Parah sekali loh itu. Yang bawa mobil katanya mabuk kan, jadi tidak fokus begitu."


"Iya yah, sekarang harus lebih was-was pokoknya."


Kedua alisku terangkat naik. Tadi saat melewati gerbang masuk, aku memang sempat melihat bekas merah di trotoar dan jalan, tapi aku tidak begitu banyak pikir, ternyata ada orang yang baru tertabrak ya. Apa orang itu baik-baik saja? Kalau kuingat lagi...darahnya lumayan banyak juga.

__ADS_1


Aku menggeleng, zaman sekarang kita yang berhati-hati dan tak salah tetap saja bisa celaka akibat kelalaian orang lain. Kuharap pengemudi mabuk itu bisa mendapat konsekuensi yang setara.


Lift tiba di lantai teratas. Aku berjalan menuju unitku dan menekan kode pintu untuk masuk. Di dalam sangat gelap tanpa ada suara maupun aktivitas  apapun. Apa Stella masih belum keluar dari kamarnya daritadi? Rasanya tidak mungkin.


Setelah mengeklik saklar, aku langsung naik tangga dan jalan menuju kamar Stella yang juga sama kedengaran sepi.


Tok. Tok.


"Stella...Stella?" Panggilku, "Keluarlah, sudah cukup kau bersemedi di dalam sana. Aku minta maaf atas yang kemarin. Kumohon keluarlah dan bicara denganku."


Layaknya pagi tadi, hanya keheningan yang menyambutku. Tidak ada suara apapun di balik pintu kamar Stella. Perasaanku mulai tidak enak. Aku meraih ponsel dan menelpon nomor Stella namun aku juga tak mendengar nada dering apapun dari dalam walau panggilannya tersambung. Antara dia mengaturnya pada mode diam atau dia memang sedang keluar dan belum kembali. Tapi kemana dia?


Alih-alih pada dering kedua, telponku diangkat, namun bukan suara lembut khas Stella yang kudengar melainkan suara berat ayahnya yang menjawabku.


"Oh Luiz...tepat sekali kau menelpon. Aku baru saja ingin menelponmu," ucap ayah Stella dengan nada khawatir.


Alisku mengernyit, "Pa...? Ada apa?"


"Iya, ini aku. Cepatlah kemari. Aku lagi di rumah sakit menunggui Stella. Dia lagi dirawat—"


Seluruh otot-otot ku serasa melemas. Perbincangan dari dua ibu-ibu yang tidak sengaja kudengar waktu berpapasan denganku saat masuk lift tentang wanita yang tertabrak di depan gerbang tadi seketika menimpa suara ayah Stella di ujung panggilan. Jangan bilang jika wanita yang mereka maksud tadi itu adalah Stella.


Ini bercanda kan?


---


Haiii, author baru update lagiii😅. Sebenarnya udah pengen up dari beberapa hari lalu (udah selesai nulis bab ini) cuma karena sibuk nyari vaksin booster + demam pas habis vaksinnya, jadinya lupa 🤧.

__ADS_1


Buat yg masih setia menunggu, ku sayang kaliann🥰


__ADS_2