
Sebuah grup obrolan yang lama telah ditinggal karena semua anggotanya sudah sibuk di dunia kerja masing-masing kembali ramai bermula dari ajakan Jeffrey untuk merayakan kepulangan dirinya dari luar negeri. Grup obrolan itu tak lain berisi teman-teman semasa kuliahku dulu yakni Jeffrey, Ethan, August dan Nino. Awalnya aku cuma menyimak seperti yang sering aku lakukan, namun ditengah kegaduhan obrolan itu, alisku tidak bisa tertahan untuk tak bertekuk kala menyadari ada pembahasan soal Stella yang diungkit oleh Jeffrey kepada yang lain.
Jeffrey: Omong-omong, aku tadi mampir ke rumah Luiz. Kalian masih ingat istri Luiz? Aku tak menyangka dia bakal menikah dengan wanita itu! Hahaha
Ethan: Kenapa memangnya? Seingatku istrinya biasa-biasa saja?
Jeffrey: Justru itu dia masalahnya, aku tidak sadar saat bertemu tadi dan mengira dia pembantu Luiz hahaha
Nino: Parah sekali kau, masa dikira pembantu hahaha.
Jeffrey: Yah bagaimana lagi, aku lupa wajahnya haha
August: Separah apa memorimu sampai lupa wajah istrinya.
Ethan: Memang tidak ada yang berkesan sih, tidak cantik tapi tidak jelek juga haha.
Luiz: Bisakah kalian berhenti bicara seolah aku tak ada di sini? Itu istriku yang kalian bilang seperti pembantu.
Nino: Bukan aku ya Luiz. Si Jeff dan Et tuh.
August: Luiz, lama tidak dengar kabar darimu. Kau bakal datang makan-makan nanti?
Jeffrey: Ah maaf Luiz, aku hanya bercanda, kau tahu itu kan.
Ethan: Luiz, jangan terlalu sensitif, kita bukan menghina istrimu haha
Luiz: Nanti lihat Gust, jika orang-orang ini berhenti membicarakan istriku, aku bakal datang.
Nino: Jeff, Et, sudah cukup. Luiz marah tuh.
August: Kalian berhentilah.
Ethan: Yah santai lah Luiz.
Jeffrey: Oke-oke, berhenti membahas istri Luiz, nanti dia marah dan tak mau datang haha. Luiz kau harus datang ya, aku cuma bercanda tadi oke?
Apa mereka selalu seperti ini? Aku tidak ingat mereka pernah membicarakan orang lain dengan nada merendahkan saat masih kuliah dulu. Hanya August yang tampaknya tak banyak berubah dari dulu.
Jeffrey: Ingat kalian semua, hari Rabu jam tujuh malam di Restoran Forty Eight ya. Bawa pasangan kalian juga, jika ada....hahaha
__ADS_1
Nino: Ada lah. Kau pikir siapa aku ini, masa datang sendiri.
Ethan: Sip. Aku ajak Keisha kalau begitu.
August: Ok.
Jeffrey: Luiz?
Luiz: Ok.
Jeffrey: Good.
Malam acara Jeffrey tiba tanpa ditunggu. Kesibukan di kantor selama dua minggu ini membuat aku hampir lupa akan acara itu. Aku mengenakan kemeja hitam polos dan celana kain senada sementara Stella memakai gaya yang sama yang dulu pernah dia pakai saat Natal ke rumahku dulu. Sweater dan rok panjang. Dia sangat manis aku hampir lupa untuk berkata sesuatu.
"Luiz?" Stella memiringkan kepala di hadapanku.
Aku menggeleng dan tersenyum kecil, "Ayo berangkat."
Jeffrey telah memesan ruang VIP di restaurant Forty Eight untuk acara malam ini, jadi begitu sampai aku dan Stella langsung diantar ke sana. Mereka semua—Jeffrey, Nino, August dan Ethan beserta pasangan mereka masing-masing—sudah duduk santai kala kami masuk ke dalam ruangan.
"Yo, Luiz," sapa Jeffrey.
"Luiz," sapa August.
Jeffrey merangkulku dan Stella lalu memutar badan agar menghadap semua yang ada di ruangan, "Semuanya, ini dia pasangan yang kita tunggu. Luiz dan istrinya...Stella."
Alisku merengut, aku melepaskan tangan yang melingkar di leherku, "Hentikan candaanmu itu, Jeff," bisikku tegas.
Jeffrey terkekeh seraya mengedipkan mata, ia memberi gestur ke arah kursi-kursi kosong, "Canda. Ayo duduklah."
Aku membawa Stella yang merah padam akibat malu ke kursi di sebelah August dan tunangannya. Seperti dugaanku, cuma dia yang tetap seperti pria yang kukenal dulu dan bersikap sopan pada Stella sepanjang makan malam. Yang lain, tidak terlalu. Mereka dan diikuti beberapa wanita pasangan mereka kerap mencoba mencari celah agar bisa mengomentari Stella dari setiap sudut.
"Stella kayaknya cewek baik-baik sekali ya," ucap Ethan, dia merangkul wanita yang dia bawa yang katanya seorang model itu sambil turut tertawa, "Memang tipe Luiz sih. Dia kan suka yang kalem-kalem hampir kuper gitu."
"Yah Luiz, masa istrimu dikatain kuper," Jeffrey tertawa, "Marahin noh."
"Kenapa kalau kuper? Lebih baik kuper daripada yang hobi pergaulan bebas kan, sudah dipake sana-sini," ucapku lalu menuangkan wine ke gelas Stella yang tersenyum kecil. Beberapa orang tertawa natural, sedangkan yang tersinggung cuma memaksakan suara 'hahaha' keluar dari mulut mereka.
Sekali lagi, aku tak ingat mengobrol bersama teman-teman kuliahku akan terasa tak seasik ini. Dulu saat nongkrong, kami bisa tertawa bebas tanpa harus terlebih dahulu mengatai atau membawa turun nama orang lain dalam obrolan kami.
__ADS_1
"Eh eh tapi kalian ingat tidak, Luiz dulu pernah dideketin sama model kampus? Yang cantik banget itu loh, si Karen," ucap Nino sehabis tertawa.
Aku mengangkat alis, "...Siapa?"
"Anak adbis, yang satu tingkat di bawah kita, belasteran," timpal August.
Aku...tak ingat.
Nino menggeleng-geleng, "Nah karena begini nih makanya dia nyerah. Kau itu tak pernah peka. Padahal satu kampus sudah yakin kalau kau dan dia bakal jadi."
Seumur-umur wanita yang pernah ada dalam radarku yang hampir 'jadi' denganku cuma Caryna yang diperkenalkan ibu. Diluar dia, aku tak pernah menganggap wanita lain sebagai kandidat.
"Tapi tak apa, karena akhirnya dia malah jadian sama Ethan. Yang gampang luluh sama cewek cantik, ya gak tuh Et?" Jeffrey menyenggol Ethan.
"Yoi."
Dari situ obrolan terus berlanjut dengan bermacam topik acak semasa kuliah. Itu setengah jam kemudian ketika Stella tiba-tiba beranjak dari kursinya sambil memegang perut, mukanya pucat dan penuh peluh.
"Kenapa Stella?" Bisikku.
Stella menggeleng, "...Cuma sakit perut. Mau ke toilet sebentar."
"Aku temani."
"Eh...tidak usah, Luiz. Aku bisa sendiri."
"Tidak apa, aku temani saja."
Wajah Stella sepucat itu hingga aku yang cemas tak yakin membiarkannya berjalan sendirian ke toilet di ujung koridor dalam keadaan begitu. Jadilah aku menemani Stella keluar setelah izin dari yang lain.
Dalam perjalanan menuju toilet, Stella yang agak oleng bahkan tidak sengaja menabrak seorang pria di koridor. Pria itu, mulanya kupikir tidak ada yang ganjil, makanya aku cuma minta maaf. Namun begitu sadar dari Stella maupun pria itu tidak ada yang bergerak lagi—mereka hanya mematung sambil saling menatap satu sama lain—perasaanku mulai berubah tidak enak.
Pria bertinggi sedang dan bertubuh lumayan kekar itu seketika terasa familiar dalam pikiranku, seolah ada memori yang buram dan aku tidak bisa ingat pernah melihat atau bertemu dia dimana.
Oh tidak, firasatku mengatakan kalau pria ini adalah berita buruk.
----
Duh telat lagii uploadnyaa. Maafkan yah :")
__ADS_1
**Makasih yg sudah mampir baca. Bagi like, komen dan votenya yaa.
Have a nice weekend**^^