
Aku mengamati angka pada floor designator yang masih menampilkan angka lima untuk hampir lebih dari lima menit dengan heran. Aku, Stella dan juga si kecil Kevin belum juga bisa menggunakan lift sedari tadi. Entah apa yang membuat kedua lift yang biasa beroperasi cepat itu tiba-tiba stuck di dua lantai yang sama.
Benar saja, tak butuh waktu lama bagi pertanyaanku untuk terjawab ketika seorang bertubuh gemuk dengan setelan birunya yang cukup berantakan muncul dari pintu darurat. Dia adalah anak dari pasangan lansia yang tinggal di lantai ini dengan kami. Peluh memenuhi dahinya dan napasnya tersengal-sengal seolah baru selesai melakukan lari marathon.
"Liftnya sedang ada masalah...hah..mereka baru mencoba memanggil teknisi untuk memperbaikinya...hah...untuk sementara pakai tangga darurat jika ingin naik turun."
Pria itu, yang juga kadang berpapasan denganku waktu berangkat bekerja lantas lanjut berjalan tanpa mengatakan apapun lagi. Seluruh tenaganya ketaranya sudah terkuras dari menaiki tangga dari lantai satu sampai lantai lima belas ini. Jiwa penuh semangat dari pebisnis ambisius yang biasa kulihat tidak menampakkan batang hidung sedikitpun. Beruntung bagiku karena tadi waktu kembali dari bandara liftnya masih berjalan dengan lancar, kalau tidak aku harus naik tangga sampai lima belas lantai seperti dia.
Tanpa menunda aku lantas berpaling pada dua individu lain di sebelahku. Stella sedang membisikkan sesuatu pada Kevin yang mengunyah cokelat. Tadi sebelum berangkat, Kevin yang sudah ngiler meminta bantuan Stella untuk membuka kemasan cokelat itu agar bisa segera mencicipinya.
"Sepertinya kita harus pakai tangga darurat untuk turun," ujarku.
Stella mendongak dan mengangguk, "Oh, untunglah unit Kevin hanya berjarak dua lantai dari lantai kita."
Begitu, kami pun mengubah arah menuju tangga darurat yang ada di ujung lain koridor. Lampu di ruang tangga darurat yang biasanya dimatikan, kini dinyalakan untuk membantu para penghuni yang sementara harus naik turun menggunakan tangga. Aku berjalan duluan diikuti Stella yang menuntun Kevin untuk berhati-hati menuruni tangga. Selain dari gema langkah kami, tangga darurat terdengar sunyi tanpa ada suara.
Kevin memutuskan membuka mulutnya ditengah suasana yang sepi. Suaranya menggema dan untuk sesaat dia kaget sendiri karena itu.
"Bibi, bibi, apa kau dan paman juga punya anak? Kau tahu, aku sering bosan di rumah saat ibu bekerja, pasti seru jika ada teman lain yang bisa kuajak bermain."
Aku menarik bibirku lurus dan bertingkah seolah aku tak mendengar pertanyaan itu. Diam-diam aku ingin mendengar bagaimana Stella akan meresponinya.
"Bibi dan paman tidak punya anak. Tapi kalau Kevin mau, Kevin boleh main-main ke tempat bibi saat bosan," jawab Stella dengan suara yang jauh lebih lembut. Kedengarannya dia juga mengatakan itu sambil tersenyum.
"Kenapa tak punya? Bukankah semua orang menikah akan punya anak? Bi Ida punya sembilan anak..."
Siapa itu Bi Ida, aku tak kenal dan tak peduli tapi yang pasti Kevin jadi lumayan cerewet dan tidak malu-malu lagi sejak keluar daritadi. Alih-alih Stella tak serta-merta menjawab, cukup lama bagi dia untuk memikirkan jawaban hingga tanpa sadar aku yang turut menunggu jawaban ikut menoleh padanya tepat saat melewati tikungan tangga. Tak kusangka, matanya juga mencari ke arahku dan selama beberapa saat tak ada yang berniat memutuskan kontak mata.
"Bibi dan paman terlalu sibuk untuk bisa punya anak," timpalku masih menatap Stella yang kini telah menggendong Kevin di lengannya, "Kalau Kevin, apa yang biasanya kau lakukan saat ibumu bekerja?"
"Cukup banyak! Aku bermain ini...menonton itu..."
Aku tak mendengar seluruh jawaban Kevin karena bersamaan aku memilih memutuskan kontak mata dengan Stella dan lanjut menuruni anak-anak tangga terakhir yang membawa kami ke lantai delapan. Stella sungguh memancarkan aura berbeda saat dia terlihat tenang, selama beberapa saat tadi dia membuatku ragu jika dia adalah orang yang sama.
Kevin masih lanjut menceritakan ini itu yang biasa dia lakukan saat ibunya keluar atau sekedar sibuk membereskan rumah dan tak bisa menemaninya bermain. Dia sama sekali tak pernah menyebutkan ayahnya dalam cerita-ceritanya. Tampak jelas kalau dia tak memiliki memori yang bisa dikenang baik bersama ayahnya. Anak ini, saat dia bertumbuh dewasa, aku takkan kaget kalau dia bakal membawa lari ibunya dari ayahnya.
Kami berhenti di depan pintu unit B-30.
__ADS_1
"Benar yang ini?" Tanyaku memastikan pada Kevin.
Kevin mengangguk dan aku pun mulai mengetuk pintunya. Lumayan lama aku mengetuk sebelum akhirnya terdengar pergerakan dari dalam dan pintunya dibuka. Seorang wanita yang tampaknya berada di umur tiga puluhan akhir mengintip dari dalam sambil memegang ponsel, air wajahnya pucat dan pipinya begitu lengkung ke dalam. Dia tampak seperti seseorang yang kurang makan beberapa hari terakhir.
"...Si-siapa ya?" Tanya wanita itu. Kalimatnya terlontar secara was-was.
Belum sempat menjawab, Kevin sudah melompat dari gendongan Stella dan berlari ke pelukan wanita itu.
"Ibu! Aku pulang!" Seru Kevin.
Wanita itu tersentak lalu tanpa peduli melepaskan genggaman pada ponsel untuk memeluk Kevin balik sama eratnya. Kerutan pada dahinya semakin visibel begitu dia menceramahi Kevin dengan kalimat-kalimat seperti darimana saja kamu, jangan buat ibu khawatir, kenapa tidak pulang-pulang, dan sebagainya dengan ciri khas ibu yang khawatir.
Aku lantas segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana kronologi Kevin bisa sampai bersama kami.
Aku dan Stella lalu hanya bisa menyaksikan dalam diam dan menunggu sampai kedua pasangan ibu-anak itu tenang dan puas dari berpelukan. Tak sengaja, aku mendapati Stella menghela napas lega sembari melihat pemandangan itu.
"Terima kasih Pak, Bu, sudah mau menjaga anak saya Kevin selama seharian ini. Ada sedikit masalah tadi pagi dan saya tidak sengaja melampiaskan emosi pada Kevin. Saya sadar kalau dia tak kunjung pulang dan ingin menelpon pihak sekuriti untuk membantu mencarinya. Saya tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas kebaikan bapak ibu."
Ternyata dia sedang menelpon pihak sekuriti waktu kami tiba, dia berniat meminta bantuan untuk mencari Kevin sebab dia belum bisa melapor polisi kalau belum lewat waktu dua puluh empat jam orang menghilang.
"Tidak apa-apa. Kami malah ingin minta maaf karena tidak langsung membawanya pulang kemarin. Istri saya tidak tega memaksa anak anda yang menolak pulang."
Ibu Kevin terkejut, "Menolak?"
Aku mengangguk, "Kelihatannya dia salah paham anda menyuruhnya pergi dari rumah dan tak mau kembali."
"Astaga, aku bilang begitu Kevin? Aku minta maaf. Ada begitu banyak masalah kemarin sampai aku tak sadar telah memarahinya...Kevin, ibu minta maaf ya."
Kevin melingkari leher ibunya dan melenggut. Anak-anak sungguh tahu bagaimana cara mengambil hati orang dewasa. Ibu Kevin tersenyum dan mendongak kembali.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Pak, Bu."
Aku tersenyum samar dan merasakan tarikan pelan pada lengan kemejaku. Sontak aku menoleh pada Stella yang kemudian membuka mulutnya untuk pertama kali sejak tadi. Selagi berbicara, seakan mencari dorongan, tangannya tak melepaskan tarikannya dari kemejaku. Mungkin karena sudah hampir enam bulan tinggal bersama, aku hampir lupa jika Stella adalah orang yang cukup pemalu dan canggung pada orang baru yang dia temui. Pipinya memerah namun dia tetap berusaha menyampaikan maksudnya dengan jelas.
"Jika butuh sesuatu atau butuh teman mengobrol, jangan sungkan untuk berkunjung ke unit kami di B-58. Kevin sungguh anak yang baik dan dia juga suka makanan yang aku buat, jadi jangan ragu kalau mau mampir."
Walau aku kurang setuju dengan mudahnya Stella mengundang orang yang baru dikenal datang ke rumah, aku tak begitu kecewa melihat rona bahagia yang timbul di wajah Ibu Kevin berkat perkataannya. Sebuah ketulusan pasti akan menyentuh hati seseorang dan itu salah satu hal baik dari sifat Stella.
__ADS_1
Ibu Kevin tak henti-henti menyampaikan terima kasihnya, berjanji akan membalas kebaikan kami pada lain waktu. Sehabis itu, karena tidak ada lagi yang perlu dibahas, aku dan Stella pun berpamitan.
"Maaf ya Luiz, kau harus jadi repot-repot menemaniku," ucap Stella saat kami mulai naik tangga kembali.
"Tidak apa," jawabku. Aku tahu kau sungguh khawatir pada anak itu, "Aku hanya tidak bisa tidur tenang sebelum anak itu pulang."
Stella tertawa kecil, "Sudah kuduga. Luiz orang yang baik dan bisa diandalkan."
Aku mau bilang kalau bukan begitu maksudku, kalau aku tidak suka ada orang asing di rumah tapi Stella memang punya kebiasaan untuk menyalahartikan setiap perkataanku menjadi sesuatu yang positif. Jadi daripada bersusah payah, aku memilih mengalihkan topik.
Undangan Stella bagi Kevin dan ibunya membuatku teringat akan undangan dari asosiasi wanita yang beranggotakan para istri dari pebisnis-pebisnis sukses lain yang juga tinggal dalam kompleks apartemen yang sama dengan kami. Salah satu wanita yang suaminya adalah kenalanku itu meminta aku menyampaikan pesan bagi Stella untuk hadir ke dalam pertemuan mingguan mereka. Kurasa tidak ada yang salah jika itu bisa mengisi waktu luang Stella selain hanya berdiam diri dirumah.
"Stella, salah satu istri kenalanku mengundangmu untuk hadir dalam asosiasi mereka. Aku tidak tahu detilnya, tapi aku punya nomornya kalau kau mau menghubungi mereka."
Stella menoleh, "Oh, apa maksudmu Esther?"
Aku mengangguk, "Dia sudah menghubungimu langsung? Bagus dia mengajakmu, kau mungkin bisa menambah kenalan dari sana."
Stella tersenyum kecut, "Kalau itu, dia sudah pernah datang ke rumah untuk mengajakku langsung. Aku juga sudah pernah ikut ke salah satu pertemuan mereka, baru beberapa hari lalu malah, tapi aku tidak berniat untuk datang lagi kedua kalinya."
Aku berhenti, begitupun dengan Stella.
"...Kenapa?" Tanyaku.
"Oh, asosiasi itu cuma perkumpulan arisan wanita seperti biasa Luiz. Bukannya aku benci atau apa, kau tahu aku ini suka dengan kejutan, menunggu namaku keluar dari lot yang diambil atau menduga nama siapa yang bakal muncul rasanya cukup seru. Tapi—"
Aku tidak tahu tentang itu Stella, tapi aku tidak memotong ucapannya.
"Tapi ketika mereka mulai membicarakan orang lain dan anggota mereka sendiri di belakang, itu membuat kepalaku sakit. Mereka bergosip dan bahkan mulai bertaruh apakah pasangan yang tinggal di gedung sebelah akan bercerai dalam waktu dekat atau tidak. Hari itu aku terus membayangkan andai tenggat waktu kontrak kita juga telah tiba dan kita bercerai, mereka pasti bakal melakukan hal yang sama. Aku tidak bisa bergaul dengan orang yang mana tahu akan berbicara hal buruk apa dibelakang kita. Aku tak mau berbagi cerita dengan mereka tentang keseharianku selama waktu singkatku tinggal di sini denganmu, kalau-kalau mereka memutar ceritanya menjadi sesuatu yang berdampak buruk bagimu nanti."
Ini pertama aku mendengar Stella berbicara dengan ekspresi dan nada suara sekalem itu. Ternyata bukan cuma aku, tapi dia pun selalu berpegang pada tenggat batas waktu empat tahun pernikahan ini. Dan tanpa kusadari, selama ini dia selalu mencoba melindungi reputasiku di mata orang-orang dengan caranya sendiri.
Aku tidak tahu harus merespon itu bagaimana, jadi aku hanya menggangguk pelan sambil berkata 'oke'.
Malam itu juga saat Stella sibuk membuka bingkisan yang kubawa pulang, aku memastikan agar dia mendapat kotak cokelat edisi terbatas yang niat awal ingin kuberi untuk ibu. Saat kubeli, kotak yang itu memang hanya tersisa satu jadi aku memutuskan untuk memberikannya pada ibu yang memang senang akan hal-hal spesial atau terbatas. Selama ibu tidak tahu, dia takkan marah. Kali ini ibu harus mengalah dulu.
Aku juga memastikan mengirim sms pada kenalanku untuk memberi tahu istrinya kalau Stella tidak begitu cocok dengan asosiasi wanita itu dan agar bisa mengerti untuk tidak memaksakan ajakan apapun lagi ke depannya.
__ADS_1