
"Stella, papamu baru menelponku. Katanya mama sakit lagi, dia mau kita berkunjung ke sana secepat mungkin."
"Hah..."
Stella yang kehilangan fokus tanpa sadar melepaskan genggamannya pada salah satu bingkai foto yang sedang dia lap daritadi. Tanganku refleks menangkapnya segera sebelum menyentuh tanah.
Alisku bertaut, "Stella, hati-hati..."
"Oh...maaf."
Ini bukan kali pertama Stella kehilangan fokus sehabis mendengar kabar tentang ibunya. Salahku juga yang karena tidak membiarkan dia menyelesaikan apa yang dia lakukan dulu sebelum memberitahu kabar yang memang kurang mengenakkan tadi padanya.
"Parah sekali ya...?" Tanya Stella lirih. Aku yakin dia pasti sedang membayangkan skenario terburuk dalam pikirannya sebab jarang bagi ayahnya untuk sampai memanggil kami berkunjung walau kadang kondisi kesehatan ibunya juga suka naik turun. Kalau itu hanya naik turun yang biasa, seperti demam atau batuk kecil-kecilan, ayahnya memang lebih suka mengabari ketika ibunya sudah baikan agar tidak membuat kehebohan. Kadang Stella bilang padaku jika dia tidak senang dengan sifat ayahnya yang begitu tapi dia juga mengerti ayahnya hanya tidak mau membuatnya khawatir dengan terus menelpon saat kesehatan ibunya menurun untuk alasan-alasan kecil.
"Papamu tidak bilang detilnya. Dia cuma minta agar kita segera mengunjungi mereka," jawabku. Aku menaruh kembali bingkai foto di tanganku ke atas lemari di samping teman-temannya yang lain sebelum menghadap ke Stella lagi, "Jangan khawatir, mamamu pasti baik-baik saja. Ganti bajumu, kita pergi ke sana sekarang."
"I-iya."
Stella mengangguk dan bergegas naik ke kamarnya. Untung saja hari ini adalah akhir pekan, aku jadi sedang ada di rumah dan bisa ikut pergi ke rumahnya. Kalau tidak, bahkan ayah Stella mungkin takkan mau repot-repot menelponku yang masih sibuk di perusahaan jam sepuluh pagi begini di hari biasa dan hanya akan mengabari Stella seorang saja sebagai gantinya.
Pendek kata, aku dan Stella menempuh perjalanan selama kurang lebih empat puluh menit hingga akhirnya tiba ke kediaman keluarga Wesley. Bertepatan aku memarkirkan mobil di depan tangga mansion dan menapakkan kaki ke luar, suara lantang pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah Stella memeranjatkan kami berdua.
"Pergi kau! Jangan pernah menginjakkan kaki lagi kemari, aku tidak mau melihat wajahmu lagi! Sekuriti bawa dia menjauh!"
Bagai sedang menyaksikan drama yang biasa ada di televisi, seorang pria dibawa turun oleh kedua sekuriti berbadan super kekar secara paksa. Tubuhku mendadak membatu ketika akhirnya bisa mendapat gambaran jelas dari wajah pria yang tengah diseret itu.
Pria di restoran Forty Eight. Si pria sial yang kalau kata Stella cuma merupakan teman lamanya itu. Benar saja, bukan cuma aku yang mematung, melainkan Stella yang berdiri di sebelahku juga. Matanya membulat dan mulutnya menganga dari menyaksikan kejadian di atas sana.
"Stella, ayo," panggilku sambil meraih pergelangan tangannya untuk kembali melangkah naik. Suaraku berakhir keluar lebih berat dari yang biasa. Aku tidak mau dia melakukan bentuk kontak apapun lagi dengan pria itu, biarlah apapun yang terjadi di antara mereka di masa lalu tinggal di masa lalu.
Namun Stella tetap tak bergeming. Matanya terpaku pada pria yang kian detik kian dekat dari jarak kami berdiri itu. Aku menyaksikan momen pria itu menyadari keberadaan kami—atau kubilang saja lebih tepatnya keberadaan Stella—lewat matanya yang berbinar dan senyum yang tumbuh dari kedua ujung bibirnya.
"Stella! Stella! Aku cuma ingin minta maaf atas segala perbuatanku dulu. Tolong berikan aku waktu selama lima menit saja untuk berbicara denganmu dan aku akan pergi setelah itu."
Aku menggeleng, "Stella, ayo."
"Luiz..." Stella mengigit bibir sejenak sebelum mendongak menatapku, "Aku akan bicara sebentar dengan dia. Kau masuk saja duluan."
Giliran mataku yang membesar, "Tapi ayahmu..."
__ADS_1
Stella melepaskan genggamanku pada pergelangan tangannya dengan seulas senyum, "Tolong kau tahan papa untukku ya, aku janji takkan lama."
Lalu tanpa berkata apapun lagi, Stella memanggil dua sekuriti yang kini telah berada di anak tangga paling bawah bersama pria sial tadi. Jujur saja aku begitu kesal, tapi dia bilang mereka cuma mau bicara saja. Jika pria itu berani melakukan sesuatu yang buruk padanya, aku takkan segan-segan membuat dia merasakan penderitaan dua kali lipat dari yang dia perbuat.
Lepas melempar satu tatapan dingin pada pria itu, aku melangkah naik ke dalam mansion. Benar saja, ayah Stella yang melihat aku masuk sendirian segera tahu jika putrinya pasti sedang bersama pria yang baru diusirnya tadi. Untuk pertama kali, ayah Stella meninggikan suaranya padaku.
"Luiz! Apa yang kau lakukan sendiri di sini?! Cepat panggil Stella masuk!"
"Pa tenanglah," ujarku menenangkan, "Stella hanya ingin bicara sebentar, beri dia kesempatan untuk menyelesaikan apapun urusannya dengan pria itu."
Ayah Stella menggeleng dan memijat dahinya, "Kau tahu siapa dia, Luiz?"
"...Tidak."
"Dia...dia itu mantan pacar Stella yang selingkuh dan mencoba memanfaatkannya dulu."
"..."
Sudah kuduga. Aku selalu punya kecurigaan jika pria itu adalah mantan pacar Stella walau Stella berbohong dengan bilang jika itu cuma teman lamanya. Jadi dia pernah dikhianati oleh pria itu dulu dan sekarang pria itu datang meminta maaf padanya.
"Tenanglah dulu pa. Aku mengerti alasan kau geram tapi kau tahu kan Stella memang wanita yang baik, dia cuma ingin mendengar permintaan maaf pria itu. Itu saja."
Walau sendiriku juga marah setelah mendengar tentang pria itu, aku berusaha tenang agar bisa meredakan amarah ayah Stella. Jika semua orang marah, keadaan hanya akan semakin keruh, jadi aku mengalihkan pertanyaanku ke hal penting lainnya yang menjadi alasan utama kami kemari.
Ayah Stella menghela napas, "...Dia ada di kamar. Tadi pagi dia sesak nafas dan kejang sebelum akhirnya tak sadarkan diri, makanya aku panik dan langsung menelponmu untuk membawa Stella kemari. Biasanya sesak nafasnya tidak separah itu..."
Itu lebih parah dari dugaanku. Aku tak pernah begitu memperkirakan kondisi ibu Stella sudah separah ini. Ibu Stella mengidap penyakit kronik pada saluran pernapasan dan tenggorokannya. Sesak nafas memang sering terjadi tapi tak pernah sampai kejang atau membuatnya tak sadarkan diri.
"Luiz...kau datang?" Suara parau ibu Stella menyambutku ketika masuk kamar. Dia tersenyum kecil dan menjulurkan tangan keringnya untuk mengusap pundakku pelan sambil aku duduk di samping kasur, "Oh Robert pasti memanggilmu dan Stella kemari."
Ibu Stella berpaling pada suaminya, "Robert sudah kubilang jangan menyusahkan mereka yang tinggal jauh dari sini. Aku cuma pingsan dan kau membuat kehebohan..."
"Aku panik sayang, lagipula ini hari libur jadi Luiz juga sedang tidak masuk kerja kan?" Ayah Stella berdiri di sebelahku.
Aku mengangguk dan tersenyum kecil, "Iya ma, aku dan Stella memang juga sudah seharusnya mampir dari minggu lalu, cuma karena aku sibuk jadi belum sempat saja kemari. Maaf ya."
"Tidak apa-apa..." Ibu Stella berusaha tertawa namun yang keluar hanya suara ringkikan, dia lalu mengedarkan pandangan ke arah pintu, "Mana Stella kalau begitu? Biasanya dia yang lari duluan kemari kalau datang berkunjung."
Umur panjang, Stella masuk tepat setelah ibunya melontarkan pertanyaan itu. Dia lantas berhambur dari pintu kamar ke pelukan ibunya.
__ADS_1
"Ma! Mama baik-baik saja, tenggorokan nya sakit? Sesak nafas?"
"Shh. Sudah-sudah, aku tak apa. Lihatlah..." Ibu Stella tersenyum dan mengusap ubun-ubun putrinya lembut. Stella yang tadi langsung melewati ayahnya dan diriku untuk menghampiri ibunya mengangguk-angguk. Aku yang lumayan sensi pada dia karena sudah berbohong soal mantannya jadi mengusap-ngusap lengannya untuk mencoba menenangkan.
"Apa kami menginap di sini saja untuk malam ini...?" Tanya Stella seraya melirikku sejenak.
Ibunya mengangkat alis namun menggeleng, "Tidak usah sayang, Luiz kan harus bekerja besok. Jika menginap di sini, nanti bakal jauh dari perusahaan, kau tahu macet di jalan bagaimana kan, bisa-bisa dia telat."
"Kalau begitu aku saja yang tinggal..."
"Stella tidak boleh begitu, masa membiarkan suamimu pulang sendiri begitu..."
Aku ingin bilang jika aku tidak masalah mau menginap di sini ataupun disuruh pulang juga, tapi tidak ada cela untuk menimbrung ke obrolan Stella dan ibunya itu. Alhasil, Stella kalah dan harus menuruti permintaan ibunya agar kami pulang saja dan tak usah menginap.
Selama setengah hari di rumah orang tua Stella pula, berkat kesibukan dari menemani dan mengurus kedua orang tuanya, aku dan Stella jadi terhindar dari topik tentang mantan pacarnya tadi. Selain itu Stella juga bersikap begitu kalem seolah tidak ada apapun yang berarti dari hasil perbincangannya dan kalau itu semua sudah terlupakan begitu saja dan cuma aku yang terus memikirkannya.
Itu saat kami pamit, ayah Stella berpikir untuk mengungkit pria itu lagi, yang ternyata bernama Alex.
"Stella, jangan menemui Alex lagi tidak peduli soal apapun itu, kau mengerti? Tidak bagus menyuruh suamimu pergi untuk meninggalkan kau berdua dengan pria lain," tegur ayah Stella walau masih dengan nada halus.
Stella menganggut, "Aku mengerti, Yah. Tadi memang yang terakhir. Dia cuma mau minta maaf."
"Baguslah kalau begitu. Kalau ibumu tahu laki-laki itu datang tadi, dia bisa kejang-kejang lagi."
"Ayah!" Seru Stella tak senang.
"Makanya jangan berurusan dengan dia lagi."
"Iya...aku mengerti."
Aku melirik Stella dan mengusap pundaknya pelan, "Pa, kami pulang dulu kalau begitu. Nanti kami sebisa mungkin akan sering-sering berkunjung kemari," ucapku.
Ayah Stella mengangguk dan mengantar kami ke pintu depan. Kami sudah terlebih dahulu pamitan dengan ibu tadi.
Telah lewat pukul enam sore saat aku dan Stella tiba di apartemen. Kecanggungan yang berkecambah dari masih dalam perjalanan kukuh berlanjut saat telah melangkah masuk ke dalam apartemen.
Stella yang mulai bicara, "Luiz pria tadi itu sebenarnya..."
"Mantan pacarmu kan."
__ADS_1
Aku tersenyum getir, "Kalau tidak mau beritahu aku dari awal, lebih baik bilang saja begitu. Asal kau tahu, aku paling tidak suka orang yang berbohong, Stella."
Mata Stella membulat dan aku tahu aku pasti sudah membuatnya kaget dengan nada suaraku yang dingin itu.