Days After You

Days After You
Bab 32 - Survei


__ADS_3

Suara dari pembawa acara gosip mengisi ruang tamu saat aku menonton tv. Aku tidak pernah menonton acara-acara gosip seperti ini sebelumnya. Jika bukan karena tadi aku tidak sengaja melihat wajah dari aktor yang Stella sukai di layar ketika sedang mengganti-ganti siaran untuk mencari berita, aku juga takkan pernah memilih menghabiskan waktu untuk menonton acara ini, apalagi di pagi hari begini.


Kedua tanganku terlipat di depan dada dan kelopak mataku menurun. Apa baiknya pria ini sebenarnya hingga bisa diidolakan oleh banyak wanita? Karena berdasar apa yang kutonton selama tiga menit ini, aku bisa menyimpulkan keunggulan yang dia punya hanya terletak pada penampilannya semata. Sisanya seluruh yang diberitakan tentang dia juga hanyalah hubungannya dengan aktris ini dan itu, cinta lokasi dan apalah itu. Apa yang Stella pikirkan untuk mengidolakan pria seperti ini?


"Oh Damian!" Kicau Stella yang tak kusadari telah berdiri di sebelah sofa menyentakku kaget. Dia lekas menaruh secangkir kopi yang dia buat untukku ke meja dan duduk di sebelahku untuk ikut menonton, tangannya menepuk pundakku sambil menunjuk ke layar tv, "Luiz kalau kau ingat, itu dia yang kemarin fotonya ada di salah satu meja karyawanmu. Damian Navaro. Ganteng sekali ya?"


Alih-alih menjawab aku menyesap kopi yang dia bawa tadi sebagai respon. Oke, kuakui aktor itu mungkin memang punya wajah yang katakanlah enak dipandang tapi kurasa tidak setampan itu sampai harus dipuja-puja sedemikian rupa.


"Padahal dia sudah tiga puluh akhir tapi masih kelihatan dua puluhan."


Seperti itukah pria yang Stella suka?Aku menyipitkan mata dan meletakkan cangkir kopi yang entah mengapa terasa jauh lebih pahit dari biasanya, "Buat apa wajah ganteng, jika tidak punya prestasi."


"Eh, tapi dia punya banyak prestasi Luiz. Dia aktor terkenal yang sudah menang banyak penghargaan. Bukan cuma jago akting, dia juga bisa main musik dan nyanyi."


"Tetap saja aku tidak pernah dengar tentang dia."


Tawa Stella yang terdengar merdu masuk di kupingku dengan begitu mulus. Dia bersandar di sofa hingga membuat lengannya tanpa sengaja bersentuhan dengan milikku.


"Ya it wajar saja Luiz. Aku mungkin bakal kaget kalau kau sampai tahu dia atau pernah nonton film dan dramanya."


"Hah?" Kedua alisku naik. Apa yang salah denganku menonton drama aktor itu?


Stella memalingkan wajah agar bisa melihatku, "Drama-drama yang dia perankan itu bergenre romantis Luiz, itu bukan genre yang biasa kau sukai kan? Tidak heran kalau kau tidak tahu dia."


"Oh..." Pantas saja. Aku menoleh balik ke tv, si aktor Damian itu sedang berbicara sesuatu tentang kegiatan syuting drama barunya dengan aktris yang juga pernah dirumorkan menjalin hubungan khusus dengannya, "Jadi...kau suka dengan pria playboy?"


Mata Stella membulat, "P-playboy?"


Aku tak mengerti mengapa dia bereaksi begitu ekstra jadi aku menunjuk ke tv bertepatan dengan foto-foto Damian bersama beberapa wanita berbeda ditampilkan.


"Oh... kau maksud itu?" Stella tertawa untuk beberapa saat namun menenangkan diri kembali buat menjawab, "Aku tidak begitu peduli dengan kehidupan percintaan aktor yang kuidolakan Luiz. Selagi dia tidak melakukan hal yang berdampak buruk, karyanya bagus, semua baik-baik saja."


"Darimana kau yakin jika dia itu aslinya baik kalau kau saja tidak pernah bertemu dia?"


"Oh aku pernah bertemu dia," jawab Stella yang seketika membuatku kaku, "Waktu itu dia datang ke rumahku saat masih jadi brand ambassador untuk merek perusahaan, Luiz. Dia baik dan ramah sekali pada kami semua. Aku juga punya tanda tangan dan foto bersama dia."


Sebuah alarm berbunyi dalam pikiranku. Apa ini pertanda aku sudah terdahului dan posisiku terancam oleh seorang aktor? Tidak, aku takkan membiarkan diriku kalah dari pria lain mau dia aktor terkenal atau tidak, apalagi pria yang waktu luangnya mungkin hanya diisi dengan bersenang-senang untuk berpesta dan bermain wanita. Tidak, tidak akan.


Bel pintu depan berbunyi dan Stella langsung beranjak, menyisakan kehangatan di bekas tempat dia duduk di sampingku.


"Oh itu pasti petugas kebersihan. Di kamarmu sampahnya sudah dikeluarkan semua Luiz?"


Aku mengangguk, "Sudah."

__ADS_1


"Oke, aku buka pintu dulu."


Kegaduhan dari petugas kebersihan sampah yang masuk untuk mengangkut sampah dari dapur menyusul tak lama kemudian. Namun begitu, itu tak lantas membuatku terdistraksi dari pikiranku.


Alih-alih aku meraih ponsel dan mencari apa saja yang bisa kuketahui tentang Damian dari internet. Singkatnya dia delapan tahun lebih tua dariku, sedikit lebih pendek dariku dan identik dengan karakter pria yang katanya tampan dan seksi.


Hmm.


Kubuka aplikasi chat dan mencari kontak Rio. Aku tidak pernah menyangka akan melakukan ini tapi di sinilah aku, mengetik pesan untuk menyuruh Rio membuat sebuah survei bagi para karyawan perusahaan mengenai kesan mereka perihal para atasan mereka yang tentu salah satunya adalah aku.


Rio: Tapi kenapa tiba-tiba pak?


Aku: Buat saja. Tapi jangan bilang aku yang memintamu, bilang saja ini untuk evaluasi.


Rio tidak langsung membalas tapi dia langsung bergerak cepat dengan mengirimkanku link dari survei yang segera dia buat untuk diperiksa dahulu. Sesuai permintaanku, dia turut membuat pertanyaan untuk para direktur lain selain aku, jadi survei itu terlihat normal layaknya kuesioner evaluasi kantor biasa dan bukanlah akal-akalanku saja. Ketika tak ada yang salah lagi, aku lalu menyuruh dia untuk segera menyebarkan kuesioner itu dan mengumpulkan hasilnya paling lambat satu jam lagi.


Melalui survei ini, aku ingin lihat kesan orang-orang padaku seperti apa. Jika Damian yang kulihat di tv tadi disebut berkarisma, tampan, keren dan seksi, aku yakin aku juga takkan kalah dari dia.


...Iya kan?


Stella kembali setelah petugas kebersihan yang tadi selesai melakukan tugasnya dan keluar, tapi kali ini dia turut menggenggam catatan kecil di tangannya.


"Luiz, aku baru ingat belum ke supermarket, mau titip sesuatu?" Tanya Stella seraya melihat daftar yang ketaranya merupakan catatan belanja yang dia tulis di kertas.


"Iya, bahan-bahan dapur, cemilan dan beberapa keperluan pribadiku."


Aku mengangguk, mematikan tv sehingga wajah Damian tadi hilang dari pandanganku dan berdiri.


"Aku ikut denganmu."


Stella menurunkan tangannya yang memegang kertas dan mendongak dengan ekspresi kaget, "Oh...oke."


Ada supermarket yang terletak dalam kawasan kompleks apartemen jadi aku dan Stella hanya perlu berjalan kaki selama kurang lebih lima menit untuk sampai ke sana. Saat tiba, aku melihat ada lumayan banyak orang yang juga datang berbelanja. Aku mengekori Stella melewati rak demi rak untuk mengambil barang kebutuhannya sambil sesekali merespon pertanyaan yang dia lontarkan tentang ini dan itu.


Lihat, aku lebih baik. Seorang aktor terkenal takkan bisa menemani Stella pergi ke supermarket tanpa dihentikan oleh paparazzi atau fans yang mengenali dia seperti yang aku lakukan saat ini. Hidup Stella takkan pernah damai jika bersama seorang aktor.


"Luiz kenapa kau senyum begitu?" Stella yang memegang sekotak es krim memiringkan kepala menilik wajahku.


Aku spontan menutup separuh wajahku dengan tangan, "Bukan apa-apa. Aku hanya sedang...senang."


Mata Stella langsung berbinar,"Senang? Senang karena apa?"


"Senang karena...senang saja. Tidak boleh?"

__ADS_1


Cengiran di bibir Stella mekar tanpa hambatan, dia menggeleng, "Tentu boleh Luiz, cuma kau lucu sekali saat tersenyum lebar seperti tadi."


Lucu? Aku tidak ingin disebut lucu. Aku menurunkan tangan dan raut mukaku kembali kalem.


"Luiz, kau mau es yang mana?"


"..."


"Luiz?"


Aku menggeleng-geleng, "Ambil yang mana saja Stella."


"Yang ini?" Stella menunjuk ke salah satu es krim cokelat.


"Iya."


"Oh tapi ini juga enak. Yang ini juga ya."


"Iya."


"Atau yang ini? Luiz bagaimana jika ambil semuanya?"


"..."


Stella melirikku dan tertawa, "Aku cuma bercanda Luiz."


"Aku tahu," gumamku namun masih berhasil ditangkap Stella yang lanjut tertawa. Jantungku semakin tidak karuan akibat itu. Dan demi kembali menstabilkannya, aku lekas merogoh saku celana untuk meraih ponselku.


Ruang obrolan bersama Rio yang kutinggalkan tadi kini telah terdapat pesan baru. Pesan itu berisi link dari hasil survei yang telah terkumpul. Tanpa menunda, aku langsung mengklik link itu.


Ada hampir seratus orang yang sudah mengisi mengisi dan semuanya didominasi karyawan wanita. Entah apa yang Rio katakan hingga membuat mereka begitu cepat respon, tapi aku hargai itu. Mataku mulai bergerak turun.


Mereka pasti punya poin baik untukku kan? Bagaimana jika aku yang terlalu kepedean dan karakterku juga tidak berkesan sama sekali bagi mereka?


Mataku berhenti pada jawaban untuk pertanyaan atas namaku. Para karyawan yang berpatisipasi kebanyakan menjawab karismatik dan tampan sebagai kesan mereka padaku tapi ada juga yang menjawab kadang aku tampak dingin dan membuat mereka segan.


Ini...Tidak buruk kan? Setidaknya aku bisa bilang itu masih cukup seimbang. Sejak awal aku memang bukan orang yang ekspresif, ditambah sebagai seorang atasan aku dituntut bersikap tegas pada seluruh karyawan, tak aneh jika karena itu mereka memandangku sebagai pria yang dingin dan membuat mereka segan. Aku mungkin sedikit perlu perbaikan di bagian itu, sebagai awalan, mencoba lebih murah senyum lagi pada orang-orang sekitarku mungkin?


"Luiz" panggil Stella dan aku menoleh, "Sudah semua."


"Oh, yakin tidak ada lagi?" Tanyaku pada Stella setelah dia menaruh sejumlah kotak susu di troli dan dia mengiyakannya. Kami lantas berjalan menuju kasir dengan aku yang mendorong troli.


Sudah kuputuskan. Aku perlu melakukan sesuatu untuk bisa membuat Stella membalas perasaanku dan meyakinkan dia untuk tetap menjadi istriku walau tanpa kontrak.

__ADS_1


__ADS_2