
Cuaca cerah nan terik pada pagi menjelang siang hari itu membuat aku dan Stella harus singgah ke sebuah toko pakaian terdekat untuk membeli topi sebelum lanjut berjalan menyusuri pantai. Aku memilih sebuah topi hitam biasa dan kacamata senada sementara Stella memilih sebuah topi jerami dan kacamata hitam.
Syukurlah obrolan di restauran tadi sudah tidak begitu memenuhi benak Stella sebab dia mulai melangkah dengan riang di sebelahku.
"Luiz, sekarang kita benar-benar terlihat serupa dengan turis setelah memakai topi dan kacamata ini," ucap Stella waktu kami berjalan di atas trotoar yang langsung bersebelahan dengan pinggir pantai. Dia tersenyum lebar dan melipat tangan di belakang sedangkan aku cuma memandang dia sejenak dan bergumam pelan meresponi itu.
"Tapi kita kan memang turis di kota ini..."
Aku dan Stella berjalan-jalan seraya menyaksikkan begitu banyak orang dari berbagai kalangan sedang asyik bermain di pantai. Mereka memainkan banyak permainan berbeda namun beberapa anak remaja yang sedang bermain dengan mengubur salah satu teman mereka hingga hanya terlihat kepala saja menarik perhatian Stella.
Stella menunjuk dan terkekeh, "Oh kelihatannya menyenangkan."
Seluruh memori dari masa lalu ketika aku memainkan hal serupa bersama beberapa kawanku semasa sekolah langsung muncul kembali dan aku bisa bilang itu bukan pengalaman yang begitu menyenangkan untuk jadi yang dikubur dalam pasir pantai.
Aku mengernyit, "Uh...aku benci permainan itu. Rasanya sangat panas dan tidak nyaman di dalam sana."
"Kau pernah dikubur seperti itu juga?"
"Hm. Aku kalah suit dengan teman-temanku. Aku ingat saat keluar, kepala dan badanku juga langsung berbeda warna karena terbakar terik matahari."
Senyum Stella melebar, "Oh itu pasti sangat lucu."
Aku menggeleng, "Aku lebih baik main voli pantai yang melelahkan ketimbang itu."
"Luiz jago main voli?"
"Lumayan."
"Oh itu bagus. Aku selalu buruk dengan voli atau olahraga apapun. Saat sekolah, tiap kali harus praktek servis dan mengoper, aku selalu selesai paling akhir dengan berkali-kali mengulang hanya untuk dapat nilai standar."
__ADS_1
Aku mengusap tengkuk, "Aku tidak buruk tapi aku juga tidak sejago itu."
Aku dan Stella lalu berjalan-jalan untuk kurang lebih dua jam sebelum memutuskan untuk kembali ke hotel. Bertepatan saat kami melangkah masuk ke lobby, ponsel Stella berdering tanda panggilan masuk. Dia berbicara beberapa saat sebelum panggilannya berakhir dan memberitahukanku tentang siapa itu.
"Ayah dan ibu baru tiba di bandara. Mereka bilang untuk tidak perlu repot-repot menjemput mereka dan akan bertemu nanti di pesta saja. Mereka salam untukmu juga, Luiz."
"Baiklah."
Karena memang sudah dekat waktu pesta, aku dan Stella langsung pergi bersiap-siap sesampai di kamar. Aku yang selesai duluan dengan mengenakan setelan standarku yang berwarna navy sedang mengecek beberapa email masuk dari tabletku ketika Stella beranjak dari meja rias. Dia mengurai rambut dan memakai baju terusan kuning muda dan sepasang sandal putih.
Stella tetaplah Stella. Dia boleh jadi berusaha untuk belajar merias diri dan berpakaian lebih mengikuti tren terbaru sebab beberapa kritik dari ibuku dulu, tapi dia tidak merubah banyak dari kepribadiannya saat memilih pakaian. Selalu simpel dan berwarna lembut tanpa ingin menonjol sama sekali dari keramaian.
Aku berdeham pelan, "Sudah siap?"
Stella mengangguk, "Iya."
"Ayo!"
Venue acara pernikahan sepupu Stella, karena di ruang terbuka, tampak lebih sederhana dari yang biasa dilaksanakan di gedung-gedung. Ada dua meja panjang dan empat meja bundar yang diatur untuk para tamu di atas pasir putih pantai dan sebuah panggung simpel yang membelakangi laut lepas di tengah-tengahnya. Dekorasi yang menghias terdiri dari bunga yang ditata di atas meja dan sekitar panggung, serta ada juga lampu chandelier dan lampu sorot di atas dan di bawah.
"Luiz, aku pergi ke sana dulu ya sebentar, aku mau lihat Kat sebelum acaranya mulai," ucap Stella memegang lenganku sambil menunjuk ke arah sebuah gedung kecil yang tidak jauh dari venue.
"Oke," jawabku. Tapi aku menahan dia dari langsung pergi dan mengedarkan pandanganku. Tanganku lalu menunjuk ke arah meja bundar yang ada di tengah yang belum terisi sama sekali, "Aku tunggu di meja itu kalau begitu."
Stella melirik sejenak dan mengangguk.
__ADS_1
"Ah yang itu ya. Baiklah, aku takkan lama."
Stella kemudian melambai sambil melangkah pergi. Baju dan rambutnya berkibar-kibar ditiup angin sepoi. Setelah melihat dia masuk ke dalam gedung yang dia tunjuk, aku pun langsung pergi ke meja bundar itu.
Aku duduk di sana selama beberapa lama sambil lanjut mengecek dan membalas beberapa email kerja sebelum pundakku terasa ditepuk oleh seseorang. Ketika mendongak, aku bertemu dengan wajah familiar ayah Stella.
Spontan aku pun langsung meletakkan ponsel dan segera berdiri, "Oh, Pa."
Masih terasa aneh memanggil Pak Wesley dengan sebutan 'papa' tapi mau bagaimana lagi, dia dan istrinya ingin aku memanggil mereka dengan panggilan yang sama dengan yang dipakai Stella. Katanya karena aku sudah dianggap jadi anak mereka juga dari menikahi Stella, jadi aku harus memanggil mereka begitu. Ini sama halnya Stella pada kedua orang tuaku tapi memakai panggilan formal yang biasa kupakai.
Ayah Stella tertawa, dia menarik kursi di sebelahku, "Oh tidak usah terlalu formal. Dimana Stella?"
"Dia sedang melihat Kat sebentar," jawabku sambil ikut duduk kembali.
"Sama dengan mamanya kalau begitu. Mereka pasti akan cukup lama kalau begitu."
"Bagaimana kondisi...mama?"
"Dia baik, sempat demam beberapa hari lalu tapi sudah baikan sekarang. Jangan khawatir. Katakan pada Stella untuk jangan terlalu khawatir juga ya."
"Oke," jawabku mengangguk. Aku melihat ayah Stella memandang ke arah lautan seraya tersenyum lembut selagi bicara tentang istrinya itu. Kadang terasa menakjubkan melihat perubahan sifat pada seseorang ketika sedang berbicara tentang hal yang dia sayangi. Aku sudah mengenal ayah Stella jauh sebelum menikahi putrinya dan aku belum pernah mendapati dia bersikap seramah dan selembut ini saat berada di perusahaan. Malah dia tipe yang cukup tegas pada bawahannya.
Sangat berbeda dengan hubungan orang tuaku yang tidak dilandasi cinta, hubungan kedua orang tua Stella pasti begitu hangat dan harmonis. Ayahku selalu bilang hubungan tanpa cinta seperti yang dia jalani dengan ibu, asalkan tetap menghormati satu sama lain dan tahu batasan, pasti dapat menunjang pernikahan itu berlangsung lama. Dia bilang itu karena tahu aku tidak menyukai Stella dan dia berharap aku bisa mengikuti jejaknya dan ibu dalam menjalin hubungan rumah tangga. Itu mungkin memang bekerja tanpa ada cela bagi mereka dan beberapa orang, tapi hubungan ayah Stella dan istrinya yang jelas saling cinta selalu terlihat lebih utuh dan menyejukkan bagiku.
"Bagaimana denganmu dan Stella? Tidak ada masalah? Aku tahu aku sudah bilang ini berulang kali, tapi ingatlah untuk kalian yang dijodohkan, normal untuk merasa agak sulit menyesuaikan diri di tahun-tahun awal. Aku tidak pernah dijodohkan tapi aku cukup mengerti itu."
Aku melirik ke gedung tempat Stella berada sekilas dan mengangguk, "Kami baik-baik saja. Stella wanita yang baik dan pengertian jadi tidak ada masalah yang benar-benar berarti."
Tawa ayah Stella terdengar dari sebelahku, "Tentu saja. Dia kan putri kesayanganku yang kudidik dengan baik. Karena itu kau jaga dia dengan baik, aku memberikanmu harta karun yang kujaga sebaik mungkin, jadi jangan kau sia-siakan. Jangan membuat dia bekerja terlalu keras, kasihan nanti dia."
__ADS_1
Aku kurang setuju untuk mengandaikan Stella sebagai harta karun, karena dia bukan benda yang ditemukan kemudian dapat diklaim atau diberi kepemilikannya. Tapi aku mengerti maksud perkataannya itu. Jadi aku mengangguk lagi.
"Aku mengerti," jawabku, "Aku akan menjaga dia dengan baik."