
...Perusahaan Keluarga Luiz...
...(Willcolm Group)...
"Ini lantai departemen pemasaran," ucapku begitu aku dan Stella keluar dari lift. Aku sudah mengantar dia berkeliling di beberapa lantai tadi. Lantai tempat ruanganku dan para direktur lain berada, lantai untuk para manajer, lantai departemen keuangan dan lantai human resources yang ada di atas. Dan sama seperti di lantai-lantai sebelumnya itu, dia juga berjalan di sebelahku sambil terus mengedarkan pandangan penuh apresiasi.
...Lantai Departemen Pemasaran...
Hansen, Manajer Departemen Pemasaran yang juga ikut bersama beberapa manajer lain untuk mengekori aku dan Stella, lekas maju untuk mulai menuntun kami mengitari ruangan. Padahal aku cuma ingin mengajak Stella lihat-lihat sambil memantau sebentar, tapi entah mengapa seluruh manajer dan direktur di belakangku ini menganggap aku sedang inspeksi mendadak ke divisi mereka dan merasa perlu menjelaskan kinerja-kinerja mereka selama seminggu terakhir ini.
Seluruh karyawan yang tadi kelihatan agak santai sambil mengobrol pun ketika menyadari kehadiran para rombongan petinggi perusahaan di lantai mereka lantas segera berdiri tegap dan saling melirik satu sama lain. Stella ikut menegang dan sedikit mundur bersembunyi akibat malu.
"Hansen, tolong bilang pada mereka supaya bekerja seperti biasa saja, aku cuma mau mengajak istriku lihat-lihat," ucapku. Hansen lalu melakukan apa yang kuminta dengan menyuruh anggota divisinya untuk duduk kembali dan bekerja seperti biasa. Namun alih-alih bersikap normal, mereka malah kelihatan nampak sedang memaksakan diri untuk berpura-pura kerja serius. Salah satu karyawan yang kami lewati bahkan mengetik sembarang kata di dokumen baru.
"Bisa dilihat pak. Saat ini kami di bagian pemasaran sedang bekerja keras demi menggarap campaign baru yang kemarin baru disetujui di rapat," ucap Pak Hansen. Supervisor bagian pemasaran juga ikut menyusul di sebelahnya untuk menuntun kami.
Aku mengiyakan perkataan Pak Hansen sebelum menoleh pada Stella, "Dia bicara soal campaign untuk platform streaming WillColm+ kita. Rencananya bakal ditambahkan sebuah fitur untuk menyalurkan setiap event kontes film pendek bagi siapapun pembuat film yang ingin berpatisipasi di sana."
"Oh, jadi biar yang pemula sekalipun boleh ikut?"
"Boleh."
"Bu Stella juga boleh ikut nanti jika berminat, siapa tahu menang," canda Hansen yang memancing beberapa tawa dari antara rombongan. Aku tidak menganggap itu begitu lucu tapi aku membolehkan seulas senyum muncul dibibirku kala melihat Stella tertawa.
"Andai aku pandai buat film, aku pasti akan ikut," ucap Stella seraya bergantian melihat ke arahku dan Hansen, "Aku harap campaign-nya bisa sukses."
"Iya bu, kami optimis ini akan menarik perhatian umum," jawab Hansen.
Setelah itu Hansen lalu lanjut memperkenalkan beberapa karyawan yang menurutnya sangat berdedikasi dalam divisinya akhir-akhir ini. Beberapa dari mereka kelihatan sangat tegang.
"Ini Fiona. Anak baru yang sudah banyak mengusulkan ide-ide brilian buat kita. Selalu tepat waktu dan sigap saat dihubungi."
"Halo, Pak Luiz, Bu Stella," wanita bernama Fiona itu membungkuk. Dia menarik kedua ujung bibirnya lebar-lebar seraya mencuri pandang pada Stella. Untuk seorang karyawan yang teladan, mejanya tampak lumayan berantakan di belakangnya. Ada banyak ini itu berserakan.
"Oh... Ada banyak foto dan dekorasi imut," ucap Stella, dia lalu menunjuk ke salah satu foto dalam bingkai di meja, "Oh, oh itu foto Damian Navaro kan? Yang aktor terkenal itu."
Telingaku berkejut dan kedua alisku terangkat naik.
Fiona yang tampak kaget segera bergerak ke samping untuk memberi jalan pandang pada foto yang ditunjuk Stella dan mengangguk, "Eh iya bu. Saya fans berat dia."
__ADS_1
"Oh aku juga, dia keren banget ya," ucap Stella menaruh tangan di dada dan itu memicu rasa penasaranku yang tadinya nol pada aktor yang sebelumnya tak pernah kudengar namanya itu menjadi naik aembilan puluh persen. Aku memiringkan kepala untuk melihat wajah diam aktor pria itu, namun tak menemukan kespesialan apapun darinya. Bagaimana bisa Stella menyebut dia sebagai orang yang keren?
"Stella, ayo jalan lagi," bisikku. Tak ada waktu untuk membahas aktor tak penting.
Aku dan Stella kemudian berkeliling di seputar lantai itu sebelum lanjut ke beberapa lantai di bawah. Walau tata ruang dari setiap lantai tidak berbeda jauh untuk masing-masing departemen, itu tidak mengurangi keantusiasan Stella. Kadang dia masih agak canggung dan agak malu dari mendapat perhatian seluruh karyawan tapi selebihnya dia lumayan baik dalam menanggapi atau bertanya sesuatu yang menarik perhatiannya. Walau sering pertanyaan itu tidak berbeda jauh dari apa yang dia tanyakan pada Fiona tadi, yakni hal-hal random yang takkan kau ekspetasikan akan dia tanya dalam suasana kantor.
"Semua orang bekerja dengan keras ya," ucap Stella waktu kami sudah kembali ke ruanganku.
"Itu karena aku dan direktur lain ada di sana."
"Oh, tapi aku suka dengan suasana kantor ini. Pantas saja kau betah lembur Luiz."
"Bukan betah tapi memang harus begitu supaya pekerjaan selesai."
Stella mengangkat dagu dan melihat ke arah jam dinding, "Oh sudah jam dua lewat. Aku sebaiknya pulang."
"Jam dua?" Gumamku ikut melihat jam karena tak sadar kalau sudah lewat sejam lebih dari waktu makan siang, aku lantas mengangguk, "Akan kutelponkan taksi untukmu."
Sebenarnya aku ingin meminta dia menunggu sampai waktu pulang kerja agar bisa pulang bersama, tapi aku tahu itu masih akan sangat lama dan dia bisa lebih memanfaatkan waktu di rumah ketimbang cuma menungguku di sini.
Ding.
Bunyi dari lift yang baru tiba ketika aku hendak mengantar Stella turun menandai kedatangan orang dari lantai atas. Ibu dan gadis yang dia bawa—aku lupa namanya— itu keluar dari sana.
"Mohon bimbingannya kak Luiz," ucap gadis itu.
Aku menghela napas. Sudah kuduga, pada akhirnya urusan ini akan kembali padaku juga. Tanganku yang tadi di saku bergerak ke arah Rio di mejanya yang balik menatap penasaran, "Untuk detailnya ibu bicaralah pada Rio di sana. Dia yang akan mencarikan posisi untuk...Nona...ini."
"Luna, namanya Luna, Luiz. Bagaimana bisa kau lupa hanya dalam waktu beberapa jan saja?" Bibir ibu menekuk sepersekian centi tapi dia mengangguk, "Ya sudah. Tapi kau janji untuk memperlakukan Luna dengan baik ya. Ingat dia anak teman baik ibu."
"...Oke."
"Terima kasih, Kak Luiz," ucap Luna yang ditemani anggukan puas dari ibu.
"Terus kau mau kemana lagi sekarang?" Tanya ibu lagi.
Stella lantas memunculkan diri dari balik lenganku, "Ibu aku mau pamit pulang duluan. Luna juga, tadi um, kita belum sempat kenalan. Jadi halo salam kenal."
Luna yang baru pertama menaruh perhatian pada Stella tersenyum ramah, "Halo juga, Kak Stella. Maaf aku tidak terlalu melihatmu daritadi jadi tidak langsung menyapa."
Mata ibu membulat sekilas, "Stella...kupikir kau sudah balik daritadi. Lama juga kau di sini."
Stella menggaruk pipi dan tertawa kecil, "Itu karena aku habis diajak keliling oleh Luiz, bu."
__ADS_1
Aku mengangguk, "Ibu, aku mau menemani Stella ke bawah untuk menunggu taksinya. Kalau tidak ada lagi, kami duluan ya."
"Oh...oke," ibu meminggir dari depan pintu lift, dia melihat Stella dari atas ke bawah sebelum lanjut berbicara, "Hati-hati di jalan, Stella."
"Iya, bu. Sampai jumpa."
...****************...
Tanpa sepengetahuan Luiz, hari itu seluruh grup chat orang dalam perusahaan heboh. Salah satunya adalah grup chat dari beberapa perempuan di Departemen Pemasaran.
CynthiaL: Loh loh itu tadi istri Pak Luiz kan?!
Angel: Ganteng banget Pak Luiz :")
Anyaaa: Iya itu istrinya! Dah setahun nikah kenapa baru sekarang dibawa ke kantor ya?
CynthiaL: Nah itu dia makanyaa. Kan sempat ada gosip tuh kalau pernikahan si bapak dingin alias tidak harmonis!
Angel: Tadi Fiona mejanya disinggahin beruntung banget, aku kan juga mau dikenalin gituuu
Mel: Kita semua juga mau kali
Anyaaa: Eh tapi menurut kalian istrinya biasa aja ga sih? Dari pas lihat di pesta dulu aku juga udah ngerasa kek ga ada yang wah gitu dari diaa
Mel: Yaudah si, pak Luiz kan melihat hati :))
Anyaaa: Tahu gitu, udah kugodain daridulu si bapak, aku kan berhati malaikat. Huhuu kapan aku bisa ketemu laki-laki seperti Pak Luiz
CynthiaL: Dih malaikat matamu! Busuk gitu jugaa
Mel: Gimana caranya kau mau godain si bapak? Dia turun tahta buat blusukan ke lantai kita aja setahun sekalii
FionaDewii: Guys, baik banget istri pak luizz. Tahu ga? Dia bilang dia juga suka sama Damian Navaro!!! Terharu aku tuhh ketemu sesama Daminez
Mel: Semua yang suka sama Damian aja kau kata baik.
Anyaaa: Padahal cakepan pak luiz menurut aku.
Angel: Si ibu mending pak luiznya kasih ke saya aja kalau begitu, saya siap.
CynthiaL: Nah, nah, mulai deh kelihatan jiwa pelakornya kalian semua
__ADS_1
Mel: Eh udahan dulu. Pak Hansen balik lagi ituu