Days After You

Days After You
Bab 28 - Obrolan Sebelum Tidur


__ADS_3

Alejandro atau Ale anak Kak Esther membawa tawa di meja makan dengan tingkah gemasnya waktu makan malam. Sudah lama tidak melihat keponakanku itu, rasanya dia sudah tambah besar saja. Dia terus menarik lengan Kak Esther dan Stella yang duduk mengapitnya untuk mengambilkan makanan di meja yang tidak bisa dia raih.


Tadi aku dan Stella kembali jadi bahan perhatian karena sekali lagi dia beranjak mengambilkan aku lauk walau aku tidak meminta itu sama sekali. Meski sudah sering melihat Stella melakukan ini setiap kali kami datang kemari, mereka tetap menganggap itu sebuah hal yang tidak biasa dan menggoda kami.


"Uu...aku takkan pernah lelah menyaksikan Stella mengambilkan makanan untukmu, Luiz," Kak Esther tertawa, "Aku saja jarang melakukan itu untuk Bram."


"Baguslah kalian masih terus akrab," ucap ayah.


Kakek menimpali, "Bagus sekali, bagus sekali."


Di antara semua itu, hanya ibu yang tidak ikut nimbrung tertawa meski dia menatap kami lekat. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk itu jadi aku memilih untuk tidak begitu memperhatikannya. Saat dia membuka mulut selanjutnya, aku berharap itu bukan kalimat yang tidak mengenakkan tapi tentu saja ibu punya niat tersendiri akan perkataannya.


"Luiz, aku dengar dari ibu Caryna kau bertemu dengan dia di Kota D. Kami sedang ada arisan bersama waktu dia menelpon ibunya dan memberitahu itu."


Aku mengangguk, "Iya."


"Sudah cukup lama bukan, terakhir kalian masih sering bertemu dan begitu akrab. Bagaimana bisnis butiknya? pasti makin sukses sekarang."


"Aku tidak sempat bertanya."


"Oh aku yakin itu sangat sukses."


"Caryna? Siapa itu?" Ucap Kak Esther dan aku spontan menatapnya. Aku tahu dia kenal Caryna jadi dia pasti berbohong saat bertanya itu. Dia bahkan beralih mencicipi ayam buatan Stella dan memujinya sebelum ibu menjawab. Ini pertama kali Kak Esther menunjukkan respon pada sikap ibu terhadap Stella, biasanya dia lebih bersikap netral tanpa mengatakan apapun.


"Esther, kau sering berbelanja di butik miliknya, masa kau lupa."


"Ibu aku berbelanja di banyak butik, aku tidak kenal pemiliknya satu persatu kecuali jika dia sangat terkenal."


Ibu menyipitkan mata, "Oh dia sangat terkenal, Esther. Stella kau sudah bertemu dengan dia kan? Kuharap kau tidak cemburu atau apa, kau tahu dia dulu sempat ingin dijodohkan dengan Luiz."


Aku meletakkan sendok. Ibu benar-benar...Namun sebelum aku berkata apapun, bertepatan dengan gerakanku, Stella segera menegapkan tubuhnya dan mengangguk cepat.


"Iya. Luiz yang bilang sendiri kalau dia pernah mau dijodohkan dengan Nona Caryna. Tapi tenang saja bu, aku tidak cemburu sama sekali. Aku merasa itu tidak perlu dan hanya akan membuang-buang waktu."


Stella masih terlihat sedikit takut untuk menyahuti ibu tapi itu berhasil membuat ibu terdiam dari serangannya. Dan tentu saja Stella tidak cemburu, dia kan tidak menyukaiku seperti yang ibu kira.


"Aku percaya pada Luiz, bu. Seperti kau percaya padanya sebagai anakmu, aku juga begitu. Jadi tenang saja," tambah Stella dengan wajah yakin walau pipinya sedikit memerah. Tanpa kurasa ujung bibirku terangkat naik.

__ADS_1


"Bagus itu Stella, kepercayaan adalah suatu yang krusial dalam hubungan suami istri. Krusial sekali, krusial sekali," sahut kakek dan semua menoleh padanya, "Dan Diana...kau dulu begitu menyenangkan tapi kenapa akhir-akhir ini kau suka sekali menghancurkan suasana di meja makan tiap kali Luiz dan Stella kemari. Tiba-tiba membicarakan wanita lain yang bahkan bukan keluarga kita. Inilah mengapa mereka jarang kemari. Berhentilah, berhentilah."


Ibu memasang wajah muram dan mengangguk, "Iya maafkan aku ayah. Aku tidak bermaksud."


Ayah lalu mengubah topik perbincangan ke arah lain sesudah itu dan semua meninggalkan obrolan yang tadi secepat mengedipkan mata. Aku bersimpati pada ibu yang di ceramahi kakek tapi di sisi lain dia juga yang memancing itu sendiri. Setidaknya Stella bisa menanggapi kalimat ibu dengan baik.


Hujan deras tiba-tiba mengguyur begitu aku dan Stella berniat untuk pulang. Kakek dan ibu yang khawatir akan kondisi jalanan yang licin dan gelap lantas melarang kami untuk kembali malam ini. Jika bisa, aku sebenarnya tidak ingin menginap dulu tapi berhubung hujannya memang sangat deras dan aku tidak berani menerobos saat membawa Stella, aku pun menuruti perkataan kakek.


Aku membawa Stella ke kamar yang dulu kutempati semasa kecil hingga sebelum aku memutuskan untuk tinggal sendiri. Malam ini, aku dan dia terpaksa harus berbagi kasur lagi. Tapi apa boleh buat, kami tidak mungkin tidur di kamar terpisah saat ada kakek dan ayah.


"Ini kamarku dulu. Kupikir bakal berdebu karena lama tidak ditinggali, tapi kelihatannya ibu masih menyuruh orang untuk membersihkannya."


"Wah...permisi," Stella memandang berkeliling, "Kamarmu polos sekali Luiz."


"Begitulah. Aku tidak begitu peduli atau punya hobi khusus untuk menghias kamar dulu."


Stella duduk di atas kasur dan tertawa kecil. Tak lama Kak Esther datang memanggil dia untuk pergi berganti pakaian dengan piyama yang hendak dipinjamkan untuknya.


Harusnya aku tidak membiarkan Stella pergi mengikuti Kak Esther. Sebab saat dia kembali dengan piyama yang sangat minim bahan aku tahu kakakku pasti sengaja melakukan itu. Aku bisa melihat bagian tubuhnya yang selama ini tersembunyi di balik pakaian normalnya.


Aku mengernyit, "Ada apa dengan Kak Esther memberimu pakaian minim begitu? Kau pakai piyamaku saja kalau begitu, mungkin kebesaran tapi jauh lebih hangat dan nyaman."


Wajah Stella yang tadi telah merah kian memerah, "Um...tapi kakakmu sudah repot-repot meminjamkannya untukku. Kurasa aku akan pakai ini saja."


Stella lalu berlari ke arah kasur dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga ke bawah dagu. Itu terjadi begitu cepat, aku sampai tercenung di posisi yang sama selama separuh menit. Stella mengintip dari balik selimut, "Begini lebih baik. Selamat malam, Luiz."


Masih merasa lumayan takjub dan heran akan apa yang baru kusaksikan, aku pun melangkah ke sisi lain ranjang dan membaringkan diri di bawah selimut di sebelah Stella tanpa mengatakan apapun.


Aku menatap langit-langit, "Tidakkah kau dingin memakai itu? Kau tidak perlu merasa tidak enak pada kakakku, kau tahu dia memang agak jahil kan. Piyama jauh lebih hangat dalam cuaca begini."


"Aku tidak apa, Luiz."


Hening lalu menjatuhi seisi kamar, menyisakan suara rintik hujan yang menyentuh jendela kaca dari luar.


"Aku minta maaf karena ibu lagi-lagi bersikap kurang baik padamu malam ini. Dia hanya belum menghangat saja padamu, aslinya dia adalah wanita yang baik."


Cerita itu ketaranya menarik perhatian Stella karena aku segera merasakan pergerakan di sebelahku dan merasakan tatapan lekatnya padaku.

__ADS_1


"Luiz, kau dekat dengan ibumu?" Tanya Stella.


"Lumayan. Saat masih kecil, jika ayah sedang keras-kerasnya mengajar atau memarahiku, ibu yang bakal menghibur dan menemaniku bermain. Itulah mengapa aku bilang dia aslinya baik, kuharap kau bisa mengerti dan bersabar akan sikapnya saat ini."


Stella mengangguk, "Tentu saja, Luiz."


Aku lalu menoleh pada dia, "Normalnya aku pasti akan bertanya bagaimana denganmu dan orang tuamu, tapi jawabannya sudah pasti bukan? Kau sendiri bilang jika kau dimanjakan mereka."


Stella tertawa kecil, "Iya."


Namun begitu tawa itu mereda, Stella lanjut berkata, "Ayahmu tidak kelihatan sekeras itu Luiz."


"Sekarang memang sudah tidak terlalu. Dulu dia sangat keras dan selalu memastikan peringkatku di sekolah tidak pernah turun. Jika ada nilai ulangan yang turun sedikit saja, aku bakal di suruh berdiri di luar sambil menghafalkan materi pelajaran itu sampai lancar."


"Oh...aku tidak tahu," ucap Stella pelan, dia sempat menunjukkan ekspresi murung tapi segera menggantinya dengan seulas senyum, "Tapi ayahmu pasti cuma ingin melihat kau bertumbuh menjadi pria yang luar biasa. Walau cara yang dia pakai terkesan keras, baiknya itu berhasil membuatmu menjadi pria yang mengagumkan yang punya banyak keahlian seperti sekarang Luiz. Jika kau dimanja, kau mungkin tidak akan berbeda jauh dengan aku yang kurang bisa apa-apa ini."


Aku terdiam sejenak. Jujur aku sedikit terkejut sekaligus senang sebab ketimbang melanjutkan kalimatnya yang jelas mau mengarah ke sisi yang menunjukkan rasa kasihan pada mulanya, dia segera berbelok dan mengambil sisi positif dari didikan ayahku tanpa perlu mengatakan atau mengisyaratkan ayah sebagai orang yang buruk seperti yang biasa kebanyakan orang lakukan. Aku tidak perlu dikasihani dan mendengar orang lain menyebut ayah dengan sebutan negatif atas namaku juga tidak serta merta merubah apapun, jadi aku bersyukur dia mengatakan itu sebagai gantinya.


"Kau terus memujiku, tapi aku tidak semengagumkan yang kau kira, Stella. Aku orang yang kaku dan skeptis, kurang bisa berinteraksi dengan anak-anak, menggunakan uang dan posisiku untuk mengusir orang dari tempat tinggalnya...aku bicara soal Alan. Dan yang paling buruk aku diam-diam menyebutmu membosankan saat pertama kali bertemu hanya dari penampilanmu saja."


Itu dia. Sudah kukatakan semua dengan jujur. Sekarang aku ingin lihat bagaimana reaksi Stella akan itu.


Stella mengerjap sebelum mengeluarkan suara tawa yang renyah, "Luiz aku bilang mengagumkan bukan berarti aku menganggapmu sempurna. Tentu saja kau punya kekurangan, yang  bagus itu di balik kekurangan itu, kau tetap mencoba melakukan hal yang baik. Kau bilang kau kaku dan skeptis tapi kau selalu peduli dan rela membantuku ini itu sejak awal. Walau tidak begitu mengerti anak-anak, kau tetap berusaha menghibur Kevin dulu. Kau tidak akan menggunakan uang dan posisimu kecuali itu memang diperlukan dan penting, setelah apa yang dia lakukan, Alan pantas mendapat perlakuan itu. Dan soal pendapat tentang diriku...itu normal saja untuk punya persepsi, toh kau tetap baik padaku walau berpikiran begitu."


"Itu hanya diawal, aku tidak berpikir begitu lagi tentangmu," buru-buru aku menimpali.


Kedua mata Stella berbinar, "Karena inilah kau mengagumkan Luiz, kau bisa mengakui semua itu dan tetap mau beradaptasi dengan segala ketidaknyamanan yang datang ke arahmu dengan pikiran terbuka. Kurasa itu benar-benar hebat."


Aku membuang napas, "Aku menyerah untuk mengubah pikiranmu..."


Aku takkan bisa memenangkan perdebatan ini tanpa menghiraukan begitu saja perasaan mengaduk yang timbul di perutku selepas mendengar Stella memulai pidato kecilnya tadi.


Stella tertawa lagi sebelum tak lama kantuk datang meliputi dan dia terlelap dalam posisi yang sama. Aku memandang wajahnya selama kurang lebih sepuluh menit. Perasaan aneh yang muncul dari saat melihat dia di bawah sinar mentari terbenam kembali membayangiku.


Gawat. Aku sudah semakin terlibat dengan Stella tanpa kusadari. Aku takut telah membiarkan diriku terlalu terlena akan keberadaannya di sisiku. Malam ini aku bahkan bisa merasa nyaman mengobrol dengan dia dari jarak dekat tentang masa kecilku tanpa merasa canggung sama sekali.


Aku memutar badan tuk membelakangi Stella. Tidak. Kontrol dirimu, Luiz. Ini bukan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2