
malam yang indah dengan taburan bintang berkelap kelip di angkasa menemani pria berkepala empat itu yang tengah duduk di sofa singgel balkon rumahnya. pria itu menghela nafasnya dalam-dalam, ia tidak tahu harus berbuat apa untuk sekarang ini. kepalanya sedikit berdenyut memikirkan masalah anaknya dan lagi masalah kantor nya yang sangat padat.
ingin rasanya hidup nya damai, di penuhi kasih sayang dari orang yang di kasihnya. ia juga menginginkan seseorang perhatian padanya dan juga ingin setiap kali ia terbangun dari tidurnya ada wanita cantik yang tengah menunggu nya dengan senyum manis di depan nya.
dulu ia pernah ada di posisi itu, saat ia letih dengan pekerjaannya ia akan pulang ke rumahnya dan melimpahkan nya pada pelukan sang istri serta anak semata wayang nya yang membuat nya tenang. pria itu sangat bahagia mempunyai kedua nya di kehidupan nya namun, siapa sangka ternyata Tuhan berkehendak lain istrinya pergi meninggalkan nya sekarang.
kebahagiaan yang telah mereka lewati untuk saat ini hanya bisa menjadi kenangan yang sangat dalam baginya.
"by, maaf papah tidak bisa menjadi papah yang baik buat kamu nak" lirih Lewis pelan.
ia mendongak menatap ke arah bintang yang selalu bersinar sangat terang. "ana, kau tahu aku gagal mendidiknya, aku tidak pantas di sebut dengan kata papah olehnya. ia telah meninggalkan diriku sendirian sekarang, aku membuatnya pergi".
__ADS_1
"ana akankah waktu itu kembali lagi? aku ingin sekali rasanya memeluk mu erat seperti dulu" batinnya.
malam semakin larut, hawa dingin menusuk ke dalam tubuh nya, entah sudah berapa lama ia telah duduk di sana. pria itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk kedalam kamarnya.
"maaf tuan, ini obatnya silahkan di minum tuan" ucap seorang asisten rumah tangga paruh baya itu dengan sopan.
"letakkan saja di sana, saya sedang tidak ingin meminumnya"
"terimakasih mbok telah mengingatkan ku" Lewis meraih beberapa kapsul yang berada di atas nampan itu dan meneguknya dengan sekali telan bersamaan dengan air yang di bawa asisten rumah tangga itu di nampannya.
"jika begitu saya permisi , saya masih memiliki tugas lain yang harus dilakukan tuan" ucapnya menunduk dan berlalu pergi.
__ADS_1
"silahkan!" ucap nya.
ia meraih handphone yang berada di atas nakas itu. mengisikan dua belas angka dan menelponnya. layar telpon nya bertuliskan berdering tanda yang di tuju sedang aktif. tak lama terdengar suara pria menjawab telepon nya. "halo tuan" ucapnya sopan.
"bagaimana perkembangannya? apakah dia baik baik saja?" tanya Lewis spontan.
"benar tuan dia baik baik saja ".
"lanjutkan tugas mu dengan baik" ucapnya singkat dan mematikan sambungan telepon nya secara sepihak. pria itu duduk di sofa kamarnya, ia menatap sebuah laptop yang masih menyala sedari tadi.
hari hari lewis memanglah tidak bisa luput dari laptop nya yang berisikan laporan perusahaan miliknya. sudah seharusnya sebagai Presdir ia selalu mengecek kondisi perusahaannya agar tidak ada kekacauan yang akan meruntuhkan apa yang selama ini ia bangun.
__ADS_1
namun akhir akhir ini ada kendala kecil yang terus bermunculan di perusahaan cabang miliknya yang berada di kota C. ia akan mengecek kondisi di sana untuk beberapa hari kedepan.