
saat ini Debby tengah asik memandangi wajah pria tampan di depannya. entah sejak kapan ia sudah ada di dalam apartemen milik pria tersebut.
"ekhem" pria itu berdehem menyadarkan Debby yang tengah memandang nya. yang sontak saja membuat sang empunya gelagapan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"bukankah kau lapar??" tanya david dingin sembari melirik ke arah makanan di meja itu yang sudah mulai dingin dan beralih ke wajah Debby yang tengah memerah.
beberapa saat yang lalu, di depan sebuah pintu yang berwarna coklat tua. Debby tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok yang ada di depannya yang tengah berada di ambang pintu itu. ia seakan-akan terhipnotis oleh bau maskulin dan juga ketampanannya.
pria itu menyerngitkan alisnya mendapati Debby yang mengetuk pintunya malam malam seperti ini. Debby hanya terdiam. tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut nya. ia hanya memandang kagum ke arah pria tersebut sambil tersenyum lembut.
David melambaikan tangannya ke arah Debby. "ada apa??" tanyanya singkat. "lapar" hanya kata itu lah yang keluar dari mulut wanita cantik itu.
"masuk" david memberikan jalan untuk wanita itu masuk. ia tahu jika wanita itu tidak memiliki stok makanan pasti nya, hingga ia senekat ini mengetuk pintu tetangganya di tengah malam buta.
wanita itu berjalan memasuki apartemen miliknya dengan tatapan yang sulit di artikan. ia hanya seperti orang linglung yang melupakan segalanya saat melihat pria tersebut.
"kau ingin memakan apa biar ku buat kan". wanita itu hanya menjawab terserah tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah pria itu. risih, itulah yang dirasakan David saat ini. ia sebenarnya orang yang sangat kaku terhadap wanita bahkan ia sangat dingin terhadap mereka.
David berjalan menuju ke arah lemari es yang berukuran besar itu dan mengambil beberapa bahan makanan. ia meletakkan beberapa sayuran yang telah ia cuci di atas meja. tangannya dengan lihainya memotong sayuran tersebut tanpa terluka sedikitpun, itu semua tak luput dari pandangan Debby yang menurutnya sangat menakjubkan.
David memasak selama lebih dari 20 menit lamanya. ia menghidangkan makanannya di meja makan. "makanlah" ujarnya melihat Debby yang masih berdiri.
gadis itu hanya mengangguk dan langsung duduk begitu saja. sedangkan David, ia mengambil sebuah buku yang berukuran tebal itu dan membacanya. sesekali ia melirik ke arah Debby yang masih memandang kagum ke arah nya.
kembali ke waktu yang sekarang, Debby hanya bisa menahan malu.ia tak sanggup melihat nya lagi, wajah nya sudah memerah seperti tomat.
__ADS_1
"kenapa kau tidak makan ??".
"ah i..ia benar. aku akan memakannya sekarang" jawabnya cepat dan sedikit terbata bata.
Debby mengambil makanan di depannya. lalu ia memasukkan sendok makanan itu sangat cepat karena salah tingkah akibat tatapan pria di depannya ini.
"kau seperti babi saja" celetuk david melihat tingkah Debby.
wanita itu sontak saja berhenti memakannya dan meletakkan sendok nya di atas piringnya. ia merutuki kebodohannya, tak seharusnya ia seperti itu, ia seharusnya bisa menormalkan dirinya agar tidak terlalu terlihat salah tingkah.
sungguh tingkah nya kali ini membuatnya sangat malu. ia hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya, tak berani menatap lagi.
"maaf" begitu mudahnya ia mengucapkan kalimat itu setelah ia membuat nya terdiam karena rasa malunya.
Debby mendongak menatap lekat wajah pria tampan di depannya. "u.. untuk apa kau meminta maaf??" tanya Debby sedikit bingung dan mulai menetralkan ekspresi wajah nya. "lupakan! makanlah" jawabnya singkat.
Di sisi lain. "cellsy kamu jujur sama mama kamu tahu dimana Debby berada sekarang??" tanya seorang wanita cantik itu yang tak lain adalah ibunya.
"enggak tahu mah! sysy cuma di kasih alamat itu sama Debby tadi siang. sysy juga enggak bermaksud untuk bohongin om" ucapnya menunduk melihat ke arah lewis.
ia haru ini di interogasi habis habisan oleh ayah dan ibunya. pasalnya tiba-tiba saja Lewis, ayah Debby datang kerumahnya menanyakan apakah ia mengetahui di mana putri nya sekarang.
awalnya cellsy memberi tahu kan alamat yang di berikan oleh Debby tadi siang. namun, siapa sangka ternyata alamat itu ternyata palsu. tidak ada Debby di sana. mereka semua mengira bahwa cellsy bersekongkol dengan Debby agar memalsukan tempat dimana ia berada. mereka bertiga yakni ayah dan ibunya beserta ayah Debby mengintrogasi nya habisan hingga membuatnya tak berkutik sama sekali.
"maaf banget ya mas, atas perlakuan anak aku. aku yakin anakku tidak bermaksud untuk membohongi mas" ucap Feli ibu cellsy pada lewis.
__ADS_1
"tak masalah. lagi pula aku tahu anak mu tidak bersalah, ini adalah salah anak ku yang memberikan alamat palsu pada nya".
"terimakasih atas kepercayaan mu pada putri ku" ujar Erik Richard Ayah cellsy yang merasa lega.
"hahaha kita sudah kenal sangat lama. aku juga mengenal putri ku dengan sangat baik dia memang sangat lah nakal semenjak mendiang ibu nya tiada".
"baiklah jika begitu aku pamit. maaf mengganggu waktu kalian" ucap lewis beranjak dari tempat duduknya.
"tak masalah. seperti yang kau katakan kita adalah sahabat. kau bisa datang kapan saja karena pintu rumah ini terbuka lebar untuk mu" ucapnya sambil tersenyum.
"terimakasih" lewis melangkah kan kaki nya menuju ke luar Mension sahabat nya tersebut.
Di luar, sebuah mobil mewah hitam miliknya telah menunggu nya sejak tadi. seorang bawahan nya membukakan pintu untuk nya. ia melangkahkan kakinya memasuki mobil tersebut dan memerintahkan supirnya untuk menjalankan mobilnya.
mobil itu berjalan perlahan keluar dari gerbang kediaman Adeline dengan di iringi dua mobil bodyguard di belakangnya. supir tersebut menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
sementara itu, lewis mengeluarkan ipad keluaran terbaru miliknya. ia membuka galeri foto bersama keluarga kecilnya.
"sayang kenapa kau meninggalkanku sendiri di sini. lihat lah anak mu sekarang menjadi pribadi yang sangat pembangkang sayang. aku telah gagal mendidiknya" ucapnya sendu memandang foto dirinya bersama sang istri tercinta dan juga Debby tentunya.
tangannya mengusap lembut gambar wajah kedua orang terpenting dalam hidup nya itu. air matanya menetes membasahi layar iPad miliknya itu. ia mengenang masa masa saat keluarga nya masih lengkap. ia akan setiap minggunya menyempatkan diri nya untuk menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya seharian penuh.
"seandainya kecelakaan maut itu tak pernah terjadi, aku yakin keluarga kita akan bahagia sayang".
pria itu mengusap air matanya yang terus mengalir. ia meletakkan iPad miliknya kembali ke samping nya. pandangannya beralih ke luar jendela ia menatap sebuah keluarga kecil yang sederhana sangat bahagia menghabiskan waktunya bersama sama di sebuah wahana bermain. ayah, ibu serta gadis kecil yang imut yang mengingatkan nya kembali pada Debby kecil yang sangat menggemaskan.
__ADS_1
iri! ya Lewis sangat iri pada mereka. ia tidak bisa lagi merasakan kehangatan keluarga nya seperti dulu.
Lewis hanya bisa tersenyum simpul dan mengarahkan pandangan ke depan.