
Hembusan angin malam menerpa ruangan yang berisikan seorang gadis cantik dengan buku berhamburan di sisinya. ia tampak sangat fokus pada buku buku itu. rambutnya yang tergerai indah itu berterbangan terbawa angin.
Belajar ya itulah yang dilakukan oleh gadis cantik ini. ia meminjam sangat banyak buku hari ini di perpustakaan dan berencana mengejar ketinggalannya beberapa bulan terakhir. sebab beberapa bulan lagi akan di laksanakan ujian semester.
"akh kenapa aku tidak bisa menemukan hasilnya" ucap Debby prustasi karena ia sudah berjam jam mengisi satu soal ini tapi naas nya ia masih tidak mampu menemukan titik akhir nya.
"apakah aku memang sebodoh itu? sampai sampai aku tidak bisa menjawab satu pun dari semua soal ini?"
Debby merebahkan tubuhnya ia rasa kepalanya seakan ingin pecah dan mengeluarkan semua isinya. jari mungilnya sudah terlihat keriting tangannya sudah akan patah mencari jawaban itu namun hasilnya nihil.
"aku tidak mau di pindahkan ke kelas IPS aku tidak mau" ucapnya merengek.
di tengah tengah ke prustasian nya, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang mengetuk pintu apartemennya. ia beranjak dari tempat nya sekarang menuju ke arah pintu dengan langkah lunglai.
"ada apa kau mencari ku?" tanya Debby setelah membukakan pintu nya tanpa melihat siapa di depannya.
"aku hanya ingin memberikan ini untuk mu" jawabnya dingin memberikan kantong berwarna coklat dengan logo ayam kampung bakar.
gadis itu mendongak saat mendengar suara dingin di depannya. ia melihat kearah nya ternyata itu adalah tetangga depan rumah nya.
"David? " ucapnya spontan. "hmmz" pria itu berbalik arah dan hendak pulang ke apartemen miliknya setelah memberikan kantong tersebut namun, di hentikan oleh Debby.
__ADS_1
"tunggu!" sergahnya dengan cepat. sebenarnya ia sudah malu selalu di kasihani oleh pemuda itu, seakan akan ia adalah pengemis makanan untuknya. belum cukup ia memberikan stok makanan untuknya selama seminggu kemarin pikir nya sedikit tidak nyaman.
David membalikan kembali badannya menatap lekat wajah Debby, sontak saja itu membuat sang empunya memerah.
"terima kasih " gadis itu tersenyum manis memandang ke arah pria di depannya. "oh ia, apakah kau sibuk malam ini?" tanya Debby sedikit ragu.
"tidak" singkat nya.
"apa kau bisa menemani ku menghabiskan ini? ini sangatlah banyak aku takut akan mubazir nantinya" Debby melihat ke arah kantong coklat di tangan nya yang memang isinya yang sangat banyak.
"kau bisa memanaskan nya besok pagi" tolak nya dan membuat Debby tampak kecewa.
"aku mohon kau mau kan menemaniku sebentar saja" rengek nya bak anak kecil yang menginginkan sesuatu dan harus bisa di penuhi.
"mari kita makan" ujar Debby yang sudah menyiapkan semuanya di meja makan minimalis yang hanya bisa muat empat orang.
David mengangguk lalu berjalan ke arah Debby dan duduk tepat di depan nya. ia mengurungkan niatnya untuk melihat buku tersebut "maaf jika di sini sangat berantakan, aku hari ini sedang belajar tapi ternyata sangat lah sulit memahami semuanya".
"tidak masalah" ujarnya dingin dan menyantap makanan di depannya. Debby tersenyum, ia menatap lekat wajah pria tampan di depannya ini. aku menyukai kepribadian nya pikir nya tanpa mengalihkan pandangannya.
saat ini hanya keheningan menghiasi keduanya suara dentingan sendok beradu dengan piring memenuhi ruangan tersebut.
__ADS_1
setelah mereka berdua selesai mengisi perutnya, Debby membereskan buku buku itu menyusunnya di atas meja samping tempat tidur nya di bantu oleh David.
"terimakasih kau telah menemani ku dan membereskan semua ini" ucap Debby yang berada di ambang pintu apartemennya.
"berhenti mengucapkan itu" David dongkol mendengar kata terima kasih terus menerus keluar dari mulut gadis itu." maaf aku tidak akan pernah mengulangi nya lagi" Debby menunduk. ia kira pemuda itu akan senang jika dirinya mengucapkan terima kasih tapi nyatanya ia kurang suka dengan itu, apakah ada maksud lain dengan kebaikan nya selama ini batinnya tidak tidak sebab jika ia menginginkan sesuatu yang lain ia tidak bisa memenuhi nya.
"bukan begitu, aku tak ingin kau selalu saja berterima kasih pada ku. aku merasa risih mendengar nya".
Debby mendongak ke arah David dan tersenyum. "baiklah aku tidak akan melakukan nya lagi".
"hmmz masuklah kau tak seharusnya mengantarkan ku keluar".
gadis itu mengangguk berjalan masuk dan menutup pintu nya dengan rapat. di balik pintu ia mengintip dari lubang kecil di pintu itu, ternyata pria itu masih berdiri di sana memandang ke arah pintu yang sudah tertutup.
Debby menyentuh hendel pintu dan memutar nya membuka kembali pintu tersebut. ia tak melihat lagi pria itu, mungkin sudah masuk ke apartemen pikirnya. gadis itu kembali masuk dan menghilang dari balik pintu.
"ugh aku tidak bisa jika harus menggantungkan hidup ku padanya seperti ini aku malu" Debby memijat keningnya dan merebahkan tubuhnya di kasurnya.
"aku harus bisa mencari nafkah untuk ku sendiri, tapi apa yang bisa aku lakukan?" pikirnya sejenak.
"ooo aku tahu aku akan memanfaatkan uang ku yang ku simpan untuk membuat makanan ringan dan aku akan menjualnya".
__ADS_1
Debby memikirkan banyak makanan ia harus tahu apa yang paling bisa ia buat dengan uang bermodalkan 100.000. "aku tahu sekarang aku akan membuat apa" ia kali ini sangat serius akan ucapnya.