
Malam yang semakin larut membuat hawa di sekitar jalanan kota menjadi sangat dingin. setelah kedua remaja itu mengisi perutnya, Debby dan david memutuskan untuk kembali pulang ke apartemen milik mereka masing masing.
"hei jangan terlalu cepat! kaki ku tidak bisa menyamai langkah mu" ujar Debby pada David yang berada jauh di depannya. "lambat" Debby mendengus kesal. baru kali ini ia bertemu dengan seorang lelaki yang sangat tidak mempunyai perasaan seperti ini. bagaimana bisa ia meninggalkan seorang gadis cantik seperti nya di jalanan.
Debby duduk memeluk lututnya. ia sangat lelah berjalan, belum lagi tidak makan dua harian ini yang membuat kakinya terasa lemas. hidung nya memerah karena udara yang dingin.
sedangkan David saat mendapati Debby tak ada lagi di samping nya, ia menoleh ke belakang. jarak mereka berdua sudah sangat jauh. gadis yang bersamanya sangat menghawatirkan memeluk lutut di pinggiran jalan tampak seperti anak jalanan yang baru saja di tinggalkan oleh orang tua nya.
David memutar bola matanya malas. ia kembali berjalan menuju ke arah Debby yang masih terduduk. "ck apa mau mu?" ucapnya dingin, tersirat kekesalan di wajah nya. "kau berjalan seperti atlet jalan cepat! tentu saja aku tidak bisa menyusul mu" gerutunya seraya menggembungkan pipinya.
__ADS_1
"ya sudah ayo" Debby beranjak dari duduknya berjalan kembali mendahului pemuda itu dan tidak lupa menggandeng tangan nya. di tengah tengah perjalanan Debby merasa sedikit tidak nyaman dengan perutnya. "akh" rintihannya memegang perutnya yang terasa nyeri.
"ada apa?" tanya David sedikit khawatir. " aku juga tidak tahu, tapi perut ku sakit sekali" Debby menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit nya dan kembali terduduk. " apa kau bisa berjalan?" Debby menggeleng ia merasakan semakin sakit dan perih yang tak kunjung pergi dari perutnya.
"ayo kita ke dokter" ujarnya sembari membantu Debby bangun namun tak di sangka dress bagian belakang Debby tampak berwarna merah. "apa kau sedang datang bulan?" David menyerngitkan alisnya. "a..apa?" Debby memutarkan sedikit dress bagian belakang nya.
datang bulan itulah yang terngiang-ngiang di pikiran nya, ia tak tahu apa yang harus dilakukan ini adalah hari pertama dalam hidupnya. "a..apa yang harus aku lakukan?" paniknya.
Beruntung David mengetahui sedikit tentang wanita yang seperti ini. "ikut aku" david menarik tangan gadis itu ke dalam sebuah supermarket setelah menutupi bagian belakangnya dengan jaket yang ia kenakan.
__ADS_1
"ambil lah" pemuda itu menunjuk ke arah rak di mana semuanya berisikan pembalut wanita. "ini?" tanya Debby ragu dan mengambil satu pack dari salah satu nya. " hmmz" pemuda itu dengan cepat merampasnya dan mengambil beberapa pack lagi dengan merek yang sama, setelah itu ia berjalan menuju ke kasir membayar semuanya.
"ini" ucapnya menyerahkan kantong plastik berwarna putih di tangannya. "terimakasih" sebenarnya gadis itu sudah menahan malu nya sedari tadi. urusan seperti ini saja ia tak mengetahui nya bagaimana jika dengan urusan yang lainnya. belum lagi ia selalu di traktir oleh nya.
baru saja tadi ia menolak tawaran traktiran nya dengan membayar semua makanan yang di pesan nya di warung bang Udin karena merasa tidak enak dengan terus terusan di traktir oleh nya namun, sekarang ia harus bergantung lagi padanya.
"minum lah ini" ujarnya kembali seraya menyerahkan sebotol minuman yang sepertinya adalah teh herbal pereda nyeri haid. Debby hanya diam, sedangkan David yang menyaksikan kejadian itu ia pun berusaha menjelaskan. "ini adalah teh herbal, aku tadi sempat menanyakan pada penjaga kasir wanita itu tentang obat pereda nyeri haid".
Di apartemen Debby, David menutup semua jendela kaca yang terbuka memastikan bahwa tidak akan ada yang bisa masuk ke dalam. "sekarang kau tak perlu merasa takut lagi, aku sudah menutup semua akses untuk orang luar agar tidak masuk" ucap david dingin.
__ADS_1
gadis itu mengangguk. "aku pulang" sambungnya lagi dan berlalu pergi. " ck padahal aku masih ingin bersama nya" gumamnya sedikit kecewa.