
10🌹
Di kediaman keluarga Prakash...
" Kita akan merayakan kemenangan kita ini, karena rumah sakit sudah menyatakan kalau seseorang yang ada di kamar Cafe itu adalah Abimanyu, aku merasa senang sekali karena kita sudah menyingkirkan Abimanyu, tanpa mengotori tangan kita sendiri, Tuhan itu berpihak kepada kita, karena Abimanyu tidak pantas untuk mendapatkan semua aset kekayaan dari Brata, yang pantas mendapatkannya itu adalah kita." ucap Fakih sembari memegang sebuah gelas yang berisi minuman kesukaan mereka, setiap merasa kemenangan menghampirinya ataupun mereka merasa kalau kebahagiaan di atas penderitaan orang lain itu sangat mereka sukai, mereka selalu merayakannya dengan minuman kesukaan yang dipesan mereka dari luar Negeri.
Mereka pun tertawa dengan merasa bangganya karena sudah berhasil mendapatkan kekayaan dari Almarhum Brata Prakash.
" Mana pengacara itu, kapan datang ke rumah kita ini, aku sudah tidak sabar ingin menikmati semuanya." ucap Sari istrinya Fakih.
" Tenang sayang, aku sudah menghubungi pengacara itu, tapi katanya dia masih berada di luar kota sabar saja, tidak ada lagi penghalang di antara kita, tinggal satu langkah saja aku yakin pengacara itu akan menyetujui semuanya, karena aku sudah berbicara dengannya, pengacara itu mengiyakan apa yang aku katakan semuanya padanya, ia akan mengubah semua aset milik Papanya Abimanyu itu menjadi milik keluarga kita." terang Fakih.
Mereka pun kemudian tertawa-tawa bergembira kembali, mereka dikejutkan dengan pintu yang terbuka lebar dan tawa mereka pun terhenti, dia menatap ke arah pintu, ternyata anak ketiga dari Ibu Heni dengan suami terdahulunya yang bernama Sarasvati berdiri di depan pintu.
" Saras....?" ucap mereka, Saras tersenyum dan melangkah mendekati keluarganya, dia pun satu persatu mencium keluarganya tersebut karena merindukan keluarganya itu. Namun saat Pak Brata Prakash meninggal dunia tidak diberitahukan oleh ibunya pada Sarasvati, bagi Ibu Heni Sarasvati tidak perlu mengetahui itu, karena tidak terlalu penting suami keduanya itu buat Saras,dikarenakan bukanlah Ayah kandung dari Sarasvati dan Ibu Heni tidak merasa Saras harus mengetahui kepergian Ayah tirinya itu, namun sayangnya Ibu Heni tidak menyadari kalau Sarasvati sangatlah dekat dengan suami keduanya itu.
__ADS_1
" Saras kenapa kamu pulang ke tanah air tanpa mengatakan kepada kami, setidaknya kamu bisa menghubungi Kakak dan kakak bisa menjemput kamu di bandara." ucap Rehan sembari menatap ke arah sang adik, kemudian dia menatap ke arah ibunya dan sang kakak, karena mereka tidak ingin rencana mereka itu diketahui oleh Saras, mereka tidak ingin melibatkan Saras dalam rencana itu, karena Saras seorang yang sangat tidak suka dengan kejahatan ataupun sikap iri yang berlebihan pada orang lain.
" Memangnya kenapa? Saras kan sudah dewasa, Saras bisa pulang pergi sendirian, memang kenapa kok kalian terlihat terkejut sekali sih, melihat kedatanganku? Memang ada apa? Lagi pula kenapa kalian berpesta di ruangan kerja Papah, ngomong-ngomong Papah ke mana, kok tidak ada di sini, biasanya setiap aku hubungi Papah selalu menjawab panggilanku, tapi nomor pribadi Papah tidak aktif, Papah ke mana?" tanya Saras, mereka berempat pun Saling pandang karena mendengar pertanyaan dari Saras.
" Oh ya satu lagi, ke mana Kak Abimanyu, kemarin aku hubungi nomornya juga tidak aktif, beberapa bulan yang lalu aku menghubungi kak Abimanyu dia sudah berada di tanah air sejak lama dan dia juga udah mulai bekerja di kantor Papah, tapi sampai sekarang nomornya tidak aktif-aktif, memang mereka berdua ke mana? jelaskan dong pada Saras, Saras kan juga ingin tahu, jangan dianggurin dong pertanyaan Saras seperti ini." ucapnya sembari menatap satu persatu keluarganya yang sedang terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Saras.
Saras menghela nafasnya dengan panjang dia pun kemudian berdiri sembari bersuara.
" Sepertinya ini ada yang disembunyikan dariku, Mamah ceritakan padaku Ada apa sebenarnya terjadi, ke mana Papah dan kemanakah kak Abimanyu?"
" Ya Tuhan kenapa ibu menangis? Ada apa ini sebenarnya?"
" Saras, Maafkan Mama karena Mama tidak menghubungi kamu, kalau Papa kamu sudah meninggal beberapa bulan yang lalu dan kakak mu Abimanyu juga sudah tiada insiden kejadian Cafe favoritnya yang terbakar."
Serasa disambar petir Saras mendengar cerita yang diberikan oleh sang Mama padanya membuat dirinya lemah dan tidak berdaya keringat dingin keluar dari tubuhnya dan ia pun meloloskan buliran bening yang sejak tadi berontak ingin keluar dari kedua bola matanya itu.
__ADS_1
Saras menangis sejadinya, mereka yang ada di ruangan itu hanya terdiam, sedangkan Bu Heni mengusap pundak anaknya tersebut sembari menatap mereka berempat dan mengukir senyum di wajahnya.
Setelah puas Saras menangis, ia pun menatap ke arah Kakak dan kakak iparnya beserta ibunya tersebut.
Ia langsung berdiri sembari bersuara.
" Kalian jahat padaku! Kenapa kalian tidak menghubungi aku di saat Papa dan kakak mendahului aku pergi untuk selama-lamanya, kalian keterlaluan! Kalian memang jahat! Aku benci kalian!" Ucapnya sembari berlari keluar dari ruangan tersebut menuju ke kamar pribadinya tidak ada yang mengejarnya karena mereka memang tidak ingin mengganggu Saras yang bersedih, setelah mendengar berita yang telah terjadi tanpa dia tahu sama sekali kebenarannya, sedangkan Bu Heni mengukir senyum sembari menghapus sisa air matanya.
" Biarkan ia sendiri di kamarnya, jangan kita ganggu, lebih baik kita melanjutkan kemenangan kita ini." ucap Fakih dianggukan oleh mereka, Ibu Heni pun merasa senang dan tidak memperdulikan anak gadisnya tersebut yang sedang bersedih karena kehilangan Ayah Tirinya dan kakak Tirinya yang tidak disadari oleh mereka semua kalau Saras sangatlah dekat dengan mereka berdua.
Saras menelungkupkan tubuhnya di kasur empuk yang ada di kamar pribadinya tersebut dia menangis sejadinya kembali.
Saras kemudian bangun dan duduk di bibir ranjangnya dia mengambil foto yang ada di atas meja kecil di dekat tidurnya itu, dua buah foto saat Saras berfoto dengan Ayah Tirinya dan Saras berfoto dengan kakak Tirinya Abimanyu, ia mengusap kedua foto tersebut sembari menitikan air matanya, hatinya hancur karena mendapatkan kabar kalau Ayah dan kakaknya itu telah pergi untuk selama-lamanya meninggalkannya, ia tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya menitikan air matanya seorang diri sembari menatap foto kedua orang yang sangat disayanginya itu, walaupun tidak ada hubungan darah sama sekali dengannya, tapi dia merasa nyaman dan merasa bahagia berada di samping kedua orang yang sangat disayanginya tersebut, dibanding dia berada di samping ibu dan saudara-saudaranya sendiri.
Saras kemudian memeluk foto tersebut sembari terus menitikkan air matanya tanpa henti, kemudian dia pun merebahkan kembali tubuhnya sembari tetap memeluk 2 foto tersebut, terbesit kenangan tentang sang Ayah dan sang kakak di saat mereka bersama dan bertemu di kala Saras berada di tanah air.
__ADS_1