
17 🌹
" Aku semakin yakin ada yang di sembunyikan, katakanlah Mbak, apa sebenarnya yang terjadi."
" Sekali lagi maafkan saya Nona Saras." Ucapnya berlalu dari hadapan Saras.
Saras terdiam, dia tidak memaksa Mimin untuk bercerita semuanya, Saras menatap langkah demi langkah Mimin yang meninggalkannya, Saras kemudian melangkah kembali duduk di sofa sembari menghela napasnya dengan panjang, dia pun kemudian mensedekapkan tangannya di dada dan menatap jauh dengan tatapan kosongnya, sembari bergumam di dalam hatinya.
" Aku merasa ini tidak ada yang beres di rumah ini, aku harus tetap mencari tahu dengan Mbak Mimin." Ucapnya kemudian berdiri dari duduknya, dia pun melangkah ke dapur dia menengok kiri dan kanan tapi dia tidak menemukan sosok yang dia cari, diapun langsung melangkah menuju ke arah kamarnya asisten rumah tangganya tersebut. Saat dia berada di depan kamar asistennya itu, salah satu dari asistennya pun menegurnya.
" Maaf Nona..."
Saras menoleh ke arah Art nya yang bernama Sisi salah satu asisten rumah tangganya tersebut.
" Nona Muda mau mencari siapa?"
" Aku mau ketemu sama Mbak Mimin, Ada yang ingin saya tanyakan."
" Menanyakan soal apa Nona Saras? kalau memang ada keperluan saya bisa membantu Nona Saras."
" Tidak usah, nanti saja, karena aku perlunya sama Mbak Mimin bukan sama kamu." ucapnya kemudian berlalu dari depan kamarnya Mimin, dia terus melangkah meninggalkan Sisi.
Dia pun berpikir di dalam hatinya.
" Tidak seperti biasanya Sisi bertanya seperti itu padaku, apakah mungkin Mimin selalu diawasi oleh Sisi, siapa yang menyuruh Sisi? Kakak? atau Mama?" Gumamnya sembari terus melangkah, kemudian dia pun berhenti di ruang tengah rumahnya tersebut, dia mondar-mandir seperti setrikaan sembari mensedekapkan tangannya di dada, memikirkan apa yang terjadi di rumahnya selama dia tidak ada, saat matanya menatap ke arah perabotan yang memantulkan bayangan seseorang yang memperhatikannya, tidak lain dan tidak bukan orang tersebut adalah Sisi .
" Astaga! Rupanya perkiraanku tidak meleset, ternyata Sisi yang menjadi mata-mata mereka, sebenarnya ada apa sih? di rumah ini? aku harus mencari tahu, aku harus bicara dengan Mbak Mimin, tapi tanpa sepengetahuan Sisi ataupun sepengetahuan Mama dan Kakak." Gumamnya kemudian dia pun melangkah menuju ke arah lantai atas di mana kamarnya berada, dia pura-pura tidak mengetahui kalau Sisi mengawasinya.
__ADS_1
" Aku harus mencari cara agar aku bisa berbicara dengan Mbak Mimin, tanpa sepengetahuan seisi rumah ini." Gumamnya di dalam hati, dia memasuki kamar pribadinya itu..
Setelah terlihat oleh Sisi kalau Saras masuk ke dalam kamarnya itu, dia pun kemudian melangkah menuju ke arah Mimin yang berada di dapur, Dia kemudian langsung menarik tangan Mimin dengan sedikit kuat, membuat Mimin terkejut, perubahan Sisi setelah meninggalnya Brata Prakash, Sisi seolah-olah sangat berkuasa di rumah tersebut.
" Lepaskan tantanganku! Kenapa kamu menarikku demikian kuatnya, memang salahku padamu apa? Akhir-akhir ini kamu itu terlihat sangat berubah sekali, memang kenapa denganku? Apa ada salahku padamu?" Tanya Mimin sembari menatap ke arah Sisi.
Sisi pun kemudian menepiskan tangan Mimin, membuat Mimin merasa sakit pergelangan tangannya itu,
" Iya! Kamu memang ada salah denganku, kamu memang menjadi Asisten sangat diperhatikan oleh Almarhum. Tapi saat ini Kamu tidak bisa berbuat banyak lagi, aku akan mengawasi gerak-gerik kamu, karena kamu adalah orang yang dicurigai oleh Nyonya Besar."
" Dicurigai apa? Aku tidak memiliki kesalahan pada mereka."
" Ya siapa tahu aja kamu ingin menguasai harta di sini, ataupun mau mengambil barang milik Nyonya yang jelas aku selalu akan mengawasi kamu, karena kamu dilarang mendekati Nona Saras."
" Memangnya kenapa dengan Nona Saras? Nona Saras dan aku tidak punya masalah, Nona Saras orangnya baik, kenapa mesti aku harus dilarang berdekatan dengannya."
" Sudah! jangan terlalu banyak tanya, aku tegaskan kepadamu jangan sekali-kali kamu mendekati Nona Saras, kalau kamu masih ketahuan aku kalau kamu mendekatinya, ataupun berbicara langsung dengannya, aku akan mengatakan semuanya kepada Nyonya Besar, biar kamu dipecat dari sini, seperti ibu kamu dulu."
Sisi mendengus dengan kesal sembari menatap ke arah Mimin yang sudah meninggalkannya begitu saja.
" Aku akan terus mengawasi kamu, sampai aku menemukan kesalahan kamu sesungguhnya, biar kamu dikepak dari rumah ini." ucapnya sembari berlalu dari tempat dia berdiri.
***
" Delisa!" panggil Ranti sembari mengetuk pintu rumah Delisa.
Delisa membuka pintu rumahnya tersebut sembari tersenyum pada sahabatnya itu, Ranti menatap wajah Delisa yang terlihat sembab.
__ADS_1
" Kamu menangis lagi?Apakah semalaman ini kamu menangis terus Del?"
Delisa menganggukkan kepalanya, karena dia tidak menyembunyikan apapun dari sahabatnya itu.
" Kenapa kamu bersedih terus."
" Aku merasa kehilangan aja, setelah dia pergi, biasanya kami selalu menghabiskan waktu kami untuk berbicara, bercerita apa saja yang membuat aku tersenyum, tapi saat ini aku tidak bisa lagi menemukan Dia, bercerita padaku."
Ranti menghela nafasnya dengan panjang, dia merasa kasihan dengan sahabatnya itu.
" Bagaimana kalau kita mencarinya?"
" Tidak usah, aku tidak ingin mencari dia karena aku takut kalau dia tidak mengingat aku lagi."
Lagi-lagi Ranti menghela nafasnya dengan panjang.
" Benar juga ya, apa kata kamu, Oh ya kamu tidak berangkat kerja hari ini?"
" Aku sudah izin karena aku kurang enak badan, mataku rasanya ingin tidur karena semalaman Aku tidak bisa tidur."
" Ya udah kamu istirahat aja, kalau kamu ada apa-apa kamu segera hubungin aku ya."
" Oh ya, kamu ke sini ada apa?"
" Aku mau mengasihkan ini aja, karena saat aku berada di depan warung nasi itu Aku tidak bertemu kamu, biasanya kan kamu membeli sarapan pagi, aku belikan biar kamu sarapan untuk mengisi perut kamu yang kosong itu."
Delisa mengambil kantong kresek yang berisi nasi bungkus itu dan menganggukan kepalanya sembari berucap.
__ADS_1
" Terima kasih ya, aku memang tidak berniat membeli makanan karena aku tidak merasa lapar, tapi sekarang rasanya aku merasa lapar karena aku sudah mendapatkan sarapan gratis." Ucapnya sembari terkekeh. Walaupun dia berusaha gembira tapi raut wajahnya tetap menampakan kalau dia merasa sedih, Ranti kemudian menepuk pundak sahabatnya sembari berkata.
" Kamu harus makan dan setelah itu kamu harus istirahat, ingat! Kalau ada apa-apa atau kamu memerlukan sesuatu, segeralah hubungi aku, Delisa mengganggukan kepalanya, kemudian Ranti pun berlalu dari rumah Delisa dan Delisa kembali menutup pintu rumah tersebut, dia pun kemudian menuju ke arah dapur untuk sarapan pagi, Ranti kemudian melajukan kendaraannya itu menuju ke arah tempat kerjanya di Mall terbesar yang ada di kotanya itu.