Delisanya Abimanyu (Cinta & Harta)

Delisanya Abimanyu (Cinta & Harta)
Delisanya Abimanyu


__ADS_3

11 🌹


Keesokan paginya tepat jam 08.00 pagi Fakih melajukan kendaraannya menuju ke arah kantor utama Prakash Group.


Dengan senyumannya itu karena merasa bangga sekarang kantor yang diimpi-impikannya itu sudah menjadi miliknya walaupun masih atas nama dari Abimanyu Perwira Prakash sang adik tiri dan belum sah menjadi miliknya.


" Hem...Akhirnya aku sudah bisa duduk di kursi ini!" ucapnya dengan merasa senang dan bangga akan usahanya selama ini.


" Abimanyu...Abimanyu sekarang kamu tidak bisa lagi untuk menekanku dalam segi apapun, kamu sekarang sudah tidak ada di dunia ini hahaha...!"


Ketukan pintu di ruangan itu pun membuyarkan lamunan kebahagiaannya tersebut.


" Masuk.!"


Pintu terbuka Ratih sang sekretaris yang sekarang menjabat jadi sekretarisnya itupun melangkah mendekatinya membawa beberapa berkas yang sudah dipintanya terlebih dahulu pada sang sekretaris.


" Maaf Pak Fakih, ini beberapa berkas yang Bapak pintar." Ucapnya sembari meletakkannya berkas tersebut ke meja Fakih.


Fakih mengambil berkas tersebut dan membukanya satu persatu, namun berkas yang dicarinya tidak ada di antara berkas-berkas yang diberikan oleh Ratih padanya itu. Ia kemudian menatap Ratih dan mendorong beberapa berkas itu ke arah Ratih dengan tatapan tajamnya, seolah-olah ingin melahap Ratih yang ada di depannya itu, Ratih terkejut dengan sikap Fakih terhadapnya itu,


" Heh! Kamu jadi Sekretaris atau jadi tukang loak buku bekas hah!! Apa-apaan ini! Aku tidak minta berkas yang ini, aku ingin meminta berkas yang penting atas nama perusahaan ini.!"


" Berkas penting perusahaan ini saya tidak tahu pak, berkas semua yang Bapak minta yang penting hanya ini, ini beberapa berkas Client yang harus ditandatangani dan berkas Client yang harus ditemui yang belum sempat ditemui dan ditandatangani oleh Pak Abimanyu." Terang Ratih.


Ratih tersentak dengan kemarahan Fakih dengan memukul meja kerjanya itu.


" Kamu bohong! tidak mungkin Bos kamu terdahulu tidak memberitahukan semua berkas yang penting padamu!"


" Be...Ben...Benar pak, saya tidak pernah dikasih tahu sama pak Abimanyu tentang berkas penting kantor ini selain berkas-berkas yang ada dimeja bapak itu " ucap Ratih menunundukkan kepalanya.


Fakih mendengus dengan marahnya dan menyuruh Ratih keluar ruangannya dengan sedikit emosinya.


Setelah kepergian Ratih Fakih menghubungi sang Mamah.


" Ada apa Fakih?"


" Mah! Berkas penting tentang perusahaan Almarhum suami Mamah ini tidak ada sama sekali dikantor ini, Aku sia-sia masuk kantor ini."


" Fakih, kamu sabar dulu,siapa tahu berkas penting kantor itu ada sama pak Yogi pengacaranya keluarga Prakash."

__ADS_1


" Benar juga ya Mah, aku akan hubungi pengacaranya."


" Fakih, jangan kamu tanyakan dulu pada pengacara itu, kalau kamu tanyakan nanti pengacara itu akan curiga pada kamu."


" Iya juga ya Mah..."


" Sabar Nak, jangan gegabah..."


" Ya udah Mah, aku akan menemui client yang tidak sempat didatangi Abimanyu itu dan akan mengatakan pada mereka kalau perusahaan ini sudah ganti kepemimpinan."


" Baiklah nak..."


Mereka pun memutus sambungan bicaranya dan Fakih menghela nafasnya dengan kasar dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi kerjanya.


***


Abimanyu yang berada dirumah Delisa sudah bersiap-siap hendak keluar dengan menggunakan topi hitam dan jaket hitam polos dan menggunakan kacamata hitam dan kumis palsu untuk penyamarannya tersebut, ia pun lalu melangkah pergi dari rumah tersebut menuju keluar jalan rumah Delisa setelah Delisa berangkat kerja.


Dia langsung menuju kesebuah rumah sakit ternama setelah dijemput sebuah mobil dari depan jalan rumah Delisa.


Abimanyu berniat hendak menuju kerumah sakit ternama yang ada dikota tersebut dimana sang sahabat dirawat.


" Saat kamu jemput aku apa ada yang mencurigakan lagi?"


" Tidak ada Tuan...Kayanya mereka sudah tidak mencurigai Saya lagi."


" Baguslah kalau seperti itu kemarin malam Ratih sekretarisku di kantor memberikan informasi padaku kalau Fakih mencari surat-surat berharga di kantorku, untung saja aku kemarin meminta tolong kepada Ratih untuk mengambil semua surat berharga yang ada di dalam ruangan kerjaku itu."


" Terus apa yang harus saya lakukan untuk Ratih."


" Tidak usah aku percaya dengan Ratih ia mampu menangani Fakih yang ada di kantor itu."


Abimanyu mengelap nafasnya dengan panjang dan menatap ke kiri ke kanan dan tatapan matanya jatuh kepada seorang yang sedang berdiri di penyeberangan lampu merah dia pun mengenali wanita itu.


" Saras...!"


" Iya Tuan Muda, Non Saras baru saja datang ke tanah air, menurut keterangan Mbak Mimin, Non Saras sangat terpukul dan bersedih karena Nyonya Besar mengatakan kepadanya kalau Tuan Muda dan Pak Brata meninggal dunia dan tidak memberitahunya."


" Kasihan Saras, ia anak baik, ia tidak jahat seperti saudara-saudaranya dan ibunya, ia menganggap aku dan almarhum Papa sebagai saudara kandungnya dan ayah kandungnya aku khawatir kalau Saras akan diikut campurkan oleh mereka dalam rencana mereka ini."

__ADS_1


Abimanyu berhenti sejenak dalam berbicara dia menatap ke arah sang adik tiri yang berada di seberang jalan itu karena mobil Abimanyu berhenti sejenak.


" Romi bisakah aku minta tolong padamu."


" Siap Tuan Muda dengan senang hati apa yang perlu saya kerjakan."


" Kamu awasi Saras dan lindungi ia dari hasutan keluarganya sebelum aku keluar dari persembunyianku ini."


" Siap Tuan Muda, akan saya laksanakan perintah Tuan Muda."


" Satu lagi, kalau aku keluar dari persembahanku ini apakah aman, dan mereka tidak menyerang balik aku nantinya karena aku sudah dianggap sudah tiada oleh mereka dan kembali hadir dihadapan mereka."


" Aman Tuan Muda, setelah Tuan Muda keluar dari persembunyian Tuan Muda ini, orang-orang kepercayaan Tuan Muda akan mengurus semuanya."


" Bagus! lanjutkan untuk kita menuju ke rumah sakit sebelum jam 01.00 siang aku sudah berada di rumah Delisa karena jam itu adalah jam makan siang Delisa dan aku sebelum ia datang ke rumah aku sudah berada terlebih dahulu di rumahnya."


" Siap Tuan Muda." Ucap Romi kembali melajukan kuda besinya itu menuju ke arah rumah sakit di mana Edward sahabat Abimanyu sedang dirawat.


***


Kantor Fress Ekpedisi...


" Delisa...!"


" Iya Pak...!"


" Paket yang saya katakan tadi sudah kamu antarkan?"


" Paket yang mana ya pak.?"


" Apa kamu tidak mendengar kata-kataku tadi.?"


" Maaf Pak, saya tidak mendengar sama sekali kalau Bapak menyuruh saya mengantarkan paket ke tempat lain, karena paket-paket yang lain sudah saya antarkan dan sekarang saya mau mengambil paket yang kedua sesuai dengan jalur saya."


" Aduh Delisa! ini paket jalur pertama, kamu harus mengantarkannya ke rumah sakit Harapan kita, ini adalah paket penting, mereka pasti menunggunya, jangan sampai mereka menghubungi aku lagi seperti paket milik konglomerat itu."


" Baiklah Pak, saya akan mengantarkannya."


" Udah cepetan nih paketnya, jangan lupa tanda tangannya."

__ADS_1


" Siap pak!" Ucap Delisa sembari mengambil paket tersebut dan setengah berlari ia menuju ke arah motor inventarisnya dan melajukan motor tersebut menuju ke arah tempat tujuannya Rumah sakit Harapan kita.


__ADS_2